Dhini Apriani seorang gadis cantik yang merasa dirinya titisan dewi kuan'in, bertemu dengan seorang pangeran tampan yang kadar ketampanannya diatas rata-rata lelaki pada umumnya.
Pertemuan mereka yang terjadi karena sebuah kesalahan kecil, membuat keduanya semakin hari semakin dekat.
Davin Aditya Pratama, putra seorang pengusaha sukses yang menjalin kasih dengannya. Namun sayangnya, orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan anak dari temannya.
Lantas bagaimana kisah cinta antara dua makhluk kasat mata itu ?
cekidot....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade The_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu
Sesampainya di Rumah Sakit, mereka disambut oleh tenaga medis di ruang UGD rumah sakit itu. Davin terus memegangi tangan Dhini, dia tak menghiraukan dirinya yang juga semestinya harus segera di rawat.
"Nak, kamu juga harus segera di obati. Lihat kondisi kamu sekarang ini, kamu juga harus sehat supaya bisa menjaganya terus. Dia pasti akan sehat kembali. Sekarang lebih baik kamu coba telepon keluarga kalian dulu, dan lihat kondisi kamu ini kalau kelamaan seperti ini bisa bahaya juga kamunya." Ibu yang menolong mereka itu begitu baik, mencoba menenangkan dirinya.
Dokter yang sedari tadi ingin menangani Davin, namun selalu di tolaknya pun mulai membersihkan luka dan mengobati luka-luka yang ada di tangan dan kaki Davin. Sembari menunggu lukanya di tangani dokter dia menelepon tante Ratih terlebih dahulu. Tante Ratih begitu terkejut, namun Davin melarang tante untuk datang malam ini ke Rumah Sakit karena sudah terlalu larut "Besok aja tante datangnya kalo udah siangan."
Dia lalu menelepon maminya "Assalamualaikum mi, ini Davin." Perlahan dia mulai berbicara dengan tenang agar tak membuat mami terkejut dan panik. Namun tetap saja naluri seorang ibu tak bisa dihindari, karena pada saat itu mami Evelyn juga tak bisa tidur. Entah kenapa perasaannya gundah, dia teringat akan putranya.
Mami Evelyn benar-benar terkejut mendengar kabar dari Davin, dia menangis hingga membangunkan suaminya. Mami Evelyn menceritakan semuanya kepada suaminya. Tak menunggu waktu lama, kedua keluarga itu tengah bersiap akan berangkat ke Medan dengan pesawat pribadi keluarga papi Aditya.
Selama di perjalanan kedua ibu itu terus menangis memikirkan nasib Dhini yang hingga saat ini masih belum sadarkan diri.
#
Sementara itu di Rumah Sakit, Dhini yang kehilangan banyak darah harus segera mendapatkan transfusi darah. Stok darah di rumah sakit saat itu tidak ada yang cocok dengannya.
"Maaf ibu keluarga dari pasien ?" tanya dokter
"Bu- bukan dok, tapi tadi kami yang membawa mereka kesini." Ibu itu bingung harus bagaimana, sebab bila diminta untuk mengurus administrasinya dia tidak memiliki uang yang cukup banyak.
Untungnya Davin segera datang dengan dibantu Doni, anak dari ibu paruh baya itu. Luka di kaki dan tangannya sudah terbalut kain kasa, dia duduk di kursi roda karena lutut kirinya yang masih terasa sakit.
"Dokter, tolong selamatkan calon istri saya dok. Tolong lakukan apapun untuk kesehatan dia dok. Berapapun biayanya akan saya bayar dok." ucap Davin memohon kepada dokter.
"Begini pak, pasien saat ini kehilangan banyak darah. Dan untuk saat ini persediaan darah yang cocok dengannya tidak ada di rumah sakit ini." jelas dokter membuat Davin semakin frustasi, dia mengusap wajahnya kasar.
"Memangnya golongan darahnya apa dok ?" tanya ibu Nia, ibu paruh baya itu mencoba menenangkan Davin kembali.
"Golongan darahnya AB+ , jenis golongan darah ini memang sangat susah dicari, sebab hanya yang bergolongan darah AB+ juga yang bisa mentransfusikan darahnya." jelas dokter.
Davin semakin cemas dibuatnya, ditambah kehadiran suster yang panik mengatakan bahwa kondisi vital pasien mulai menurun dan harus segera ditangani.
"Dokter, ambil darah saya saja. Kebetulan golongan darah saya juga AB+ dok." Doni menyodorkan tangannya. Seketika Davin terperangah memandang Doni, berkali-kali dia mengucapkan terimakasihnya
kepada keluarga itu. Tanpa mereka mungkin sekarang Dhini tidak tertolong.
Doni segera dibawa suster untuk diambil darahnya. Dokter pun segera bersiap ke ruangan operasi. Davin bersama ibu Nia menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan cemas.
Tante Ratih datang dengan tergesa-gesa dia berlari menuju ruang operasi, Davin yang terduduk lesu di kursi rodanya merasa begitu bersalah atas kejadian ini. Sebelumnya memang tante Ratih sudah memperingatkan mereka untuk tidak pulang terlaru larut saat Dhini meminta izin melalui telepon sore tadi.
Operasi yang sudah hampir 2 jam itu, belum selesai juga. Keluarga Davin dan Dhini tiba dengan isak tangis kedua ibu itu, membuat Davin semakin terpukul atas keadaan ini.
Mami Evelyn berjongkok menatap putranya yang tertunduk, dilihatnya mata Davin yang merah karena terus menangis. "Semua pasti baik-baik aja sayang" mami memeluk putranya erat.
"Miranda" ucap ibu Nia menatap mamanya Dhini saat dia kembali dari toilet. "Kak Nia... , ya ampun kakak apa kabar ? Siapa yang sakit ?" tanya mama Miranda. Mereka lalu berpelukan, melepas rindu satu sama lain.
Nia adalah kakak ipar mama Miranda yang menikah lagi setelah suaminya Eko meninggal dunia. "Pantas saja golongan darah Doni sama dengan Dhini, aku juga tak mengenali wajahnya karena dulu masih kecil sekali saat melihatnya" ucap ibu Nia.
Operasi selesai, saat dokter keluar dari ruang operasi. Mereka langsung memberondong pertanyaan. "Dokter bagaimana operasi anak saya ? Bagaimana keadaan anak saya dok ?" tanya mama dengan kecemasannya.
"Maaf bu...
Bersambung...
...🙏🙏🙏🙏🙏...
...Terimakasih...
ceritanya beneran mirip sama dunia real😂
jadi g mungkin belajar
malah nonton🤦🏻♀️
tapi yang penting jangan ke hal yg negatif 👍
penulisannya rapi tanpa ada typo
karakter cwo yang tampannya diatas rata-rata