Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: KENANGAN MASA KECIL
Kamilah melangkah pelan memasukinya. Begitu pintu kayu tebal kamar utama di lantai dua itu tertutup rapat, ia mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang sedari tadi berpacu kencang. Kamilah memutarkan pandangannya, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih maskulin tersebut. Kamar milik Rizky Syah itu begitu luas, elegan, dan rapi, mencerminkan selera berkelas pemiliknya.
Namun, perhatian Kamilah mendadak terhenti pada sebuah sudut di ruang santai kamar tersebut. Matanya tertambat pada sebuah benda yang tampak sangat kontras dengan tema kamar pria dewasa yang serba tegas ini. Di atas salah satu sofa kulit eksklusif, tergeletak sebuah boneka rajut berbentuk kelinci berukuran sedang.
Kamilah melangkah perlahan mendekati sofa itu dengan langkah ragu. Dadanya berdebar dengan ritme yang aneh. Jemarinya terulur gulai, menyentuh tekstur benang rajut yang terasa begitu familier di kulit tangannya. Saat ia mengangkat boneka kelinci itu ke dalam pelukannya, ingatan masa lalu yang terkubur dalam-dalam mendadak membuncah liar, memicu kilas balik belasan tahun silam...
Kilas Balik — Belasan Tahun Lalu...
Langit Kota Jakarta kala itu digelayuti awan hitam yang pekat, seolah menyuarakan duka mendalam yang sedang melanda kediaman keluarga Ye. Nyonya Ye, ibu dari Kamilah, baru saja meninggal dunia. Setelah melahirkan anak perempuan ketujuh—yaitu Kamilah—kondisi kesehatannya terus merosot drastis hingga tubuh lemahnya tak sanggup bertahan lagi.
Di sudut ruang pemakaman yang dingin, Kamilah kecil berdiri terpaku dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang kemerahan. Di sampingnya, berdiri sang Kakek, Kakek Ye, yang menggenggam erat jemari mungil cucunya dengan raut wajah penuh duka nestapa. Tak jauh dari mereka, berdiri pula seorang anak laki-laki dengan tatapan matanya yang dewasa melebihi usianya—Rizky Syah kecil—yang datang mendampingi keluarganya.
Suara bisik-bisik dari para pengantar peti jenazah terdengar samar namun merobek hati Kamilah kecil.
"Kasihan sekali kedua anak itu... Ibu mereka meninggal dunia, sementara ayah mereka yang ngakunya seniman itu bahkan cuma muncul sebentar di pemakaman istrinya sendiri," bisik seorang ibu bergaun hitam.
"Iya, benar-benar tega! Setelah menyetor muka sebentar, dia malah langsung kabur bersama wanita selingkuhannya... Aduh, kasihan sekali nasib anak-anak ini," sahut pengantar peti lainnya dengan nada prihatin sebelum mereka berjalan menjauh.
Kamilah kecil mendengarnya. Tangisnya pecah kian kencang. Ia merasa terbuang, sendirian, dan kehilangan pegangan hidup. Di tengah tangisannya yang histeris, anak laki-laki itu—Rizky Syah kecil—melangkah mendekat secara perlahan. Ia merogoh sebuah kotak hadiah yang terbungkus rapi.
"Jangan menangis lagi..." suara lembut Rizky kecil terdengar di tengah rinai gerimis. Pria cilik itu mengeluarkan sebuah boneka kelinci rajut edisi terbatas dari kotak hadiah tersebut, lalu mengulurkannya ke pelukan Kamilah kecil. "Ini hadiah ulang tahun yang sempat disiapkan oleh Ibumu sebelum beliau pergi..."
Pikiran Kamilah kembali melayang ke masa kini. Ia mengepalkan jemarinya di atas punggung boneka rajut itu, memeluknya makin erat ke dadanya.
"Sekarang... boneka kelinci edisi terbatas ini hanya ada tiga di seluruh dunia," gumam Kamilah pelan, suaranya bergetar menahan haru. "Dan salah satunya... ternyata ada padanya selama ini?"
"Kenapa? Kamu terkejut?"
"Aah!" Kamilah tersentak kaget hingga hampir melompat. Ia membalikkan badan dengan cepat dan mendapati Rizky Syah sudah berdiri santai bersandar di ambang pintu walk-in closet yang terhubung dengan kamar tersebut.
"Kamu ini kenapa selalu saja tiba-tiba muncul seperti hantu, sih?!" sembur Kamilah panik sambil mendekap boneka kelinci itu erat-erat di dadanya. Matanya menatap Rizky dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan kamu bermaksud mau berbuat sesuatu yang tidak-tidak lagi padaku malam-malam begini?!"
Rizky menggelengkan kepala pelan dengan sudut bibir terangkat memamerkan senyum tipis. Pria itu mengikis jarak, berjalan pelan mendekati Kamilah yang makin memundurkan langkahnya.
"Demi Tuhan, Kamilah... aku ke sini cuma datang untuk mengantarkan ponselmu yang tertinggal di mobil tadi," ujar Rizky sambil mengulurkan ponsel pintar milik Kamilah yang sempat berada di dalam tasnya.
Kamilah menyambar ponselnya dengan cepat. "Ponselku sudah diantar, jadi kamu boleh pergi keluar dari kamar ini sekarang juga!"
Rizky menatap gadis itu lekat-lekat, menyilangkan tangan di dada. "Tentu saja aku akan keluar. Tapi... aku juga harus memastikan untuk mengunci pintu ini dari luar, demi mencegah seseorang berkeliaran atau mencoba kabur di tengah malam."
"Rizky!" seru Kamilah dengan wajah memerah menahan kekesalan.
Tanpa berpikir panjang, Kamilah langsung maju dan mendorong tubuh tegap Rizky ke arah luar pintu kamar. "Pergi, pergi, pergilah! Keluar, keluar dari kamarku!"
Rizky menahan tawanya, membiarkan dirinya didorong pelan oleh gadis itu hingga melewati ambang pintu. Sebelum pintu benar-benar tertutup, Rizky menahan daun pintu dengan sebelah tangannya.
"Aku tidak menggodamu lagi, Kamilah," kata Rizky dengan nada suara yang berubah menjadi sangat tulus dan hangat. Matanya melirik ke arah boneka yang ada di pelukan gadis itu. "Boneka kelinci itu... memang milikmu. Ambil dan simpanlah."
Kamilah tertegun sejenak. Sorot mata Rizky yang jujur membuat rasa kesalnya perlahan menguap. Ia menunduk menatap boneka di pelukannya, lalu mendongak kembali. "...Terima kasih," bisik Kamilah pelan.
Rizky tersenyum puas. "Selamat malam, Kamilah."
"Selamat malam," jawab Kamilah singkat, lalu cepat-cepat menutup pintu kamar dan menguncinya rapat dari dalam.
KLIK.
Kamilah menyandarkan punggungnya ke pintu yang terkunci rapat. Ia mengembuskan napas lega. Segera dihidupkannya layar ponselnya untuk memeriksa pesan dan panggilan masuk. Jemarinya bergerak hendak menekan nomor sopir pribadi keluarga Ye.
Namun, jemarinya mendadak terhenti di atas layar.
Kalau aku menelepon Pak Supir sekarang untuk menjemputku jam segini... Kakek pasti akan langsung tahu, batin Kamilah penuh pertimbangan. Kondisi jantung Kakek sedang sangat lemah dan kritis di rumah sakit, dia pasti akan sangat mengkhawatirkan keberadaanku jika tahu aku terdampar di tempat asing seperti ini.
Kamilah menggigit bibir bawahnya, berpikir keras mencari jalan keluar yang paling aman demi menjaga kesehatan sang kakek.
"Lebih baik... aku kirim pesan saja ke Kakek dan bilang kalau malam ini aku menginap di rumah Elisa," gumam Kamilah lega setelah menemukan ide tersebut. "Oh iya, benar! Itu alasan paling masuk akal untuk malam ini."
Dengan cepat Kamilah mengetikkan pesan ke nomor keluarganya, memberitahukan bahwa dirinya sedang menginap di rumah sahabat dekatnya, Elisa, agar semua orang di rumah sakit bisa tenang. Setelah pesan terkirim, Kamilah merebahkan tubuhnya di atas kasur King Size yang empuk, memeluk erat boneka kelinci masa kecilnya, dan perlahan memejamkan mata di tengah keheningan malam vila perbukitan tersebut.