SEQUEL PERTAMA LENTERA DON GABRIEL EMERSON
WAJIB BACA KISAH LENTERA DON GABRIEL EMERSON LEBIH DULU!!!
Area DEWASA!!! Sebagian cerita mengandung unsur 2+!
Micheal Emerson (28) sangat mencintai Arini Kamilia sejak ia masih remaja, keduanya begitu dekat dan restu keluarga sudah mereka kantongi. Namun, tiba-tiba Micheal mengambil sebuah keputusan yang sangat mengejutkan keluarga ketika Micheal justru meminang adik Arini yang bernama Zenwa Fahira. Seorang gadis cantik berusia 21 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di pesantren, Zenwa tak punya pilihan lain ketika keluarganya mendesaknya untuk menerima pinangan Micheal, membuat Zenwa begitu membenci Micheal dan menganggap Micheal adalah pria egois.
"Apa? Kenapa? Kamu mencintai Kakak ku tapi kenapa kamu memilihku menjadi makmummu?" - Zenwa Fahira.
"Aku mencintai Kakakmu, tapi hatiku memilih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
"Kamu mencintai Kakakku 'kan?"
"Aku memang mencintai Kakakmu, tapi hatiku memilihmu menjadi makmumku."
Zenwa menganga dan mata besarnya itu melotot sempurna mendengar jawaban ambigu Micheal, Zenwa bahkan berfikir kemungkinan ia salah dengar.
"Kenapa kamu menikahiku? Apa karena kakakku sakit?" tanya Zenwa lagi ingin memastikan.
"Bukankah sudah aku jawab tadi?" Micheal justru balik bertanya yang membuat dada Zenwa bergemuruh seketika.
"Jadi aku tidak salah dengar," gumamnya setengah menggeram.
"Kamu tahu cinta itu ada dimana?" tanya Zenwa mendesis, sekuat tenaga ia menahan gejolak di dadanya.
"Di hati." Micheal menjawab dengan tenang.
"Lalu bagaimana bisa, hati yang menyimpan cinta untuk Kak Arin justru memilih wanita lain untuk di jadikan istri? Apa jawabanmu tadi itu masuk akal?" nada bicara Zenwa mulai meninggi dengan tatapan yang kembali di selimut amarah, namun Micheal tetap bersikap tenang.
"Semua terjadi begitu saja, Zenwa. Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana," ucap Micheal kemudian "Tapi yang pasti, bukan aku yang meninggalkan Arin, dia menolakku saat aku malamarnya." lanjutnya.
"Lalu kamu melamarku?" tanya Zenwa dengan nada yang lebih tinggi, dan Micheal mengangguk yang membuat tubuh Zenwa langsung terasa lemas dan hatinya pun mencolos, menyadari ia hanya sebuah pelampiasan.
"Jadi kamu cuma menjadikanku pelampiasan?" tanya Zenwa dengan suara yang mulai terasa berat dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Tidak, bukan begitu!" tegas Micheal "Kamu dengarkan dulu penjelasanku!"
"Penjelasan yang mana? Jangan mencoba membela diri, aku benar-benar tidak menyangka kamu..."
"Zenwa...!" seru Micheal sembari beranjak dari tempat duduknya, membuat Zenwa terkesiap "Kamu bisa dengarkan dulu kalau orang bicara? huh?" geram Micheal yang kini berdiri di depan Zenwa yang masih duduk di tepi ranjang, Zenwa bahkan harus mendongak supaya bisa menatap Micheal.
"Jadi ceritanya begini..." ucap Micheal yang kini menurunkan nada bicaranyaa dan ia kembali ke kursinya, Micheal menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Saat itu aku memohon pada Arini agar dia menikah denganku, tapi dia menolak karena dia sakit, meskipun berkali-kali akau mengatakan akan setia di sisinya, menemani setiap detik yang ia lewati dalam hidupnya..." Zenwa mendengarkan kata-kata Micheal dengan baik tanpa meng-interupsi sedikitpun.
"Tapi dia terus menolak, dan dia malah memintaku mencari wanita lain yang lebih sempurna darinya, dan saat itu, secara spontan aku..." Micheal menatap Zenwa yang menatapnya dengan sangat serius, tak sabar menanti cerita Micheal selanjutnya "Secara spontan aku menyebutkan namamu, karena bagiku, jika ada wanita yang lebih sempurna dari Arin di mataku, maka itu adalah kamu. Aku fikir Arin akan menerimaku setelah itu, tapi dia malah mendukungku dan mengatakan bahwa kamu adalah wanita yang sangat tepat untukku." Micheal berkata dengan nada rendah, memperlihatkan emosi tertahan dalam jiwanya.
Sementara Zenwa, ia mencoba mencerna apa yang sebenarnya di katakan oleh Micheal, dan jawabannya masih sama, ia hanya sebuah pelampiasan.
"Zenwa..." Micheal beranjak dari duduknya dan ia bersimpuh di depan sang istri "Aku tahu, mungkin kamu kecewa sama aku, merasa kamu hanya menjadi pelampiasanku, tapi aku mohon..."
"Ayo bercerai..."
"Apa?" Micheal tentu memekik terkejut mendengar penuturan Zenwa itu. Ia menatap mata Zenwa, dan tatapan itu menyiratkan keseriusan akan ucapan Zenwa "Zenwa, apa yang kamu katakan?" tanya Micheal.
"Sebaiknya kita bercerai, karena aku tidak mau menjadi pelampiasan. Sebaiknya kita bercerai, karena rasanya sangat sakit di nikahi pria yang hatinya mencintai kakakku sendiri."
Tbc...