NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Beberapa bulan yang lalu...

Di Henshin Restaurant, Bianca menoleh ke sana kemari, saat ia tak mendapati ada orang lain yang berada di berada di sana selain dirinya dan beberapa orang yang ia temui.

“Tok tok tok,” wanita paruh baya di hadapan Bianca kini mengetok meja dengan tangannya. Hal itu sontak membuat Bianca menjadi kembali fokus.

“Iya bu, ada apa?" tanya Bianca sambil tersenyum.

“Panggil saya, nyonya! Jangan pernah panggil saya dengan sebutan ibu,” mendengar hal itu keluar dari mulut wanita itu, Bianca langsung merasa segan dan seketika ia pun menjadi canggung.

“Oke, kamu pasti tidak tahu saya, saya akan jelaskan kepada kamu. Mengapa saya membawa kamu ke mari!”

Wanita paruh baya itu berpakaian modis dengan dengan baju maroon serta make up igari ala anak muda jaman sekarang. “Dia ini sebenarnya siapa? dan apa tujuan dia untuk menculik ku kemari?" Isi kepala Bianca benar-benar sangat ramai saat ini, jelas. Ia tak tahu siapa orang yang berada di hadapannya, namun tampaknya, dia bukan orang sembarangan.

Wanita paruh baya itu kemudian memberikan sebuah stop map coklat kepada Bianca, Bianca kemudian menerima stop map itu dan tanpa pikir panjang langsung membukanya.

“Ini” Raut wajah gadis itu menjadi diam seketika.

***

Di taman itu semua orang bertepuk tangan, Arsen dengan sejuta harapan di wajahnya sangat berharap bahwa dia akan di terima, ia telah berubah. Ia benar-benar mengintropeksi dirinya sendiri selama beberapa pekan, dan selalu berusaha meyakinkan Bianca bahwa kini ia telah berubah.

“Bianca, aku janji. Aku akan jauh lebih perhatikan kamu, aku akan lakukan apapun yang kamu mau?" ucapan Arsen penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Bianca tak menjawab sepatah katapun, ia justru mengambil cincin itu dan dengan spontan langsung membuangnya ke Danau.

Tindakan Bianca itu sontak membuat semua orang terkejut, tak hanya Arsen. Semua orang yang ada di sana sangat terkejut melihat Bianca.

“Bianca" Arsen tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Arsen langsung pergi ke danau. Orang-orang di sekitarnya, kini langsung menahannya untuk tak pergi ke sana.

“Arsen, apa kau bodoh. Kau yang menyuruh ku untuk menjadi mantan yang baik, namun kau sendiri semakin lama semakin mengesalkan saja. Sekali mantan itu adalah mantan.” Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Bianca membuat Arsen mendekat ke arahnya dan mencengkeram bahunya.

“Apa salah ku sampai kau setega ini, kau tahu. Cincin itu adalah warisan dari nenekku, sekarang kau membuangnya,” sontak hal itu membuat semua orang yang ada di sana langsung membicarakan sikap konyol Bianca.

“Bukan kah bisa di tolak baik-baik, jika begini siapa yang rugi? Dasar gadis sombong."

“Dia benar-benar tidak tahu terima kasih.”

"Jika aku jadi dia, aku pasti sudah merasa sangat beruntung."

Bianca menatap sekitar, semua orang membicarakannya dan hal ini, membuatnya menjadi canggung. Bianca yang merasa sudah tak nyaman di situ pun memilih pergi.

Ia kini mengambil earphone kecil di sakunya, menaruh earphone itu di telinga dan memutar lagu di ponselnya.

Bianca benar-benar tak ingin mendengar semua orang yang tengah membicarakannya, termasuk dengan Arsen.

“Bianca, kita pasti akan bertemu lagi,” ucap Arsen dengan senyuman penuh kepercayaan diri.

Arsen kemudian berbalik badan, ia pergi dari sana dengan keadaan lesu, wajahnya terus tertekuk dan bahkan terus menunduk. Sedangkan Bianca, dia menoleh. Menatap kepergian Arsen dan menghembuskan napasnya dalam-dalam.

“Maaf Arsen, namun ada janji yang harus aku tepati,” ucap Bianca dalam hati sambil tersenyum.

Arsen dengan perasaannya yang gelisah kini mencoba menghubungi temannya lewat panggilan telepon.

“Bagaimana, apa kali juga kau gagal? Apa kau di tolak lagi?" tanya orang itu dari balik telepon.

“Sudah ku duga, endingnya pasti akan selalu seperti itu bukan” Tebakan pria itu sangat benar sekali.

“Cih, kau menebaknya dengan sangat tepat." Ucap Arsen dengan menghembuskan napasnya panjang.

"Seharusnya moment seperti itu akan selalu berhasil. Mungkin itu memang sudah takdirmu kawan, cicak-cicak di dinding, diam-diam sad ending." Arsen yang mendengar itu langsung menunjukkan wajah datar.

"Sialan kau Renzo."

Renzo yang mendengar itu hanya tertawa di telepon, memang benar perkataannya, mungkin memang sudah jalan bagi mereka untuk berpisah. Tapi namanya juga budak cinta. Mau di hancurkan perasaannya sekalipun akan tetap sama saja.

“Renzo, saya perlu bantuan mu!.”

“Ayolah bos, ini hari minggu. Aku ingin libur!”

“Renzo!”

“Baiklah, iya. Kau bosnya di sini,” ucap Renzo dalam telepon sambil menarik nafas panjang.

“Yang ikhlas dong!”

“Iya-iya, jadi apa yang harus ku lakukan?”

“Bantu saya untuk hubungi semua mitra kerja kita, bilang kepada mereka jangan pernah terima lamaran kerja dari gadis bernama Bianca Renata Putri!”

“Loh, itu kan mantanmu. Jadi kau benar-benar dendam padanya setelah tadi dia menolakmu?"

“Kau masih ternyata, namun tidak, saya tidak dendam, hanya saja, aku ingin membuat dia bergantung padaku.”

Renzo yang kini tengah menyeduh teh panas, kini tengah memutar bola mata malas menanggapi omongan Arsen.

"Ini terjadi lagi, bagaimana aku bisa aku tak ingat, sedangkan kalian berdua mantan tapi seperti bukan mantan. Kalian bahkan masih sering sleep call, dasar gila. Apa kau ingat Arsen, saat kita sedang rapat agenda secara daring kau memasukkan Bianca alih-alih Pak Tedy sampai dia marah dan memukul pantatku saat aku masuk ke kantor keesokan harinya. Kau yang berbuat salah, namun aku yang terkena dampaknya." Ketus Renzo.

Arsenio yang mendengar umpatan dari temannya itu, kini langsung tertawa, mood pria itu benar-benar berubah seketika saat, karena ia tahu Bianca tak akan pernah bisa kabur darinya.

Bianca yang sedang jogging pun melewati Arsen, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan saat ia lihat ekspresi wajah Arsen yang terlihat sangat amat memelas. Padahal saat Bianca pergi pria itu kembali tertawa.

“Aish, sudahlah. Lakukan saja perintah ku, kalau dia benar bisa kembali dengan ku, kau akan aku angkat menjadi Manager,” ucapan Arsen pun langsung membuat Renzo senang.

“Oke, ku telepon mereka sekarang. 1 jam selesai, perlu aku buat proposal resmi kah? atau bagaimana?”

“Tidak perlu, asal mereka tahu saja sudah cukup. Mereka tahu kau sekertarisku”

“Dan o ya, tolong hubungi pihak Administrasi, untuk membuat formulir pernyataan resmi untuk Bianca agar dia bisa langsung ikut interview”

“Siap boss, tapi janji. Kalau kalian balikan, tepati janjimu!"

“Rekam percakapan ini jika kau tak percaya” Arsen pun mematikan ponselnya, ia berlari dengan senyuman di wajahnya. Tak ada rasa resah yang ada hanyalah kepercayaan diri yang tinggi.

Pria yang mengawasi mereka masih ada di sana, pria itu kembali mengambil ponselnya dan kembali menelepon dengan nomor yang berbeda. “Ada yang aneh dengan tuan muda nyonya, dia tadi sempat sedih. Namun kini, dia kegirangan. Dan juga, dia seperti tengah merencanakan sesuatu,” ucap pria berjas hitam itu kepada seseorang yang tersambung pada panggilan teleponnya.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!