NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan malam

Hari yang dinanti Laras akhirnya tiba. Sepulang kerja, ia bergegas kembali ke kosnya untuk berganti pakaian, memilih setelan sederhana namun rapi untuk makan malam dengan Bagas di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari pusat kota.

Namun rencana itu mendadak terganggu ketika ponselnya berdering—panggilan dari nomor kantor.

"Halo?"

"Laras, ini saya, sekretaris Pak Raka," suara di seberang terdengar terburu-buru. "Pak Raka minta kamu balik ke kantor sekarang. Ada dokumen penting yang harus segera diselesaikan malam ini juga."

Laras menatap jam tangannya—kurang dari satu jam lagi sebelum jadwal makan malamnya dengan Bagas. "Dokumen apa, Mbak? Apa nggak bisa besok pagi?"

"Katanya harus malam ini, buat rapat besok pagi-pagi sekali. Maaf, Pak Raka nggak kasih penjelasan lebih detail."

Laras menghela napas panjang, merasakan kekesalan yang mulai membuncah. Ia tahu betul pola ini—setiap kali ada momen baik dalam hidupnya, seolah selalu ada saja gangguan mendadak dari pekerjaan yang datang tepat pada waktu yang paling tidak tepat.

Dengan berat hati, ia mengirim pesan kepada Bagas, menjelaskan bahwa ia harus menunda janji makan malam mereka karena ada urusan kantor mendadak.

"Maaf, Pak Bagas. Saya dipanggil balik ke kantor, ada dokumen urgent yang harus diselesaikan malam ini. Boleh kita jadwal ulang?"

Balasan Bagas datang cepat, nadanya terdengar pengertian meski sedikit kecewa. "Nggak masalah, Laras. Kerjaan memang harus diutamakan. Kita atur ulang kapan-kapan aja."

Laras merasa lega sekaligus bersalah membaca balasan itu, namun tidak ada pilihan lain selain segera kembali ke kantor sesuai instruksi mendadak dari Raka.

Sesampainya di kantor, suasana lantai dua puluh tiga sudah sepi, hanya beberapa lampu yang masih menyala termasuk di ruang kerja Raka. Laras melangkah masuk setelah mengetuk pintu, mendapati Raka duduk di belakang mejanya dengan setumpuk dokumen yang tampak biasa saja, tidak menunjukkan urgensi khusus seperti yang digambarkan sekretarisnya tadi.

"Ini dokumen apa yang harus diselesaikan malam ini, Pak?" tanya Laras, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional meski kekesalan masih terasa jelas.

"Laporan proyeksi anggaran untuk kuartal depan," jawab Raka singkat, menyodorkan map berisi dokumen tersebut. "Perlu direvisi ulang formatnya sebelum rapat besok pagi."

Laras membuka map itu, matanya dengan cepat menyapu isi dokumen yang ternyata sudah cukup rapi dan lengkap, tidak menunjukkan kesalahan mendesak yang memerlukan revisi darurat di malam hari.

"Pak, dokumen ini kelihatannya sudah cukup baik. Apa memang harus direvisi malam ini juga? Saya sebenarnya ada janji—"

"Ada masalah dengan instruksi saya?" potong Raka tajam, matanya menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan.

Laras menahan napas sejenak, mencoba menekan kekesalan yang mulai membuncah di dadanya. "Nggak ada masalah, Pak. Saya akan kerjakan sekarang."

Ia duduk di kursi yang disediakan di depan meja Raka, mulai bekerja dengan laptop yang dibawanya, meski pikirannya masih melayang pada makan malam yang batal ia hadiri bersama Bagas.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara ketikan keyboard yang mengisi ruangan. Raka sesekali melirik ke arah Laras yang bekerja dengan wajah serius, rambutnya yang tergerai rapi menandakan bahwa ia memang sudah bersiap untuk sebuah acara, bukan sekadar penampilan biasa untuk kerja lembur.

"Kamu ada acara?" tanya Raka tiba-tiba, memecah keheningan.

Laras mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Iya, Pak. Tadinya saya ada janji makan malam."

"Dengan siapa?"

Pertanyaan itu membuat Laras menatap Raka lama, mencoba membaca maksud di baliknya. "Kenapa Bapak tanya?"

"Nggak," Raka cepat-cepat mengalihkan pandangan, menyadari nada suaranya yang terlalu penasaran. "Cuma nanya."

Laras memilih untuk tidak menjawab lebih jauh, kembali fokus pada pekerjaannya meski hatinya dipenuhi kecurigaan yang semakin menguat—kecurigaan bahwa dokumen "mendesak" ini sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat untuk mengganggu rencananya malam ini.

Setelah hampir dua jam bekerja, revisi dokumen akhirnya selesai. Laras menyerahkan hasil kerjanya kepada Raka, yang menerimanya dengan ekspresi datar seperti biasa.

"Sudah selesai, Pak. Saya periksa ulang, semua data sudah sesuai."

Raka membolak-balik dokumen itu sejenak, meski jelas tidak benar-benar membacanya dengan seksama. "Bagus. Kamu boleh pulang."

Laras berdiri, mengemasi laptopnya dengan gerakan yang sedikit kasar, menunjukkan kekesalan yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Kalau begitu saya permisi, Pak."

Ia melangkah menuju pintu, namun sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak, memutar tubuhnya untuk menatap Raka yang masih duduk di belakang mejanya.

"Pak," katanya, suaranya bergetar menahan emosi yang sudah lama terpendam. "Boleh saya tanya sesuatu?"

Raka mengangkat wajahnya, menatap Laras dengan ekspresi yang sedikit waspada. "Apa?"

"Kenapa Bapak selalu kasih saya tugas mendadak, tepat di saat-saat penting dalam hidup saya?" Laras bertanya, matanya mulai berkaca-kaca namun ia berusaha keras menahan air mata. "Apa ini semacam hukuman, Pak? Hukuman karena saya pernah ninggalin Bapak dulu?"

Pertanyaan itu menghantam Raka telak, membuatnya terdiam untuk beberapa saat, tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menyangkal tuduhan yang sebenarnya cukup akurat itu.

"Saya nggak ngerti maksud kamu," jawabnya akhirnya, meski nadanya terdengar kurang meyakinkan.

"Bapak ngerti banget, Pak," Laras melanjutkan, suaranya mulai bergetar lebih jelas. "Saya tau Bapak marah sama saya. Saya tau Bapak pikir saya ninggalin Bapak tanpa alasan lima tahun lalu. Tapi apa pun alasan Bapak, saya rasa ini udah keterlaluan. Saya cuma pengen kerja dengan baik, tanpa harus terus-terusan jadi sasaran kemarahan Bapak yang bahkan saya sendiri nggak sepenuhnya ngerti alasannya."

Raka terdiam, dadanya sesak mendengar kejujuran pahit yang baru saja diucapkan Laras. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk akhirnya mengungkapkan semua kemarahan dan kebingungan yang selama ini ia pendam, namun kesombongan dan luka lama yang masih membekas membuatnya memilih untuk tetap diam, mempertahankan topeng dingin yang telah lama ia bangun.

"Kembali kerja besok pagi seperti biasa," katanya akhirnya, suaranya kembali datar meski jelas dipaksakan. "Kita nggak perlu bahas ini lebih jauh."

Laras menatap Raka dengan mata yang penuh kekecewaan, menyadari bahwa keberaniannya untuk akhirnya berbicara jujur tidak membuahkan hasil apa pun selain penolakan dingin yang sama seperti biasanya.

"Baik, Pak," jawabnya pelan, kemudian berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.

Begitu pintu tertutup, Raka menyandarkan punggungnya ke kursi, menutup mata sejenak, mencoba menenangkan gejolak emosi yang begitu kuat menyerang dari segala arah. Kata-kata Laras terus terngiang di kepalanya, sebuah kebenaran pahit yang tidak bisa lagi ia sangkal—bahwa tindakannya selama ini memang didasari kemarahan dan keinginan untuk membalas dendam, meski di saat yang sama, jauh di dalam hatinya, ia juga menyadari bahwa cara itu hanya akan semakin menjauhkan Laras darinya, mendorongnya semakin dekat ke pelukan orang lain yang jauh lebih pantas mendapatkan kepercayaan dan kehangatannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka membiarkan dirinya benar-benar merenungkan konsekuensi dari setiap tindakan yang telah ia ambil selama berminggu-minggu terakhir—sebuah perenungan yang datang terlambat, namun mungkin, jika ia mau membuka hati dan pikirannya lebih jauh, masih menyisakan sedikit kesempatan untuk memperbaiki keadaan sebelum semuanya benar-benar terlambat untuk diperbaiki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!