Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setelah sarapan yang Kayna makan dengan sangat normal, tanpa sedikit pun pikiran untuk menelannya bulat-bulat, Kayna merasa bosan di dalam kamar batu pualam.
"Rosa, aku ingin ke rumah kaca," pinta Kayna.
Rosa langsung panik. "Tapi Nona, di sana ada banyak alat berkebun! Ada gunting! Ada sekop! Ada..."
"Tenang, Rosa. Aku tidak akan menusuk mataku dengan gunting," janji Kayna. "Lagipula, ada empat pengawal di luar. Kalau aku mencoba melakukan sesuatu, mereka pasti akan mendobraks masuk."
Dengan enggan, Rosa menemani Kayna ke rumah kaca istana yang terletak di sayap belakang.
Rumah kaca itu adalah surga botanical. Udara di dalamnya hangat dan lembap, dipenuhi oleh bunga-bunga langka dari seluruh kerajaan. Kayna menghirup udara itu dalam-dalam. Untuk sesaat, ia merasa sangat damai.
Ia berjalan menyusuri lorong tanaman, berhenti di depan sebuah pot besar yang berisi tanaman dengan bunga ungu berbentuk lonceng yang indah.
Belladonna, batin Kayna, mengenali tanaman itu dari memori asli Kayla. Sangat beracun. Akar, daun, dan buahnya bisa membunuh jika dimakan. Kalau aku makan beberapa biji, jantungku akan berhenti dalam waktu lima belas menit. Kematian yang cukup elegan.
Kayna menatap bunga itu. Tangannya terulur, hendak memetik satu biji buah hitam yang mengkilap.
"Nona Kayla, jangan!"
Suara itu bukan milik Rosa. Suaranya berasal dari seorang pria muda yang mengenakan pakaian tukang kebun, yang tiba-tiba muncul dari balik deretan tanaman rambat. Pria itu membawa keranjang dan terlihat sangat terengah-engah.
"Buah Belladonna sangat beracun," ucap pria itu, menundukkan kepalanya. "Maafkan kekasaran saya, tapi saya tidak bisa membiarkan Nona menyentuhnya."
Kayna menarik tangannya kembali, menatap pria itu dari atas ke bawah.
Pria itu terlihat seperti tukang kebun biasa. Tapi ada sesuatu yang salah. Sepatu botnya terlalu bersih untuk seseorang yang baru saja bekerja di tanah. Dan yang lebih penting, saat pria itu menunduk, Kayna melihat callus di jari-jarinya. Kapalan yang terbentuk dari memegang gagang pedang dan tali busur, bukan dari memegang sekop.
Ah, batin Kayna, matanya menyipit. Ini bukan tukang kebun. Ini pembunuh bayaran.
Otak Kayna langsung bekerja. Sindikat Freya? Atau... ayahku? Marquis Ardent pasti tidak terima kalau aku masih hidup dan malah belajar membuat kue. Kalau dia menyewa orang untuk membunuhku, ini adalah peluang emas! Akhirnya, ada orang yang mau membantuku menyelesaikan masalah ini!
"Tidak apa-apa," ucap Kayna santai, menatap pria itu dengan senyum yang membuat si pembunuh sedikit mundur selangkah karena bingung. "Kau benar, ini beracun. Tapi kalau kau mau membunuhku dengan ini, tolong pastikan buahnya sudah matang. Yang belum matang rasanya sangat pahit dan bisa membuatku muntah-muntah sebelum mati. Aku benci muntah."
Pembunuh itu terkesiap, matanya membelalak ngeri. "A-apa? Nona, saya hanya tukang kebun..."
"Jangan berbohong," potong Kayna datar. Ia melangkah maju, menatap pria itu dengan tatapan seorang inspektur yang sedang menilai bawahan. "Kapalan di tanganmu menunjukkan kau seorang pembunuh. Posturmu terlalu tegap untuk seseorang yang terbiasa membungkuk mencabut rumput. Dan kau menyelinap ke sini sendirian, menjauh dari pengawalku yang ada di luar pintu. Siapa yang mengirimmu? Ayahku? Atau sindikat yang melatih Freya?"
Pembunuh itu membeku. Wajahnya yang tadinya pura-pura polos kini berubah menjadi dingin dan waspada. Tangannya perlahan bergerak ke arah sabuknya, di mana sebuah pisau kecil tersembunyi.
"Kau... sangat pintar, Nona Kayla," ucap pria itu, suaranya kini terdengar berat dan berbahaya. "Tapi itu tidak akan menyelamatkanmu. Majikanmu membayar kami sangat mahal untuk memastikan kau tidak bangun besok pagi."
"Bagus," Kayna tersenyum lebar, sebuah senyum tulus yang membuat pembunuh itu semakin tidak nyaman. "Kalau begitu, lakukan. Tapi tolong, gunakan racun yang tidak menyakitkan. Atau kalau kau mau menusukku, pastikan langsung ke jantung. Jangan di perut, itu sangat menyakitkan dan butuh waktu lama untuk mati kehabisan darah."
Pembunuh itu menatap Kayna seolah-olah wanita di hadapannya adalah monster yang baru saja merangkak keluar dari neraka. "Kau... kau tidak takut mati?"
"Takut? Aku sudah menunggu momen ini selama dua minggu!" keluh Kayna, frustrasi. "Kau tahu betapa sulitnya mencoba bunuh diri ketika tunanganmu adalah seorang jenderal paranoid yang mengawasimu dua puluh empat jam? Kau adalah penyelamatku, Tuan Pembunuh. Tolong, bunuh aku dengan cepat."
Pembunuh itu mundur selangkah. Untuk pertama kalinya dalam karirnya sebagai pembunuh bayaran elit, ia merasa... takut. Bukan takut pada Kayna, tapi takut pada kewarasannya.
"Kau gila," gumam pembunuh itu. "Tapi tugas tetap tugas."
Ia mencabut pisau kecilnya dan melangkah maju.
Tapi sebelum ia bisa mencapai Kayna, sebuah suara berat bergema dari pintu masuk rumah kaca.
"LEPASKAN PISAU ITU."
Kapten Roderick berdiri di pintu, diikuti oleh tiga pengawal bersenjata lengkap. Panah mereka sudah terpasang, menatap tepat ke arah dada si pembunuh.
Pembunuh itu menatap Kayna, lalu menatap para pengawal, dan akhirnya menjatuhkan pisaunya. Ia tahu ia kalah.
Roderick melangkah maju, menggeledah pria itu dengan cepat, lalu menendangnya hingga berlutut. Ia menoleh ke arah Kayna, wajahnya penuh dengan kekaguman dan sedikit ngeri.
"Nona Kayla... Anda baik-baik saja? Apakah dia menyakiti Anda?"
Kayna menatap pembunuh yang kini sedang diborgol itu dengan raut wajah yang sangat, sangat kecewa.
"Kapten," ucap Kayna, suaranya terdengar seperti anak kecil yang mainannya baru saja direbut. "Tolong jangan tangkap dia dulu. Kami sedang berdiskusi tentang metode eksekusi yang paling efisien."
Roderick terdiam, menatap Kayna dengan mulut sedikit terbuka. "M-maaf, Nona?"
"Dan tolong interogasi dia dengan keras," lanjut Kayna, berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah gontai. "Tanyakan siapa yang menyuruhnya. Aku ingin tahu apakah ayahku yang menyewa dia, atau sindikat Freya. Kalau ternyata ayahku, aku akan sangat kecewa. Dia seharusnya bisa menyewa pembunuh yang lebih profesional."
Roderick hanya bisa mengangguk kaku, masih berusaha memproses percakapan barusan. "S-siap, Nona."
Saat Kayna keluar dari rumah kaca, Rosa langsung berlari menghampirinya dengan wajah pucat. "Nona! Apa yang terjadi?! Saya mendengar teriakan!"
"Tidak ada apa-apa, Rosa," ucap Kayna datar, menepuk-nepuk bahu pelayannya itu. "Hanya ada sedikit... gangguan teknis dalam rencana pensiunku."
Kayna menatap langit-langit rumah kaca.
Sial, Aku mulai merasa kesal karena gagal mati. Ini benar-benar gejala penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
***
Di ruang kerjanya, Duke Adrian sedang menandatangani dokumen ketika Kapten Roderick masuk dengan wajah tegang.
"Yang Mulia," ucap Roderick, membungkuk. "Kami menangkap seorang pembunuh bayaran di rumah kaca. Dia dikirim untuk membunuh Nona Kayna."
Pena di tangan Adrian patah. Tinta hitam membasahi jari-jarinya, tapi pria itu tidak peduli. Matanya menyala dengan api kemarahan yang mematikan.
"Siapa yang mengirimnya?" suara Adrian terdengar sangat rendah, sangat berbahaya, hingga Roderick merinding.
"Kami sedang menginterogasinya, Yang Mulia. Tapi... ada sesuatu yang harus saya laporkan tentang sikap Nona Kayna saat insiden terjadi."
"Apa yang dia lakukan? Apakah dia terluka? Apakah dia panik?" tanya Adrian cepat, berdiri dari kursinya.
"Dia... dia memintanya untuk membunuhnya lebih cepat, Yang Mulia. Dan dia mengkritik teknik pembunuhan pria itu karena tidak efisien."
Adrian terdiam. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat, Roderick pikir Duke-nya akan meledak karena marah. Tapi kemudian, Adrian menutup matanya, menghela napas panjang, dan memijat pangkal hidungnya.
"Interogasi pria itu sampai dia bicara," perintah Adrian akhirnya, suaranya kembali dingin dan terkontrol. "Siapkan pasukan elitku. Kalau Marquis Ardent atau sindikat itu yang berada di balik ini... aku akan meratakan tanah mereka dengan tanah."
"Siap, Yang Mulia. Dan... apa yang harus saya sampaikan pada Nona Kayna?"
Adrian membuka matanya, menatap ke arah jendela yang menghadap ke sayap tempat kamar Kayna berada.
"Katakan padanya," ucap Adrian pelan, "bahwa aku akan pulang lebih cepat hari ini. Dan... katakan padanya bahwa aku akan membawakan kue baru. Yang tidak gosong."
..gagal terus🤣