NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Part 27

Keesokan paginya, Tina membuka matanya setelah mendengar suara seseorang sedang mengemasi barang, hal itu cukup mengusik telinganya dan membuatnya bangun dari tidurnya.

Setelah membangunkan tubuhnya, Tina menatap sekelilingnya di mana ada bosnya tengah mengemasi kopernya dan tas milik Tina. Di saat itu, Tina langsung membulatkan matanya, merasa lupa bila ia harus bersiap-siap untuk keberangkatannya pulang.

"Pak, ini sudah jam berapa? Kita telat ya?" Tina berlari menghampiri Alfan yang sudah merapikan barang-barangnya.

"Ini masih jam enam, kita berangkat jam setengah delapan. Lebih baik kamu mandi dan siap-siap sekarang, setelah itu kita langsung ke bandara."

"Tapi saya belum merapikan barang-barang saya, Pak." Tina tampak gelisah, matanya menelisik ke arah tasnya yang sudah berada di dekat koper bosnya.

"Barang-barang kamu semuanya sudah saya masukkan ke tas kamu, kalau barang-barang kamu yang lain masih ada di atas meja, kamu beresih sendiri." Alfan menunjuk ke arah tas kecil milik Tina, yang biasanya diisi dompet, make up, dan ponsel.

"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya mandi dulu." Tina berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan Alfan yang tersenyum melihat tingkah lakunya. Tina memang selalu seperti itu, terburu-buru bila sudah melupakan sesuatu termasuk soal waktu.

Sekarang yang Alfan lakukan memesan makanan, yang akan ia dan Tina makan saat di perjalanan. Dengan tenang, Alfan mendudukkan tubuhnya lalu memesan layanan kamar. Ia akan memesan makanan instan agar tak terlalu repot saat dimakan di jalan.

***

Setelah Tina mandi dan merapikan diri, kini mereka sudah berada di dalam mobil. Sedangkan tangan keduanya tengah membawa hamburger, kentang goreng, dan ayam krispi. Mereka tengah menyantap sarapan sembari menuju ke arah bandara, tidak ada waktu untuk mereka makan dengan tenang saat masih berada di kamar hotel, mereka sudah diburu waktu untuk segera berangkat.

"Maaf ya, Pak. Gara-gara saya telat bangun, kita jadi sarapan di jalan. Harusnya saya bangun lebih awal dari Bapak, tapi malah Bapak yang bangun dulu." Tina menundukkan wajahnya, sedangkan makanannya belum sepenuhnya ia santap.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti perasaan kamu, kamu pasti belum bisa terima dengan yang apa terjadi kemarin, jadi wajar kalau kamu terlalu terpuruk sampai lupa bangun." Alfan menjawab seadanya sembari kembali melahap makanannya, sedangkan Tina yang mendengarnya seketika terdiam, merasa tak percaya saja bila bosnya ternyata bisa semengerti sekarang.

"Terima kasih, Pak. Maaf sudah membuat masalah di acara rekan kerja Anda." Tina semakin merasa bersalah, bila dipikir lagi ia memang belum sempat meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi kemarin malam.

"Kamu tidak usah minta maaf, kamu tidak salah." Alfan menatap ke arah Tina, berusaha membuat asistennya itu mengerti bila yang terjadi memang bukan salahnya. Sedangkan Tina hanya tersenyum sembari tertunduk, ia hampir tidak percaya bila lelaki yang duduk di sampingnya adalah bosnya, lelaki yang paling menyebalkan di hidupnya. Sikapnya saat ini seolah mampu menghapus memori seseorang akan kepribadiannya yang kurang membuat orang nyaman.

"Terima kasih, Pak. Sudah mengerti posisi saya." Tina menjawab tulus, namun Alfan justru tersenyum sembari mengusap sebentar puncak kepalanya, membuat empunya terdiam dengan anehnya.

Tina pikir, sikap bosnya itu terlalu aneh, banyak sikapnya yang jauh dari kebiasaannya, membuat Tina semakin tak nyaman, takut hatinya kembali jatuh pada lelaki yang salah. Sampai saat Tina mengingat sesuatu, seolah ada suara yang sempat membuatnya kepikiran, namun apa. Tina berusaha mengingat-ingat, seperti mimpi yang harus segera Tina gali dan ingin tahu artinya.

"Terima kasih sudah kembali hadir di hidup saya, Tomtom."

Suara itu yang Tina ingat, suara bosnya yang ia dengar saat tidur. Tina sendiri bingung, kenapa bosnya bisa berbicara seperti itu, meskipun itu cuma mimpi, rasanya Tina sulit untuk mengerti. Tomtom adalah nama panggilannya dari seorang teman yang pernah mengisi hari-harinya di sekolahnya dulu, seorang teman terakhir yang Tina miliki sebelum hidupnya berubah drastis.

Kalau tidak salah namanya Ansyah, bocah cupu yang sering diganggu teman-temannya, sedangkan Tina berusaha datang untuk membantunya acap kali bocah itu mengalami masalah.

Sekarang yang Tina pikirkan cuma satu, kenapa suara seseorang yang memanggilnya dengan nama itu seperti suara bosnya, Alfan. Rasanya hampir mustahil bila ada orang lain yang tahu nama Tomtom, karena cuma ia dan Ansyah saja yang tahu. Sampai saat mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi, rasanya hampir mustahil bila Tina mengenali wajahnya yang sekarang, bahkan wajah temannya dulu itu sudah Tina lupakan sangking banyaknya yang Tina pikirkan.

"Pak," panggil Tina kali ini, ekspresinya tampak ragu-ragu untuk bertanya.

"Kenapa?"

"Tadi malam saya bermimpi."

"Bermimpi apa?" Alfan terlihat keheranan, bisa dilihat dari caranya menaikkan salah satu alisnya.

"Saya merasa ada yang mengecup kening saya, terus dia memanggil saya dengan sebutan Tomtom. Mimpi itu seperti nyata, tapi yang membuat saya merasa aneh, suara itu mirip suara Bapak." Tina bercerita sejujurnya, membuat Alfan terdiam dengan tatapan tak nyaman. Itu karena yang Tina katakan bukanlah mimpi, Alfan yang memang sudah mengecup kening Tina dan memanggilnya dengan sebutan Tomtom, itu karena Alfan pikir Tina sudah terlelap pulas, tapi sepertinya saat itu Tina masih setengah sadar.

"Lalu maksud kamu memberitahukan mimpi itu ke saya apa?" Alfan berusaha tenang, meski sebenarnya ia ingin mengatakan bila yang Tina katakan adalah kebenaran, bukan mimpi tidur yang terjadi dalam khayalan orang tak sadar.

"Emhh ... bukan apa-apa sih, Pak? Saya cuma merasa aneh saja dengan mimpi itu, tapi saya akan berusaha melupakannya, Bapak juga tidak perlu memikirkannya." Tina menggaruk lehernya, merasa konyol saja harus menanyakan mimpi itu ke bosnya.

"Siapa juga yang mau memikirkannya? Lebih baik sekarang kamu habiskan makanan kamu, sebentar lagi kita sampai di bandara." Alfan kembali menyantap makanannya, berusaha tidak peduli dengan apa yang Tina pikirkan, meski sebenarnya Alfan merasa sangat bodoh dengan apa yang sudah ia lakukan tadi malam.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!