Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 KEJERNIHAN
Malam itu, Maya tak bisa tidur.
Ia berguling-guling di ranjang, menatap langit-langit, menghitung domba khayalan, tetapi kantuk tak kunjung datang. Setiap kali ia memejamkan mata, suara Bara kembali terngiang, "Kalau itu yang disebut mencintai, berarti aku mencintainya." Dan jantungnya berdegup semakin kencang.
Lewat tengah malam ia bangkit, menyampirkan mantel tidur di atas gaun malamnya, lalu menuruni tangga dengan langkah tanpa suara. Ia sendiri tak tahu hendak ke mana. Kakinya membawanya ke perpustakaan, seperti begitu banyak malam sebelumnya.
Pintunya terbuka.
Bara ada di sana, duduk di kursi kulit di dekat perapian. Namun kali ini tak ada api. Hanya sebuah lampu berdiri yang menyala, melemparkan bayang-bayang menari di dinding yang berlapis rak buku. Segelas wiski tergenggam di tangannya, nyaris tak tersentuh. Sepasang mata kelabunya menatap kehampaan, tenggelam dalam pikiran yang tak bisa Maya tebak.
"Kamu lagi," katanya, tanpa menoleh. "Kamu juga tidak bisa tidur?"
"Tidak," jawab Maya, melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangnya.
"Mau wiski?"
"Aku tidak minum."
"Aku juga tidak. Tapi ini membantuku berpura-pura minum."
Maya mendekatinya. Ia tidak duduk di kursi seberang seperti malam-malam sebelumnya. Ia duduk di sandaran tangan kursi Bara, sama seperti malam setelah penyerangan itu. Bara tak bergerak, tetapi tubuhnya sedikit mengendur.
"Aku bicara dengan ibumu," katanya setelah beberapa saat.
"Aku tahu."
"Kamu mendengarnya?"
Maya ragu sejenak.
"Sebagian."
Bara memejamkan mata.
"Berarti kamu tahu aku ini orang bodoh."
"Tidak," jawab Maya, dengan kelembutan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Aku tahu kamu manusia biasa. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada semua cerita yang orang-orang ceritakan tentangmu."
Bara membuka matanya dan memandangnya. Untuk pertama kalinya, tak ada topeng. Tak ada dinginnya. Tak ada perhitungan. Hanya seorang laki-laki yang lelah, yang hancur, yang menghabiskan seumur hidupnya membangun benteng lalu tiba-tiba sadar ada seseorang yang telah menemukan pintu belakangnya.
"Maya," katanya, dan suaranya nyaris hanya sebuah bisikan. "Kita ini sedang melakukan apa?"
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi aku tidak ingin ini berhenti."
Keheningan turun di antara mereka. Bukan keheningan yang canggung, melainkan yang intim, sarat oleh aliran listrik yang tak seorang pun di antara mereka tahu cara menamainya.
Bara mengangkat sebelah tangan dan menyentuh pipi Maya. Jemarinya, kasar oleh kapalan, menyusuri kulit lembut Maya dengan kelambanan yang begitu indah sampai terasa menyakitkan.
"Kamu takut?" tanyanya.
"Ya," Maya mengakui. "Tapi bukan padamu. Pada diriku sendiri. Pada apa yang aku rasakan saat berada di dekatmu."
"Dan apa yang kamu rasakan?"
Maya menunduk. Kedua tangannya, yang bertumpu di lutut, sedikit gemetar.
"Bahwa aku tidak ingin berada di tempat lain mana pun," bisiknya. "Bahwa setiap kali kamu pergi, aku menghitung menit sampai kamu kembali. Bahwa setiap kali kamu memandangku, aku merasa seolah akulah satu-satunya orang di dunia ini. Bahwa saat kamu mencium keningku, sebelum penyelamatan itu, aku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan itu membuatku ngeri, Bara. Karena aku tidak tahu apakah ini nyata. Aku tidak tahu apakah ini karena perjanjian itu, atau karena ketakutan, atau karena kebiasaan. Aku tidak tahu apakah yang kucintai itu kamu, atau sekadar gagasan bahwa ada seseorang yang melindungiku."
Bara tidak langsung menjawab. Jemarinya masih membelai pipi Maya, tepi rahangnya, cuping telinganya.
"Aku juga tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tak pernah mencintai siapa pun. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku tidak tahu apakah aku melakukannya dengan benar. Tapi aku tahu, saat kamu tak ada, rumah ini terasa kosong. Aku tahu, saat kamu tersenyum, jantungku berhenti berdetak. Dan aku tahu, kalau ada yang berani menyakitimu, akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri. Dan aku tak akan peduli pada akibatnya."
Maya mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu.
"Itu terdengar seperti cinta," katanya.
"Aku tidak tahu namanya," jawab Bara. "Tapi aku ingin mencari tahu. Bersamamu."
Dan kemudian, tanpa tahu siapa yang bergerak lebih dulu, bibir mereka bertemu.
Ciuman itu tak seperti ciuman di pernikahan sipil dulu. Tidak kaku, tidak sekadar formalitas, tidak dingin. Ini ciuman yang lambat, dalam, yang bermula sebagai sebuah pertanyaan dan berakhir sebagai sebuah jawaban. Bibir Bara tegas, namun bergerak dengan kelembutan yang bertolak belakang dengan segala hal yang orang tahu tentang dirinya. Bibir Maya gemetar pada awalnya, tetapi perlahan mulai menyesuaikan diri, menemukan iramanya, tenggelam dalam rasa.
Ketika mereka melepaskan diri, keduanya kehabisan napas.
"Yang tadi itu tidak ada dalam skenario," bisik Maya.
"Tidak," jawab Bara, dengan senyum yang tak pernah Maya lihat sebelumnya. Senyum kecil, nyaris malu-malu, sama sekali berbeda dari senyum tajam dan berbahaya yang biasa ia tunjukkan pada dunia. "Yang tadi itu tidak ada dalam skenario."
Maya menyandarkan keningnya pada kening Bara. Ia memejamkan mata.
"Lalu, sekarang apa?" tanyanya.
"Sekarang," kata Bara, melingkarkan kedua lengannya dan menariknya mendekat, "sekarang kita bisa tetap di sini. Atau kita bisa naik ke kamarmu. Atau kita bisa lanjut seperti biasa, berpura-pura tidak ada yang terjadi. Kamu yang putuskan."
Maya membuka mata dan menatapnya.
"Aku tidak mau berpura-pura," katanya. "Tidak lagi."
Bara mengangguk.
"Kalau begitu jangan berpura-pura."
Mereka tetap di perpustakaan itu, berpelukan, sampai bara di perapian padam sepenuhnya. Mereka membicarakan hal-hal kecil: tentang buku-buku yang Bara simpan di rak (Maya menemukan bahwa Bara punya edisi pertama 《Seratus Tahun Kesunyian》 yang harganya selangit), tentang lagu-lagu yang Maya senandungkan ketika ia mengira tak ada yang mendengar (lagu-lagu cinta lawas yang diajarkan neneknya), tentang mimpi-mimpi yang masing-masing kubur demi bertahan hidup.
Bara bercerita bahwa sewaktu kecil ia ingin menjadi dokter. Ia ingin menyembuhkan orang, bukan membunuhnya. Gagasan itu mati pada malam ia membunuh si penjaga panti.
Maya bercerita bahwa dulu ia bermimpi membuka sebuah galeri seni. Sebuah ruang kecil dan intim, tempat memamerkan karya seniman lokal yang belum dikenal siapa-siapa. Mimpi itu mati pada hari Minggu ketika segalanya berubah.
"Mungkin mimpi itu tak harus mati," kata Bara. "Mungkin kamu masih bisa mewujudkannya."
"Di sini? Di kota ini? Sebagai istri Bara Prakoso?"
"Justru karena itu. Istri Bara Prakoso bisa melakukan apa pun yang ia mau. Tak ada seorang pun yang berani mengatakan tidak padanya."
Maya tertawa. Tawa yang tulus dan jernih, yang sudah berminggu-minggu tak keluar dari bibirnya.
"Kamu memakai kekuasaanmu untuk membantuku mewujudkan mimpi?"
"Bukankah itu yang dilakukan orang-orang yang saling mencintai? Saling membantu."
"Entahlah," jawab Maya, dengan senyum penuh arti. "Aku tak pernah mencintai siapa pun. Tapi aku ingin belajar. Bersamamu."
Bara menciumnya sekali lagi.
Kali ini, ciuman itu berlangsung lebih lama.