~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
***
Sorak-sorai pesta umum di pelataran desa perlahan surut saat malam kian larut. Namun, bagi Melani, rangkaian prosesi adat empat bulanan itu rupanya belum usai sepenuhnya. Rangga Wira membimbing istrinya menuju Balai Adat Dalam—sebuah ruangan luas yang khusus diperuntukkan bagi kaum wanita suku Hulu Rawa.
Di dalam ruangan berdinding kayu cendana yang harum semerbak, puluhan ibu-ibu senior desa, Mbah Salma, dan Mak Senah telah berkumpul melingkar. Rangga yang mengerti aturan adat hanya bisa berdiri di ambang pintu, mengecup lembut dahi Melani sebelum membiarkan istrinya masuk.
"Jangan terlalu lama, Mbah... Istri saya sudah sangat lelah," bisik Rangga penuh nada protektif pada Mbah Salma.
"Tenang saja, Ki Rangga. Kami hanya ingin membekali Ibu Pelindung dengan ilmu keharmonisan rumah tangga," pukas Mbah Salma tersenyum penuh arti.
Pintu kayu ditutup rapat. Melani didudukkan di atas pembaruan empuk bermotif tenun emas. Di hadapannya, Mbah Salma dan Mak Senah membuka sebuah kotak kayu ukir berisi wadah keramik kecil berisikan minyak aroma terapi dari racikan akar bunga hutan yang harum menenangkan, serta selembar kain tenun lembut khusus sebagai penyangga perut hamil.
"Bidan Melani..." panggil Mbah Salma dengan suara lembut dan teduh. "Seorang wanita yang sedang mengandung bukan hanya membawa kehidupan baru, tetapi juga harus menjaga kehangatan batin bersama suaminya. Pria sekuat dan seteguh Ki Rangga Wira telah menahan jiwanya selama berbulan-bulan demi kesehatanmu."
Mak Senah menyerahkan wadah minyak aroma terapi itu ke jemari Melani. "Ibu-ibu di suku ini diwarisi cara-cara tradisional... bagaimana tetap memberikan pelayanan dan kehangatan di atas peraduan tanpa membahayakan janin di rahimmu. Ada posisi-posisi khusus, sentuhan lembut, dan minyak hangat ini untuk meredakan pegal sekaligus membangkitkan gairah yang aman."
Melani menunduk malu, pipinya yang merona merah terasa semakin hangat saat para ibu senior secara bergiliran membimbing dan membisikkan petunjuk-petunjuk intim tentang cara memanjakan suami saat usia kehamilan memasuki trimester kedua.
**
Hampir tengah malam, Melani akhirnya tiba kembali di Rumah Adat Utama dengan langkah yang amat lelah. Seluruh persendiannya serasa lolos, dan kepalanya sedikit pening akibat padatnya ritual seharian penuh.
Rangga Wira yang telah menanti di kamar utama seketika bangkit. Pria tegap itu telah mandi bersih, mengenakan sarung tenun hitam lapang tanpa atasan, memperlihatkan dada bidang dan otot-otot tubuhnya yang tegap terpapar pendar redup lampu minyak.
"Dinda..." panggil Rangga cepat, melangkah mendekat dan membopong tubuh lemas Melani untuk didudukkan di tepi peraduan. "Kamu pasti sangat lelah, Sayang."
"Iya, Mas... lelah sekali," bisik Melani tersenyum tipis.
Melani melangkah pelan menuju sudut cermin rias untuk berganti pakaian. Dibukanya kain kurung tenun beratnya, menggantinya dengan gaun daster rumahan berbahan rayon tipis berwarna merah muda lembut. Daster rayon tipis itu begitu jatuh dan melekat di tubuh moleknya, mencetak jelas lekuk pinggulnya serta perutnya yang kini membusung halus membesar di usia enam belas minggu. Tidak hanya itu, perubahan hormon kehamilan membuat area dadanya tampak jauh lebih penuh, menegang indah di balik kain rayon yang tipis.
Saat Melani memutar tubuhnya untuk merapikan rambut hitam panjangnya, ia mendadak tertegun.
Melalui pantulan cermin, manik mata hitam Rangga Wira yang sehitam malam menatap sosok istrinya tanpa berkedip sedikit pun. Pendar gairah yang teramat pekat, liar, namun sarat akan kelembutan membakar bola mata Sang Ketua Adat. Rangga menahan napasnya, dadanya yang berotot naik turun cepat saat menatap perubahan bentuk tubuh istrinya yang tampak luar biasa menggoda, matang, dan sangat memikat.
Melani menghentikan jemarinya. Mengingat wejangan Mbah Salma di balai adat tadi, rasa canggung di hatinya perlahan meluruh, berganti dengan keberanian dan kerinduan mendalam sebagai seorang istri.
Melani memberanikan diri melangkah mendekati tempat tidur, menatap lurus sepasang mata kelam suaminya.
"Mas Rangga..." panggil Melani pelan dengan suara yang amat manis dan serak basah. "Kenapa menatap saya seperti itu?"
Rangga Wira berdeham berat, mencoba menguasai gejolak di dadanya. Pria tegap itu meraih telapak tangan Melani, menarik istrinya lembut hingga Melani terduduk di pangkuannya.
"Kamu... kamu cantik sekali malam ini, Dinda," pukas Rangga dengan suara bariton yang dalam dan agak bergetar. "Bentuk tubuhmu... perubahan kehamilanmu... membuat suamimu ini hampir hilang kendali."
Melani tersenyum manis, melingkarkan kedua tangan lentiknya di leher kokoh Rangga. "Tadi di balai adat... Mbah Salma dan para ibu mengajari saya banyak hal, Mas. Tentang bagaimana seorang istri tetap bisa memanjakan suaminya tanpa perlu takut menyakiti janinnya."
Melani merogoh minyak aroma terapi pemberian Mbah Salma dari sakunya, mengoleskan sedikit di jemarinya, lalu mengusapkannya di leher tegap dan dada bidang Rangga Wira. Aroma wangi bunga hutan yang hangat seketika menyelimuti kamar kayu cendana itu.
Rangga Wira menahan napasnya, memejamkan mata rapat-rapt saat jemari lentik Melani bergerak mesra di atas dadanya. "Dinda... kamu sedang membakar gairah suamimu..."
"Saya tidak ingin Mas menahannya lagi," bisik Melani lembut tepat di bibir Rangga. "Saya milikmu, Mas... Peluk saya... sentuh saya..."
Pertahanan Rangga Wira runtuh seketika.
Dengan gerakan yang amat cekatan namun sarat akan kehati-hatian mutlak, Rangga membopong tubuh molek Melani dan membaringkannya perlahan di atas selimut tenun empuk. Lampu minyak redup melukis siluet gairah yang teramat indah di dinding kayu.
Rangga menunduk, mengecup bibir merah muda Melani dengan cumbuan yang dalam, hangat, dan menuntut. Desahan lembut seketika lolos dari tenggorokan Melani saat lidah mereka saling bertautan mesra.
"Nngghh... Mas Rangga..." desah Melani pelan, meremas bahu kekar suaminya.
Jemari hangat Rangga perlahan merayap naik, menyingkap kain daster rayon tipis Melani. Perhatian Sang Ketua Adat kini tertambat penuh pada perubahan tubuh istrinya. Dengan rasa takjub yang luar biasa, telapak tangan kekar Rangga meremas lembut area dada Melani yang kini tampak lebih penuh dan sensitif akibat hormon kehamilan.
Deg!
"Aaghh! Mas... s-sensitip sekali..." jerit Melani terkejut pelan, dadanya membusung saat ibu jari Rangga secara perlahan memainkan dan memijat lembut area puncak dadanya yang menegang di balik kain tipis.
Rangga Wira menundukkan wajah tegapnya, menempelkan bibirnya di atas area sensitif istrinya tersebut, menyesap dan memainkannya dengan kelembutan yang memabukkan. Permainan baru Rangga yang intens namun penuh perasaan itu seketika mengirimkan gelombang kenikmatan dahsyat yang membuat Melani memeluk erat kepala suaminya.
"Nngghh... Ahh! Mas Rangga... nngghh... enak sekali... Aah!" rintih Melani terengah-engah, matanya terpejam pasrah dalam guncangan kenikmatan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rangga mendongak, menatap wajah ayu istrinya yang bersimbah peluh manis dengan pipi merona pekat. "Kamu sangat harum dan manis, Melani-ku... Dadamu sangat lembut..."
"Mas... cepat... saya butuh Mas..." bisik Melani dengan napas memburu, mengunci pinggul suaminya dengan tatapan memohon.
Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan. Pria tegap itu mengingat dengan baik petunjuk kehamilan yang aman. Rangga membimbing Melani untuk mengambil posisi miring dari samping. Rangga merangkul tubuh molek istrinya dari belakang, menopang kaki atas Melani dengan bantal empuk agar tidak ada tekanan sedikit pun pada perutnya yang membusung empat bulan.
Saat penyatuan sakral itu kembali terjadi, kehangatan yang amat dalam menyapu raga mereka seutuhnya.
"Aaghh! Mas Rangga... Ahh!" jerit Melani pelan, rintihan nikmat lolos dari bibirnya saat guncangan dalam dan berirama mulai diayunkan oleh suaminya dari belakang.
"Nngghh... Melani-ku... Dinda... Sungguh pekat dan hangat..." erang Rangga Wira dengan suara bariton yang serak pekat di leher Melani. Jemari kekar Rangga terus bergerak maju, memijat dan memainkan area dada istrinya seraya mengayunkan pinggulnya dengan tempo yang makin bertenaga namun tetap terkontrol.
Di dalam kamar yang harum minyak aroma terapi itu, gema rintihan dan desahan nikmat saling bersahutan merdu.
"Aah... Mas... pelan... aaghh! Nikmat sekali, Mas..." desah Melani seraya menyandarkan kepalanya di bahu bidang Rangga, merasakan dorongan demi dorongan yang merengkuh jiwanya.
"Ahh... Dinda... Istriku tercinta..." balas Rangga berbisik serak, mempercepat ketukan gerakannya dalam posisi baru yang makin dalam. Tangannya yang lain turun mengusap lembut perut Melani yang membusung, merasakan kehangatan kehidupan buah hati mereka di tengah puncaknya gairah suami istri.
Penyatuan itu berlanjut ke beberapa variasi posisi aman lainnya yang diajarkan para ibu desa. Rangga membalikkan tubuh Melani secara perlahan, membimbing istrinya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, mengayunkan pinggulnya dari belakang dengan dominasi yang luar biasa tampan, seraya kedua tangannya meremas lembut pinggul dan dada Melani yang terguncang nikmat.
"Aaghh! Mas Rangga! Nngghh... Ahh! Sudah mau selesai... Aaghh!" rintih Melani melengking pelan, menggelengkan kepalanya seraya memeluk bantal saat gelombang kenikmatan puncak menghantam seluruh kesadarannya.
"Nngghh... Dinda... Bersama-sama, Sayang... Ahh!" erang Rangga Wira dengan nada kepuasan mutlak.
Di bawah pendar redup lampu minyak, gejolak gairah dan kehangatan puncak itu pecah sempurna. Rangga merengkuh tubuh molek Melani ke dalam dada bidangnya, membiarkan kehangatan penyatuan mereka tuntas sepenuhnya.
Napas keduanya naik turun memburu dalam keheningan malam yang indah.
Rangga Wira mengecup leher dan bahu Melani bertubi-tubi dengan pendar kasih sayang yang tiada tara. "Terima kasih, Dinda... Terima kasih atas malam yang teramat indah ini..."
Melani memutar tubuhnya perlahan, merangkul leher suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada tegap Rangga yang basah oleh peluh hangat.
"Terima kasih juga, Mas Rangga... karena selalu memuliakan dan menjaga saya," bisik Melani lembut seraya tersenyum paling bahagia.
Di atas pembaruan kayu cendana yang hangat, Sang Ketua Adat dan Bidan Pelindung itu terkulai lelap dalam pelukan abadi—menyatu seutuhnya dalam ikatan cinta, rasa syukur, dan kedamaian menyambut hadirnya calon penerus Suku Hulu Rawa.
***
Bersambung
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲