Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sopir Baru Untuk Sera.
Akhir pekan tiba.
Sera menghabiskan waktunya di rumah bersama sang suami. Kebetulan akhir pekan ini Ravin berada di rumah.
Biasanya, pria itu selalu sibuk. Ada saja pekerjaan di luar rumah yang ia lakukan.
Sebelumnya, Sera percaya saja dengan alasan kesibukan sang suami di akhir pekan. Pergi menemui klien untuk menjalin koneksi. Mengingat, Ravin baru terjun di dunia bisnis.
Namun, setelah kebohongan yang Ravin lakukan beberapa hari lalu, Sera menjadi tidak yakin dengan alasan pria itu.
Apa benar menemui klien? Atau, ada hal lain yang di rahasiakan?
Selama beberapa hari ini, Ravin juga tidak melakukan hal - hal yang mencurigakan. Selalu pulang tepat waktu. Meski sempat tidak bisa sarapan bersama.
“Kamu mau pergi berbelanja?” Tanya Ravin saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
Sera menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin pergi kemana pun. Lagi pula, tidak ada barang yang ingin gadis itu beli.
“Bagaimana kalau menonton film?” Tanya Ravin lagi.
“Aku sedang malas ke luar rumah, kak.” Ucap gadis itu.
“Kita bisa menonton di rumah ‘kan?” Ravin menunjuk ke arah televisi berlayar besar di depan mereka.
Sera nampak berpikir. Tak lama kemudian mengangguk setuju.
“Aku akan menyiapkan camilan.” Ucap gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Seperti biasa, di akhir pekan bi Sari tidak bekerja. Dan mendapat ijin untuk pulang menemui keluarganya.
Ravin kemudian menyalakan televisi, mencari aplikasi menonton berbayar yang sering di tonton sang istri.
“Sepertinya dia sedang suka menonton drama China.” Gumam Ravin ketika melihat riwayat tontonan Sera.
Tak berselang lama, Sera pun kembali dengan membawa dua bungkus kripik kentang dan dua gelas jus jeruk.
Sera hendak duduk di samping sang suami, namun suara bel pada pintu utama terdengar.
“Siapa yang datang?” Gumam Ravin.
“Biar aku lihat, kak.” Sera pun bergegas menuju pintu utama.
“Mama.” Ucap Sera saat mendapati sang mama berdiri di balik pintu.
Kening gadis itu berkerut halus, ketika melihat sang mama datang tak sendiri. Namun bersama seorang pria muda.
“Kamu tidak mau mengijinkan mama masuk?” Tanya mama Safina.
“Ah, ya. Silahkan masuk, ma.” Sera memberikan jalan pada sang mama.
Sebelum melangkah masuk, mama safina memberikan isyarat pada pria muda di belakangnya untuk ikut masuk.
“Siapa dia?” Gumam Sera.
.
.
.
Acara menonton pasangan suami istri itu sepertinya harus tertunda, karena kedatangan mama Safina.
Sera mempersilahkan sang mama dan pria itu untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara, dirinya pergi ke dalam untuk memanggil Ravin dan menyiapkan minum.
“Ma. Apa kabar?” Ravin memberi salam pada mama mertuanya.
“Kabar mama baik. Dan semoga kamu juga begitu.” Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
Dalam hatinya, umpatan kasar terlontar untuk sang menantu yang telah berani menyakiti Sera secara diam - diam.
Ravin melirik ke arah pria muda yang duduk tak jauh dari mama Safina. Kening suami Sera itu tiba - tiba berkerut halus.
‘Siapa dia? Kenapa wajahnya seperti tidak asing?’ Ravin bertanya dalam hatinya.
Sera datang dengan membawa dua gelas jus jeruk dan meletakkan di atas meja. Ia kemudian duduk di samping sang suami.
Mama Safina dan pria muda itu duduk di atas sofa seberang meja.
“Ada apa, ma? Kenapa datang tanpa memberitahu sebelumnya?” Tanya Sera kemudian.
“Apa mama harus membuat janji dulu sebelum bertemu dengan kalian?” Mama Safina berbalik melempar tanya.
Sera menghela nafas pelan.
“Bukan seperti itu, ma. Siapa tau aku dan kak Ravin tidak ada di rumah. Kasihan mama sudah datang kemari.” Ucap Sera.
Gadis itu melirik ke arah pria yang duduk di samping sang mama. Pria itu seolah tak perduli dengan obrolan mereka.
“Tapi, hari ini kalian ada di rumah dan tidak akan pergi ‘kan?” Tanya mama Safina lagi.
Sera menganggukkan kepalanya.
“Bagus. Mama kemari, untuk memberitahu kalian. Kalau mama tidak bisa lagi meminjamkan sopir mama sama kamu, Sera.” Ucap mama Safina.
Sera mengerutkan keningnya. Kemudian melihat ke arah Ravin.
“Kenapa, ma?” Tanya pria itu.
“Beberapa waktu lalu, mama sempat kecopetan saat pergi sendiri.” Ucap mama Safina.
Mata Sera membulat sempurna. “Mama kecopetan? Mama tidak apa - apa ‘kan?” Tanyanya panik.
Mama Safina menggelengkan kepalanya. “Mama tidak apa - apa, untung ada Wira yang menolong mama.” Wanita paruh baya itu memutar kepalanya ke arah pria yang duduk di samping kanannya.
“Wira?” Gumam Sera dan Ravin secara bersamaan.
Mama Safina kini menganggukkan kepalanya. “Iya. Ini Wira. Dia yang telah menolong mama. Kalau tidak, mungkin sesuatu telah terjadi sama mama.”
Sera pun menatap ke arah pria bernama Wira itu.
“Terima kasih telah menolong mama saya, mas.” Ucapnya dengan tulus.
Pria berpenampilan seperti preman, dengan jambang tipis di dagunya itu pun menganggukkan kepalanya.
“Saya akan menolong siapa pun yang terkena musibah saat itu.”
Ravin tidak berbicara. Namun ia mengamati wajah Wira dengan serius.
“Nah. Untuk membalas kebaikan Wira, mama memberikan dia pekerjaan sebagai sopir kamu, Sera. Kebetulan, dia sedang membutuhkan pekerjaan. Dan mama tidak mungkin menyuruhnya bekerja di kantor papa kamu.” Ucap mama Safina kemudian.
Mendengar ucapan sang mama, mata Sera pun membulat sempurna. Ia menoleh ke arah sang suami. Lalu kembali menatap sang mama.
“Ma. Kenapa tidak berdiskusi dengan kami dulu?” Tanya Sera.
“Untuk apa? Kamu biasanya menggunakan sopir mama ‘kan? Sama saja jika sekarang mama memberikan Wira sama kamu.” Ucap sang mama.
“Tapi, ma —
“Bagaimana menurut kamu, Ravin? Tidak masalah ‘kan jika Wira menjadi sopirnya Sera? Dia juga pandai bela diri. Jadi, bisa diandalkan untuk menjaga istri kamu.” Mama Safina memotong ucapan sang putri, kemudian beralih pada sang menantu.
“Kamu juga tidak bisa setiap hari mengantar jemput Sera ‘kan?” Imbuh mama Safina lagi.
Ravin mengangguk setuju. Ia memang tidak bisa setiap hari mengantar jemput Sera. Kesibukan di kantor, di tambah lagi dengan keberadaan Rania di apartemen saat ini.
Ravin tidak mungkin mencari alasan pergi ke Bogor lagi untuk menemui gadis itu.
“Kak. Aku bisa meminta sopir kantor untuk menjemputku.” Ucap Sera.
“Kamu lupa dengan janji kamu sama papa, kalau kamu bersikap layaknya pagawai biasa. Dan tidak memanfaatkan nama besar keluarga? Kalau kamu menggunakan sopir kantor, apa nanti kata teman - teman kamu?” Tanya sang mama.
“Ma —
“Tidak apa - apa, Sera. Anggap kita membalas jasa mas Wira kerena telah menolong mama.” Ucap sang suami.
Sera menghela nafas kasar. Ia pun tidak bisa menolak lagi karena Ravin sudah memberikan keputusannya.
Yang membuat Sera menolak adalah, usia Wira yang sepertinya tak jauh dari dirinya dan Ravin. Sehingga membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
Jika sang mama mempekerjakan pria paruh baya, mungkin Sera akan lebih leluasa.
“Bagus. Kita sepakat. Jadi, apa Wira sudah bisa bekerja mulai besok?” Tanya mama Safina.
“Tentu, ma. Kebetulan, lusa aku harus pergi ke Bali selama 2 hari. Jadi, aku bisa tenang meninggalkan Sera di rumah.” Ucap Ravin.
Mama Safina mengangguk paham. Wanita paruh paya itu pun tersenyum penuh arti.