Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32 — Ternyata Aku Masih Berguna
Dua hari kemudian, Arya berdiri di depan sebuah gudang logistik di kawasan Margomulyo.
Ia datang tanpa Rolls-Royce, jam tangan mahal, atau pengawal. Mobil sewaan sederhana berhenti di halaman yang dipenuhi truk kecil. Di tangannya hanya ada laptop dan map portofolio.
Pak Hendra menunggu di ruang kantor lantai dua. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tidak menawarkan basa-basi panjang.
"Bayu bilang kamu bisa menemukan kebocoran operasi," katanya. "Saya tidak butuh presentasi cantik. Saya butuh kiriman tidak terlambat."
Arya membuka laptop. "Saya perlu melihat data pesanan, jadwal kendaraan, waktu muat, dan retur tiga bulan terakhir."
"Rahasia perusahaan."
"Kalau saya tidak boleh melihat masalahnya, saya hanya bisa menjual tebakan. Bapak bilang tidak butuh presentasi cantik."
Pak Hendra menatapnya beberapa detik, lalu mendorong sebuah kartu akses sementara. "Satu jam. Data pelanggan disamarkan."
Arya tidak langsung duduk di ruang rapat. Ia meminta melihat lantai gudang, berbicara dengan kepala regu, dan mengamati proses barang masuk sampai kendaraan berangkat.
Di satu meja, tiga staf mengetik nomor pesanan yang sama ke dua sistem berbeda. Di pintu muat, pengemudi menunggu kertas yang dicetak dari kantor lantai dua. Sementara itu, barang retur diletakkan di jalur keluar dan membuat pemindai berkali-kali membaca label yang salah.
"Berapa lama masalah ini terjadi?" tanya Arya.
Kepala regu menjawab, "Hampir enam bulan. Manajemen mengira kami kurang cepat."
"Siapa yang mengubah sistem?"
"Konsultan lama. Katanya otomatis, tapi bagian tertentu malah harus dimasukkan ulang."
Arya memotret alur tanpa mengambil data sensitif. Ia lalu kembali ke ruang rapat dan menyusun peta proses sederhana.
Pak Hendra melihat jam. "Waktumu tinggal dua puluh menit."
"Cukup. Masalah utama bukan jumlah truk."
"Semua manajer saya bilang kami kekurangan armada."
"Karena mereka mengukur kendaraan berangkat terlambat, bukan alasan kendaraan menunggu."
Arya menunjukkan tiga titik merah pada layar. Pertama, data pesanan dimasukkan ulang dan menambah kesalahan. Kedua, dokumen muat baru dicetak setelah pemeriksaan manual yang sebenarnya sudah dilakukan sistem pertama. Ketiga, jalur retur memotong jalur keluar.
"Bapak bisa membeli lima truk baru," katanya. "Semua tetap akan menunggu kertas yang sama."
Pak Hendra bersandar. "Solusinya?"
"Uji coba tujuh hari pada satu jalur. Sinkronkan ekspor data tanpa membangun sistem baru, pindahkan meja cetak ke pintu muat, dan beri zona fisik berbeda untuk retur. Saya buat pengukurannya. Kalau waktu tunggu tidak turun minimal dua puluh persen, Bapak tidak perlu melanjutkan kontrak."
"Berapa biayanya?"
Arya menyebut angka yang wajar untuk proyek mandiri pertamanya, jauh di bawah biaya pembelian satu truk tetapi cukup untuk membayar dua tenaga teknis dan perangkat sederhana.
Pak Hendra menyipitkan mata. "Bayu bilang kamu sedang tidak bekerja. Kenapa saya harus percaya?"
Arya membuka bagian terakhir portofolionya. Di sana terdapat riwayat revisi, hasil pengujian, dan surel persetujuan sebelum proyek kantor lamanya diubah pihak lain.
"Saya kehilangan jabatan," katanya. "Bukan kemampuan."
Pintu ruang rapat terbuka. Seorang manajer operasional yang baru masuk menatap Arya dengan terkejut.
"Mas Arya?"
Mereka pernah bekerja di perusahaan yang sama. Pria itu berada di tim berbeda, tetapi mengetahui siapa yang membangun rancangan awal proyek kontroversial tersebut.
"Saya dengar Mas yang membuat sistem lama gagal," katanya hati-hati.
Arya tidak membela diri dengan emosi. Ia memutar laptop dan menunjukkan kronologi.
Mantan koleganya membaca beberapa surel, lalu wajahnya berubah. "Versi yang diuji ini memang jalan. Perubahan perhitungan dilakukan setelah Mas keluar dari tim."
Pak Hendra menatap manajernya. "Kamu yakin?"
"Saya ada di rapat uji pertama. Nama Mas Arya dihapus dari laporan akhir setelah konflik dengan kepala divisi."
Untuk pertama kalinya, kesaksian dari masa lalu terdengar tanpa Arya minta.
Pak Hendra mengetuk meja. "Saya tidak peduli politik kantor lama. Saya peduli apakah rencanamu bekerja di gudang saya. Tujuh hari, satu jalur. Kalau hasilnya sesuai, kita bahas kontrak tiga bulan."
Ia mengulurkan tangan.
Arya menjabatnya. "Setuju. Semua indikator kita tulis di awal supaya tidak ada hasil yang dipoles."
"Saya suka orang yang berani diukur."
Keluar dari gudang, Arya berhenti di samping mobil sewaan. Kontrak uji cobanya tidak besar dibanding saldo kartu dari Anindya. Namun, angka itu terasa berbeda.
Ia mendapatkannya tanpa nama Kusuma.
Tidak ada orang yang tahu ia tinggal di vila atau memiliki kendaraan belasan miliar. Pak Hendra memilih rencananya karena ia mampu melihat masalah yang dilewatkan orang lain.
Arya mengirim pesan kepada Anindya: Uji coba tujuh hari disetujui.
Balasan muncul kurang dari semenit.
Aku tahu Mas bisa. Mau dirayakan dengan makan malam?
Arya tersenyum dan mengetik: Aku yang bayar.
Ketika kembali ke vila, Pak Darto sudah menunggu di ruang kerja. Di meja terdapat ringkasan salah satu perusahaan distribusi kecil dalam portofolio Grup Kusuma.
"Non Anindya tidak menyuruh saya," kata lelaki tua itu. "Saya mendengar dari Bayu bahwa Den Arya sedang memperbaiki alur gudang. Kebetulan perusahaan ini punya masalah serupa."
Arya tidak langsung mengambil dokumen. "Pak Darto ingin memberi saya proyek karena saya suami Anindya?"
"Tidak. Kalau hanya karena itu, saya cukup memberi jabatan dan ruangan besar." Pak Darto menunjuk laptop Arya. "Saya ingin melihat hasil uji tujuh hari. Kalau indikatornya nyata, saya akan memperkenalkan Den sebagai konsultan, bukan menantu pemilik."
Anindya muncul di pintu membawa dua cangkir kopi. "Aku baru tahu soal ini."
Pak Darto tersenyum. "Karena kalau saya bertanya dulu, Non pasti terlalu bersemangat dan membuat Den Arya curiga."
Arya membaca ringkasan tersebut. Nilainya lebih besar, tetapi ia menutup kembali map.
"Saya selesaikan gudang Pak Hendra dulu. Setelah ada hasil, baru kita bicara."
Pak Darto mengangguk puas. "Jawaban yang saya harapkan."
Setelah lelaki tua itu pergi, Anindya menyerahkan kopi kepada Arya. "Mas menolak kesempatan?"
"Menunda. Aku belum membuktikan metodeku di tempat pertama."
"Aku bangga padamu."
Arya menatap cangkir di tangannya. Dulu ia pulang membawa gagasan dan hanya ditanya berapa gajinya. Hari ini Anindya tidak bertanya nilai kontrak. Ia bangga karena Arya berani memulai.
"Ternyata aku masih berguna," katanya pelan.
Anindya langsung menggeleng. "Mas selalu berguna. Orang yang salah hanya membuatmu lupa."
Arya menatapnya lama, lalu membuka laptop untuk menyusun rencana tujuh hari.
Anindya menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Ia tidak mengambil alih pekerjaan, hanya menyiapkan kertas kosong ketika Arya membutuhkannya. Dukungan itu tenang, tetapi membuat meja kerja tersebut terasa seperti milik mereka berdua.
Ia tidak ingin selamanya dikenal sebagai lelaki yang diselamatkan istri kaya.
Mulai hari itu, ia akan membangun nama yang bisa berdiri di samping Anindya, bukan bersembunyi di belakangnya.