Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: MENEMUI DR. MARLINA
Setelah beberapa hari memikirkan cara terbaik untuk membantu Riko tanpa terkesan mencampuri urusan dosen lain secara berlebihan, Bang Tua akhirnya memutuskan mengambil langkah yang paling wajar, mendatangi langsung ruangan Dr. Marlina, berpura pura hanya ingin berdiskusi soal koordinasi mata kuliah semester depan, sebuah alasan aman yang tidak akan mengundang kecurigaan siapa pun.
Ruangan Dr. Marlina terletak di ujung lorong dosen senior, pintunya setengah tertutup dengan tumpukan map dan jurnal yang menggunung di atas meja, terlihat jelas dari celah pintu betapa berantakannya ruangan itu, jauh dari kesan rapi yang biasa Bang Tua bayangkan untuk seorang dosen yang katanya "sedang sibuk mengurus penelitian sendiri". Dalam hati dia sempat berkomentar, "kalau meja aja udah kayak medan perang gini, jangan jangan revisi mahasiswanya ketimbun di bawah tumpukan map itu, bukan sengaja diabaikan".
Dia mengetuk pintu pelan, dan setelah beberapa saat, terdengar suara dari dalam mempersilakan masuk. Dr. Marlina duduk di balik mejanya, kacamata bertengger di ujung hidung, matanya terlihat lelah dengan kantong mata yang cukup gelap, mengetik sesuatu di laptopnya dengan kecepatan yang menunjukkan dia sedang dikejar tenggat waktu yang ketat.
"Oh, Pak Sahat, ada perlu apa ya?" sapa Dr. Marlina, suaranya terdengar datar, jelas tidak sepenuhnya fokus karena matanya masih sesekali melirik layar laptop di depannya.
"Begini, Bu, saya mau tanya soal koordinasi mata kuliah semester depan, kebetulan kita ada irisan topik di beberapa pertemuan," Bang Tua membuka percakapan dengan alasan yang sudah dia siapkan, meski sebenarnya tujuan utamanya adalah mengamati langsung kondisi Dr. Marlina, mencari petunjuk kenapa dosen ini begitu sulit dihubungi mahasiswanya.
Mereka berbincang sebentar soal urusan akademik yang memang benar benar perlu dikoordinasikan, dan di sela sela obrolan itu, Bang Tua sengaja menyelipkan pertanyaan yang lebih personal, mencoba terdengar sekadar basa basi. "Ibu kelihatan sibuk kali, ada proyek besar ya?"
Dr. Marlina menghela napas panjang, untuk pertama kalinya sejak Bang Tua masuk ruangan, dia berhenti mengetik dan menatap langsung ke arahnya. "Iya, Pak Sahat, saya lagi kejar target penelitian buat kenaikan pangkat, deadline-nya bulan depan, sementara data yang saya butuhkan belum lengkap semua. Ditambah lagi bimbingan mahasiswa yang menumpuk, jujur saya kewalahan."
Bang Tua mengangguk, mencoba menunjukkan empati meski dalam hati masih menyimpan sedikit kekesalan atas nasib Riko yang terkatung katung. "Kenaikan pangkat memang penting ya, Bu, tapi mahasiswa bimbingan juga jangan sampai keteteran," katanya hati hati, mencoba membuka celah untuk membahas soal Riko tanpa terkesan menuduh.
"Saya tau, Pak, saya juga nggak enak hati sama mereka. Tapi gimana ya, kalau saya nggak kejar target ini, jabatan fungsional saya bisa stuck lama, padahal saya udah nunggu lama banget buat naik pangkat," jawab Dr. Marlina, nada suaranya terdengar jujur, bukan seperti orang yang sengaja mengabaikan mahasiswanya karena tidak peduli, tapi lebih seperti orang yang terjebak dalam pilihan sulit antara dua tanggung jawab yang sama sama menekan.
Percakapan itu membuat Bang Tua sedikit merenung, ternyata masalahnya tidak sesederhana yang dia bayangkan. Dr. Marlina bukan tipe dosen jahat yang sengaja menelantarkan mahasiswa demi kesenangan pribadi, dia lebih terlihat seperti korban dari sistem yang menuntut terlalu banyak sekaligus, kenaikan pangkat, publikasi, sekaligus bimbingan mahasiswa yang idealnya semua dikerjakan dengan porsi waktu yang cukup, tapi kenyataannya sistem itu tidak pernah benar benar memberi ruang bernapas.
"Kalau Riko gimana, Bu? Dia bilang udah tiga minggu susah dapat bimbingan," Bang Tua akhirnya memberanikan diri menyebut nama langsung, meski tetap dengan nada yang tidak menuduh.
Dr. Marlina terlihat sedikit terkejut, lalu wajahnya berubah menyesal. "Riko? Aduh, iya, saya inget dia nunggu revisinya. Maaf, Pak, saya bener bener kelupaan gara gara sibuk sama penelitian saya sendiri. Nanti saya usahakan minggu ini saya balas revisinya," janjinya, terdengar tulus meski Bang Tua masih menyimpan sedikit keraguan apakah janji itu benar benar akan ditepati mengingat tumpukan kesibukan yang sudah dia saksikan sendiri di ruangan itu.
Sebelum pamit, Bang Tua sempat melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana yang sejak tadi cukup serius. "Ibu ini kayak superhero kesiangan, Bu, ngurus penelitian sendiri, ngurus belasan mahasiswa bimbingan, mana sempat istirahat. Jangan jangan Ibu juga punya kekuatan super biar bisa kerja dua puluh lima jam sehari," candanya, yang berhasil membuat Dr. Marlina tertawa kecil untuk pertama kalinya sepanjang percakapan mereka, tawa lelah yang tetap terasa tulus.
"Kalau ada kekuatan kayak gitu, udah dari dulu saya pakai, Pak Sahat," balas Dr. Marlina sambil tersenyum, sedikit melupakan kelelahannya sejenak.
Bang Tua keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk, di satu sisi lega karena tahu Dr. Marlina bukan sosok jahat seperti yang mungkin dia curigai sebelumnya, tapi di sisi lain semakin khawatir karena masalahnya ternyata lebih rumit dari sekadar satu dosen yang tidak peduli, ini soal sistem beban kerja yang timpang, sesuatu yang jauh di luar kendali satu individu untuk diperbaiki sendirian.
Dalam perjalanan menuju ruang dosennya sendiri, dia berpapasan dengan salah satu staf tata usaha yang sedang mendorong troli berisi tumpukan berkas administrasi, dan sekilas dia melihat map map itu berlabel "Berkas Akreditasi", jumlahnya begitu banyak sampai troli itu terlihat nyaris tidak sanggup menampungnya. Dalam hati dia berkomentar, "pantesan dosen dosen sekarang kayak zombie kurang tidur, kerjaannya bukan cuma ngajar sama bimbing doang, masih harus ikut nyumbang berkas buat tumpukan kertas segunung itu juga".
Sesampainya di ruang dosen, dia duduk sebentar, mencoba mencerna semua yang baru saja dia dengar dari Dr. Marlina. Dia mengeluarkan buku catatan kecilnya, menuliskan poin poin penting, "Dr. Marlina: bukan apatis karena nggak peduli, tapi kewalahan sistem, kejar pangkat + bimbingan menumpuk + tuntutan lain". Dia menatap catatan itu lama, merasa untuk pertama kalinya bahwa masalah yang dihadapi Riko mungkin bukan soal satu orang jahat yang harus "dihukum" lewat kekuatannya, melainkan soal sistem besar yang menekan semua orang di dalamnya, termasuk para dosen yang sebenarnya juga korban dari tuntutan yang tidak masuk akal.
Sore itu, sebelum pulang, dia sempat mampir ke ruang Dr. Marlina sekali lagi, hanya untuk mengintip sebentar dari pintu yang masih setengah terbuka, dan mendapati dosen itu masih duduk di posisi yang sama, matanya masih menatap layar laptop dengan tatapan lelah yang sama. Bang Tua tidak masuk, hanya berdiri sebentar di ambang pintu, lalu melangkah pergi dengan perasaan yang jauh lebih kompleks dari yang dia bayangkan sebelum memulai penyelidikan kecilnya ini.