Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi berikutnya dimulai seperti biasa di kantor Alex—mesin produksi berdengung, karyawan berdatangan, dan suasana yang perlahan kembali normal setelah kekacauan kemarin. Namun sebelum jam sepuluh, ponsel Reina berdering berkali-kali, wajahnya berubah semakin pucat setiap kali dia membaca pesan yang masuk.
"Pak," Reina berlari kecil menuju ruangan Alex, laptopnya masih terbuka di tangan. "Ada masalah besar di media sosial."
Alex mengangkat alis, mempersilakan Reina masuk. "Masalah apa?"
Reina meletakkan laptopnya di meja, memutar layar menghadap Alex. Sebuah unggahan dengan ribuan komentar dan bagian ulang muncul di layar, memperlihatkan foto ruam merah di lengan seseorang, disertai keterangan panjang yang menuduh produk Renata menyebabkan reaksi alergi parah.
"Akun ini baru dibuat tiga hari lalu," Reina menjelaskan, jarinya menunjuk detail kecil di bawah nama akun. "Dan fotonya... tim riset saya sudah cek, pola ruamnya gak konsisten sama gejala alergi kosmetik pada umumnya. Ini kelihatan terlalu rapi buat kasus asli."
Alex membaca unggahan itu dengan saksama, matanya menyipit di beberapa bagian yang terasa janggal—bahasa yang digunakan terlalu formal untuk keluhan pribadi, tagar yang sudah disiapkan rapi seolah dirancang untuk menyebar cepat, dan waktu unggahan yang tepat jatuh pada jam sibuk media sosial pagi hari.
"Sudah ada media yang menghubungi soal ini?" Alex bertanya.
"Dua portal berita kecil sudah mulai menulis soal ini," Bima menjawab dari ambang pintu, ikut masuk sambil membawa ponselnya sendiri. "Judulnya provokatif, Pak. 'Dugaan Produk Renata Sebabkan Reaksi Kulit Parah, Netizen Geger'."
Alex bersandar ke kursinya, jarinya mengetuk meja pelan, mencoba menenangkan pikirannya sendiri yang mulai berputar cepat.
'Terlalu rapi buat kebetulan. Ini bukan pelanggan yang benar-benar kecewa.'
"Kita gak akan buru-buru bantah di media sosial," Alex akhirnya berkata. "Kalau kita langsung menyangkal, orang malah curiga kita menyembunyikan sesuatu. Reina, siapkan laporan hasil uji stabilitas dan keamanan produk kita, lengkap dengan nomor notifikasi BPOM. Kita akan tunjukkan itu secara terbuka, bukan cuma membantah lewat kata-kata."
"Kalau isu ini keburu terlanjur viral sebelum kita sempat klarifikasi?" Bima bertanya, nada suaranya masih cemas.
"Biar viral," Alex menjawab tenang. "Orang yang benar-benar mau tahu kebenarannya akan cari sampai ketemu. Yang penting kita siap dengan jawabannya begitu mereka bertanya."
Reina mengangguk cepat, mencatat instruksi itu di ponselnya.
"Bima, coba lacak akun itu lebih dalam. Kalau memang ini rekayasa, pasti ada jejak yang tertinggal." Ucap Alex.
"Baik, Pak." Bima segera keluar ruangan, ponselnya sudah menempel di telinga menghubungi seseorang di divisi teknis.
Reina masih berdiri di depan meja, ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya. "Pak, kalau ini memang rekayasa... siapa kira-kira yang tega bikin begini?"
Alex menatap Reina sebentar, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku belum yakin sepenuhnya. Tapi kalau memang benar ada yang sengaja, kita akan cari tahu. Untuk sekarang, fokus saja siapkan data yang aku minta tadi."
Reina mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran saat berjalan keluar ruangan.
Setelah Reina dan Bima pergi, Alex membuka kembali unggahan yang menuduh produknya itu, membaca setiap komentar yang menumpuk di bawahnya. Sebagian besar memang warganet biasa yang ikut-ikutan khawatir, tapi ada beberapa komentar dari akun yang sama yang muncul berulang kali di unggahan berbeda, seolah sengaja disebar untuk menjaga topik itu tetap ramai diperbincangkan sepanjang hari.
'Rapi. Terlalu rapi buat orang yang cuma modal dendam pribadi.'
Alex duduk sendirian sejenak, menatap layar laptop yang masih menampilkan unggahan itu. Dia mengingat kata-kata Jarwo semalam—soal dana yang mengalir dari perusahaan asing, bukan dari rekening Daniel sendiri.
'Kalau benar ada pihak ketiga yang mendalangi ini, mereka bergerak cepat sekali. Semalam baru gagal lewat kekerasan, pagi ini sudah pindah cara lain.'
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bang Jarwo.
"Bos, anak buah saya udah sadar. Dia bilang nama perusahaan yang transfer dana itu 'Cendana Mitra Solusi'. Coba dicek."
Alex mengetikkan nama itu di mesin pencari, menemukan halaman perusahaan yang informasinya sangat minim—hanya alamat kantor virtual di salah satu gedung perkantoran kecil, tanpa keterangan jelas soal bidang usahanya.
'Perusahaan bayangan.'
Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan, mencoba menyusun kembali potongan-potongan yang mulai membentuk gambaran yang lebih besar dari sekadar dendam pribadi seorang adik tiri.
'Siapa pun kau, kau baru saja bikin kesalahan dengan bergerak terlalu cepat.'