NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di kehidupan sebelumnya, Reyna percaya bahwa kematian ibunya lima tahun lalu adalah akibat dari serangan jantung mendadak saat sedang berkendara. Richard telah mengatur semuanya. Pemakaman yang mewah, air mata yang sempurna, dan pengambilalihan aset yang "demi kebaikan Reyna". Reyna yang bodoh menelan mentah-mentah cerita itu.

Tapi surat ini... ini mengubah segalanya.

Ibunya tidak meninggal karena sakit. Ibunya dibunuh.

Dan Richard... apakah Richard dalang utamanya? Atau ada orang lain yang lebih kejam, seseorang yang bahkan Richard pun takut?

"Vincent," suara Reyna terdengar berbeda. Lebih rendah, lebih gelap. Ada badai yang sedang berputar di dalam matanya. "Siapkan jet pribadi. Kita terbang ke Singapura malam ini juga."

Vincent terkejut. "Singapura? Tapi rapat dengan dewan direksi regional besok pagi..."

"Batalkan. Atau suruh mereka melapor lewat video konferensi," potong Reyna tegas. Ia menutup laptopnya, menatap Vincent dengan tatapan yang tidak mentolerir bantahan. "Ada urusan yang jauh lebih penting daripada dewan direksi. Aku harus menemui seorang pria bernama Gavin Sterling."

Vincent mengangguk perlahan, menyadari bahwa bosnya baru saja menemukan sesuatu yang sangat besar. "Saya akan hubungi menara pengendali bandara. Pesawat akan siap dalam tiga jam."

***

Di sisi lain kota, di sebuah gang sempit yang berbau sampah dan air got, Julian sedang merangkak di atas aspal yang basah oleh hujan gerimis.

Wajahnya babak belur. Bibirnya pecah, dan salah satu matanya membiru hingga hampir tertutup. Jas mahalnya yang kini hanya tersisa kemeja dalam yang sobek, basah kuyup oleh air hujan dan darah.

Tiga pria berbadan kekar dengan jaket kulit berdiri di belakangnya, tertawa meremehkan. Mereka adalah penagih utang dari sindikat judi yang selama ini membiarkan Julian berhutang, menunggu hingga bunganya membesar sebelum menagih dengan kekerasan.

"Bangun, Tuan Julian," ucap salah satu penagih itu, menendang rusuk Julian hingga pria itu mengerang kesakitan. "Kau masih berhutang dua miliar. Kalau tidak ada uang, kami akan memotong jarimu satu per satu. Dimulai dari jari yang biasa kau gunakan untuk mengetik password brankas tunanganmu."

Julian terbatuk, memuntahkan darah ke genangan air. "T-tunggu... aku punya uang... aku tahu rahasia... aku bisa memberimu sesuatu yang jauh lebih berharga dari dua miliar!"

Penagih itu tertawa, mengangkat tongkat besinya untuk menghantam kepala Julian. "Omong kosong. Kau sudah tidak punya apa-apa, pecundang."

NGIIING.

Suara desisan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari ujung gang. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap dengan kaca film gelap berhenti tepat di samping mereka. Pintu penumpang belakang terbuka, dan sepasang sepatu *heels* bermerek mahal melangkah ke atas aspal yang kotor.

Seorang wanita muncul dari balik payung hitam. Ia mengenakan mantel merah darah yang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya yang hitam pekat terpotong sebahu, dan bibirnya melengkung dalam senyum yang indah namun mematikan.

Tiga penagih utang itu langsung mengenali siapa wanita itu. Wajah mereka memucat. Mereka tahu, wanita ini bukan orang biasa. Mereka adalah preman jalanan, tapi wanita di depan mereka adalah predator dari kalangan atas. Tanpa sepatah kata, ketiga pria itu segera menunduk dan mundur, meninggalkan Julian yang tergeletak parah.

Wanita itu menutup payungnya, membiarkan hujan membasahi mantel merahnya. Ia berjongkok di hadapan Julian, menatap pria yang hancur itu dengan tatapan seperti seorang ilmuwan yang sedang mengamati serangga.

"Julian," ucap wanita itu, suaranya lembut seperti beludru, namun memiliki nada yang membuat tulang belakang Julian meremang. "Kondisimu menyedihkan. Ini bukan masa depan yang dijanjikan oleh Clarissa, bukan?"

"Siapa... siapa kau?" tanya Julian, giginya gemeretak karena dingin dan ketakutan.

Wanita itu tersenyum, mengeluarkan sapu tangan sutra dan mengusap darah di pipi Julian dengan gerakan yang hampir terasa intim. "Namaku Valerie. Dan aku di sini untuk menawarkanmu sebuah kesempatan, Julian. Sebuah kesempatan untuk tidak hanya melunasi utangmu, tapi untuk mengambil kembali apa yang dicuri oleh Reyna Arland."

Mata Julian yang bengkak membelalak. Harapan yang putus asa mulai menyala di dalamnya. "Kau... kau bisa membantuku? Kau bisa menghancurkan Reyna?"

Valerie tertawa pelan, suara yang terdengar seperti lonceng kematian. "Reyna sudah menghancurkan keluarga Arland. Tapi dia belum menyentuh inti dari semuanya. Aku tidak peduli pada uang Reyna, atau perusahaannya. Aku hanya menginginkan satu hal."

Valerie mendekatkan wajahnya ke telinga Julian, berbisik dalam bahasa yang membuat darah Julian seolah membeku.

"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam Elena Arland meninggal. Dan aku ingin kau menjadi umpan untuk memancing Gavin Sterling keluar dari persembunyiannya di Singapura."

Julian menelan ludah, rasa sakit di tubuhnya seketika terlupakan oleh ketakutan yang lebih dalam. Ia tidak tahu siapa Valerie, atau mengapa ia begitu terobsesi pada kematian ibu Reyna. Namun, Julian yang sudah terpojok di ujung tanduk tidak punya pilihan lain.

"Aku... aku akan melakukannya," bisik Julian, matanya menyala oleh dendam yang murni. "Aku akan membantumu. Asal kau bisa membuat Reyna menderita."

Valerie berdiri, menepuk-nepuk pipi Julian dengan lembut. "Pintar. Siapkan paspormu yang palsu. Kita akan terbang ke Singapura besok pagi. Permainan catur Reyna memang brilian, sayang. Tapi dia lupa bahwa di luar papan caturnya, ada pemain lain yang sudah menunggu sejak lama."

Mobil hitam itu melaju meninggalkan gang yang gelap, membawa serta benih dari badai yang jauh lebih besar.

Di langit Singapura, jet pribadi Reyna baru saja lepas landas, membelah awan. Reyna menatap ke luar jendela, tidak menyadari bahwa ia sedang terbang langsung menuju sarang musuh yang bahkan tidak ia ketahui keberadaannya.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!