Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : RIAN OJOL DENGAR ALESHA HAMIL ANAK KEDUA
Pangkalan ojol di belakang gedung jam tiga sore bau bensin dan gorengan.
Rian duduk di atas motornya yang joknya sudah sobek, helm di pangkuan, menunggu orderan yang tak kunjung masuk. Jaket ojolnya pudar di bagian bahu. Sudah dua jam ia tidak dapat orderan jauh. Bensin tinggal dua bar.
Clarissa muncul dari pintu besi basement B1. Bukan dari lift utama — dari pintu darurat yang catnya mengelupas. Seragam cleaning service-nya masih basah di ujung bawah. Wajahnya kusut menahan bau kaporit.
Rian mengerutkan dahi. "Mbak Clarissa?"
Clarissa tidak langsung menjawab. Ia menatap sekeliling pangkalan, memastikan tidak ada pekerja logistik yang lihat. Ia berjalan pelan mendekati motor Rian.
"Rian, kamu masih bisa naik ke B1 pakai motor?" tanyanya pelan, suaranya hampir hilang ditelan suara knalpot.
Rian tertawa hambar. "Masih, Mbak. Kalau antar paket dokumen ke gudang arsip. Tapi semenjak Mbak dipindah ke bawah, aksesku juga diketatin. Kata Pak Hardi, sekarang semua ojol harus lapor dulu."
Clarissa berjongkok di dekat motornya, pura-pura membetulkan tali sepatunya yang memang sudah longgar.
"Tadi aku lihat kartu visitor logistik," kata Clarissa pelan. "Warnanya kuning."
Rian mengerutkan dahi. "Kenapa memangnya, Mbak?"
"Aksesnya B2 ke B1. Masih berlaku dua hari." Clarissa mengangkat bahu. "Aku cuma ingat tulisannya."
Rian langsung menegang. Ia menegakkan punggungnya.
"Mbak lihat di mana?"
Clarissa membuang muka seolah masih ragu untuk bicara.
"Di toilet pria tadi. Di blok C. Dua tukang bersih-bersih ngobrol, kartunya jatuh pas gelas kopinya tumpah."
"Ngobrol apa memangnya sampai kartu bisa jatuh?"
Clarissa menatap Rian sebentar, lalu kembali menunduk.
"Nyonya Alesha," katanya akhirnya, pelan. "Katanya hamil anak kedua."
Rian yang tadinya santai langsung duduk tegak. Helm di pangkuannya hampir jatuh.
"Anak kedua? Serius Mbak?"
Clarissa mengangguk kecil. "Padahal anak pertamanya aja baru belajar jalan. Makanya lantai 99 sekarang dijaga ketat banget."
Rian mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang hitam oli.
"Wah, pantesan. Kemarin aku antar kue ke lantai 99, ditahan dua kali di lobi. Kata resepsionisnya, Pak Vion lagi siaga satu."
"Itu hamil kedua, Rian," Clarissa mengoreksi, suaranya dibuat datar. "Anak kedua."
Rian terdiam. Ia biasanya tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Tapi kali ini berbeda.
Di kejauhan, suara Hardi menggema dari dalam basement, keras dan kasar.
"Clarissa! Blok D belum dipel!"
Clarissa buru-buru menunduk, kembali ke mode cleaning service yang takut.
"Rian, aku harus balik," bisiknya cepat. "Tapi kalau kamu nanti naik ke atas... jangan bilang kamu dengar dari aku. Bilang aja kamu dengar dari anak HR."
"Kenapa harus bilang dari anak HR, Mbak?"
"Karena kalau kamu bilang dari cleaniNg service basement, gak ada yang percaya. Kalau dari HR, mereka percaya."
Ia berbalik, menyeret embernya yang berat, kembali menghilang ke dalam pintu besi B1 yang bau kaporit.
Rian masih duduk di atas motornya. Helm masih di pangkuan.
Lima menit kemudian, HP Rian bergetar.
Order dokumen ke gudang arsip B1. Pengirim: Logistik Lantai Dasar.
Rian membaca alamatnya dua kali.
B2 ke B1.
Dua hari lagi masih berlaku.
Ia menyalakan motornya. Karena ia penasaran.
Motor itu naik pelan di tanjakan curam menuju B1. Clarissa tetap memegang gagang pintu dari balik celah basement. Ia tidak melihat lebih jauh. Ia hanya mendengar suara motor Rian yang semakin jauh di tanjakan.
Ia menutup pintu itu perlahan.
Kali ini, Clarissa tidak merasa sedang dihukum.
Di lobi B1, Rian menyerahkan map cokelat ke resepsionis jaga bernama Santi.
"Arsip, Mbak."
Santi mencatat. Rian, dengan nada basa-basi ingin akrab, nyeletuk, "Eh, Mbak Santi udah dengar? Bu Alesha katanya hamil anak kedua ya? Selamat ya."
Santi berhenti menulis.
"Anak kedua?" Santi menatap Rian beberapa detik. "Kamu dapat informasi itu dari mana?"
Rian kaget dengan tatapan itu. Ia langsung gugup.
"Eh, katanya... anak HR, Mbak. Tadi di bawah rame."
Santi tidak menjawab. Ia menatap map di tangannya, lalu menatap layar komputer di depannya yang menampilkan jadwal pengawalan lantai 99.