Gadis cantik berpenampilan culun bernama Diana sarasvati, dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali siswa laki-laki di sekolah lamanya yang menyukainya karena kecantikannya, dan membuat dia dimusuhi oleh teman wanitanya. Untuk menghindari hal tersebut dia merubah penampilannya menjadi culun, dan menjadi siswa baru di SMA Nusa Bangsa. Ternyata di sekolah baru bukan menyelesaikan masalah justru karena penampilannya yang seperti orang culun, banyak teman yang membullynya.
Ada seseorang teman laki-laki tampan namanya Galen Ray Suhendra. Dia salah satu siswa yang mau berteman dengan Diana, dan membela Diana saat dibully.
Untung saja Diana siswa yang pandai, dan karena kecerdasannya itu mengharumkan nama sekolah. Dan semenjak itu dia mulai mempunyai teman banyak, walaupun masih ada yang tidak suka dan membully.
Mari kita simak bagaimana perjuangan Diana menghadapi teman- temannya, apakah Diana akan merubah penampilannya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulangan
Bik Asri kebetulan lewat depan kamar Papah Adi, beliau melihat Icha sedang mengetuk pintu sambil memegang perutnya. Kemudian Bik Asri segera mendekati Icha dan membantunya untuk duduk, Icha meminta Bik Asri untuk segera memanggil Papah Adi.
Suara ketukan pintu yang begitu keras, membuat Papah Adi segera bangun dari tidur lalu membuka pintu. "Ada apa, Bik? ini sudah tengah malam," ucapnya.
"Lihat Nyonya Icha, Tuan," kata Bik Asri.
Darah segar mengalir di kaki Icha, membuat Papah Adi khawatir lalu meminta bantuan Bik Asri untuk membawa Icha masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Icha mengeluh kesakitan.
"Mas, cepat dong jalannya! perut aku sakit banget," kata Icha yang duduk dibelakang besama Bik Asri.
Papah Adi padahal sudah melajukan kendaraannya dengan kencang, hampir saja mereka menabrak motor yang menyebrang dengan asal. Untung saja Papah Adi dengan cepat menginjak rem, dan membuat kepala Icha terbentur lalu marah kepada Papah Adi.
Sampai di rumah sakit Icha langsung mendapatkan perawatan dokter, kemungkinan ada masalah dengan kandungannya. Lima belas menit berlalu, Dokter sudah selesai memeriksa Icha.
"Pak Adi, bisa ke ruangan saya sebentar! ada yang perlu kita bicarakan," ucap Dokter.
Papah Adi lalu mengikuti Dokter ke ruangannya, Dokter menjelaskan kalau kandungan Icha sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan harus dilakukan tindakan. Semua itu karena usia Icha yang terbilang masih muda, dan sangat beresiko. Apalagi Icha tidak pernah meminum obat, yang diberi oleh Dokter saat periksa kehamilan. Dokter kemudian memberikan sebuah berkas untuk Papah Adi, agar segera ditandatangani dan segera dilakukan tindakan.
"Saya harus membicarakan semua ini dengan Icha, Dokter. Saya tidak bisa tanda tangan," kata Papah Adi membuat Dokter mengernyitkan dahinya.
Papah Adi kembali ke ruangan di mana Icha terbaring lemah, beliau lalu memberitahu Icha soal kandungannya.
Icha memasang wajah sedihnya, dia menangis dan memberontak ingin memukul suster yang ada disebelahnya. Papah Adi dan Bik surti berusaha menenangkan Icha, setelah tenang baru Papah Adi menandatangani berkas itu.
Beruntung saja ada Dokter kandungan yang berjaga malam di rumah sakit itu, jadi Icha bisa diselamatkan.
Saat berada di dalam ruang tindakan Icha tersenyum, dia begitu lega. Akhirnya bisa bebas lagi, sekarang dia tidak memikirkan rasa sakitnya tetapi yang dia pikirkan bagaimana cara agar tidak diceraikan oleh Papah Adi.
###
Ray pagi ini sudah siap pergi ke sekolah, saat hendak berpamitan hanya ada Bik Asri yang kebetulan menyiapkan sarapan untuknya.
"Bik, Papah kemana ya? kok di kamarnya gak ada," ucap Ray sembari mendudukkan diri.
"Semalam Nyonya Icha sakit, terus kita bawa ke rumah sakit. Sepertinya keguguran, Den," jelas Bik Asri meletakkan sepiring nasi goreng untuk Ray.
"Oh... Ray pikir pergi kemana," kata Ray. Bik, tolong masukan ke kotak makan saja," Lanjutnya. Menyodorkan nasi goreng ke arah Bik Asri, karena ada ulangan Ray menjadi terburu-buru berangkat ke sekolah.
Bik Asri memaksa Ray untuk tetap sarapan, agar saat mengerjakan ulangan tidak merasakan perut yang lapar. Walaupun sekedar memakan roti, Ray akhirnya mengambil sepotong roti bakar untuk dia makan. "Udah, Bik! Ray berangkat dulu," ucapnya.
Ray langsung menuju ke rumah Diana lebih dulu, untuk menjemput Diana. Ternyata sampai di sana, Mamah Airin mengatakan kalau Diana sudah berangkat lebih dulu ke sekolah dengan sepedanya. Ray pun langsung menuju ke sekolah, sampai di sekolah ia melihat Diana sedang belajar di bawah pohon depan perpustakaan. Dia langsung menghampiri Diana, dan langsung duduk di sebelah Diana.
"Diana, kenapa kamu ninggalin aku! tadi aku jemput kamu, gak taunya udah duluan," ucap Ray dengan wajah kesalnya.
"Aku gak nyuruh buat jemput, Galen! jadi gak usah jemput besok lagi," ucap Diana masih fokus dengan buku yang dia baca.
Ray merebut buku itu, dan memasukkan ke dalam tas. Sudah dua buku milik Diana yang dibawa oleh Ray, dia memang sengaja tidak mengembalikan.
"Bakal aku balikin kok! asal kalau dibilangin itu nurut," ucap Ray lalu berdiri hendak menuju ke dalam kelasnya.
"Kalau bukunya dibawa, aku gimana belajarnya? Nanti kan ada ulangan, Galen. Awas saja kalau nilai ku jelek," ucap Diana kemudian berdiri hendak mengikuti Ray.
Di dalam kelas mereka tidak ada siswa yang belajar, mereka justru bercerita dengan menggerombol dan ada juga yang bercanda.
"Galen, mana buku ku," ucap Diana.
Ray mengajak Diana untuk belajar bersama, ada pelajaran yang kebetulan Ray tidak mengerti lalu bertanya pada Diana. Begitu juga sebaliknya, kalau ada yang Diana tidak tau akan bertanya pada Ray, hingga membuat iri yang melihat.
Bu Mirna sudah masuk ke dalam kelas, beliau meminta semua siswa untuk duduk dengan rapi karena akan membagikan lembaran tugas dan jawaban.
"Kerjakan tiga puluh menit dari sekarang! ingat jangan ada yang menyontek," ucap Bu Mirna.
Kalau tidak berulah bukan Siska namanya, dia menendang kursi yang diduduki oleh Diana. Anak itu berencana menukar lembar jawaban milik Diana, tetapi Diana tidak menoleh sama sekali.
Siska berusaha untuk mencari contekan, dia kesulitan dalam mengerjakan tugas dari Bu Mirna. Padahal soal yang diberikan tidak sulit, dan banyak yang sudah selesai menjawab.
Bu Mirna melotot ke arah Siska, yang saat ini sedang menusuk punggung Diana menggunakan bolpoin. "Siska, cepat kerjakan! teman-teman kamu sudah hampir selesai," ucapnya.
Banyak sekali pelajaran yang Siska belum mengerti, hingga membuatnya lama berfikir. Karena merasa kesulitan Siska mengganggu Diana lagi, dia ingin meminta bantuan tetapi Ray melarang Diana untuk memberitahu.
Kini waktu mengerjakan tugas sudah selesai, semua siswa sudah mengumpulkan. Bu Mirna kemudian membawa jawaban mereka ke kantor untuk dinilai, sedangkan mereka diberikan tugas.
Maura dan Cika memastikan kalau Bu Mirna sudah ke kantor, lalu mereka menemui Siska yang kebetulan duduk di bangku belakang Diana.
"Culun, pelit banget lu jadi orang! ditanya bukannya jawab malah cuekin," ucap Siska sembari menjambak rambut Diana.
"Lepaskan tangan kamu, Siska! sakit!" teriak Diana.
Siska bukannya melepaskan tetapi justru menarik rambut Diana, dia tidak peduli dengan Diana yang merasakan sakit.
Ray kemudian berdiri dan meminta Siska untuk menghentikan perbuatannya, tetapi justru membentak Ray agar tidak ikut campur.
Siska baru menghentikan perbuatannya setelah mengetahui kalau Bu Mirna datang ke kelas, dia langsung berpura-pura baik pada Diana dan Ray. Membuat Ray semakin kesal dengan ulah Siska, baru kali ini ada siswa yang seperti Siska.
Bu guru mengumumkan kalau ada siswa yang nilainya kurang bagus, membuat semua siswa bertanya-tanya siapa yang nilainya jelek.
jangan ngancam donk ray
jangan di sembunyikan dan di zholimi mulu ....