Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Fiona mendekati ruangan nyonya Delvina, sepertinya ruangan itu berbeda dari ruangan sebelum nya karena ruangan ini memiliki kaca yang bisa melihat pasien dari luar.
"Mama,"
Fiona melihat nyonya Delvina tertidur dengan tenang, wajahnya tidak memiliki beban apapun ketika menutup mata seperti itu.
"Fiona," panggil Dicky.
"Huusstt mama ku sedang tidur," ucap Fiona.
Dicky melihat kedalam dan sama seperti Fiona dia juga melihat nyonya Delvina tertidur.
"Ada yang perlu ku jelaskan padamu,"
"Kita bicara disana nanti mama ku terbangun," ujar Fiona menarik Dicky ketaman rumah sakit.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan jika menyangkut Bara..."
"Ini tentang mama mu,"
Fiona berhenti mengoceh mendengar ucapan Dicky berubah serius.
"Mama ku kenapa?"
"Fiona mama mu tidak tidur tapi dia sedang drop,"
"Aku tidak mengerti,"
"Mama mu koma,"
"Tidak!" Fiona jatuh pada pangkuan kursi taman dengan tubuh lemas.
Dicky juga ikut duduk, gadis itu pasti akan menangis sekarang.
"Aku berusaha menyadarkan mama mu dalam waktu dua hari tapi tidak ada reaksi sama sekali, nyonya Delvina tetap menutup mata oleh sebab itu aku menghubungi mu sekarang,"
"Kenapa kau tidak memberitahu ku dari kemarin Dicky!"
Dicky memeluk Fiona agar tetap tenang namun tubuhnya yang lemas sudah membuktikan bahwa Fiona tidak sanggup menerima kabar seperti ini.
"Maafkan aku Fiona,"
"Mama ku Dicky,"
"Aku akan memastikan mama mu baik baik saja,"
"Aku takut Dicky hanya mama yang ku miliki di dunia ini aku tidak ingin kehilangan mama," ujar Fiona.
"Hustt nyonya Delvina hanya sedikit kelelahan, dia sedang beristirahat sebentar kau tidak boleh berpikir macam-macam,"
Fiona bersandar di dada Dicky, memang hanya pria itu yang mengerti keadaan Fiona, siapa Fiona, dan segala kekurangan kelebihan Fiona
"Aku ingin menjaga mama ku disini Dicky,"
"Tidak mungkin Fiona ada banyak surat izin untuk tinggal dirumah sakit apalagi rumah sakit jiwa," kata Dicky sembari mengelus kepala sahabatnya.
"Aku akan membawa mama mu kerumah sakit biasa untuk dirawat intensif,"
"Aku tidak memiliki uang lagi, ruang ICU dan seluruh peralatan nya tidak memungkinkan untuk ku," tolak Fiona.
"Aku akan menangani semuanya,"
"Tidak lagi Dicky, kau sudah terlalu banyak membantu ku,"
"Anggap saja kau meminjam nya padaku,"
"Terimakasih banyak,"
"Kau harus berjanji jangan melakukannya lagi,"
Fiona tau maksud Dicky mengarah pada apa yang dilarang oleh Bara juga, Fiona mengangguk setuju toh dia juga tidak bisa melakukan nya lagi.
"Fiona!"
Dari samping Fiona ditarik sedikit keras oleh Bara hingga pelukan Dicky terlepas begitu saja.
"Berani sekali kau memeluk kekasih ku," ucap Bara ketus.
"Bara lepas!"
"Tidak sayang dia memeluk mu harusnya aku membawa orang untuk menghajar orang ini" kata Bara.
"Nona silahkan ikuti saya," ucap Rezza.
"Aku tidak mau aku ingin tetap disini,"
"Sayang ikuti perkataan Rezza atau aku akan menghabisi sahabat mu ini," bisik Bara didekat telinga Fiona.
"Fiona jangan takut kau harus tetap disini,"
Fiona malah melawan arus, dia lebih memilih pergi daripada Dicky menjadi korban dari seorang Elbara, tau sendiri jika pria itu yang menghabisi orang dia pasti akan mengambil organ organ tubuh korbannya dan dijadikan koleksi.
Setelah Fiona pergi Bara duduk dikursi tadi menggantikan Fiona namun Dicky langsung menjauh.
"Ck!!"
"Kenapa kau selalu menyuruh Fiona menjauhiku," ucap Bara dengan wajah datarnya.
Percuma Bara berpura-pura ramah pada Dicky, dia pasti tau Bara sedang memasang topengnya.
"Jangan sakiti Fiona atau kau akan berhadapan dengan ku," ancam Dicky.
"Cih!!" Bara tersenyum sinis dengan ancaman bodoh pria itu.
"Nantikan kejutan nanti malam," ucap Bara sembari menepuk pundak Dicky dan pergi dari tempat itu.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔