"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Gelap
***
Duar!
Petir dahsyat menyambar disertai kilatan cahaya yang membutakan, disusul suara listrik padam seketika. Ruangan di lantai atas bengkel itu berubah menjadi gelap gulita.
"Aaahh!" Alana menjerit histeris.
Tanpa berpikir panjang, dia melompat ke arah Mirza dan memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat.
Alana menyembunyikan wajahnya yang pucat di dada bidang Mirza, napasnya naik turun begitu memburu karena ketakutan setengah mati. Dalam keheningan malam yang gulita, Alana bisa mendengar jelas detak jantung Mirza yang semula tenang perlahan mulai berdetak semakin kencang.
Di tengah kegelapan, Alana merasakan lengan kekar Mirza perlahan merayap naik, melingkar lembut mengusap punggungnya untuk menenangkan.
DUAR!
Petir menggelegar sekali lagi, membuat Alana semakin menyusupkan wajahnya, makin masuk ke dalam pelukan dada Mirza.
"Kenapa ... kenapa lampunya harus mati?" bisik Alana gemetaran di dada Mirza.
"Apa kalau mati lampu memang biasanya begini?"
"Petirnya terlalu kencang, Alana. Sepertinya gardu di depan sana yang kena," bisik Mirza lembut di dekat telinga Alana.
Mirza mencoba bergerak bangkit dari kasur.
"Aku cari lilin atau senter dulu ya di bawah."
"Jangan!" Alana refleks menarik ujung baju Mirza sekuat tenaga, menahannya agar tidak pergi.
"Kenapa? Kamu takut?" tanya Mirza pelan.
"Enggak!" jawab Alana cepat, genggaman tangannya di baju Mirza makin kencang.
"Cuma ... gelap. Aku cuma enggak suka gelap."
Mirza tertawa tipis di balik kegelapan, menyindir lirih.
"Iya, percaya deh yang enggak takut tapi pelukannya makin kencang."
"Mirza!"
"Ya udah, daripada makin gelap, ayo ikut aku ke bawah cari lilin," ajak Mirza.
Mereka pun bangkit berdiri. Alana menempel ketat di belakang punggung Mirza, jemarinya menggenggam erat tangan kiri Mirza tanpa celah.
Mirza sempat melirik ke arah tangannya yang ditautkan Alana, meski sebenarnya tidak terlalu kelihatan dalam kegelapan. Jujur saja, Mirza sendiri bahkan sebenarnya tidak tahu di mana Joni menyimpan lilin atau korek api di bengkel ini.
Mereka berjalan meraba-raba tangga kayu dan melangkah pelan di lantai bawah yang penuh dengan suku cadang motor.
Gubrak!
"Aduh!"
Kaki Mirza tak sengaja menabrak ember besi yang tergeletak di lantai. Mirza kehilangan keseimbangan dan terjatuh telentang di lantai semen.
"Huaaa! Mirza ...." Alana kembali berteriak ketakutan.
Saat Mirza ambruk ke lantai, Alana ikut tertarik jatuh ke atas tubuh Mirza. Tanpa membuang waktu, Alana menyembunyikan wajahnya di leher Mirza dan memeluk pria itu jauh lebih erat lagi dari sebelumnya, seolah-olah dunia di luar sana sedang runtuh.
Suara gelak tawa Mirza pecah menembus kegelapan ruangan. Dia yang telentang di atas lantai semen merasakan bobot tubuh Alana yang menindihnya erat, tak berani bergerak sedikit pun.
"Alana ... Hahaha! Aku cuma menabrak ember bekas," ujar Mirza di sela-sela tawa renyahnya, mencoba meredakan ketegangan.
Namun, reaksii Alana sama sekali di luar perkiraan. Alana tidak tertawa, tidak pula membalas dengan omelan gengsi seperti biasanya.
"Mirza ...."
"Mirza! Jangan bercanda!" teriak Alana dengan suara melengking dan penuh kepanikan.
Kedua tangan kecilnya mulai memukuli dada tegap Mirza bertubi-tubi.
"Aku takut ...."
"Nggak lucu, Mirza! Nggak lucu! Aku beneran takut sekarang! Jangan becanda!"
Pukulan Alana di dada Mirza mulanya kencang, menumpahkan segala kejengkelan dan kepanikannya di tengah kegelapan yang mengepung mereka. Namun, lama-kelamaan ritme pukulan itu perlahan melambat. Tenaga Alana seolah terkuras habis oleh rasa takut yang luar biasa. Pukulan-pukulan itu berubah menjadi ketukan lemah, sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya.
Suara Alana yang tadinya berteriak mulai mengecil. Terputus-putus. Hingga akhirnya berganti menjadi suara isakan kecil yang tertahan.
Hiks... hiks...
Di detik itu, tawa Mirza seketika terhenti total. Senyum di bibirnya sirna dalam sekejap. Penyesalan yang amat sangat langsung menusuk dadanya. Dia baru menyadari bahwa candaannya kali ini sudah kelewatan batas. Alana, sosok CEO angkuh yang selalu tampil tangguh di depan semua orang, saat ini benar-benar sedang menangis ketakutan di pelukannya.
"Alana?" panggil Mirza lembut, kini suaranya dipenuhi rasa bersalah.
Tidak ada jawaban verbal yang jelas. Alana hanya menyusupkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Mirza, bergumam sangat pelan di antara isakannya.
"Zia ... Aku takut ..."
"Aku takut ..."
Gumamannya begitu kecil, begitu rapuh, hingga membuat dada Mirza terasa sesak. Tanpa ragu lagi, Mirza merangkul tubuh Alana yang gemetaran dengan kedua tangannya. Dia mengusap punggung istrinya perlahan, mencoba menyalurkan rasa hangat dan perlindungan.
"Alana ... Maaf. Maaf ya, aku enggak bermaksud bikin kamu makin takut," bisik Mirza tulus di dekat telinga Alana.
"Aku minta maaf, ya? Jangan menangis."
"Aku beneran takut, Mirza ... Jangan bercanda lagi," bisik Alana lirih, napasnya terengah-engah melawan rasa panik. tangannya masih mengepal erat meremas bagian depan kaus Mirza.
"Cepat cari lilinnya ...."
"Iya, iya. Aku cari sekarang. Kita cari sama-sama, ya."
Dengan sangat hati-hati, Mirza menuntun Alana untuk bangkit dari lantai. Dia tidak melepaskan genggamannya sedikit pun. Satu tangannya merangkul bahu Alana dengan erat, menjaga agar tubuh wanita itu tetap berada dalam dekapan hangatnya, sementara tangan yang lain meraba-raba area sekitar dalam kegelapan.
Mirza berjalan selangkah demi selangkah dengan sangat pelan, memastikan tidak ada lagi barang atau perkakas bengkel yang akan tersandung oleh kaki mereka. Alana berjalan menempel rapat di sisinya, menyandarkan separuh bobot tubuhnya pada Mirza.
Mirza tahu pasti kalau Alana masih menangis. Dia bisa merasakannya dengan amat jelas. Kaus di bagian dadanya terasa mulai basah dan hangat, terkena lelehan air mata serta napas hangat dari wajah Alana yang terus menempel di sana tanpa mau terpisah sedikit pun.
Setelah berhasil menemukan sebatang lilin dan korek api di rak bawah, cahaya kekuningan yang temaram akhirnya menerangi bengkel tua itu. Mirza menuntun Alana kembali menaiki tangga kayu menuju lantai atas. Bayangan tubuh mereka terpantul panjang dan bergoyang di dinding semen seiring langkah kaki yang perlahan.
Sampai di atas, Mirza meletakkan lilin di atas meja kayu kecil. Dia berjalan mendekati lemari kayu sederhana, mengambil selembar selimut tebal yang dilipat rapi, lalu menyerahkannya pada Alana yang masih tampak pucat.
"Nih, pakai selimutnya," ujar Mirza lembut. Dia menunjuk kasur busa tipis di lantai.
"Kamu tidur di kasur ya. Aku tidur di kursi kayu bawah aja."
Mirza baru saja hendak membalikkan badan untuk turun, namun sebuah kibatan tangan cepat menahannya. Alana meremas ujung baju Mirza kuat-kuat, menolak melepaskannya.
"Jangan pergi ...." bisik Alana, matanya menatap Mirza penuh permohonan yang jujur, tanpa sisa-sisa keangkuhan yang biasa dia tunjukkan.
"Aku ... aku enggak mau kamu tinggalin."
"Tapi kasurnya cuma satu, Alana. Nanti kamu enggak nyaman."
"Muat, kok!" potong Alana cepat, suaranya sedikit meninggi namun terselip kepanikan.
"Kasur ini muat buat berdua, asal kamu jangan pergi ke bawah. Aku enggak mau tidur sendirian di sini."
Melihat ketakutan yang masih berbekas jelas di mata istrinya, Mirza mendesah pelan. Ia tidak tega menolak.
"Ya udah, aku tidur di sini. Tapi jangan protes kalau sempit, ya?"
Alana mengangguk pelan. Mirza pun perlahan merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang menempel ke dinding. Tak berselang lama, Alana ikut berbaring di sampingnya.
Perempuan itu langsung memiringkan posisi tubuhnya menghadap Mirza, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di atas perut tegap pria itu, memeluknya erat-erat.
"Jangan pergi sampai pagi," bisik Alana lirih, wajahnya tenggelam di dekat bahu Mirza.
"Jangan protes ... biarin aja kayak begini sampai pagi."
"Diam saja ...."
"Kamu_"
"Udah diam."
Mirza membeku sejenak. Sentuhan hangat dan hembusan napas Alana yang teratur di lehernya membuat dada Mirza berdesir hebat. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan tubuhnya rileks dan menuruti permintaan wanita di sampingnya.
Keheningan melingkupi ruangan beratap seng itu. Di luar, suara deru hujan perlahan mulai mereda, menyisakan gemericik air yang jatuh menetesi dedaunan. Cahaya lilin menari-nari pelan di sudut ruangan.
Tak sampai sepuluh menit, keheningan itu dihiasi oleh suara dengkuran halus dari mulut Alana. Perempuan yang biasanya tampil tangguh dan penuh wibawa sebagai seorang CEO itu kini tertidur sangat lelap, kelelahan setelah menguras emosinya sepanjang malam.
Mirza memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Alana yang tertidur tenang di sampingnya. Sisa bulir air mata masih tampak sedikit mengering di sudut matanya.
"Takut petir, takut gelap ... tapi masih aja nekat nyusul ke bengkel malam-malam begini. Dasar bos enggak jelas."
Namun di balik gumamannya, ada rasa hangat yang kian menjalar di dalam dada Mirza. Dia mengulurkan tangannya yang bebas, menyentuh jemari Alana yang masih melingkar erat di atas perutnya. Dengan lembut, Mirza mengusap punggung tangan istrinya itu, merasakan kehangatan kulit Alana.
Mirza meraih ujung selimut dengan tangan satunya, menariknya perlahan hingga menutupi dada mereka berdua dari serbuan hawa dingin malam. Setelah itu, dia menyelipkan jemari tangannya ke celah jemari Alana, menyatukan jemari mereka di atas perutnya dalam genggaman yang hangat dan erat.
Mirza memejamkan matanya, menyandarkan kepala, dan menyambut kantuk yang mulai menyerang.