NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 FROZ, ENTITAS TINGKAT BAWAH 4

Tiga hari berlalu persis seperti kata Cecilia.

Kami berjalan dari fajar sampai senja, tidur bergantian di bawah pohon, dan makan dari sisa perbekalan desa kecil itu. Di hari ketiga, garis hijau samar di cakrawala berubah menjadi dinding hutan raksasa.

Pohon-pohonnya setinggi menara Sendira, batangnya selebar rumah, dan kanopinya menutup langit hingga cahaya siang jatuh sebagai bercak-bercak emas di tanah berlumut.

"Yey....kota Artheria," Sorak Vivi. Ia terbang lebih tinggi dari biasanya, matanya berbinar. "Ah...aku sudah seratus tahun tidak ke sini."

Kami melewati gerbang kayu yang terukir akar-akar hidup. Di baliknya terbentang kota yang dibangun di antara batang-batang pohon: jembatan gantung, rumah-rumah di cabang tinggi, dan jalan setapak berlapis lumut yang berkilau.

Tapi kota itu sunyi tak ada suara.Tidak ada pedagang, tidak ada anak-anak berlarian, tidak ada asap dapur. Daun-daun berguguran di atas jalan yang kosong, dan pintu-pintu rumah terbuka separuh, bergoyang pelan tertiup angin.

"Lah, Ke mana semua orang?" bisik Iyan. Gadanya yang retak sudah ada di tangannya.

"Entahlah." Aku menarik pedangku setengah. "Pokoknya kita harus tetap rapat dan waspada."

Kami menyusuri jalan utama dengan langkah pelan. Dari balik jendela-jendela gelap, aku merasa seperti sedang diawasi. Di salah satu beranda, semangkuk sup masih utuh di meja, uapnya sudah lama hilang. Mereka pergi terburu-buru.

Aku mengeluarkan peta batu akik dari balik jubah dan membukanya sambil berjalan. Titik merah di barat bertanda simbol pohon, tepat di jantung kota. "Ok..dari sini kita harus jalan ke tengah dan batu pertamanya ada di sana."

"Itupun kalau masih ada," gumam Iyan.

Kutepis pikiran itu dan terus melangkah. Aku sedang membandingkan peta dengan sebuah pohon raksasa di depan kami ketika sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dari samping.

Aku refleks menarik pedang, tapi cengkeraman itu kuat dan tak melukai. Aku diseret masuk ke celah sempit di antara dua akar pohon. Di belakangku, kudengar Iyan mengumpat pelan dan mengikuti, Vivi menyusul sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.

"Sshhhh.....diam," desis seseorang di kegelapan. "Kumohon, diam sebentar."

Kami menuruni tangga kayu sempit yang tersembunyi di balik akar, lalu pintu berat tertutup di atas kepala kami. Kegelapan mendadak dipecah cahaya lentera redup.

Aku tertegun.

Di bawah tanah terbentang ruang luas seperti gudang, dan di dalamnya, ratusan orang berdesakan. Ibu-ibu mendekap bayi, orang-orang tua meringkuk di sudut, anak-anak menempel pada orang tua mereka dengan mata sembab. Tak seorang pun bersuara. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Yang menarikku adalah seorang gadis berambut cokelat sebahu, mengenakan seragam kelabu dengan lencana delapan sudut di dada kiri. Di punggungnya tergantung sebuah crossbow logam yang ramping, dan di pinggangnya terselip belasan anak panah pendek. Ia menempelkan telunjuk di bibir.

"Apa yang terjadi sih?" bisikku sepelan mungkin.

Ia tak menjawab. Matanya tertuju pada langit-langit kayu di atas kami. Aku mengikuti pandangannya, dan beberapa detik kemudian, aku mendengarnya.

suara langkah kaki.

Pelan, teratur, berjalan di atas lantai pohon. Satu langkah, jeda, satu langkah lagi. Dan di antara langkah-langkah itu, terdengar suara yang membuat kulitku merinding: cekikikan rendah, seperti seseorang yang menikmati permainan petak umpet.

"Hehehe... keluar, keluar... aku tahu kalian di sini..."

Seorang bayi mulai merengek. Ibunya langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, air mata menetes di pipinya. Langkah di atas berhenti tepat di atas kepala kami. Seluruh ruangan menahan napas.

Satu detik. Dua. Tiga.

Langkah itu bergerak lagi, menjauh, hingga akhirnya lenyap. Gadis itu menghembuskan napas lega yang panjang.

"Uh...hampir aja, di luar tadi ada entitas," bisiknya, nyaris tanpa suara.

Rasanya seperti ditampar. Wajah bersisik dan mata merah di lembah batu hitam kembali menyeruak di benakku.

"Entitas?" ulangku. "Di sini?"

"Iya, Sejak tiga hari yang lalu. Dia mengurung kota, membuat semua orang bersembunyi." Gadis itu menatapku, lalu pada lencana di dadaku, dan matanya melebar. "Kalian dari korps, ya.. Syukurlah."

"loh Anna, kamu disini," kata Iyan, memamerkan lencananya dengan wajah tegang.

"iya....Oh ya dia pasti temanmu ya..?" Ia tersenyum lemah. "Salam kenal, Namaku Anna, Aku seorang marksman. Aku sudah tujuh bulan di korps, jadi aku senior kalian, tapi jangan terlalu bangga." Ia menyentuh dadanya dengan salam kota. "Kak Cecilia menugaskanku berpatroli di sini karena kota ini menyimpan satu batu akik. Tiga hari lalu, saat aku berjaga, dia datang. Aku hanya sempat menyelamatkan sebanyak yang bisa kutarik ke bawah tanah."

"Kamu disini sendirian?" tanyaku.

"Yap....aku disini selama tiga hari."

"Oh...oh ya aku lupa...namaku Arka," kataku. "Dan ini Iyan, serta Vivi. Kak Cecilia memang memberiku misi baru: mengumpulkan lima batu akik yang tersebar di seluruh dunia, supaya delapan kristal bisa direbut kembali dari tangan Zaranos."

Wajah Anna mendadak pucat. "HAH! Direbut... kembali?"

"Ya."

"Jadi kedelapan kristal itu..." Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Zaranos sudah mendapatkan Semuanya kah?"

"Sshhhh....Anna, pelan pelan ngomongnya..."

"Tapi itu artinya..."

"ANNA!" Iyan menarik lengannya. "Pelan!"

DUAR!!!!! SudahTerlambat.

Dari atas kami, terdengar bunyi dentuman keras. Seluruh basement berguncang, debu berjatuhan dari langit-langit, dan para penduduk menjerit tertahan. Lalu suara itu kembali, kali ini bukan cekikikan. Tawa lepas, nyaring, dan penuh kepuasan.

"Oi oi...kalian bertiga...Aku denger loh soal delapan kristal dan lima batu akik yang tersebar! Terima kasih, anak-anak, kalian baik sekali memberitahuku hahahaha....!"

BRAAAAKKK!

Lantai kayu di atas kami hancur berantakan. Serpihan papan dan potongan dahan berhamburan ke seluruh ruangan, penduduk berlarian menjerit, dan sesosok tubuh melompat turun dari lubang menganga itu dan mendarat ringan di tengah basement.

Ia jangkung dan kurus, mengenakan mantel kulit hitam compang-camping. Kulitnya dilapisi sisik-sisik kelabu keperakan yang mengilap seperti ikan, dan dari balik rambut hitam kusutnya, dua mata merah menyala tanpa kelopak menatap kami. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah pistol hitam yang ramping, larasnya berasap tipis.

"Froz!!!" desis Anna, tubuhnya menegang. "Entitas.. tingkat bawah empat."

Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi runcing. "Wah Wah...sepertinya aku terkenal ya... Tapi.. kalian hanyalah bocah-bocah korps yang terlalu bodoh untuk berbisik, ya?" Ia mengacungkan pistolnya ke arah kami, lalu mengetukkan larasnya ke bahu dengan santai.

"Tiga hari aku mengitari kota ini, mencari batu itu. Dan hari ini, gratis, kalian memberi aku petunjuk yang lengkap!

"SEMUANYA MUNDUR DAN CARI PERLINDUNGAN!!!!"teriakku pada penduduk. "Iyan, Anna! Ayo kita serang!!"

"Ok!!!!" jawab mereka serempak

Kami bergerak bersamaan. Pedangku keluar penuh, Iyan memutar gadanya yang retak, dan Anna menarik crossbow-nya dengan kecepatan yang membuatku kagum. KLIK! Anak panah terpasang.

"Tiga lawan satu ya..," kata Iyan, berusaha terdengar yakin.

Froz tertawa. "Hitunglah dengan benar, anak muda."

Ia mengangkat tangan kirinya dan menjentikkan jarinya.

"shadow manipulation: clone formation"

Bayangan di lantai basement bergerak. Bayangan lentera, bayangan tiang, bayangan tubuh Froz sendiri tiba-tiba menggelembung, menarik diri dari lantai seperti kain hitam yang diangkat. Dalam sekejap, dari bayangan itu berdiri dua belas Froz lain, semuanya memegang pistol hitam yang sama, semuanya menyeringai dengan gigi runcing yang sama.

"Klon bayangan," bisik Vivi dari bahuku. Suaranya nyaris tak terdengar.

"Berapa pun yang aku inginkan," kata Froz-Froz itu serempak, suara mereka menumpuk seperti paduan suara. "Ayo...silahkan tebak mana yang asli."

DOR! DOR! DOR! DOR!

Dua belas pistol meletus bersamaan.

Aku tidak melihat pelurunya. Aku hanya merasakan hawa dingin mematikan menyambar dari depan, dan tubuhku bergerak sendiri. Aku berguling ke samping, dan di tempat kepalaku tadi berada, tiang kayu di belakangku berlubang bersih tanpa suara, bulat sempurna, tepinya hitam seperti dimakan kegelapan.

"Itu peluru bayangan!" teriak Anna sambil melompat ke balik peti. "Semuanya hati hati..satu tembakan aja bisa bikin tubuh kalian bolong!"

"Ok terima kasih, aku sudah lihat!" balas Iyan.

Anna menjawab dengan tembakan. THWANG! THWANG! THWANG! Tiga anak panah meluncur dalam satu kedipan, menembus tiga Froz sekaligus. Ketiganya pecah menjadi asap hitam dan lenyap. Tapi sebelum asap itu menghilang, bayangan di lantai bergerak lagi, dan tiga klon baru muncul di tempat yang sama.

"hahahahah Percuma saja kalian melawannya!" tawa Froz. "Selama ada bayangan di ruangan ini, aku tak akan habis!"

Bayangan, pikirku. Selama ada cahaya yang membentuk bayangan.

Tak ada waktu memikirkannya lebih jauh. Lima Froz menerjang dari kiri, pistol mereka menyalak berturut-turut. Aku berlari menyamping, pedangku menyambar. TRANG! Kutangkis satu peluru bayangan yang melintas, bilahku bergetar hebat dan ujungnya menghitam sesaat. TRANG! TRANG! Dua lagi kutepis, percikan hitam kebiruan meloncat dari bilahku.

"Arka, disebelah kiri!"

Iyan melompat di depanku, kedua gadanya menyilang. DUAKK! Ia menghantam seorang klon yang menyelinap lewat samping, kepala klon itu pecah menjadi kabut. Tapi dua klon lain menembak serentak dari belakang.

DOR! DOR!

Iyan merunduk tepat waktu. Peluru-peluru itu melintas di atas punggungnya dan menembus dinding kayu, meninggalkan dua lubang hitam sebesar kepalan.

"Duh...terlalu dekat!" serunya.

"Jangan berhenti bergerak semuanya...!" teriak Anna dari balik peti. Ia melompat keluar, berputar di udara, dan melepaskan anak panah beruntun. THWANG-THWANG-THWANG-THWANG! Empat anak panah menembus empat klon, dan ia mendarat dengan lutut tertekuk, tangannya sudah mengisi ulang.

Kecepatannya membuatku bergidik. Dia sudah menarik anak panah berikutnya sebelum lawannya sempat jatuh.

Aku mengambil celah itu. Kuhentakkan kaki, menerobos kerumunan klon dengan kecepatan penuh. Pedangku menyambar ke kiri, ke kanan, dan memutar. SYUUT! SYUUT! SYUUT! Tiga klon menguap menjadi asap hitam dalam satu tarikan napas. Lalu aku melihatnya: di ujung kerumunan, satu Froz berdiri diam, tidak ikut menembak, hanya menatapku dengan senyum miring.

Aku melompat. Bilahku turun dari atas.

KLANG!

Pedangku tertahan di tengah jalan. Froz itu menyilangkan dua pistolnya, dan laras-laras itu menahan bilahku tanpa lecet. Dari jarak sedekat ini, mata merahnya tampak berpendar.

"Cepat juga ya dirimu," gumamnya. "Tapi...belum cukup untuk bisa membunuhku."

"shadow manipulation, bullet strings"

Jemarinya menekan pelatuk.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Aku memutar kepala sekuat tenaga. 50 Peluru bayangan itu melesat melewati pipiku, begitu dekat hingga rambutku terbakar dingin. Di belakangku terdengar bunyi lubang besar menganga di dinding. Aku menendang perutnya, mendorongnya mundur, lalu menebas dua kali. SYAT! SYAT! Bilahku mengiris mantelnya, merobek sisik di dadanya, tapi tidak ada darah, hanya asap hitam yang bocor dari luka.

"Hmm...." ia terkekeh. "Lumayan juga teknik bertarungmu, Bocah Selatan."

Ia tahu dari mana aku berasal. Kuputar badan mundur, tepat ketika Iyan menerjang dari samping. BUUKK! Gadanya menghantam bahu Froz, membuatnya terhuyung, lalu gada kedua menghantam rahangnya. DUAAKK! Tubuh kurus itu terlempar menabrak dinding basement dan menghancurkan beberapa papan.

"Kena!" seru Iyan.

" Hei, jangan senang dulu!" teriak Vivi.

Froz yang terlempar itu pecah menjadi asap, dan dari asap itu muncul sepuluh klon baru di sekeliling kami. Mereka mengepung. Pistol-pistol hitam terarah dari segala sisi, cincin maut yang menutup rapat.

"Mundur ke belakang!" teriakku.

Kami bertiga berdiri saling memunggungi, Anna di belakang, Iyan di kiri, aku di depan. Napas kami terengah, keringat menetes di dagu. Di antara kaki-kaki kami, bayangan tubuh kami sendiri memanjang tak wajar, merayap ke arah Froz-Froz di sekeliling.

"Apa! mereka pakai bayangan kita juga?." bisik Anna, baru menyadari. "Mereka bisa menarik bayangan siapa pun."

"Yosh...Bagus," gerutu Iyan. "Mari kita beri tahu kalau kita lebih menyukai dia sendirian."

Aku mengeratkan genggaman. Di telingaku, hanya ada deru napas dan detak jantung. Sepuluh pistol terkokang serentak.

KLIK-KLIK-KLIK-KLIK!

"Sekarang," bisik Froz-Froz itu serempak, "Ayo, siapa dulu yang mau jadi lubang?"

Aku menarik napas dalam, menurunkan pusat tubuh, dan menaikkan pedangku. Pertarungan baru dimulai

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!