NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Punggung yang Menghalangi

"Jangan menuduh sebelum ada bukti," kata Bagas.

Nama Melati masih menggantung di antara mereka.

Kirana mengangguk. "Aku tahu."

"Besok aku minta salinan surel aslinya. Kamu tulis kronologi dari sisimu, tapi jangan kirim kepada siapa pun sebelum kita cocokkan tanggalnya."

"Baik, Komandan."

Bagas menatapnya. "Kamu mengejek lagi."

"Itu lebih baik daripada menangis."

Kalimat tersebut membuat Bagas diam.

Dari dalam wisma, Bu Marni mengetuk kaca jendela sambil menunjuk jam dinding. Waktu sepuluh menit mereka sudah habis.

Bagas berdiri. "Masuklah."

Kirana ikut bangkit. "Kamu juga harus kembali. Besok latihan lagi, kan?"

"Pagi buta."

"Lalu kenapa masih datang membawa belanjaan sebanyak itu?"

"Karena seseorang mengunci pintu dan membuat satu wisma mengira dia pingsan."

"Aku tidak meminta Bu Marni menelepon pos."

"Tapi kamu juga tidak menjawab dengan baik."

Kirana hendak membalas ketika pagar depan terbuka. Empat perempuan baru pulang dari pengajian di rumah tetangga. Mereka berjalan sambil membawa kotak makanan dan berbicara cukup keras.

Salah seorang mengenali Bagas lebih dulu.

"Malam, Letda."

Bagas mengangguk singkat. "Malam."

Perempuan lain memandang Kirana dari kepala hingga kaki. "Oh, ini rupanya."

"Ini siapa?" tanya temannya.

"Mantan istri yang dulu membuat heboh kesatuan. Yang mengirim pengaduan itu."

Kirana merasakan jari-jarinya dingin.

Perempuan pertama menyenggol lengan kawannya, tetapi bukannya berhenti, kawannya justru tersenyum tipis.

"Saya kira orangnya seperti apa. Ternyata memang cantik. Sayang sekali mulutnya kabarnya tidak secantik wajahnya."

Mereka berdiri tidak sampai tiga meter dari Kirana. Tidak ada lagi alasan bahwa ucapan itu hanya bisikan yang tak sengaja terdengar.

Kirana meremas bungkus permen jahe. "Kalau Ibu ingin bertanya tentang saya, tanyakan langsung."

"Tidak perlu tersinggung, Mbak. Kami hanya mengulang yang sudah diketahui banyak orang."

"Surat itu bukan buatan saya."

"Semua orang bisa menyangkal setelah akibatnya besar."

Panas naik ke mata Kirana. Ia telah membayangkan akan membela diri jika bertemu penyebar cerita. Namun saat tuduhan itu dilemparkan langsung ke wajahnya, seluruh kalimat yang disiapkan justru saling bertabrakan.

Rumah disita. Ratna bersembunyi. Melati dipuji. Bagas diperiksa. Kini orang asing merasa berhak menjatuhkan putusan hanya karena mendengar cerita dari orang lain.

"Ibu melihat saya mengirimnya?" Kirana memaksa suaranya tetap jelas.

"Tidak, tapi..."

"Ibu punya salinan asli dengan alamat yang bisa dibuktikan milik saya?"

"Saya tidak punya urusan memeriksa seperti polisi."

"Kalau begitu jangan bicara seolah Ibu punya bukti."

Wajah perempuan itu menegang. "Mbak tinggal di wisma lingkungan anggota. Kami berhak khawatir kalau ada orang yang pernah mencemarkan nama tentara."

"Cukup."

Bagas melangkah ke depan.

Satu langkah saja, tetapi tubuhnya menutup Kirana dari pandangan kelompok tersebut. Yang Kirana lihat kini hanya punggung tegak di bawah jaket tipis dan tangan kanan Bagas yang mengepal di sisi tubuh.

"Dia istri saya," kata Bagas. "Kalau ada masalah, bicara kepada saya."

Perempuan itu tampak terkejut. "Katanya sudah bercerai."

"Status administrasi kami sedang diurus dengan benar. Itu bukan izin bagi siapa pun untuk menghinanya."

"Saya tidak menghina."

"Kamu menuduh dia mencemarkan nama tentara tanpa bukti, tepat di depan wajahnya."

Suara Bagas tidak naik. Justru karena itu, halaman terasa semakin sunyi.

Bu Marni sudah keluar ke teras. "Ada apa ini?"

"Tidak ada, Bu," jawab salah seorang anggota kelompok cepat. "Kami hanya salah bicara."

"Kalau salah, minta maaf. Jangan dibawa masuk jadi bahan percakapan baru."

Perempuan yang tadi paling keras terlihat enggan. Namun tatapan Bagas tidak berpindah.

"Maaf kalau ucapan saya menyinggung," katanya akhirnya.

Kirana masih berdiri di belakang Bagas. Ia ingin mengatakan bahwa permintaan maaf bersyarat bukan permintaan maaf. Namun tenaganya habis sebelum mencapai bibir.

"Masuklah," ujar Bu Marni kepada kelompok itu. "Kotak makanannya taruh di dapur."

Keempat perempuan berjalan melewati teras. Tidak satu pun berani menoleh lagi.

Bagas baru berbalik setelah pintu depan menutup.

"Kamu menyebutku istri lagi," kata Kirana.

"Ya."

"Kita belum resmi rujuk."

"Aku juga bilang status administrasi sedang diurus."

"Orang bisa mengira aku menempel kepadamu karena butuh perlindungan."

Bagas memandang pintu yang baru dilewati kelompok tadi. "Mereka sudah memutuskan apa pun yang ingin mereka pikirkan sebelum kamu bicara."

"Itu bukan jawaban."

"Aku menyebutmu istri karena aku tidak mau kata mantan dipakai sebagai alasan untuk memperlakukanmu seolah tidak ada yang akan berdiri di sisimu."

Kirana menatapnya. "Melindungi bukan berarti memiliki."

"Aku tahu."

Jawaban cepat itu mengejutkannya.

Bagas melanjutkan, "Kalau nanti kamu tidak setuju rujuk, aku tetap ayah anak-anak itu dan tetap wajib membelanya. Tapi selama kamu masih mau mengurusnya bersamaku, aku tidak akan berdiri jauh hanya agar sebutanku terdengar rapi."

"Kamu belajar bicara panjang rupanya."

"Karena kalau terlalu pendek, kamu bilang aku suka memutuskan sendiri."

Sudut bibir Kirana bergerak, tetapi matanya tetap panas. Ia menghargai penjelasan itu. Sayangnya, satu penjelasan tidak cukup menghapus semua penghinaan yang telah menumpuk.

"Jangan didengarkan," katanya.

Kirana tertawa kecil, pahit. "Mudah sekali kamu mengatakannya."

"Aku tidak bilang ini mudah."

"Mereka melihatku seperti semua cerita itu tertulis di wajahku."

"Aku tahu."

"Tidak, kamu tidak tahu." Suaranya mulai pecah. "Kamu masih punya seragam, pangkat, teman, dan tempat untuk pulang. Aku kehilangan rumah. Mama harus bersembunyi. Orang-orang memuji Melati, lalu menyebutku perempuan jahat tanpa pernah bertanya."

Bagas berdiri kaku. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi karena tidak tahu apakah Kirana ingin disentuh.

"Kamu benar," katanya. "Aku tidak merasakan semuanya seperti kamu. Tapi malam ini aku melihat sebagian."

Jawaban itu menghentikan Kirana. Bagas tidak menyuruhnya bersyukur. Tidak mengatakan bahwa orang lain punya masalah lebih berat. Ia hanya mengakui batas pemahamannya.

"Aku lelah," bisik Kirana.

"Duduk dulu."

"Aku tidak mau duduk. Kalau duduk, mungkin aku tidak bisa berdiri lagi."

Bagas merogoh saku dalam jaket untuk mengambil saputangan. Sebuah kantong transparan kecil ikut terangkat sebelum ia segera menahannya dengan ibu jari.

Di dalamnya ada gelang bayi berukir nama Rangga.

Terlalu kecil untuk pergelangan tangan orang dewasa. Bagas rupanya menyimpannya rapat, bukan membuangnya seperti barang lama yang tak berarti.

Kirana menatap sekilas, tetapi pertanyaan tentang gelang itu tenggelam oleh gelombang emosi yang lebih besar.

Bagas menyodorkan saputangan. "Ini."

"Untuk apa?"

"Matamu sudah merah."

"Aku belum menangis."

"Baik. Simpan untuk nanti."

Kesabaran canggung dalam kalimat itu justru merobohkan bagian terakhir yang masih ditahan Kirana. Ia tidak mengambil saputangan tersebut.

Selama berminggu-minggu ia menjaga jarak agar tidak tampak lemah. Malam ini, punggung yang tadi menghalangi penghinaan terasa lebih aman daripada semua dinding yang telah hilang dari hidupnya.

Sebaliknya, Kirana melangkah maju dan memeluk Bagas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!