NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Penyesalan Keluarga / Romansa Fantasi
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Mobil sports milik Irysh meluncur pelan memasuki gerbang besi berukir setinggi lima meter yang terbuka secara otomatis. Mansion keluarga Whitman berdiri megah di kawasan elit Upper East Side, dikelilingi oleh pilar-pilar batu marmer bergaya neoklasik yang menjulang gagah.

Di bawah pendar lampu-lampu taman berdesain vintage dan sorot rembulan malam, kediaman itu memancarkan kemewahan yang tenang namun intimidatif.

Pintu masuk utamanya dihiasi oleh air mancur bertingkat dari batu alam, sementara jalan setapak berlapis batu granit tersusun rapi menuju teras utama.

Malam telah menunjukkan pukul sepuluh. Suasana mansion begitu hening, hanya menyisakan gemericik air dari kolam taman dan derap langkah halus para pelayan berseragam rapi yang masih bersiaga.

Irysh yang sudah berada di ambang batas kesadarannya akibat pengaruh alkohol dari bar tadi, langsung dituntun oleh dua orang pelayan wanita menuju kamarnya di lantai atas.

Sebelum sepenuhnya menghilang di balik tangga melingkar yang megah, gadis itu sempat melambaikan tangannya secara sembarangan pada Parrie sambil bergumam tidak jelas.

Parrie ditinggalkan sendirian di ruang tamu utama yang luar biasa luas. Ia duduk canggung di atas sofa beludru berwarna krem, menatap langit-langit tinggi berhiaskan lampu gantung kristal yang memantulkan pendar cahaya keemasan yang hangat.

Parrie menghela napas panjang, merapatkan mantelnya untuk mengusir rasa dingin yang perlahan merayap.

Namun, belum sempat Parrie beranjak dari duduknya untuk mencari kamar tamu, kepala pelayan berpakaian jas hitam mendatangi area ruang tamu dengan langkah cepat namun teratur.

"Nona Parrie," panggil kepala pelayan itu dengan suara rendah yang sangat sopan. "Maaf mengganggu kenyamanan Anda. Ada tamu di luar yang ingin bertemu. Beliau adalah Tuan Muda Ashford."

Parrie tersentak kaget. Kedua matanya membelalak lebar. "S-siapa...? Kaetos?"

"Benar, Nona. Tuan Kaetos Ashford sudah berada di teras depan," jawab pelayan itu seraya membungkuk hormat.

Hati Parrie berdegup kencang secara instan. Baru beberapa puluh menit yang lalu ia bertukar pesan singkat dengan Kaetos di ponselnya, mengaku bahwa ia tidak bisa tidur dan merasa sedikit gelisah. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan benar-benar kemari di larut malam seperti ini hanya demi menemuinya secara langsung.

Sebelum Parrie sempat merapikan pakaiannya, langkah kaki tegap yang sangat khas memecah keheningan ruang tamu.

Kaetos Ashford melangkah masuk. Pria itu tampak sangat menawan dalam balutan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, dipadukan dengan celana kain bernuansa senada.

Mantel panjang berwarna gelap bertengger di lengannya. Wajah tampannya yang tegas dan tegas tampak sedikit lelah, namun sepasang mata tajamnya langsung mengunci keberadaan Parrie dengan binar kerinduan yang teramat dalam.

Kehadiran pria itu seketika mendominasi seluruh ruangan. Kecanggungan tebal langsung menyelimuti atmosfer di antara mereka.

Di ruang tamu mansion asing tanpa kehadiran sang pemilik rumah—sebab Irysh sudah tertidur lelap akibat mabuk—keberadaan Kaetos membuat Parrie merasa sangat salah tingkah dan gugup.

Kaetos menghentikan langkahnya tepat di depan sofa, menatap Parrie yang duduk kaku seperti patung.

Senyuman tipis dan amat menawan terukir di bibirnya.

"Mau kupijat? Apa kepalamu pusing, Honey?" tanya Kaetos tiba-tiba, suaranya berat dan serak mengalun lembut di udara malam yang dingin.

Parrie menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, wajahnya memanas seketika. "T-tidak... aku tidak apa-apa! Kau... kenapa kau malah kemari? Ini sudah jam sepuluh malam, Kae. Jangan berlama-lama di sini, tidak enak dengan pelayan Irysh."

Kaetos terkekeh pelan melihat reaksi menggemaskan dari kekasihnya.

Pandangan matanya yang tajam menelusuri tiap inci wajah teduh Parrie yang tampak cemas. Pria itu menggeleng kecil, merasa gemas setengah mati dengan kepolosan gadis di hadapannya.

"Kalau begitu... bagaimana kalau kita keluar saja?" tawar Kaetos santai seraya mengulurkan sebelah tangannya yang kokoh. "Menghirup udara malam sebentar."

Parrie menatap uluran tangan itu ragu-ragu. Berpikir bahwa keluar ke area taman luar mansion akan membantu meredakan kecanggungan dan memberikan udara segar untuk kepalanya yang berat, ia akhirnya menyambut jemari Kaetos.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu keluar utama.

Sebelum melangkah keluar, Kaetos meminta izin secara singkat pada kepala pelayan mansion Whitman. Para pelayan yang sangat mengenali reputasi dan sosok Tuan Muda Ashford hanya membungkuk hormat tanpa berani mengajukan satu pertanyaan pun.

Di luar, angin malam New York berhembus cukup kencang. Parrie menarik napas dalam-dalam, mengira mereka hanya akan berjalan melintasi pelataran air mancur. Namun, baru saja ia mengambil tiga langkah di atas batu granit teras, tubuhnya mendadak melayang di udara.

"Kae—! Ah!" jerit Parrie tertahan.

Secara mengejutkan, Kaetos menyusupkan sebelah tangannya di bawah lipatan lutut Parrie dan sebelah tangan lainnya di punggung gadis itu, mengangkat tubuh mungil Parrie dengan sangat mudah dalam posisi bridal carry.

"Kaetos! Apa yang kau lakukan?!" protes Parrie panik, kedua tangannya refleks melingkar erat di leher kokoh Kaetos karena takut terjatuh.

Pria itu melangkah tegap menuju gerbang utama, sama sekali tidak berniat menghentikan langkahnya.

"Menjemput milikku," jawab Kaetos singkat dengan senyuman miring yang begitu tampan.

"Oh tidak, Kae... turunkan aku! Aku tidak mau!" bisik Parrie setengah berteriak, matanya menatap liar ke arah pintu mansion Whitman, khawatir ada pelayan yang melihat mereka. "Aku menginap di rumah Irysh malam ini! Turunkan aku sekarang!"

"Jangan menolak, kumohon Honey..." bisik Kaetos lembut namun penuh penekanan yang mutlak.

Pria itu menunduk sebentar, mendaratkan kecupan hangat di dahi Parrie yang membuat gadis itu tertegun sejenak. "Mommy memasak banyak makanan khusus untukmu tadi. Mommy sangat kecewa saat kau menolak teleponnya. Ayo kita ke mansion."

"Kae, tidak! Aku sudah bilang pada Nyonya Tessa kalau aku tidak enak badan! Aku tidak bisa ke sana sekarang—"

"Penolakanmu tidak berlaku malam ini, Sayang," potong Kaetos tenang.

Segala penolakan dan kepanikan Parrie terasa begitu sia-sia di hadapan keteguhan Kaetos.

Langkah Kaki menuju mansion keluarga Ashford hanya memakan waktu dua menit. Sepanjang jalan, Parrie luar biasa gugup—Pikirannya dipenuhi oleh ketakutan akan penilaian Nyonya Tessa dan keluarga Ashford jika melihatnya datang di larut malam seperti ini.

Namun, saat berdiri di depan mansion Ashford yang megah, suasana tempat itu rupanya sudah sangat sepi. Lampu-lampu utama di area aula besar telah diredupkan, menandakan bahwa para penghuni mansion dan sebagian besar pelayan telah beristirahat di kamar masing-masing.

"Lihat? Mansion sudah sepi," bisik Kaetos seraya mematikan mesin mobil. "Mommy dan Daddy sudah tidur sejak sejam yang lalu."

Parrie menghembuskan napas lega yang amat panjang, pundaknya yang tadinya tegang seketika mereda. "Syukurlah..."

Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Bukannya mengantar Parrie ke kamar tamu yang berada di lantai satu, Kaetos justru kembali menggenggam erat jemari Parrie dan menuntunnya melangkah cepat menaiki tangga utama menuju lantai atas—area privat tempat kamar pribadi Kaetos berada.

"Kae, kita mau ke mana? Kamar tamunya di bawah, kan?" bisik Parrie panik seraya menahan langkahnya di tengah koridor lantai atas yang sunyi.

Kaetos tidak menjawab dengan kata-kata.

Pria itu mendorong pintu ganda dari kayu jati berukir di ujung koridor, menuntun Parrie masuk, lalu menutup pintu itu rapat-rapat dan memutar kunci kuningan dengan bunyi klik yang bergema samar.

Parrie berdiri terpaku di tengah ruangan yang luar biasa luas.

Kamar pribadi Kaetos bernuansa kombinasi warna abu-abu maskulin dan kayu gelap, dilengkapi dengan ranjang berukuran king-size di tengah ruangan serta kaca jendela raksasa yang menghadap langsung ke taman belakang.

"Kae..." suara Parrie bergetar halus. "Kenapa kau membawaku ke kamarmu?"

Kaetos menyandarkan punggungnya di pintu yang terkunci, mengamati Parrie dengan tatapan matanya yang membara oleh pendar hasrat dan kerinduan yang selama ini ia tahan.

Pria itu melepaskan mantelnya dan melemparkannya sembarangan ke atas sofa kulit, lalu melangkah perlahan mendekati Parrie.

Setiap langkah kaki Kaetos membuat jantung Parrie berdetak kencang bagaikan genderang perang.

"Karena aku tidak sanggup membiarkanmu berada jauh dariku malam ini," tutur Kaetos dengan suara berat yang begitu dalam dan seksi.

Kaetos mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa.

Kedua tangan kokohnya terulur, melingkar sempurna di pinggang ramping Parrie, menarik tubuh hangat gadis itu merapat ke dalam pelukannya.

Parrie bisa merasakan hembusan napas hangat Kaetos yang menerpa kulit lehernya, menciptakan sensasi desiran aneh yang membakar seluruh sarafnya.

"Kae... ini tidak benar," bisik Parrie lemah, kedua tangannya bertengger canggung di dada bidang Kaetos yang berdetak konstan. "Jika orang tuamu tahu..."

"Mereka tidak akan kemari, dan aku tidak peduli," potong Kaetos lembut. Jarinya terulur menyibak helai rambut halus Parrie ke belakang telinga, lalu mengusap rahang lembut gadis itu dengan ibu jarinya.

Pria itu menunduk, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata teduh milik Parrie.

"Aku merindukanmu setengah mati, Parrie Rose..." bisik Kaetos dengan nada suara yang begitu kentara menahan gejolak emosi. "Setiap detik yang kuhabiskan tanpamu terasa sangat menyiksa. Kau ada di pikiranku siang dan malam."

Tatapannya turun ke bibir merah muda Parrie yang sedikit terbuka. Tanpa memberikan kesempatan bagi Parrie untuk membalas, Kaetos menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Parrie.

Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, seolah-olah Kaetos sedang menyentuh barang kaca yang paling rapuh di dunia. Namun perlahan, seiring dengan erangan halus yang terlepas dari tenggorokan Parrie, ciuman itu berubah menjadi semakin menuntut, dalam, dan penuh dengan gairah yang membakar.

Kaetos menyesap dan melumat bibir kekasihnya dengan dominasi yang manis, menuntut balasan yang membuat lutut Parrie terasa lemas seketika.

Parrie meremas kemeja hitam Kaetos di bagian dada, pasrah menenggelamkan dirinya dalam pusaran rasa manis dan hangat yang dialirkan oleh sentuhan pria itu. Rasa takut, cemas, dan tembok ketakutan yang sempat menghantuinya sepanjang hari seketika menguap, digantikan oleh kehangatan cinta Kaetos yang begitu meluap-luap.

Kaetos melepaskan tautan bibirnya perlahan, menyisakan jarak beberapa milimeter saja di antara wajah mereka. Napas pria itu memburu tebal, keningnya bersandar lembut pada kening Parrie.

"Parrie..." panggil Kaetos dengan suara parau yang sangat dalam, menatap lurus ke dalam manik mata gadisnya dengan kejujuran yang telanjang.

"Aku benar-benar ingin bersamamu malam ini," tutur Kaetos tanpa ragu, pengakuan jujur yang meluncur langsung dari sudut jiwanya yang paling dalam. "Aku ingin memelukmu, menyimpanmu di dalam pelukanku sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Biarkan aku mencintaimu, Honey."

Parrie menatap mata tajam Kaetos yang dipenuhi oleh ketulusan dan kepemilikan yang mutlak.

Di dalam kamar yang sunyi dan remang ini, dipeluk oleh pria yang sangat ia cintai, seluruh pertahanan diri Parrie akhirnya runtuh sepenuhnya.

Gadis itu mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kaetos, menyerahkan seluruh hati dan jiwanya ke dalam genggaman pria Ashford tersebut.

1
Mei TResna Rahmatika
kaya nya ntar parrie perlu ninggalin kaetos dan keluarga ashford biar nanti mereka ketar ketir pas udah tau sebenernya kaya dulu mommy Tessa merad dari Giovani 🤭
Hai Min Husna
/Ok/
Debu Nakal
butuh tambahan snack chap thor
Mei TResna Rahmatika
up lagi dong kak 🤭
Rosdianah 🌷: eh bentar² 🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Thor cmn satu 😌
Rosdianah 🌷: bentar kak, Ini lagi Bikin huru hara dulu🤣
total 1 replies
safaana
ku harap kaetos mengetahui kehidupan parrie yang sebenar benarnya,meskipun parrie anak musuhnya tpi kenyataanya tak seperti yang di pikirkan kae
Rosdianah 🌷: Do'akan ya kak 🤭
total 1 replies
Vtree Bona
gimana nasib parie kak Thor,parie kan ga tau baru tau skr ini😭
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🤭🥲
total 1 replies
Mita Paramita
😭😭😭 baru aja perrie dan kaetos bahagia udah ada badai topan datang menerjang... kaetos salah paham nih kalo perrie gak ada hubungannya sama rencana jahat ayah sih Gerald Ford 🫡🫡🫡 jangan sampai mereka pisah thot😭😭😭
Rosdianah 🌷: gimana dong 😭😭😭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lagii
Rosdianah 🌷: besok kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget parrie ku yg malang jadi kambing hitam😭
Rosdianah 🌷: huhuhu kenapa nggak kambing putih kak😭
total 1 replies
Yusry Ajay
makin seruuuu Thor 🤭🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Co cuit,,lanjut yg banyak donk kaa
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Vtree Bona
akh kae sweet banget sih meleleh nih hati neng😍
Rosdianah 🌷: Itukan yg disenangi para Readers 🤭🤣
total 1 replies
Vtree Bona
aduh penjahat lagi penjahat lagi kak Thor please deh
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🤣🤣
total 1 replies
Vtree Bona
penjahat nya banyak banget Kak Thor pusying saya kak Thor 🤣
Rosdianah 🌷: author juga pusing 😭🤣🤣
total 1 replies
Vtree Bona
kasian banget sih kaetos trauma nya banyak banget 😭
Vtree Bona
suruh parie cepet bilang sama kaetos kak Thor bahwa papa dia yg jahatin kaetos
Rosdianah 🌷: huhuhu ia nanti author sampaikan ya 🤭🤣
total 1 replies
safaana
meskipun di senggol gak akan marah dia karna lagi sama pawangnya
Rosdianah 🌷: hahha iya lagi🤣
total 1 replies
safaana
berat banget hidupmu kae,meskipun kaya TPI tetap saja menyedihkn
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
masalah kaetos lebih beratt drpd Leander
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!