NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Suara Hujan dan Surat Perceraian

Bau tanah basah selalu membawaku kembali ke usia sepuluh tahun.

​Bagi sebagian orang, aroma hujan menimbulkan rasa rindu. Bagiku, itu adalah aroma dari kehancuran yang dingin. Hari itu, hujan deras mengguyur atap rumah kami yang bocor. Di meja kayu, sebuah lembaran kertas putih menjadi garis batas yang membelah hidupku menjadi dua: ayah berjalan keluar pintu tanpa menoleh, meninggalkan ibu yang menangis sesenggukan di sudut dapur, dan adikku, Rayan, yang baru berusia dua tahun, memeluk tungkai ku dengan bingung.

​Sejak hari itu, aku belajar satu hal: dunia tidak menyediakan ruang bagi anak kecil untuk menangis terlalu lama.

​Beberapa tahun kemudian, Ayah memilih membangun rumah baru dengan wanita lain. Sejak saat itu, aku resmi mengambil alih peran yang seharusnya bukan milikku. Aku belajar menahan lapar agar Rayan bisa sarapan sebelum aku berangkat sekolah. Aku belajar menyembunyikan mimpiku di balik tumpukan tagihan listrik dan biaya hidup yang banyak.

​Dada ini sering terasa sesak—bukan karena lelah bekerja, melainkan karena ada seorang anak kecil di dalam diriku yang terus menjerit, bertanya-tanya mengapa ia harus dewasa sebelum waktunya, mengapa rumah yang ia miliki tak pernah benar-benar hangat. Namun, jeritan itu selalu ku telan sendiri.

Dua belas tahun berlalu. Kota perantauan ini tak pernah tidur, begitu pula denganku.

​Lampu-lampu jalanan Jakarta berkelebat di balik jendela bus kota yang aku tumpangi. Shift malam di pabrik baru saja usai. Tanganku yang kasar menatap layar ponsel murah yang mendadak bergetar di genggaman. Nama tetangga kampung halaman tertera di sana.

​"Reno... pulang, Nak. Ibumu... Ibu sudah tidak ada."

Dunia seolah berhenti berputar. Bunyi drum mesin bus, suara klakson, dan riuh jalanan mendadak senyap. Hanya ada gema suara piring pecah dan tangisan masa kecil yang kembali berputar di kepalaku. Ibu pergi, meninggalkan ketakutan terakhir yang selama ini kucoba lari darinya.

​Hari berikutnya, di atas tanah merah yang masih basah oleh air mata, aku menggenggam jemari Rayan. Bahu anak itu bergetar hebat. Usianya kini sudah empat belas tahun, tapi matanya memancarkan rasa kehilangan yang sama persis seperti mataku dulu.

​Aku berlutut di sampingnya, menatap lurus ke matanya yang sembap.

​"Rayan," suaraku serak, namun tegas. "Mulai hari ini, kamu ikut Mas ke perantauan. Kita cuma punya satu sama lain sekarang."

Rayan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan merapat ke pelukanku. Di tengah aroma tanah makam Ibu yang masih segar, aku sadar bahwa luka lama itu belum pernah sembuh. Dan kini, aku harus membawa luka itu menyusuri kota asing, sembari memastikan adikku tidak merasakan dinginnya dunia yang pernah menghancurkan ku.

Langkah kaki kami terasa berat meninggalkan pemakaman. Jakarta menanti di balik cakrawala, menjanjikan ketidakpastian yang menakutkan. Aku meremas tiket kereta di saku jaket, satu-satunya modal yang akan menyambung napas kami. Bayangan masa lalu kembali membisikkan keraguan, tetapi tatapan polos Rayan menguatkan jemariku. Kami harus bertahan, meski kini segalanya terasa hilang.

Kereta malam perlahan bergerak maju, membelah kegelapan yang kian pekat. Dari balik jendela yang berembun, aku menatap bayangan kota kelahiran kami yang kian menjauh. Tidak ada jalan untuk kembali. Kini, hanya tersisa aku, Rayan, dan harapan tipis yang terus kami genggam erat-erat.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!