Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Gengsi
Ballroom itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.
Lampu kristal raksasa menggantung tinggi. Menaburkan cahaya keemasan ke seluruh permukaan lantai marmer yang licin mirip cermin.
Aira melangkah dengan sangat hati-hati. Sepatu hak tinggi ini benar-benar menyiksa kakinya. Belum lagi gaun midnight blue ini, rasanya terlalu mewah untuk tubuhnya yang biasa memakai baju montir.
Tolong, jangan sampai terpeleset. Jangan robek kainnya. Jangan buat malu.
Pikirannya berputar cemas. Langkahnya pelan, kaku, penuh kehati-hatian.
Tiba-tiba sebuah tangan kokoh mendarat di pinggangnya. Sentuhan Evan terasa formal dan kaku, tak ada kehangatan, sekadar etiket di depan para fotografer dan pasang mata yang mulai memperhatikan mereka.
"Postur tegap. Bahu rileks. Jangan menunduk," bisik Evan rendah, matanya lurus ke depan tanpa menoleh. "Kau terlihat... pas di sini. Lebih dari yang saya kira."
Aira melirik sekilas dengan tatapan sinis. Pas dari mana? Pria sombong ini pasti menyindirnya. Di matanya, semua kemewahan ini terasa seperti panggung sandiwara yang melelahkan.
"Lo yakin nggak salah bawa orang, Van?" suaranya berbisik balik, tegas. "Rasanya gue bakal meledak kalau dikelilingi orang-orang yang bicaranya pakai senyum bermuka dua begini."
Evan tetap dingin, tak berkedip. "Tidak perlu meledak. Cukup berjalan di samping saya, senyum sewajarnya, dan jangan buat gerakan konyol. Itu saja."
"Mudah banget bilangnya," dengus Aira pelan, menegakkan dagunya justru lebih tinggi. "Tapi oke, gue jaga sikap. Demi nama Wirasena yang lo jaga."
Di dekat meja minuman yang berkilauan, Sean mematung. Gelas di tangannya mendingin, tak tersentuh. Matanya tak lepas dari mereka yang berjalan beriringan. Tangan kakaknya yang mendekap pinggang gadis itu, wajah Evan yang dingin tak tersentuh, sementara Aira... Aira bersinar. Lebih terang dari lampu mana pun di ruangan ini.
Dada Sean sesak. Sial, Aira benar-benar secantik itu malam ini. Tapi, kenapa harus Evan yang berada di posisi itu? Kenapa bukan dia yang menuntun langkah gadis itu?
Dia meneguk minumannya sekaligus, menelan pahitnya. Sadarlah, Sean. Dia kakak iparmu. Jangan bermimpi hal yang tak pantas.
Belum sempat Aira mengembuskan napas lega, sesosok wanita dengan gaun emas yang menyilaukan mata sudah memotong jalur mereka. Bianca tersenyum sangat manis, namun sorot matanya tajam menilai Aira dari ujung rambut hingga kaki.
Di belakangnya, Ferry berjalan beberapa langkah. Sangat sopan dan formal. Benar-benar sebuah sandiwara kekasih rahasia yang terencana rapi.
"Selamat malam, Tuan Evan, Nyonya Aira," sapa Bianca, suaranya merdu namun tajam. "Pemandangan yang sangat memukau. Sungguh tak terduga melihat Nyonya Aira bisa se... luwes ini. Hampir tak kenal."
Aira menahan diri agar tidak mendengus. Dia memasang senyum formal terbaiknya. "Terima kasih. Suatu kehormatan bisa hadir di pesta seindah ini. Keluarga Wirasena menyambut saya dengan sangat baik."
"Benarkah?" Bianca menyeringai tipis, mulai menyuntikkan racunnya. "Meski latar belakang kalian cukup... berbeda? Saya kira adaptasi semudah itu tidak mungkin terjadi."
"Perbedaan bukan kekurangan," jawab Aira tenang, tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Bianca. "Saya belajar banyak hal di dunia saya. Sekarang saya belajar hal baru di sini. Semua punya tempatnya masing-masing, bukan?"
Ferry yang berdiri di belakang langsung menimpali dengan nada datar yang sinis. "Pandangan yang menarik. Bijaksana sekali untuk seseorang yang tak terduga datangnya."
"Pengalaman mengajarkan hal yang tidak bisa dipelajari dari buku atau papan nama," balas Aira cepat, tak memberi celah. "Dan saya selalu siap belajar. Bukan hal buruk, kan?"
Sebelum Bianca atau Ferry sempat membalas, Evan langsung menyela. Suaranya terdengar berat, dingin, dan penuh wibawa. "Istri saya memiliki ketulusan yang tak ternilai harganya. Bagi keluarga Wirasena, itu sudah lebih dari cukup."
Senyuman di wajah cantik Bianca mendadak kaku berantakan. "Tentu saja. Saya hanya... mengagumi."
"Terima kasih atas kedatangannya," ucap Aira sopan, memilih memutus percakapan sebelum emosinya lepas. "Silakan nikmati acara."
Begitu Bianca dan Ferry menjauh dari jarak pandang, Aira langsung memutar bola matanya malas. Kedok formalnya runtuh seketika. "Cewek itu mulutnya manis banget, tapi matanya tajam kayak mau ngajak berantem."
Evan tetap menatap lurus ke depan, wajahnya sama sekali tidak tersenyum, namun ada sedikit kilat kepuasan di matanya melihat Aira tidak kalah gertak. "Tapi kau bisa menanganinya dengan baik. Tegas, sopan, dan mematikan."
"Yaelah, itu kan terpaksa," celetuk Aira pelan dengan gaya bicaranya yang santai. "Gue nggak mau diinjak-injak karena latar belakang gue beda. Di acara kayak gini, senyum adalah senjata paling tajam, kan?"
Di dekat pilar besar, Bianca mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih. "Sialan! Rencanaku gagal. Dia lebih lincah dari yang kukira."
Ferry mendekat, lalu berbisik sangat pelan di dekat telinga Bianca. "Tenang. Jangan pancing kemarahan Evan. Mereka cuma menang panggung untuk sekarang."
"Lihat saja nanti," desis Bianca dengan mata menggelap menatap punggung Aira. "Malam ini belum usai. Aku punya satu kartu terakhir."
*
Musik orkestra mereda lembut.
Digantikan gesekan kursi berlapis beludru dan suara bincang hangat para tamu yang mulai duduk tenang di meja masing-masing.
Aroma hidangan istimewa berpadu manis dengan wangi bunga langka, menyelimuti ruangan yang tampak dingin namun memancarkan kemegahan luar biasa.
Di meja bundar VIP utama, keluarga inti Wirasena duduk lengkap.
Sepasang sosok mendekat. Direktur bank terkemuka itu membungkuk sedikit, mengulurkan tangan penuh takzim.
"Yang terhormat Tuan Besar Baskara, Tuan Surya, dan Nyonya Helena... kehormatan bisa menyapa meja utama malam ini. Wirasena Group selalu jadi mercusuar perekonomian negeri ini."
Kakek Baskara menyambut uluran tangan itu, anggukan kepalanya tenang, penuh wibawa tanpa perlu berdiri.
"Terima kasih atas dukungannya untuk yayasan, Pak Aditya," sahut Surya, senyumnya ramah namun tetap menjaga jarak hormat kepada sang ayah.
Begitu tamu itu pergi, Aira mencondongkan tubuh sedikit ke arah Evan.
"Lo lihat tatapannya tadi? Senyumnya manis banget, tapi matanya nggak pernah beneran lihat kita."
Evan tidak menoleh, rahangnya mengeras pelan. "Itu cara mereka bergaul. Manis di muka, menghitung untung di belakang."
"Capek nggak sih hidup kayak gitu?" Aira menggeleng pelan. "Nggak pernah tahu siapa tulus, siapa cuma mau manfaatin."
Evan terdiam sejenak, suaranya merendah tapi tegas. "Kau akan terbiasa."
Tepat saat itu, lampu utama meredup. Sorotan cahaya beralih tajam ke podium.
Pembawa acara tersenyum lebar di balik mikrofon berlapis emas.
"Hadirin sekalian, selamat malam! Tibalah saat dinanti: Sesi Lelang Amal Utama! Seluruh hasil disumbangkan penuh untuk pembangunan fasilitas Yayasan Lentera Wirasena!"
Tepuk tangan bergema riuh.
Di panggung, kotak kaca terbuka. Sebuah kalung antik safir berlian yang sangat langka, berkilau memikat di bawah cahaya.
"Barang lelang pertama: Kalung Mahakarya 'The Midnight Azure'. Nilai awal: Dua Miliar Rupiah!"
Suasana hening sejenak, lalu papan tawaran mulai terangkat. Harga merangkak naik cepat.
Tiba-tiba Bianca mengangkat papannya, dagu terangkat tinggi. "Tiga Miliar!"
Suara dari meja samping menyahut. "Tiga setengah miliar!"
Bianca menoleh tajam, lalu tersenyum menantang. "Empat Miliar!"
Semua mata menoleh padanya. Bianca tersenyum puas, sengaja melirik sinis ke arah Aira.
Di sampingnya, Ferry berbisik pelan. "Kamu yakin? Angka itu lumayan besar."
Bianca mendengus pelan. "Tenang saja. Tujuanku bukan kalung itu. Lihat saja, dia pasti nggak berani angkat suara."
Aira menangkap tatapan itu, lalu menunduk pelan. "Dia sengaja nantang gue," bisiknya pada Evan. "Seolah bilang gue nggak pantes duduk di sini."
Evan diam, jarinya mengepal di atas paha. "Jangan pedulikan dia."
"Gimana nggak peduli?" Aira menatapnya, suaranya bergetar tertahan. "Semua orang lihat. Mereka tahu gue bukan dari lingkungan ini."
Helena mendengus pelan dari sisi lain, menatap Aira sekilas dengan tatapan remeh.
"Makanya buka matamu lebar-lebar. Itu namanya kelas. Jangan samakan perhiasan seharga kota kecil dengan barang bekas di bengkelmu."
Aira menoleh, sopan namun tegas. "Mami Helena, ini amal. Bukan lomba pamer harta."
Helena tertawa sinis. "Sama saja. Di sini uang adalah suara. Kalau tidak punya, diam saja."
Surya langsung menyentuh punggung tangan istrinya, tegas namun rendah. "Mi, cukup. Jangan bicara kasar di depan umum."
"Apa aku salah?" Helena menarik tangannya, mendengus kesal. "Dia sendiri yang bikin malu duduk di meja utama!"
"Aira istri Evan," potong Surya tegas. "Itu artinya dia bagian dari keluarga ini."
Evan menatap Bianca, lalu ke arah Aira. Bianca tak sekadar beli kalung. Dia ingin semua orang tahu Aira tak berharga. Dia ingin meruntuhkan harga dirinya di depan siapa saja.
Dan tak ada satu pun yang boleh merendahkan nama Wirasena.
Dengan tenang Evan mengangkat satu tangan. Suara baritonnya memotong riuh ruangan.
"Lima Miliar."
Hening seketika.
Bianca mematung, menatap Evan tak percaya. Dia tidak menyangka pria itu akan ikut tawar demi gadis itu.
Ferry menyentuh tangan Bianca. "Bianca, jangan dipaksakan."
Bianca menepisnya pelan, gengsinya terbakar. Dia tidak boleh kalah, apalagi di depan gadis montir itu.
"Enam Miliar!" serunya, napas mulai memburu.
Evan tidak menoleh sedikit pun.
"Sepuluh Miliar."
Datar. Dingin. Seolah angka itu tidak lebih dari uang receh.
Seluruh ruangan menahan. Bianca mengepalkan tangan kuat-kuat. Wajahnya memerah. Dia tahu batas kemampuannya. Sepuluh miliar bukan angka yang bisa dia kejar tanpa menjual aset sendiri.
Ferry berbisik mendesak. "Sudah, Bianca. Kamu kalah."
"Aku tidak kalah!" desisnya pelan, gigi bergemertak. "Dia cuma buang uang percuma!"
"Memang begitu," Ferry mengangguk pelan. "Tapi dia menang di sini."
Pembawa acara berseru antusias. "Sepuluh Miliar! Satu kali... dua kali... tiga kali! Jatuh kepada Tuan Evan Wirasena!"
Tepuk tangan menggema, memenuhi seluruh ruangan.
Kakek Baskara tersenyum bangga, mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai. "Keputusan yang tegas, Evan. Menjaga harga diri keluarga adalah tugas utama seorang pemimpin."
Sean yang duduk di samping Papi Surya hanya bisa menatap nanar cangkir minumannya, mencengkeram gelas erat, bisikannya tidak terdengar siapa pun.
"Sial. Sepuluh miliar bukan apa-apa buat gue. Tapi posisi berdiri di samping lo, lindungin lo terang-terangan... itu yang nggak akan pernah gue punya."
Dada Sean bergemuruh sesak, dihantam kenyataan pahit bahwa dia sama sekali tidak punya tempat di sana.
Pramutamu mendekat, menyerahkan kotak beludru itu ke Evan. Dia menerimanya tanpa ekspresi, lalu menggesernya pelan ke depan Aira.
"Simpan ini."
Aira menatapnya, tidak langsung menyentuh kotak itu. "Kenapa? Itu uang luar biasa banyaknya, Evan."
"Saya tahu." Evan menatapnya, tajam namun lembut di sudut mata. "Bukan untuk dipakai pamer. Tapi, agar semua orang tahu di sini, tidak ada yang berani meremehkan posisimu sebagai istri saya."
Aira menelan ludah, perasaannya berantakan. "Lo nggak perlu lakuin ini cuma demi gue."
"Bukan cuma demi kamu," jawabnya pelan. "Demi kita."
Bianca membuang muka, wajahnya masam. Napasnya memburu menahan malu karena serangan justru berbalik mempermalukan dirinya sendiri.
Ferry meremas tangan Bianca di bawah meja. "Tenang. Malam ini belum selesai."
Bianca menoleh, matanya menyala. "Apa maksudmu?"
Pria itu tersenyum tipis, menatap panggung. "Kalung itu baru permulaan. Tunggu saja, yang sesungguhnya baru akan datang."