Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamu dan Semen
Pagi itu hujan gerimis halus. Suara ayam tetangga belum terdengar langit masih kelabu gelap, seolah enggan melepaskan malam.
Di kontrakan petak tiga kali empat meter, alamat yang sama persis seperti delapan belas tahun silam, Sari sudah bangun. Dulu, di tempat yang sama, saat usianya baru dua puluh tiga, ia pecah ketuban. Kini ia berusia empat puluh satu tahun lahir sebelas Maret 1985, kini empat puluh satu tahun empat bulan. Kerutan mulai mengukir sudut matanya; tangannya kasar dan kaku, terbiasa mengangkat bakul jamu yang beratnya tak pernah berkurang. Rambutnya diikat sederhana dengan karet gelang, tersisa beberapa helai yang melorot di pelipis.
Ia tak pernah pakai alarm. Penanda waktunya adalah suara motor sayur yang melintas di ujung gang, menderu pelan membelah sepi.
Langsung menuju dapur belakang ruang sempit berukuran satu kali satu meter, dinding papan asbes yang sudah kusam, lantai tanah yang lembap tergerus hujan. Di sana berdiri kompor minyak tanah satu tungku, dan panci aluminium besar yang badannya penyok di beberapa sisi.
Sari mulai menyuluh jamu. Semalam ia sudah menumbuk satu kilogram kunyit hingga halus, dicampur asam jawa, gula merah, dan beras kencur. Lima liter air dituang pelan. Tak lama, aroma tajam hangat menyebar, menusuk hingga ke kamar tidur yang sempit.
Modal hari ini lima puluh ribu rupiah. Kalau laku habis, dua puluh botol bisa seratus ribu. Untung lima puluh ribu. Angka itu berputar di kepalanya, harapan sederhana yang tak pernah pasti.
Di tikar sebelah, Slamet masih terlelap. Empat puluh empat tahun, lahir lima Juni 1982 kini empat puluh empat tahun sebulan. Tubuhnya tetap kurus kecil, namun perutnya mulai membuncit, bekas kebiasaan minum teh dengan gula berlebih. Kaos oblong berwarna abu-abu sudah bolong di ketiak; celana kotak-kotak lusuh menutupi kakinya. Pukul lima pagi nanti ia harus berjalan kaki dua kilometer menuju proyek perumahan BSB City Mijen, mengangkut semen. Upahnya seratus dua puluh ribu sehari jauh lebih baik daripada tiga puluh lima ribu yang ia terima di tahun 2008, saat kisah ini baru dimulai.
Di sudut terjauh, Aurel tidur meringkuk. Delapan belas tahun lahir dua puluh tiga Juli 2008, malam di Rumah Sakit Elisabeth saat lampu padam selama dua menit. Usianya baru tujuh belas tahun sebelas bulan, namun sudah duduk di kelas tiga SMA. Kulitnya putih bersih, hidung mancung, bibir tipis, rambut lurus jatuh sebahu. Tingginya seratus enam puluh lima sentimeter, beratnya empat puluh delapan kilogram berbeda jauh dengan Sari dan Slamet yang berkulit sawo matang gelap, bertubuh mungil seratus lima puluh dan seratus enam puluh sentimeter. Di Gang Mangga tak ada yang berani mengatakannya secara langsung; bisik-bisik hanya terdengar di belakang punggung.
Pukul empat pagi, Sari membangunkan suaminya pelan, menyentuh bahunya dengan tangan yang masih hangat dari dekat kompor.
"Pak... bangun, Pak. Sudah pukul setengah lima. Nanti terlambat lagi, dipotong dua puluh ribu..."
Slamet terjaga, matanya masih berat tertutup kantuk. Ia langsung mengambil air di sumur dingin menusuk tulang lalu berwudhu dan berjalan menuju mushola Gang Mangga yang jaraknya tiga puluh meter. Bangunannya kecil, karpetnya berbau apek tak terhapus, lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tak menentu. Sarung yang ia kenakan sudah menipis, sedikit robek di bagian bawah.
Pukul empat lewat tiga puluh, giliran Aurel yang dibangunkan.
"Nduk... bangun, Nak. Sekolah. Angkot jam enam sudah padat nanti..."
Aurel terjaga, menguap lebar, matanya masih kabur. Ia melangkah ke kamar mandi belakang pintunya dari triplek yang sudah lapuk menyiram tubuh dengan air sumur yang sedingin es. Sabun batang berwarna kuning itu dipakai untuk mandi, mencuci baju, dan mencuci piring dibagi tiga, tak boleh terbuang sedikit pun.
Seragam SMA Loyola sudah dicuci semalam, namun masih terasa lembap di kulit. Rok abu-abunya kini tergantung di atas lutut — Aurel tumbuh tinggi, kainnya tak menambah panjang. Kemeja putih yang dulu longgar kini pas di badan, kerahnya mulai menguning. Sepatu putih merk Bata yang dibeli dua tahun lalu saat kelas satu sol depannya sudah mengelupas. Semalam Slamet menjahitnya dengan benang hitam, lalu mengolesi lem Fox agar tak terlihat robeknya.
Pukul lima tepat, Slamet berangkat. Bekal di tangan: nasi dibungkus daun pisang, sepotong tempe goreng, sambal, dan teh manis dalam botol bekas yang tutupnya sudah tak rapat. Ia berjalan menyusuri jalan setapak Gunungpati, melewati kebun pohon jati yang daunnya berdesir pelan tiga puluh lima menit perjalanan hingga sampai di lokasi.
"Bu, aku berangkat dulu," ucapnya pelan.
"Iya, Pak. Hati-hati. Jangan lupa pakai masker, debu semennya tebal," jawab Sari, mengantarnya sampai pintu.
Pukul lima lewat tiga puluh, Sari yang warga sekitar memanggilnya Lastri pun berangkat. Bakul anyaman bambu berlapis aluminium di punggungnya, berisi dua puluh botol bekas sirup Marjan yang beratnya lima belas kilogram. Diikat dengan selendang batik yang warnanya sudah pudar. Langkahnya berkeliling Gunungpati Manyaran Ngaliyan. Harapannya pulang jam tiga siang.
Sebelum melangkah, ia menyodorkan selembar uang kepada Aurel.
"Nduk... ini sepuluh ribu buat jajan ya, Nak. Ibu cuma punya segini. Maafkan Ibu..."
Uang itu lusuh, terlipat berkali-kali.
Aurel menerimanya, tersenyum tulus. "Makasih, Bu. Sudah cukup kok."
Ia tak bilang bahwa di sekolah, uang saku teman-temannya paling kecil lima puluh ribu yang terbesar dua ratus ribu sehari.
Pukul enam, Aurel berangkat. Berjalan kaki empat ratus meter hingga pertigaan Pasar Gunungpati, menunggu angkot. Angkot hijau nomor tujuh rute Gunungpati–Jatingaleh, dikemudikan Pak Dul yang sudah enam puluh tahun. Kendaraannya tua, pintu sulit tertutup, knalpotnya berdengung keras menembus pagi. Ongkos lima ribu rupiah. Ia naik, duduk di bangku paling belakang, dekat jendela yang kacanya retak. Di dalam penuh penumpang bau keringat, bau rokok, napas pagi yang bercampur menjadi satu.
Empat puluh lima menit perjalanan, angkot berhenti lama di Manyaran, lalu di Jatingaleh. Aurel diam saja, menatap keluar jendela. Mobil-mobil bagus meluncur halus di jalan utama. Ia memandang tanpa iri, hanya sadar dunianya berbeda arah.
Pukul enam lewat empat puluh, tiba di depan SMA Loyola Semarang, di Jalan Karanganyar. Gerbang tinggi menjulang, satpam berdiri rapi berseragam. Parkiran penuh mobil mewah CRV, Pajero, Alphard yang mengantar murid-muridnya tepat di depan pintu gerbang. Tas-tas mereka bermerek, sepatu mereka bersih dan berkilau.
Aurel turun dari angkot yang berdebu, tas kain hitam di bahu resletingnya rusak, diikat peniti agar tak terbuka. Sepatu yang diperbaiki ayahnya melangkah pelan di aspal halus itu. Ia menunduk sedikit, berjalan cepat menuju gerbang.
Di kelas XII IPA 3, pelajaran pertama Matematika pukul tujuh pagi. Aurel duduk di bangku paling belakang, dekat jendela. Di sebelahnya Sinta anak keluarga mampu, gadis yang baik hati. Aurel tak punya ponsel canggih; miliknya Samsung J2 Prime pemberian Slamet, bekas sejak 2018. Layarnya retak di sudut, baterai harus diisi tiga kali sehari, membuka Instagram saja sering tersendat.
Jam sembilan lewat tiga puluh istirahat pertama. Kantin sekolah luas dan bersih, menjual ayam geprek dua puluh lima ribu, burger dua puluh ribu, es teh jumbo dua belas ribu. Teman-teman berkerumun tertawa. Aurel tak pergi ke sana. Ia membuka bekalnya di dalam kelas, diam-diam agar tak dilihat siapa pun — nasi putih, sepotong tempe goreng yang dibagi dua, sambal terasi, dan air putih dari botol bekas.
Sinta memperhatikannya. "Rel, kamu selalu bawa bekal ya?"
"Iya. Masakan Ibu enak kok," jawab Aurel sambil tersenyum, meski hatinya menahan malu.
Pukul dua belas siang istirahat kedua. Ia sholat Dzuhur di mushola sekolah, mengenakan mukena yang sudah empat tahun ia miliki, warnanya memudar tak cerah lagi.
Sore pukul empat belas, pelajaran berakhir. Ujian Fisika tadi Aurel mendapat nilai delapan puluh lima, tertinggi di kelas. Ia pulang dengan perasaan hangat itu, meski tahu kabar itu tak bisa langsung dibagi.
Angkot pulang sama berhenti lama lagi, perjalanan terasa lambat. Tiba di kontrakan Gang Mangga pukul lima lewat dua puluh. Rumah masih kosong. Sari belum pulang, Slamet belum pulang.
Aurel berganti pakaian, lalu mencuci piring sisa sarapan yang tertunda, menyapu lantai semen yang berdebu, melipat pakaian jemuran.
Pukul empat sore, Sari pulang. Langkahnya berat, bakul masih menyisakan delapan botol jamu. Hanya dua belas botol yang laku. Enam puluh ribu rupiah masuk modal lima puluh ribu, untung sepuluh ribu. Jamu yang tersisa akan basi besok, harus dibuang berarti rugi dua puluh ribu. Ia duduk di tikar, mengusap kakinya yang bengkak setelah berjalan sepuluh kilometer seharian.
"Laku berapa, Bu?" tanya Aurel mendekat.
"Dua belas, Nduk... cuma enam puluh ribu. Kaki Ibu bengkak..." suaranya pelan, lelah.
Aurel duduk di sebelahnya, memijat pelan kaki ibunya yang kasar dan bengkak.
Pukul lima lewat tiga puluh, Slamet pulang. Pakaiannya berlumuran semen, sepatu karet penuh lumpur, wajahnya berdebu, tangan kecilnya lecet sedikit berdarah. Hari ini seharusnya dapat seratus dua puluh ribu tapi dipotong dua puluh ribu karena kemarin terlambat sepuluh menit, dimarahi mandor.
"Ini, Bu... seratus ribu," ucapnya, menyodorkan uang yang terlipat kasar.
Sari menerimanya, langsung menyelipkan ke celengan ayam jago dari tanah liat berwarna merah yang berdiri di atas lemari plastik. Celengan itu sudah berat, berisi dua ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah. Dikumpulkan tiga bulan untuk biaya pendaftaran ulang Aurel bulan depan lima ratus ribu.
Masih kurang dua ratus tiga belas ribu.
Malam pukul tujuh, mereka makan bersama di tikar. Lampu lima watt remang-remang menerangi ruangan kecil itu. Nasi putih, semangkuk sayur bayam, tiga potong tempe goreng dibagi tiga, sambal, dua kerupuk dipotong rata. Tak ada ayam, tak ada telur, tak ada daging. Sudah tiga bulan mereka tak membelinya setiap rupiah ditabung.
Setelah makan, pukul tujuh lewat tiga puluh, Aurel belajar di bawah cahaya lampu teplok listrik sering padam. Ia mempelajari buku pinjaman perpustakaan, bersiap menghadapi ujian masuk perguruan.
Sari dan Slamet duduk di luar, di kursi kayu yang goyang. Langit di atas Gunungpati gelap, bintang terlihat samar.
"Pak... celengan masih kurang dua ratus tiga belas ribu buat daftar ulang Aurel. Bagaimana ya, Pak?" bisik Sari, takut terdengar dari dalam.
"Iya, Bu... besok aku minta lembur pengecoran. Bilang mandor, dapat tambahan lima puluh ribu," jawab Slamet, suaranya berat dan lelah, namun teguh.
Di dalam, Aurel menatap foto kecil hitam putih yang menempel di dinding triplek. Foto bayi di Rumah Sakit Elisabeth, dua puluh tiga Juli 2008 bayi putih dibungkus selimut merah muda, digendong Sari yang kala itu baru berusia dua puluh tiga tahun.
Aurel belum tahu bayi itu bukan anak kandung Sari. Anak kandung Sari, yang berkulit sawo matang seperti dirinya, kini tinggal di rumah mewah kawasan Graha Candi Golf. Namanya Clarissa, juga berusia delapan belas tahun.
Malam itu tak ada tangisan, tak ada pertengkaran, tak ada yang terbongkar. Hanya suara jangkrik dari kebun jati di belakang, dan celengan tanah liat yang berdiri di atas lemari berisi dua ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah, serta harapan yang belum cukup tinggi untuk menutupi kenyataan
kalau bisa double up