Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Empat Kolam Darah Leluhur
Riu Han melangkah masuk ke dalam gua di balik tirai air yang deras, Genbu dan Bai Wing berjalan di sampingnya. Di dinding bagian terdalam tempat itu, tersusun berjejer simbol-simbol kuno yang bercahaya redup — formasi purba yang tak pernah terlihat di mana pun. Riu Han mengeluarkan Batu Roh, meletakkannya ke dalam cekungan yang telah disediakan. Saat energi murni mengalir masuk, simbol-simbol itu menyala terang, seakan terbangun dari tidur panjang, dan sebuah portal perlahan terbuka di hadapan mereka.
Mereka melompat masuk bersama-sama. Tarikan ruang di sini jauh lebih kuat dan lebih lama dibandingkan portal mana pun yang pernah mereka lalui. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam, hingga akhirnya cahaya meredup dan ketiganya mendarat di tanah yang empuk dan subur.
Mata mereka terbelalak memandang sekeliling. Pohon-pohon menjulang tinggi, ratusan bahkan ribuan meter ke angkasa, batangnya begitu lebar sehingga sepohon saja bisa menampung sebuah desa. Di sini, mereka terasa sekecil semut di tengah dunia raksasa. Udara terasa sejuk, dipenuhi energi yang begitu murni dan kental hingga terasa menyentuh kulit. Ini bukan sekadar hutan — ini adalah tempat yang dihuni oleh kekuatan purba yang tak terjamah waktu.
Suara Long Siu terdengar langsung di dalam benak Riu Han, melalui komunikasi batin. Pergilah ke tengah hutan ini. Di sana ada sesuatu yang menanti.
Riu Han mengangguk, lalu melesat ke udara. Genbu dan Bai Wing mengikuti di belakangnya. Mereka terbang menyusuri celah antara dahan-dahan raksasa, menembus kabut tipis yang melayang di antara pepohonan, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon tertinggi. Di tengahnya berdiri sebuah dinding cahaya yang melingkar — formasi pelindung yang kokoh, kuno, dan penuh simbol yang tak dikenal.
Riu Han turun dan berdiri diam di hadapannya. Ia tidak bergerak, hanya menatap, membiarkan setiap tanda meresap ke dalam kesadarannya. Berjam-jam berlalu, mata yang awas itu mencatat pola, urutan, dan makna yang tersembunyi di balik setiap lekukan. Genbu dan Bai Wing menunggu dengan sabar, tak berani mengganggu, meski kebosanan perlahan menyapa. Hingga matahari condong ke barat, Riu Han tersenyum tipis. Ia memahaminya.
Ia mengeluarkan bahan-bahan dari Cincin Ruang, lalu dengan gerakan tenang dan teratur, ia menyusun sebuah pintu kecil yang menempel tepat pada dinding formasi — mirip dengan teknik yang pernah ditunjukkan oleh Master Mu Jun di Alam Bawah. Batu Roh diletakkan, energi dialirkan, dan pintu itu terbuka perlahan, selebar pintu rumah biasa, seakan menyambut kedatangan mereka.
"Silakan masuk," bisiknya.
Di dalam sana, terbentang pemandangan yang membuat napas mereka tertahan. Empat kolam besar berdiri berjajar, masing-masing berukuran lima ratus meter persegi dengan kedalaman seratus meter. Air di dalamnya tidak tenang — ia mendidih pelan, memancarkan cahaya lembut yang berbeda pada setiap kolam. Saat Riu Han melangkah masuk, darah di dalam tubuhnya seakan bergerak sendiri, mendesak ingin menyatu dengan apa yang ada di hadapannya.
Long Siu muncul berdiri di sampingnya, tersenyum bangga.
"Kau sungguh luar biasa, Riu Han," ucapnya pelan. "Selama ini, hanya keturunan langsung dari klan-klan besar yang diizinkan masuk ke sini. Para ahli formasi pun lama terjebak bingung melihat simbol-simbol asing ini. Namun kau membukanya dengan tenang."
Riu Han menoleh, sedikit terkejut. "Jadi kau sudah bicara sekarang? Baiklah, jelaskan apa sebenarnya ini." Ia menunjuk ke arah empat kolam itu.
"Ini adalah darah dan energi murni dari Empat Binatang Roh Suci," jawab Long Siu dengan suara yang penuh penghormatan. "Ini harta paling berharga di seluruh tempat ini. Ambilah, Riu Han — ini bukan sekadar air, ini adalah warisan leluhur."
Riu Han mengangguk, lalu berkomunikasi dengan Qin Siue melalui batin. Roh Cincin Ruang memberi panduan — cara menyimpan, cara memisahkan, dan urutan yang tepat agar energi itu tidak rusak. Riu Han mengulurkan tangan ke kolam pertama. Air yang bercahaya itu seakan memiliki kesadaran sendiri, mengalir naik ke arah telapak tangannya, lalu masuk ke dalam Cincin Ruang dengan lembut namun tak terhentikan. Satu per satu, ia beralih ke kolam berikutnya, hingga keempatnya dikosongkan dengan sempurna.
Setelah selesai, Long Siu melanjutkan penjelasannya.
"Kekuatan yang ada di dalamnya dapat menyucikan tubuh, menyempurnakan fondasi, dan memurnikan darah keturunan siapa pun yang berendam di sana. Jika kalian berkultivasi di dalamnya, tubuh kalian akan diperkuat dari dalam hingga ke luar, dan kemurnian darah kalian akan naik ke tingkatan yang jauh lebih tinggi."
Setelah itu, Long Siu perlahan menghilang, kembali ke tempat persembunyiannya di dalam Cincin Ruang.
Riu Han menatap Genbu dan Bai Wing. Kedua sahabatnya menatap ke arah tempat kolam itu tadi, matanya berbinar penuh harap. Mereka merasa panggilan yang sama — darah mereka sendiri mendesak ingin kembali ke sumbernya.
Riu Han tersenyum dan mengangguk. "Pilihlah kolam yang memanggil kalian," ucapnya.
Mereka masuk ke dalam kolam yang masing-masing merasa paling cocok. Riu Han sendiri melangkah ke salah satunya — tanpa alasan yang jelas, ia merasa ditarik ke arahnya. Saat tubuhnya terendam, sesuatu yang luar biasa terjadi. Darahnya berdesir, mengalir lebih cepat, hangat dan penuh sukacita, seakan bertemu kembali dengan keluarga yang telah lama hilang. Air itu membasuh setiap bagian tubuhnya — daging, tulang, organ, dan nadi — membersihkan segala kotoran, ketidaksempurnaan, dan kerusakan yang tak terlihat mata.
Di dalam kolam ini tersimpan kekuatan yang jauh lebih tua dan lebih murni daripada apa pun yang dimiliki klan mana pun di masa kini. Di empat wilayah penguasa, setiap keturunan bangsawan memang memiliki darah Binatang Roh Suci — hasil pernikahan leluhur mereka dengan makhluk-makhluk agung itu di masa lampau. Namun seiring berjalannya waktu, kemurnian darah itu menipis. Untuk menjaganya, klan-klan besar menyimpan darah leluhur mereka yang telah meninggal, dan menyuntikkannya kepada keturunan yang berbakat — namun itu hanyalah darah kedua, darah keturunan, yang meski kuat, tetap tidak dapat menandingi sumber aslinya.
Apa yang ada di kolam ini adalah darah murni dari Empat Binatang Roh Suci itu sendiri — diambil sebelum mereka menghilang, sebelum mereka meninggal. Ini adalah esensi pertama, sumber segala keturunan, murni dan utuh, tak tercemari oleh waktu.
Riu Han merasakan perubahan itu berlangsung perlahan namun tak terhentikan. Ia bukan sekadar menjadi lebih kuat — ia menjadi lebih utuh. Sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya sejak lahir kini terbangun, menyatu dengan warisan yang telah menanti ribuan tahun untuk kembali kepadanya.