Kehidupan Satya Avero Angkasa sangat jauh dari kata baik. Setiap malamnya ia habiskan untuk bersenang-senang dengan para wanita bayaran.
Kehidupan Satya berubah saat seorang murid pindahan dari luar negeri yang kini sudah menetap di negara tercinta.
Rindi Wijaya, adalah perempuan yang menganut tata krama dan tahu bagaimana bersikap kepada orang lain. Setelah puasa sekolah grammar, kini Rindi bisa bernafas lega bisa merasakan sekolah biasa.
Namun semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan ketika dirinya bertemu dengan seorang pria mesum yang punya berbagai cara untuk mendekatinya..
Ikuti terus kisah mereka!
Fllw ig : @rohmatulkarimah_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohmatul karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa Satya
Rasa makanan yang ada didalam mulutnya serasa tidak tertelan, namun ia tidak ingin membuat kecewa Ayah dan Bunda Samuel. Satya sebisa mungkin mengunyah dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya agar cepat habis dan ia bisa segera pergi dari sana
"Papah mendengar dari kepala sekolah kalau Satya akhir-akhir ini tidak pernah lagi membuat masalah, apakah itu benar Samuel?" tanya Sebastian menatap Samuel dan Satya bergantian.
Satya yang mendengar pertanyaan seperti itu menghentikan kunyahan mulutnya, semua mata yang ada di meja itu kini tertuju kepada pemuda yang sejak tadi diam
"Hehe.. Papah tahu saja ya semua kegiatan Satya." ujar Samuel dengan sedikit menyengir, apalagi melihat tatapan tajam Satya yang membuat Samuel tersenyum kikuk
"Tentu saja El, bahkan Papah juga tahu dengan wanita yang kini tengah dekat dengan Satya." jawab Sebastian sambil melirik ke arah Putra nya
"Jangan terlalu jauh, itu akan sangat berbahaya." kali ini Satya bersuara dengan nada datar dan sangat dingin, semua yang ada di meja itu menjadi sedikit takut ketika melihat tatapan tajam Satya yang tertuju pada Sebastian Papah nya
"Sayang, ayo lanjutkan makan mu!"
Ting.
Sahira terperanjat saat Satya meletakkan sendok serta garpu yang dipegang nya dengan begitu sangat kasar. Shintia dan Stefan menjadi was-was dengan saling pandang, bukan hanya kedua orang tuanya, Samuel pun begitu. Ia sangat takut keluarga Angkasa ini kembali bertengkar
"Ayah, Bunda. Satya permisi untuk pulang, terima kasih untuk jamuan nya malam ini, masakan Bunda selalu enak. Tapi Satya tidak bisa menelannya atau bahkan mengunyahnya malam ini." Satya bangkit dari duduknya lalu menyambar ponsel serta kunci mobilnya
"Kamu mau ke mana nak? Apa kamu tidak rindu dengan Papah dan Mamah?" tanya Sahira kepada Putra nya yang berada disamping nya
"Rindu Satya sudah hilang untuk kalian berdua sejak dulu, jadi tidak perlu bertanya ataupun mengganggu kehidupan Satya. Satya sudah cukup besar jika Papah dan Mamah ingin pergi berbisnis dan tidak ingin pulang lagi." Satya mengeraskan rahangnya dengan kedua tangan yang terkepal
"Sayang," lirih Sahira yang mencoba menyentuh tangan anaknya, namun Satya cepat menepisnya
"Sudahlah Mah, air mata Mamah tidak akan ada artinya sekarang. Jangan salahkan Satya jika hati Satya sudah mati, bahkan dulu Mamah dan Papah tidak pernah mau pedulikan air mata Satya saat kalian pergi meninggalkan Satya, sampai mati pun penyesalan Papah dan Mamah tidak akan bisa mengembalikan rasa kecewa Satya. Jadi Satya harap jangan pernah sok perduli dengan Satya, karena kenyataannya kalian hanyalah peduli dengan harta dibanding darah daging kalian sendiri." Satya menatap kecewa kedua orang tuanya sebelum ia pergi dari sana
"Satya!" lirih Sebastian dan Sahira ketika melihat Putra mereka meninggalkan meja makan disana
"Satya!" panggil Samuel, iapun ikut beranjak dari duduknya menyusul Satya
Sebastian menatap punggung tegap Satya yang melangkah dengan sangat lebar tanpa menengok ke belakang, tidak terasa air mata Sebastian jatuh dengan sendirinya
"Aku salah Stef, kupikir dengan harta anakku akan bahagia, kupikir dengan harta anakku tidak akan merasa kekurangan apapun. Tapi kenyataan nya anakku menahan sakit dan kecewa."
"Tidak ada yang terlambat Tian, kamu hanya perlu mendekatkan diri kamu kembali padanya dan membuat rasa kecewanya itu hilang." ujar Stefan, ia meletakkan alat makannya dan meraih gelas air minum
"Rasa kecewanya sudah begitu besar Stef, aku tidak tahu apakah dia masih mau memaafkan Papah dan Manah nya ini?" keluh Sebastian menundukkan kepalanya. Dirinya juga kecewa dengan diri sendiri, apalagi dengan Putra nya
"Kamu tidak akan tahu jika kamu tidak mencobanya, kurangi lah berbisnis keluar. Perusahaanmu sudah besar sudah merambah ke mana-mana, apakah belum cukup untuk membuatmu istirahat?"
"Kamu berbicara seperti ini karena kamu sudah sampai pada puncaknya Stef, berbeda dengan aku." Stefan menggelengkan kepalanya
"Tidak Tian, semua tidak semudah apa yang kamu lihat. Jika mau dibilang aku lebih sibuk darimu, tapi aku tidak ingin melupakan tanggung jawabku sebagai orang tua." ucap Stefan
"Benar itu Tian, kamu seharusnya memikirkan anakmu. Sudah cukup kalian berdua mengabaikan Putra kalian, untuk sekarang aku sangat memohon kepada kalian berdua, tolong perhatikan Satya. Dia sangat butuh kasih sayang kalian." Papah dan Mamah Satya terdiam, mereka mencerna kata-kata yang orang tua Samuel katakan untuk mereka agar mereka mau mengerti jika anak mereka sangat butuh kasih sayang
"Pah," Sahira memanggil Sebastian lirih. Sedangkan Sebastian menggelengkan kepalanya pelan
"Kita harus memperbaikinya Mah," Sebastian mengambil tangan istrinya dan menggenggam nya erat, seakan memberi tahu kalau semuanya akan baik-baik saja
****
"Satya tunggu!" panggil Samuel, ketika mobil Satya melewati dirinya dengan begitu kencang
"Aishh... Anak itu begitu tempramen." Samuel pun berlari ke garasi mobilnya. Ia akan mengejar sahabatnya itu, Satya tidak bisa dibiarkan mengendarai mobil dalam keadaan begini
Chittt...
"Hati-hati Tuan muda!" teriak satpam yang melihat mobil anak majikannya yang menyusul mobil anak tunggal keluarga Angkasa dengan tidak kalah kebut
Samuel fokus menatap jalanan dan mobil Satya, saat ini tujuannya adalah memastikan Satya tidak berbuat hal yang tidak-tidak. Samuel juga sangat takut Satya akan melampiaskan nya kepada minuman alkohol itu dan juga para wanita malam
"Sudah kuduga kamu pasti akan ke sini." gumam Samuel saat melihat mobil Satya berbelok ke arah yang Samuel takutkan
"Seharusnya aku tidak membiarkan dia membeli tempat terkutuk ini." ucap Samuel lagi, ia tidak tahu jika keputusan Satya membeli sebuah club adalah kesalahan terbesar untuk hidupnya. Dan lihat sekarang, hidup Satya menjadi semakin kacau setelah mengenal minuman haram dan para wanita menjijikkan itu
Samuel segera memarkirkan mobilnya dan bergegas turun, ia tidak ingin terlambat menenangkan Satya. Samuel berlari kala melihat mobil Satya tidak ada orang lagi
Dentuman musik yang begitu kuat membuat kepala Samuel begitu sangat pusing, ia benci masuk ke tempat ini. Tapi demi Satya harus keluar masuk tempat terkutuk yang ingin sekali ia musnahkan
"Bagaimana orang-orang bisa betah dan bersenang-senang didalam sini." batin Samuel melangkah menuju tempat favorit Satya jika datang ke sana
"Brian!" sosok laki-laki yang tengah santai menikmati minumannya itu menoleh saat ada yang berteriak memanggil namanya. Walaupun musik yang ada didalam gedung itu begitu kencang, namun teriakan Samuel mampu membuat beberapa orang disana menoleh termasuk Brian dan bartender yang sedang melayani pelanggannya
"Hi El, lo disini juga?" tanya Brian
"Lo lihat Satya?" tanya Samuel tanpa membalas sapaan Brian
"Satya?"
"Ya Satya, lo lihat tidak?" tanya Samuel lagi
"Ahh anak itu. Aku pikir dia sedang ada masalah, saat masuk ia datang ke sini dan langsung mengambil empat botol vodka tanpa mengatakan apapun." jawab Brian sambil menegak minumannya. Brian menoleh ke samping dimana Samuel tengah menatapnya
"Dia ke lantai atas bersama wanita-wanita itu." ucap Brian lagi
"Selalu saja." Samuel terlihat begitu kesal mendengar ucapan Brian
"Thanks Brian, gue ke atas dulu." Samuel menepuk bahu Brian dua kali dan segera berlalu dari sana untuk menyusul Satya
_
_
_
_
Bersambung...
kak buat rindi tau kelakuan Satya di luar dong yang berhubungan dengan cewek lain, biar jera satya
semoga Satya dapat pelajar dari kelakuannya, di tinggal rindi,biar gak gitu lagi kelakuannya