Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner yang Berakhir di Rumah Sakit
Pukul 19.00 WIB, Restoran Henshin, The Westin Lantai 67.
Ini adalah dinner resmi pertama mereka sebagai suami istri di depan publik. Mama Olivia sengaja memesan restoran paling romantis di Jakarta dengan view seluruh lampu Sudirman. Tujuannya satu: agar semua relasi bisnis Virel melihat Rafael sudah menikah dan berhenti menjodohkannya dengan anak konglomerat lain.
Alya memakai dress navy blue yang dipilihkan Mama Olivia. Cantik, elegan, tapi Alya merasa seperti boneka pajangan. Di lehernya ada kalung berlian pinjaman dari Mama Olivia.
"Gugup?" tanya Mama Olivia sambil menggenggam tangan Alya di meja.
Alya mengangguk jujur. "Sedikit, Ma."
"Jangan gugup. Kamu sudah seperti anak Mama sendiri." Mama Olivia tersenyum, lalu menatap putranya. "Rafael, gandeng istrimu. Jangan main handphone terus."
Rafael yang sejak tadi membalas email dengan wajah tegang, akhirnya mengunci handphonenya dan menggenggam tangan Alya di atas meja. Genggaman yang hangat, tapi Alya tahu itu hanya untuk kamera wartawan ekonomi yang duduk dua meja di belakang mereka.
Makanan pembuka datang. Alya mencoba menikmati supnya.
Tiba-tiba handphone retak Alya yang ia letakkan di atas meja bergetar keras. Nama di layar: Dinda Adik.
Jantung Alya langsung berdebar. Dinda tidak pernah menelepon jam segini kecuali darurat.
Alya buru-buru menolak panggilan dan mengirim pesan: Kakak lagi dinner penting, Din. Ada apa?
Balasan Dinda masuk detik itu juga, hanya satu baris tapi membuat darah Alya berhenti mengalir.
KAK, AYAH KRITIS LAGI! DOKTER BILANG HARUS CUCI DARAH SEKARANG! TAPI DOKTERNYA BILANG ALATNYA RUSAK DAN ANTRI! AYAH KEJANG-KEJANG KAK!
Sendok di tangan Alya jatuh ke piring, menimbulkan suara nyaring. Wajahnya langsung pucat pasi.
Rafael yang melihat perubahan itu langsung mengerutkan kening. "Kenapa?"
Mama Olivia juga panik. "Alya? Kamu pucat, Nak?"
Air mata Alya yang sejak tadi ia tahan langsung tumpah tanpa bisa dicegah. Ia tidak peduli lagi ada wartawan, ada Mama Olivia, ada kontrak. Yang ada di pikirannya hanya Ayahnya di RSCM yang dulu pernah berhenti napas di pelukannya saat ia umur 12 tahun.
"Ayah... Ayah saya kritis, Ma..." isak Alya, suaranya bergetar hebat. "Alat cuci darahnya rusak... antri..."
Mama Olivia langsung berdiri. "Ya Tuhan! Di rumah sakit mana, Nak?"
"RSCM, Ma..."
Tanpa pikir panjang, Alya berdiri dan ingin berlari keluar dari restoran dengan dress mahalnya itu. Ia ingin naik ojek online ke RSCM sekarang juga.
Tapi sebuah tangan besar menarik pergelangannya dengan kuat.
Rafael.
"Jangan bodoh," kata Rafael dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Alya. Wajahnya dingin, tapi matanya menyala marah. Bukan marah pada Alya, tapi marah pada situasi. "Kamu lari ke RSCM dengan dress ini naik ojek? Kamu pikir bisa terobos antrian rumah sakit pemerintah dengan nangis?"
Alya terisak, "Tapi Ayah saya"
"Duduk." Rafael menekan bahu Alya untuk duduk kembali, lalu ia mengambil handphone Alya yang retak itu dan melihat pesan Dinda. Ia membaca cepat, lalu ia mengambil handphone pribadinya yang lain - handphone hitam tanpa merek yang tidak pernah Alya lihat sebelumnya.
Ia menekan satu nomor dan berbicara dengan bahasa yang membuat Alya merinding. Dingin, tegas, dan penuh perintah.
"Hendra. RSCM. Ruang ICU. Nama pasien Hartono. Umur 52. Butuh alat cuci darah dalam 10 menit. Saya tidak peduli alatnya rusak atau dokter jaga. Kalau dalam 15 menit ayah mertua saya tidak dapat alat, saya tutup rumah sakit itu besok pagi. Dan bawa dokter spesialis ginjal terbaik dari Pondok Indah ke sana sekarang. Pakai helikopter kalau perlu."
Alya terpaku. Ini bukan Rafael CEO Virel Corp. Ini adalah Rafael yang dibisikkan supir OB sebagai Mafia Virel.
Mama Olivia yang mendengar itu tidak kaget. Ia malah mengelus punggung Alya. "Sudah, Nak. Tenang ya. Rafael sudah urus. Ayahmu pasti dapat alat."
Rafael menutup teleponnya, lalu menatap Alya yang masih menangis.
"Berhenti nangis," perintahnya, tapi kali ini suaranya tidak sedingin biasanya. Ia mengambil tisu dan dengan gerakan kaku, ia menghapus air mata Alya di depan Mama Olivia dan wartawan. Adegan itu terlihat sangat romantis bagi orang lain, tapi bagi Alya, itu adalah sentuhan pertama yang tulus.
"Sekarang kita ke RSCM. Pakai mobil saya."
15 menit kemudian, mereka bertiga sudah di lobi RSCM. Suasananya chaos. Dinda yang masih memakai seragam SMA dan Bima yang masih kecil menangis di depan ruang ICU. Saat melihat Alya dengan dress mewah dan Rafael dengan jas mahal, Dinda langsung memeluk kakaknya.
"Kak! Ayah di dalam! Dokternya bilang"
Seorang dokter kepala dan 4 perawat berlari menghampiri Rafael dan langsung membungkuk.
"Pak Rafael! Alat sudah siap! Dokter spesialis dari Pondok Indah baru landing di helipad, 2 menit lagi sampai! Pasien sudah kami stabilkan!"
Alya dan Dinda melongo. 15 menit yang lalu alat itu rusak dan antri. Sekarang semua siap.
Rafael tidak menjawab dokter itu. Ia hanya menatap Alya.
"Masuk. Temui Ayahmu."
Alya, Dinda, dan Bima berlari masuk ke ruang ICU.
Di dalam, Ayah Alya yang sudah kurus terbaring dengan selang di mana-mana, tapi monitor jantungnya sudah stabil. Dokter spesialis yang baru datang dengan jaket helikopter langsung memeriksa.
Alya memegang tangan Ayahnya yang dingin dan menangis sejadi-jadinya. Dinda dan Bima ikut menangis.
Dari luar kaca ICU, Rafael dan Mama Olivia berdiri melihat.
"Terima kasih ya sudah bantu keluarga Alya," kata Mama Olivia pelan.
Rafael diam, kedua tangannya masuk ke saku celana. "Itu ayah mertua saya juga, Ma."
Mama Olivia tersenyum dan menepuk lengan anaknya. "Mama lihat cara kamu panik tadi. Kamu sudah mulai peduli sama dia, ya?"
Rafael tidak menjawab. Ia hanya menatap Alya yang menangis di dalam.
Satu jam kemudian, dokter keluar dan berkata Ayah Alya sudah stabil dan lolos masa kritis. Butuh observasi 3 hari.
Alya keluar dengan mata bengkak. Dinda dan Bima sudah tertidur di kursi tunggu karena lelah.
"Tuan, mobil sudah siap," kata supir pribadi Rafael.
Alya menatap Rafael dengan mata sembab. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Rafael sebagai monster mafia yang mengancamnya. Ia melihatnya sebagai orang yang baru saja menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia punya.
"Pak... Rafael... terima kasih," kata Alya dengan suara serak. "Saya tidak tahu harus balas bagaimana... hutang saya jadi makin banyak..."
Rafael menatapnya lama. Lalu ia melepas jas navy-nya dan memakaikannya ke bahu Alya yang hanya memakai dress tanpa lengan dan kedinginan karena AC rumah sakit.
"Jangan bahas hutang malam ini," kata Rafael pelan. "Pasal kontrak tidak berlaku di rumah sakit."
Ia lalu berjalan ke arah Dinda dan Bima yang tertidur. Dengan satu gerakan, ia menggendong Bima yang kecil itu dengan mudah. Bima yang sejak kecil tidak pernah punya figur ayah, tanpa sadar memeluk leher Rafael dalam tidurnya.
"Pulang," perintah Rafael pada Alya. "Adik-adikmu ikut ke penthouse malam ini. Tidak ada yang tidur di lobi rumah sakit."
Alya terpaku melihat punggung lebar Rafael yang menggendong adiknya, sambil menuntun Dinda yang masih mengantuk.
Di malam itu, di lobi RSCM yang bau obat, untuk pertama kalinya Alya merasa Pasal 2 di kontraknya - dilarang jatuh cinta - terasa sangat, sangat berat untuk dipatuhi.
Bersambung...