NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 21 Bukan Sedarah, Tapi Pernah Menjadi Ayah

Pagi berikutnya, Arunika terbangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, kalimat Adrian semalam masih terus berputar di kepalanya.

Kalau kamu merasa tidak punya tempat untuk pulang, datang saja ke sini.

Arunika menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas.

"Kenapa aku masih memikirkannya?"

Ia bangkit dari tempat tidur, lalu bersiap. Hari itu, Arunika memutuskan untuk menemui Bagaskara. Bukan karena ingin kembali ke rumah itu.

Bukan pula karena ingin meminta maaf, Ia hanya ingin bertemu ayahnya sekali lagi.

Setelah semua yang terjadi, ada satu hal yang ingin ia tanyakan secara langsung.

Ketika Arunika tiba di rumah Bagaskara, langkahnya sempat terhenti di depan pagar.

Rumah yang dulu terasa begitu akrab kini terlihat asing.

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan bel, Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.

Pelayan membukakan pintu dan menyuruh Arunika masuk.

Tak lama Bagaskara muncul, Pria itu langsung terdiam ketika melihat Arunika berdiri di hadapannya.

"Arunika?"

Arunika mengangguk kecil.

"Selamat pagi."

Bagaskara menatapnya lama Ada sesuatu yang berbeda dari putrinya. Dulu, setiap kali berdiri di hadapannya, Arunika selalu terlihat seperti sedang menunggu penilaian.

Seolah satu kalimat salah darinya bisa membuat seluruh keberaniannya runtuh.

Namun sekarang...Tatapan Arunika jauh lebih tenang.

"Duduklah."

Arunika menurut Bagaskara duduk di seberangnya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Pria itu memperhatikan wajah Arunika yang terlihat jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka berbicara.

"Kenapa kamu datang?"

Arunika menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan.

"Aku ingin bertanya sesuatu."

"Kalau begitu, tanyakan."

Arunika mengangkat wajah.

"Ayah..."

Bagaskara terdiam mendengar panggilan itu, Ada sesuatu dalam suara Arunika yang membuat dadanya terasa berat.

"Setelah Ayah menikah lagi..."

Arunika berhenti Matanya beralih ke sudut ruangan.

"...Ayah berubah."

Bagaskara mengerutkan kening.

"Berubah bagaimana?"

Arunika tersenyum kecil Senyum yang tidak memiliki kebahagiaan sedikit pun.

"Dulu, kalau aku pulang terlambat, Ayah akan menelepon berkali-kali."

"Dulu, kalau aku sakit, Ayah yang paling panik."

"Dulu, kalau aku mendapatkan sesuatu di sekolah, sekecil apa pun itu, Ayah selalu bertanya bagaimana hariku."

Bagaskara menunduk.

"Tapi setelah Ayah menikah..."

Suara Arunika mulai bergetar.

"Semua itu hilang."

"Arunika..."

"Jangan menyela dulu, Yah."

Untuk pertama kalinya, Arunika memotong perkataan ayahnya, Bagaskara pun diam.

Arunika menarik napas panjang.

"Setelah Ayah menikah lagi, aku merasa seperti orang yang tiba-tiba tidak punya tempat di rumah sendiri."

"Ruang makan yang dulu selalu terasa hangat..."

Ia tersenyum getir.

"...tiba-tiba menjadi tempat yang membuatku takut berbicara."

"Setiap kali aku melakukan sesuatu, aku merasa harus berhati-hati."

"Karena aku tahu, sedikit saja aku salah, akan ada yang membandingkanku."

Arunika menatap Bagaskara.

"Dan yang paling menyakitkan..."

Air matanya mulai menggenang.

"...Ayah selalu diam."

Bagaskara mengangkat wajah.

"Ketika aku disalahkan, Ayah diam."

"Ketika aku menangis, Ayah diam."

"Ketika aku mencoba menjelaskan sesuatu, Ayah bahkan tidak lagi mau mendengarkan."

Arunika tertawa kecil, tetapi air matanya akhirnya jatuh.

"Aku pernah menunggu Ayah datang ke kamarku."

"Semalaman."

Bagaskara membeku.

"Aku pikir Ayah akan mengetuk pintu seperti dulu."

Arunika mengusap air matanya.

"Tapi Ayah tidak datang."

"Besok paginya, aku melihat Ayah sarapan bersama keluarga baru Ayah."

Suaranya semakin pelan.

"Dan saat itu aku sadar..."

Arunika menatap lantai.

"...mungkin aku sudah bukan bagian dari keluarga itu lagi."

"Jangan berkata begitu."

"Kenapa?"

Arunika langsung menatapnya.

"Karena itu kenyataannya, kan?"

Bagaskara terdiam.

"Setelah Ayah menikah lagi, Ayah punya keluarga baru."

"Dan aku..."

Arunika menunjuk dirinya sendiri dengan senyum getir.

"...hanya anak yang kebetulan sudah ada sebelum keluarga itu terbentuk."

"Arunika!"

"Memangnya salah?"

Suara Arunika pecah Bagaskara langsung terdiam, Arunika menundukkan kepala, berusaha mengendalikan napasnya.

"Aku tidak marah karena Ayah menikah."

"Aku tidak pernah meminta Ayah tetap sendiri demi aku."

"Aku bahkan ingin Ayah bahagia."

Air matanya jatuh semakin deras.

"Tapi aku tidak pernah menyangka kebahagiaan Ayah akan membuatku merasa kehilangan Ayah."

Bagaskara mengepalkan tangan.

"Dan kemudian aku mengetahui sesuatu yang lebih menyakitkan."

Arunika mengangkat wajah Tatapannya langsung berubah.

"Bahwa aku bukan anak kandung Ayah."

Bagaskara membeku Ruangan itu seketika terasa begitu sunyi, Arunika memperhatikan wajah ayahnya. Tidak perlu bertanya lagi.

Ekspresi itu sudah cukup untuk menjawab semuanya.

"Jadi benar..."

Suara Arunika hampir tidak terdengar.

"Selama ini Ayah tahu."

Bagaskara menelan ludah.

"Arunika, dengarkan Ayah."

"Sejak kapan?"

"Arunika..."

"Sejak kapan Ayah tahu kalau aku bukan anak kandung Ayah?"

Bagaskara menunduk.

"Sejak kamu masih kecil."

Arunika memejamkan mata Satu detik, Dua detik, Lalu ia tertawa kecil, Namun tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Masih kecil..."

Ia mengangguk perlahan.

"Berarti selama ini semua orang tahu kecuali aku."

"Tidak semuanya seperti yang kamu pikirkan."

"Kalau begitu bagaimana?"

Arunika berdiri.

"Jelaskan kepadaku."

Bagaskara ikut berdiri.

"Kenapa Ayah tidak pernah mengatakannya?"

"Karena Ayah takut kehilanganmu."

Arunika terdiam Kemudian ia tersenyum pahit.

"Tapi Ayah tetap kehilangan aku."

Bagaskara terpaku.

"Ayah takut aku pergi karena tahu aku bukan anak kandung Ayah..."

Arunika mengusap air matanya.

"...tapi Ayah tidak sadar bahwa aku pergi justru karena Ayah membuatku merasa aku tidak pernah benar-benar menjadi anak Ayah. Dan kalau ayah lupa ayah sendiri yang mengusir ku dari rumah ini"

"Arunika, bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

Arunika melangkah mendekat.

"Dulu aku selalu berpikir, mungkin aku memang tidak cukup baik."

"Jadi aku berusaha."

"Aku berusaha menjadi anak yang Ayah banggakan."

"Aku berusaha tidak membuat masalah."

"Aku berusaha mendapatkan nilai bagus."

"Aku berusaha tersenyum ketika sebenarnya aku ingin menangis."

Suaranya mulai bergetar hebat.

"Karena aku pikir..."

Ia menatap Bagaskara dengan mata penuh air mata.

"...kalau aku menjadi anak yang cukup baik, Ayah akan kembali melihatku seperti dulu."

Bagaskara tidak mampu berkata apa-apa.

"Tapi ternyata..."

Arunika tertawa getir.

"...aku tidak perlu menjadi lebih baik."

"Aku hanya perlu tahu bahwa aku bukan anak kandung Ayah."

Ia menepuk dadanya sendiri.

"Karena selama bertahun-tahun, aku menyalahkan diriku sendiri untuk sesuatu yang bahkan bukan kesalahanku."

Bagaskara menutup mata.

"Maafkan Ayah."

Arunika langsung menggeleng.

"Jangan."

"Arunika..."

"Jangan minta maaf dulu."

Air mata mengalir di wajahnya.

"Aku cuma mau Ayah menjawab satu pertanyaan."

Bagaskara menatapnya.

"Setelah Ayah tahu aku bukan anak kandung Ayah..."

Arunika menarik napas.

"...apa Ayah pernah menyesal membesarkanku?"

Bagaskara membeku.

"Jawab, Yah."

"Jangan pernah berpikir seperti itu."

"Jawab."

"Tidak."

Jawaban Bagaskara terdengar tegas.

"Tidak pernah."

Arunika terdiam Bagaskara melangkah mendekat.

"Memang kamu bukan anak kandung Ayah."

Kalimat itu membuat Arunika kembali menahan napas.

"Tapi jangan pernah samakan darah dengan keluarga."

Mata Bagaskara memerah.

"Karena sejak pertama kali kamu memanggilku Ayah..."

Suaranya bergetar.

"...Ayah sudah menganggapmu sebagai putri Ayah."

Arunika menggigit bibirnya.

"Kalau begitu kenapa Ayah berubah setelah menikah dengan wanita itu?"

Bagaskara terdiam Pertanyaan itu membuat wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

"Kenapa setelah punya istri dan keluarga baru, aku merasa seperti seseorang yang harus pergi supaya Ayah bisa bahagia?"

"Kenapa Ayah membiarkan aku merasa sendirian?"

"Kenapa ketika mereka menyakitiku, Ayah diam?"

Bagaskara menundukkan kepala.

"Karena Ayah pengecut."

Arunika membeku Bagaskara menghela napas panjang.

"Ayah pikir selama kamu masih tinggal di rumah itu, kamu akan baik-baik saja."

"Ayah terlalu sibuk menjaga pernikahan Ayah."

"Dan tanpa sadar..."

Matanya berkaca-kaca.

"...Ayah mengorbankan perasaan anak sendiri demi mempertahankan rumah tangga."

Arunika menangis tanpa suara.

"Setelah menikah, Ayah memang berubah."

Bagaskara mengakuinya.

"Dan Ayah tidak punya alasan untuk membantah itu."

Ia menatap Arunika.

"Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah."

"Apa?"

"Kamu."

Bagaskara menunjuk dada nya.

"Di hati Ayah, kamu tetap putri Ayah."

Arunika menatapnya lama.

"Kalau begitu..."

Suara Arunika hampir berbisik.

"...kenapa selama ini aku merasa harus pergi supaya Ayah bisa bahagia?"

Bagaskara tidak mampu menjawab Karena kali ini, tidak ada alasan yang cukup untuk menutupi kesalahannya. Arunika mengusap air matanya.

"Aku datang hari ini bukan untuk meminta Ayah memilih aku."

"Aku juga tidak ingin Ayah meninggalkan siapa pun demi aku."

"Aku cuma ingin mengatakan satu hal."

Bagaskara menatapnya.

"Aku pernah sangat menyayangi rumah ini."

Arunika menoleh ke sekeliling.

"Dan aku pernah sangat menyayangi Ayah."

Kata-kata terakhir membuat suara Bagaskara tercekat.

"Tapi aku tidak bisa terus tinggal di tempat yang membuatku merasa tidak diinginkan."

"Arunika..."

Arunika berbalik.

Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti, Tanpa menoleh, ia berkata lirih,

"Dan Yah..."

Bagaskara menatap punggungnya.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

Arunika tersenyum kecil di tengah tangisnya.

"Karena meskipun aku bukan anak kandung Ayah..."

Ia menutup matanya.

"...setidaknya, untuk beberapa tahun dalam hidupku, aku pernah percaya bahwa aku punya seorang Ayah."

1
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!