Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Hari berikutnya tiba. Semua kembali sibuk bekerja. Tapi sibuknya kali ini, mereka lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Pasalnya hari pengenalan produk baru akan segera datang dalam waktu dekat ini. Semua karyawan harus mengurusi beberapa pekerjaan terkait acara tersebut.
Mae si Maemunah juga turut ikut membantu dengan membawa barang-barang untuk di pindahkan ke aula tempat acara tersebut. Saat sibuk-sibuknya, tiba-tiba Catalina datang dan dengan sengaja menyandung kaki Mae agar terjatuh. Gadis ini ingin memberinya sedikit pelajaran pada Mae karena merebut Prince darinya kemarin malam. Benar saja karena pandangannya terhalang oleh tumpukan kardus yang dibawanya, Mae akhirnya terjatuh dan membuat barang-barang yang di bawanya berserakan. Seluruh karyawan yang bekerja terkejut dan langsung menoleh.
"Up sorry," ucap Catalina mengejek sambil menutup mulutnya. Mae hanya mendongak sebal padanya. Pergelangan kakinya kini terasa sakit sebab tergelincir.
Prince dan King yang datang bersamaan segera berlari untuk menolong Mae yang terjatuh. Prince lebih dulu sampai dengan cepat mengangkat Mae dan membuat seluruh isi kantor terkejut kembali.
"Eh lu bawa gue kemana?" celetuk Mae bertanya.
"Diam E!" suruh Prince padanya. Mae lalu melirik ke sekitar dan terkejut melihat teman-teman kantornya tersenyum menggodanya dengan sigap Mae segera menutupi wajahnya dan menahan malu.
Mata Prince melirik sebentar ke arah Catalina yang berwajah tanpa dosa di sana. Ia lalu membawa Mae keluar kantor untuk menuju rumah sakit.
King menyenggol Catalina yang cemberut karena cemburu.
"Kamu ngapain Mae tadi?" tanyanya pelan.
"Apa? Ku tak ngapa-ngapain kok, Mae aja yang lemah," jawab Catalina acuh tak acuh.
"Haish kamu ya, sini ikut aku!"
King menyeret Catalina keluar di saat orang-orang kantor melirik dan membicarakan gadis tersebut.
Saat ini Prince sudah sampai di parkiran dan langsung membuka pintu mobilnya. Ia menurunkan Mae untuk duduk di dalam dengan lembut dan penuh perhatian.
"Gue baik-baik saja Prince," ucap Mae padanya.
"Tak, kamu harus periksa kakimu. Jadi menurut lah!" Suruhnya sambil memasangkan sabuk pengaman padanya.
Prince lalu masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mobilnya. Mae hanya bisa diam melihat Prince yang begitu perhatian padanya. Gadis ini tersenyum simpul di saat Prince menoleh ke arahnya.
Catalina di bawa oleh King ke salah satu lorong kantor. Merasa sakit karena di tarik, Catalina menarik paksa tangannya agar terlepas.
"Aku sudah bilang ku hanya kasih pelajaran saja padanya. Aku tak suka jika Mae itu dengan Prince, King." Catalina mencoba menjelaskan kembali.
"Ku tahu itu, tapi perbuatanmu itu bisa merusak kerjasama bisnis kita Cat."
"Ya ku akan menahan diri mulai sekarang. Sebenarnya apa sih hubungan Prince sama sekretarisnya itu, semua karyawan di sini seperti mendukungnya?" Sebal Catalina melipat tangannya.
"Mana ku tahu, tapi ku lihat Prince begitu perhatian pada Mae," ucap King yang mengangkat bahunya.
Catalina menepuk bahu sahabatnya. "King, kita juga jangan kalah. Kamu harus terus dekat dengan Mae biar aku bisa dekat juga dengan Prince. Kamu malah tadi langsung menyalahkan ku dan membiarkan Prince membawanya," ucapnya sedikit menyalahkan.
King menurunkan tangan Catalina. "Sudahlah Cat, soal itu aku punya caraku sendiri, yang harus kamu ingat jangan buat Mae celaka atau ku akan sangat marah padamu!" tunjuknya memperingati.
"Ya ya ku minta maaf soal tadi," ucap Catalina agar sahabatnya tak marah lagi.
King mengangguk. Mereka berdua lalu pergi kembali untuk membantu mengurus persiapan acara yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan.
Prince memapah Mae setelah tiba di rumah sakit untuk masuk menemui dokter.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Prince yang khawatir.
"Kaki pacar mas baik-baik saja hanya tergelincir," jawab sang dokter.
"Pacar?" Mae menatap dokter tersebut dengan bingung. "Dia bukan pacar gue lah Dok," tukasnya segera. Dokter perempuan itu hanya tersenyum menanggapi.
"Benar cuma tergelincir saja Dok?" Prince tampak tak percaya. "Tolong cek kembali Dok, lihat kakinya saja sampai memar biru begitu," mohon Prince kembali.
"Iya Mas hanya tergelincir saja, pacar mas baik-baik saja," jawab sang dokter sedikit menahan tawanya.
"Sudah gue bilang kaki gue baik-baik saja kan tadi Prince," ucap Mae menengahi.
"Iya E." Prince mengangguk.
"Kalo begitu kami pamit ya Dok, terima kasih." Prince lalu berpamitan pada sang dokter.
"Sama-sama," ucap sang dokter mengangguk.
Mae kembali di papah olah Prince untuk berjalan menuju mobilnya. Dokter tadi diam-diam tersenyum melihat kepergian mereka. Saat di papah, Mae sedikit melirik ke lelaki yang membawanya. Jujur Mae sedikit bingung dan tak mengerti mengapa lelaki tersebut sekarang menjadi tambah perhatian padanya. Ia juga merasa jika dirinya kini mulai menyukai sosok lelaki yang menurutnya bukan tipenya itu.
................
Di kantor. Catalina hanya duduk diam tanpa membantu. Ia sangat bosan karena tak ada Prince di sana. Jumi yang melihatnya jadi kesal. Dengan berani, gadis ini datang menghampiri.
"Hee Catalina!" yang di panggil menoleh.
"Kamu ini duduk saja tanpa ada niatan membantu yang lain apa?" tegur Jumi langsung.
"Suka-suka aku lah! Aku kan tamu di sini. Lagian ku liat kalian tak kekurangan orang tuh," jawabnya tanpa peduli.
"Huh. Terserah lu lah! Capek gue!" Jumi menghela nafasnya kasar.
"Ya udah sih, pergi saja sana!" usir Catalina padanya.
Jumi pun pergi kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Baru saja selangkah, Catalina memanggilnya.
"Eh tunggu tunggu!" Jumi menghela nafasnya kasar dan menoleh. Ada apa?
"Prince masih lama ya?" tanyanya.
"Mana gue tahu," jawab sinis Jumi padanya.
"Owh," ucap Catalina membulatkan mulutnya. Ia lalu kembali memainkan kursi putarnya.
Tak ada hal lain lagi, Jumi memilih berjalan pergi dan mengabaikan gadis tersebut.
Raka diam-diam menghampiri Jumi untuk berbicara.
"Jum, tuh cewek ngapa kagak balik aja ke asalnya sih dari pada di sini kagak ngapa-ngapain," ucap Raka sedikit melirik ke arah Catalina.
"Tau tuh, dia lagi nungguin Pak Prince katanya," balas Jumi yang masih kesal.
"Prince mana mungkin balik dia pasti jagain Mae lah. Btw Catalina belum tau ya kalo Mae ma Prince itu di jodohkan?" tanyanya.
"Kagak kayaknya. Dah lah biarin aja mending lu bantuin gue. Nih!" Jumi meletakkan box kardus yang cukup berat padanya.
"Aduh! Pelan-pelan napa?" sindir Raka pelan saat menerimanya.
"Sorry. Dah sana bawa itu ke gedung acara!" suruhnya.
"Iya iya." Raka mengangguk-angguk dan berjalan pergi.
Kembali ke Prince yang telah tiba di rumahnya. Mae celingukan melihat ke sekitar karena merasa bahwa ia tak diantarkan pulang ke rumahnya oleh Prince.
"Lho lu bawa gue ke rumah lu?" tanya Mae yang bingung.
"Ya kamu istirahat di rumahku saja, Mami sama Papi lagi pergi ke rumah saudara jadi mereka tak ada di rumah. Jika kamu minta ku antar ke rumah Babe Rojali nanti nyak dan Babe bakal nyalahin aku karena tak menjagamu," jelasnya sambil membuka sabuk pengamannya.
"Jadi kita bakal berdua gitu, tak bahaya kan?" Mae menoleh bertanya.
"Memang kamu ingin aku berbuat sesuatu padamu?" Tanya balik Prince sambil mendekatkan wajahnya
"Tidak juga," jawab singkat Mae langsung memundurkan dirinya.
Prince tersenyum jail. "Ayo turun biar ku bantu!" suruhnya.
Mae malu-malu mengangguk. Prince ikut mengangguk lalu turun untuk membukakan pintu untuknya.
"Pelan-pelan!" pesannya lembut.
Mae mengerti dan menurut. Keduanya lalu masuk ke dalam rumah untuk istirahat.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂