Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Aliansi Bayangan Langit
Pagi itu, kabut belum sepenuhnya terangkat dari Ibukota Kerajaan Chen, namun kehebohan telah melanda gerbang utama.
Delegasi Kekaisaran Yan yang datang dengan gajah-gajah besi berzirah angkuh sehari sebelumnya, kini terlihat berkemas dengan kepanikan yang tidak masuk akal. Pangeran Yan Bo yang hidungnya diperban tebal, dimasukkan ke dalam kereta kayu secara tergesa-gesa. Jenderal tua bermata satu itu bahkan tidak repot-repot meminta audiensi perpisahan dengan Raja Chen. Wajah veteran perang itu sepucat kertas, matanya terus melirik ke arah bayang-bayang istana seolah takut kegelapan itu akan menelannya hidup-hidup.
Tanpa pamit, tanpa arogansi, armada raksasa itu bergegas meninggalkan Ibukota bagaikan sekawanan anjing yang ekornya terbakar.
Raja Chen dan para menterinya berdiri di alun-alun, bertukar pandang dalam kebingungan. "Apakah hidung yang patah membuat keberanian Kekaisaran Yan ikut runtuh?" gumam Raja Chen, setengah tak percaya namun bernapas lega. Ia tidak tahu bahwa semalam, sebuah kepala algojo dan sebaris ancaman dari sang penguasa keheningan telah menghancurkan mental musuh dari dalam.
Waktu terus bergulir, dan kedamaian kembali memeluk Kerajaan Chen.
Tiga tahun berlalu.
Lin Chen kini berusia sepuluh tahun. Tubuhnya tumbuh lebih tinggi dari anak seusianya, proporsional dan memancarkan ketampanan yang membuat para pelayan istana sering kali tersipu malu. Tanda api di keningnya semakin memudar, menyatu dengan warna kulitnya, mengunci rapat-rapat aura Esensi Phoenix di dalamnya. Di mata keluarganya, ia adalah Pangeran Ketiga yang pendiam, gemar membaca, dan sedikit manja pada ibunya.
Namun, di dunia bawah Ibukota, sebuah faksi raksasa yang bergerak di balik tirai malam telah lahir. Namanya adalah Aliansi Bayangan Langit.
Jauh di bawah tanah, di sebuah markas rahasia yang dibangun dari bekas saluran air kuno ibukota, obor-obor biru menerangi sebuah meja bundar besar. Suasana di ruangan itu sangat bising, diwarnai oleh omelan yang memekakkan telinga.
"Shen Lu! Berapa kali harus kukatakan?! Jangan buang laporan pengeluaran Paviliun Pedang-mu ke meja kerjaku! Paviliun Mawar-ku ini tempat mengumpulkan intelijen, bukan tempat penampungan sampah kertas dari orang malas sepertimu!"
Seorang gadis berusia dua belas tahun dengan rambut dikepang dua dan jubah merah gelap menggebrak meja. Namanya Zi Lanying. Meski usianya masih muda, aura galak dan cerewetnya sukses membuat para pembunuh bayaran dewasa di luar ruangan berkeringat dingin.
Di seberang meja, seorang anak laki-laki berpakaian putih bersih berusia sebelas tahun sedang duduk bersila, matanya terpejam. Sebilah pedang kayu bertengger di pangkuannya. Namanya Shen Lu.
Mendengar omelan itu, Shen Lu hanya membuka sebelah matanya dengan malas. "Lanying, pedangku butuh diasah. Kertas-kertas itu mengganggu konsentrasiku. Wakil ku sedang sakit, jadi kau saja yang kerjakan. Lagipula, kau kan suka mengatur."
"KAU—! Aku akan meracuni tehmu besok pagi!" Zi Lanying memekik marah, wajahnya memerah. Ia beralih menatap pemuda bertubuh kekar di sampingnya yang sedang mengunyah paha ayam. "Kak Yuan! Tegur dia! Kau kan yang paling tua di sini!"
Mo Yuan dulu bernama Mo Ying sang pengemis jalanan, kini berusia tiga belas tahun dan menjabat sebagai pemimpin Paviliun Pembunuh Bayangan hanya mengangkat bahu kasarnya. "Aku baru saja pulang memenggal tiga leher bangsawan korup di kota sebelah. Otakku isinya darah, bukan laporan. Tanya saja pada Xie Yan."
Ketiga pasang mata itu serentak menoleh ke arah seorang pemuda berusia dua belas tahun yang duduk di ujung meja. Ia mengenakan jubah sarjana yang rapi, memegang sebuah kipas bulu bangau, dan sedang memijat pelipisnya dengan ekspresi luar biasa frustrasi.
Namanya Xie Yan. Otak utama dari Aliansi Bayangan Langit.
"Demi langit dan bumi..." Xie Yan menghela napas panjang, menatap 'keluarga' anehnya ini. "Kita ini adalah faksi paling ditakuti di dunia bawah. Bisakah kalian bersikap sedikit lebih profesional? Lanying, berhentilah meneriaki semua laki-laki. Itu sebabnya kau melarang laki-laki masuk ke Paviliun Mawar-mu, kan? Karena mereka semua takut padamu. Dan Shen Lu, jika kau bolos latihan Paviliun Pedang lagi, aku akan memotong anggaran pedang barumu. Kak Yuan... tolong cuci tanganmu sebelum memegang dokumen rahasia."
Mo Yuan menggerutu tidak jelas, sementara Zi Lanying membuang muka sambil bersedekap, dan Shen Lu kembali memejamkan mata seolah dunia tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Meski mereka sering bertengkar, tidak ada niat membunuh di antara keempat remaja ini. Mereka semua adalah anak-anak jalanan, buangan dunia fana yang pernah merasakan kelaparan dan dinginnya kematian. Di Aliansi Bayangan Langit, mereka menemukan hal yang tidak pernah mereka miliki: Rumah. Keluarga.
"Kalian terlalu berisik."
Sebuah suara yang tenang, kekanak-kanakan, namun memancarkan Hawa Dingin kuat memotong perdebatan itu.
Seketika, ruangan itu menjadi hening. Zi Lanying langsung merapikan rambutnya, Shen Lu membuka kedua matanya dan duduk tegak, Xie Yan menutup kipasnya, dan Mo Yuan meletakkan paha ayamnya. Keempat pemimpin paviliun itu langsung berdiri, menundukkan kepala dengan hormat dan kesetiaan kuat.
Dari balik bayang-bayang di ambang pintu, Pangeran Ketiga Lin Chen melangkah masuk. Ia mengenakan jubah hitam kebesarannya, wajahnya tenang layaknya danau es.
"Kakak Pertama," ucap mereka berempat serempak, sebuah panggilan hormat yang mereka sepakati di dalam hati, meski usia fisik Lin Chen lebih muda dari mereka semua.
Lin Chen berjalan ke kursi utama dan duduk. Ia menatap keempat bawahannya. Rasa hangat yang aneh melintas di hatinya. Ia ingat bagaimana Zi Lanying menangis saat pertama kali diberi makan layak, atau bagaimana Shen Lu berlutut di tengah hujan memohon diajari teknik pedang. Ia sengaja memberikan tanggung jawab operasional pada Xie Yan karena Lin Chen mengakui bahwa di bidang manajemen dan taktik, otak Xie Yan jauh lebih licin dan brilian daripada dirinya yang terbiasa menyelesaikan masalah murni dengan kekerasan.
"Duduklah," perintah Lin Chen.
Xie Yan maju satu langkah. "Ketua, dari empat paviliun yang kita bentuk, operasi berjalan lancar. Paviliun Pembunuh Bayangan Kak Yuan, Paviliun Mawar Lanying, Paviliun Pedang Shen Lu, dan Paviliun Strategi internal yang kupimpin telah mencengkeram 70% dunia bawah Kerajaan Chen. Namun..."
Xie Yan menelan ludah. "Bocoran Qi di udara semakin menipis akhir-akhir ini. Teknik kultivasi dasar yang Ketua ajarkan kepada kami mulai sulit. Jika ini diteruskan, kami hanya akan menjadi ahli bela diri fana yang kuat, bukan kultivator sejati."
Lin Chen mengangguk pelan. Inilah tujuan utamanya memanggil mereka malam ini.
Tiga tahun berlalu, dan Lin Chen masih terjebak di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Puncak. Tanpa adanya sumber Qi yang berlimpah atau batu spiritual tingkat tinggi, fisiknya yang menentang surga itu kelaparan. Ia tidak bisa melangkah ke Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment).
"Aku tahu," jawab Lin Chen. Ia menatap peta benua fana yang terbentang di atas meja. Jarinya menunjuk ke satu titik di ujung wilayah utara. "Udara di Ibukota tidak lagi cukup untuk kita. Aliansi ini butuh markas utama yang memiliki urat nadi spiritual. Kita butuh Formasi Pengumpul Qi. Dan material untuk itu tidak ada di pasar fana."
Mata Xie Yan berbinar. "Jurang Kematian Utara?"
"Benar," Lin Chen menatap mereka satu per satu. "Tiga tahun lalu, Kekaisaran Yan menemukan pecahan Giok Jiwa Tingkat Bumi di sana. Retakan dimensi dari Sektor Langit pasti telah memuntahkan sisa-sisa reruntuhan atau artefak spiritual ke dalam jurang itu. Aku akan melakukan ekspedisi ke sana."
"Sendirian?!" Zi Lanying langsung memotong, sifat keibuannya yang meledak-ledak tiba-tiba muncul. "Tidak bisa! Ketua masih kecil—maksudku, dunia luar itu berbahaya! Biarkan Paviliun Mawar-ku yang pergi mengumpulkan informasi lebih dulu!"
"Jangan konyol," dengus Shen Lu. "Biar pedangku yang membuka jalan untuk Kakak Pertama."
Lin Chen mengangkat tangannya, menghentikan protes mereka. "Aku akan pergi sendiri untuk tahap awal. Medan di sana telah tersentuh hukum Sektor Langit; insting kalian tidak akan cukup untuk bertahan dari jebakan formasi kuno. Setelah aku menemukan urat spiritual yang cocok dan membersihkan bahayanya, aku akan memanggil kalian semua untuk memindahkan markas kita."
Keempat bawahan itu terdiam. Mereka tahu, Perintah Lin Chen adalah mutlak.
"Ada satu masalah yang lebih mendesak, Ketua," Xie Yan menyela dengan senyum tipis, kipasnya kembali dibuka. "Bagaimana kau akan keluar dari istana? Permaisuri Lin Yue sangat menyayangimu. Beliau akan membalikkan seluruh Kerajaan Chen jika kau hilang selama berminggu-minggu."
Lin Chen memijat keningnya. Menghadapi ibunya memang jauh lebih sulit daripada menghadapi pembunuh bayaran.
"Aku butuh alasan yang tidak bisa ditolaknya," gumam Lin Chen.
"Sudah kusiapkan," Xie Yan tersenyum licik, sebuah senyuman rubah yang sangat dibanggakan oleh Lin Chen. Xie Yan mengeluarkan sebuah gulungan surat berstempel emas. "Surat undangan palsu tingkat tinggi. Dari 'Akademi Pertapaan Bintang' di Puncak Selatan. Akademi fana yang sangat bergengsi. Kita bisa menggunakan aktor bayangan kita untuk meyakinkan Raja dan Permaisuri bahwa Ketua harus melakukan retret studi sejarah selama satu bulan penuh di sana untuk penyembuhan batin. Sangat elegan, sangat terpelajar. Sesuai dengan citra Pangeran Ketiga."
Lin Chen menatap surat itu, lalu mengangguk puas. "Kerja bagus, Xie Yan. Besok pagi, aku akan memberikan surat ini pada Ibunda. Setelah aku mendapat izin, siapkan kuda tercepat di gerbang utara."
.......
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Lin Chen berjalan menuju Paviliun Anggrek dengan wajah lugu dan surat di tangannya, siap menjalankan naskah sandiwara yang dirancang Xie Yan.
Ia sudah merangkai senyum paling manis untuk melunakkan hati ibunya.
Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam kamar Permaisuri Lin Yue, langkah Lin Chen mendadak terhenti. Senyum di wajahnya luntur seketika.
Ibunya tidak sedang merajut atau minum teh seperti biasanya. Lin Yue sedang berdiri membelakangi pintu, bahunya bergetar hebat. Di atas meja rias, tergeletak sepucuk surat sungguhan yang berlumuran darah segar. Kakaknya, Putri Lin Xue, sedang menangis tersedu-sedu di sudut ruangan.
Mendengar suara langkah kaki, Lin Yue berbalik. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya merah karena air mata.
Melihat Lin Chen, Lin Yue langsung berlari dan memeluk tubuh mungil putranya itu erat-erat seolah takut kematian akan merenggutnya detik itu juga.
"Chen'er..." suara Lin Yue pecah oleh isak tangis yang tertahan, "Ibu harus segera mengirimmu dan Xue'er pergi dari ibukota. Secepat mungkin."
Lin Chen mematung. Surat palsu di tangannya mendadak terasa tidak berguna. Ia menatap surat berdarah di atas meja.
"Ada apa, Ibu?" tanya Lin Chen, intonasinya tanpa sadar berubah menjadi lebih dalam.
"Kakakmu, Feng'er..." Lin Yue terisak, suaranya dipenuhi teror absolut. "Pasukan ekspedisinya di perbatasan Utara hancur. Benteng Utara runtuh semalam... T-Tidak, bukan oleh Kekaisaran Yan. Tapi oleh monster... monster bayangan yang keluar dari Jurang Kematian Utara!"
Mata keemasan Lin Chen menyipit tajam. Hawa Dingin yang mengerikan nyaris meledak dari dalam jiwanya, membekukan suhu ruangan tanpa disadari oleh ibu dan kakaknya.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣