Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Wei begitu senang. Dia pun kembali memberi kesempatan pada Nismara untuk melihat hasil fotonya.
"Liat, Sofia kamu menakjubkan."
Nismara terkikik. Dia sedang dalam mode on Sofia Elena.
"Apakah nanti aku juga akan foto seperti Tina, Wei?" Nismara bertanya. Gadis itu kelihatan sudah lebih berani dan bisa menguasai keadaan.
"Yang gimana?" Sahut Wei sambil menggeser-geser foto-foto di layar laptopnya.
"Yang bertiga. Kemarin Ina kasih lihat foto-foto dia bersama dua gadis lainnya."
"Oh, kayak gini?" Wei mengklik sebuah file lain.
"Iya." jawab Nismara. Entah mengapa matanya menjadi biasa melihat gambar-gambar tak senonoh yang dulu sangat dia kutuk.
Sampai saat layar laptop Wei menampilkan gambar Sherin, refleks Nismara menahan nafas lalu menghembuskan dengan kasar. Ada rasa sesak bercampur perih yang mendadak menyerbu hatinya.
"Kenapa?" Wei spontan menoleh dan menatap Nismara.
Nismara gelagapan. Tidak menyangka jika yang dilakukannya ternyata menarik perhatian Wei. "Eh aku aku hanya berpikir... apa aku bisa seperti mereka."
Wei terkekeh. "Bisa pasti bisa. Asal percaya sama aku, dengerin aku."
Nismara tersenyum. Bukan karena ucapan Wei barusan, gadis yang masih berbekini itu merasa lega sebab akhirnya menemukan alasan yang membuatnya tidak dicurigai.
"Kamu lihat gadis cantik yang di tengah ini?" jari Wei memperbesar foto yang dia tunjuk.
Sekali lagi Nismara menahan nafas. Tangan nya menutup mulutnya sendiri. Itu foto Sherin, dan tak ingin Wei curiga Nismara cepat-cepat berkata. "Apa aku bisa ya? Gayanya barbar banget......"
Wei membolakan mata, sejurus kemudian mulutnya melebar. Senyuman yang separuhnya lebih mirip seringau. "Bar-bar gimana? Bahasa mu aneh, Sof."
"Iya gitu itu. Ada lagi fotonya? Aku pengen lihat gayanya yang lain."
"Dia anak baru juga. Tapi saat pertama datang nggak malu-malu seperti kamu, langsung on fire."
"Oh, kapan-kapan boleh dong foto sama dia, Siapa sih namanya?" Nismara menatap Wei, laki-laki itu melirik.
Tiba-tiba Krik.......Krik...... suasana canggung kembali. Wei menutup laptopnya. " Kamu pasti juga nanti bisa." Sahut Wei lebih berguman. Entah kenapa dia tampak gugup dan mengabaikan pertanyaan Nismara.
"Wei boleh masuk?" Seru sebuah suara. Wei dan Nismara mengenali, itu suara Tina yang tengah berada di balik pintu.
"Ya!!" Wei beranjak dari hadapan laptopnya dan pergi ke arah kulkas.
Tina memandang takjub mengarah pada Nismara. Tanpa permisi dia mencolek balon indah Nismara. "Pantes sombong emang sebagus ini."
Nismara menjerit kaget, Tina terkekeh, namun Wei hanya melirik tanpa ekspresi.
"Kamu mau berfoto sama aku, Sof?" tanya Tina.
Nismara menatap Wei, meminta laki-laki itu yang menjawab sebab Nismara memang tidak tahu jawabannya.
"Nggak, Tin. Kamu sama Celine, eh masih setengah jam lagi kan?" Sahut Wei melihat jam tangannya.
"Ya, aku hanya ingin melihat dia, tapi kayaknya terlambat ya." kata Tina sambil menunjuk Nismara.
"Ya, kami baru saja selesai." Kemudian Wei beralih ke Nismara. "Nanti aku kabari ya, Sof. Setelah Mr. Thrang ACC."
"Okey." Jawab Nismara pendek. Dia pergi mengambil bajunya dan gegas memakainya kembali.
"Tenang aja, Sof, pasti Mister Thrang oke. Kamu bakal jadi kesayangan kayak Sherin dulu. Eh Wei, Sofia ini vibesnya kayak Sherin nggak sih?"
Wei tak merespon pertanyaan Tina. Laki-laki berkulit seputih kapas itu berlalu begitu saja meninggalkan ruangan.
"Setengah jam lagi ya, Wei!" Seru Tina menatap punggung Wei.
"Ya." kali ini dia sempat menjawab sebelum menghilang.
Nismara gantina bersitatap. Tina meringis. "Kamu pasti mau tanya siapa Mister Thrang, siapa Sherin ya kan?" tebak gadis langsing itu.
Nismara tertawa tanpa suara. "Harus bayar berapa?"
"Hahaha, aku bukan Om Mario. Oh iya udah beres urusan sama pria itu?"
"Beres, si kampret sialan itu minta lima belas juta."
Tina tertawa sampai beberapa detik.
"Apa sistem di sini emang begitu tim? Gila aku dibuatnya."
"Udahlah, nggak usah dipikirin. Disini lima belas juta itu receh. Apalagi kalau kamu udah jadi kesayangan Mister Thrang.". Tina mundur selangkah lalu menatap Nismara dari atas ke bawah. "Badan, kulit, wajah.... bener deh kamu tipe Mister Thrang banget. Asal hati-hati ya jangan kebablasan kayak Sherin."
"Hah, emang dia kenapa?"
"Ya pokoknya tahu batas aja, jangan kemaruk, jangan sok kayak Sherin itu. Anak baru tapi gayanya amit-amit. Padahal kita ini di sini kan hanya dianggap barang, selama masih dipakai ya dirawat, tapi kalau ada barang lebih bagus bisa jadi kita dibuang kapan aja." Tina berkata dengan nada tinggi. Terlihat dia sangat membenci Sherin.
Nismara menelan ludahnya sendiri. Ingin bertanya lagi, tapi kuatir jika dia tidak dapat mengontrol emosi seperti Tina. Bagaimana kalau terceplos kata yang membuat Tina curiga?
"Udah ah, nggak baik ngomongin orang udah mati?" kata Tina tiba-tiba merendahkan suara, terlihat dia mengatur nafasnya.
"Siapa yang mati? Sherin?" Nismara berpura-pura terkejut, walaupun sepertinya nada kagetnya kurang meyakinkan.
"Kamu mau balik atau mau nunggu gym buka, Sof?" Tina dengan sengaja mengganti topik pembicaraan.
"Kita minum dulu yuk." Kata Nismara. Tentu saja karena masih ingin mengorek lebih banyak info dari teman barunya itu.
Tina mengedarkan pandangan pada jam dinding tak jauh dari mereka. "Em...... tanggung aku di sini aja sambil nunggu Celine."
"Kenapa, Tin?" sebuah suara datang dari pintu, kemudian sosok gadis tinggi dan sedikit berisi muncul. Wajah nya sama sekali tidak ramah, malah terkesan angkuh. Pandangan gadis berambut abu-abu itu sedikit mendongak.
Entah mengapa Tina menjadi salah tingkah.
"Ah kamu tahu aja lagi disebut, tapi aku nggak ngomongin kamu lho." jawab Tina. "Eh, ini Sofia, anak baru."
Nismara tersenyum ramah, tetapi dia harus menelan kekecewaan karena saling hanya meliriknya sekilas. Kemudian Gadis itu berlalu begitu saja menuju kulkas, mengambil minuman dan duduk di sana sambil mulai menikmati minumannya.
Tina menoleh pada Nismara. "Ya udah, Sof, kita mau kerja dulu ya!"
"Okey, aku keluar duluan." Nismara menuju pintu. Nismara tahu diri, dia sudah diusir secara halus oleh sikap Celine dan ucapan Tina barusan. Saat ini dia harus bisa menahan diri, namun esok hari dia harus menemukan cara untuk mendapatkan informasi lebih dari Tina.
Nismara pergi ke lift dan memilih turun ke lantai satu. Sejujurnya hari ini dia agak malas untuk melakukan fitness, tetapi bingung harus pergi ke mana. Ingin bermalasan di kos, Rizal pun sudah mengusirnya. Walaupun Maryono sudah dia beri uang dan kemungkinan tidak akan mengganggu lagi, tetapi tidak mungkin juga Nismara bicara pada Rizal tentang itu.
"Kayaknya aku butuh kopi." Kata Nismara pada dirinya sendiri.
Nismara berjalan keluar ke area Mahkota Gym, sempat melirik sekilas ke dalam pos penjagaan, sepi tak tampak penjaga.
"Cari Mario ya?" suara besar tiba-tiba terdengar dari arah pos penjaga. Seketika Nismara mempercepat langkahnya. Dia terus berjalan ke selatan, di daerah sekitar situ memang pusat hiburan di kota ini. Hotel dan berbagai cafe marak terhantar.
Tin tin tin.
teka teki nya dapat. suka banget.