"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 30] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Kini seminggu akhirnya telah usai
Atmosfer riuh Fakultas Ekonomi perlahan memudar berganti dengan keheningan di dalam mobil sedan hitam milik Rachel. Usai jam kuliah berakhir, Rachel tidak memboyong Miya pulang ke rumah, melainkan membawanya ke sebuah kafe kecil berarsitektur kayu hangat di pinggiran kota—jauh dari jangkauan gosip mahasiswi dan tatapan sinis anak-anak kampus.
Di meja pojok yang menghadap langsung ke jendela kaca luar, dua cangkir cokelat panas mengepulkan uap tipis.
Miya menatap ponselnya dengan mata melebar. Akun stalker dan unggahan ujaran kebencian dari kating FE yang sebelumnya menyerang habis-habisan mentalnya, kini mendadak lenyap tanpa sisa. Bahkan unggahan klarifikasi maaf tertulis dari kating pencari panggung itu mendadak naik di media sosial, membersihkan nama Miya sepenuhnya.
"Kakak... kok bisa?" cicit Miya tak percaya, menatap Rachel yang duduk santai di hadapannya.
Rachel hanya tersenyum tipis, mengusap cangkir cokelatnya. "Rosa dan beberapa teman Kakak di kampus punya cara sendiri buat menertibkan orang yang sukanya main belakang. Kamu ke kampus buat menuntut ilmu, Miya, bukan buat jadi sasaran rasa iri orang lain. Selama ada Kakak, nggak bakal ada yang bisa nyentuh atau bikin kamu nangis lagi."bohong nya Rachel pada Miya padahal sebenarnya Rachel sendiri masihlah berdoa saat ini jika para pembully istri nya tidaklah di bunuh terang terangan oleh Kaka nya sendiri.
Miya terpaku. Di balik kelembutan dan tutur katanya yang selalu sopan, Rachel memiliki wibawa serta pengaruh yang amat tenang namun tegas.
Rachel perlahan meletakkan cangkirnya. Jemari tangannya bergerak memutar cincin polos yang melingkar di jari tengahnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Miya dengan sorot paling tulus yang pernah Miya lihat.
"Soal pernikahan kita..." suara Rachel mengalun berat namun lembut. "Aku tahu kamu terpaksa. Aku tahu paman Yohan menjadikan kamu pion dalam transaksi politik bisnis. Kamu juga baru sembilan belas tahun, Miya. Punya mimpi besar, masa depan panjang, dan kamu berhak menikmati masa mudamu."
Miya menahan napas, dadanya mendadak bergemuruh.
"kaka nggak akan pernah melarang kamu berkuliah, mengejar cita-cita, atau memaksa kamu berperan sebagai istri yang sempurna," lanjut Rachel, suaranya sarat akan penghormatan seorang pria muda sejati.
"Dan aku berjanji... kaka nggak akan pernah menyentuh kamu sampai kamu sendiri yang benar-benar siap dan membuka hati buat ku."
Mata Miya berkaca-kaca. Dinding tebal rasa takut, tertekan, dan keraguan yang ia bangun rapat-rapat sejak hari perjodohan itu mendadak runtuh tak berbekas. Di hadapannya, Rachel bukan sekadar pria muda pilihan, melainkan pelindung paling hangat yang pernah dikirimkan dalam hidupnya.
singkat cerita dua minggu pun berlalu dengan cepat di area kampus.
Dinamika hubungan mereka di universitas berjalan dengan begitu manis. Di depan umum, orang-orang hanya mengenal mereka sebagai senior dan junior yang sedang menjalin masa pendekatan yang sangat sopan. Rachel konsisten menjaga jarak yang menghormati Miya saat di lorong perkuliahan, namun selalu siap pasang badan dan membawakan berkas-berkas tebal tugas Manajemen milik Miya setiap kali mereka bertemu.
Hingga sore itu, rintik hujan deras mendadak mengguyur area parkiran belakang kampus. Sore yang dingin menyelimuti koridor perkuliahan yang mulai sepi.
Miya berdiri di bawah naungan atap parkiran, menatap rintik air yang jatuh. Di sampingnya, Rachel berdiri tegap sambil memegang payung hitam besar, siap membimbing langkah istrinya menuju mobil.
Saat Miya hendak melangkah, tiba-tiba kakinya terhenti. Miya menoleh menatap Rachel yang sedang merapikan posisi payung agar air hujan tidak membasahi bahu Miya sedikit pun—membiarkan bahunya sendiri yang justru basah kuyup terkena tampias air.
"Kak Rachel..." panggil Miya pelan.
"Ya?" Rachel menoleh dengan senyum hangat yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Miya berjinjit pelan. Bunga-bunga keberanian yang mendadak mekar di dadanya membuat jemari lentik Miya meremas lembut kerah kemeja Rachel. Miya mencondongkan tubuhnya, lalu mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Rachel.
Rachel terpaku seketika. Manik matanya melebar saat menyadari sentuhan manis yang begitu tiba-tiba itu. First kiss dari Miya—sebuah penyerahan hati yang tak pernah ia sangka akan hadir secepat ini.
Namun rasa terkejut itu hanya bertahan sepersekian detik. Gejolak gairah dan kebahagiaan yang membakar dada Rachel membuat reflex pria sejati dalam dirinya mengambil alih.
Puk!
Genggaman tangan Rachel pada gagang payung hitam itu terlepas begitu saja. Payung besar itu jatuh tergeletak di semen basah, perlahan terseret angin sore. Tanpa penghalang, guyuran air hujan yang deras dan dingin mendadak meluruh menimpa tubuh mereka berdua dalam sekejap.
"uggh Miya~"
Di tengah derasnya rintik hujan yang membasahi pakaian mereka hingga melekat di kulit, Rachel melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Miya, menarik tubuh mungil istrinya itu hingga tak menyisakan jarak sedikit pun. Rachel membalas ciuman itu dengan begitu mendalam, intens, dan sarat akan kerinduan yang selama ini ia tahan rapat-rapat.
Miya mendesah pelan di sela pagutan mereka, melingkarkan kedua tangannya di leher Rachel, membiarkan dirinya sepenuhnya lebur dalam dekapan hangat suaminya. Dinginnya air hujan yang mengguyur tak lagi terasa. Yang ada hanya desah napas yang beradu, degup jantung yang berpacu kencang, dan kehangatan gairah manis yang menyatu di bawah langit sore yang kelabu.
Ciuman itu berlangsung lama, panas, dan saling membalas—sebuah deklarasi cinta tanpa suara bahwa Miya kini sepenuhnya milik Rachel, dan Rachel adalah pelindung abadi bagi Miya.
Saat ciuman panas itu perlahan terlepas, dahi mereka saling bersandar. Napas mereka memburu, terengah-engah di tengah rinai hujan yang kian lebat. Rachel tersenyum lebar—senyum paling bahagia yang pernah terukir di wajahnya—lalu menangkup kedua pipi Miya yang basah dan mencium keningnya dengan amat penuh kasih.
"Terima kasih... Miya," bisik Rachel penuh gairah di antara suara hempasan hujan.
Miya terkekeh manis, menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Rachel yang basah kuyup.
Namun... jauh di balik remang-remang deretan pohon di tepi parkiran, di dalam sebuah mobil hitam bertaca gelap yang terparkir membisu, ada sepasang mata berniat jahat yang mengawasi seluruh adegan mesra itu dari balik kacamata hitamnya.
Sebuah lensa kamera berspesifikasi tinggi menembus rapatnya rintik hujan, menangkap setiap detail wajah Miya...
Dengan jelas.
Klik.
Pria misterius di dalam mobil itu menyunggingkan senyum sinis yang mengerikan. Ia menurunkan kameranya, lalu menyalakan ponsel bersandi khusus untuk mengirimkan foto-foto mesra tersebut ke sebuah nomor asing di luar negeri.
"Tenang tidak akan lama lagi."
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...