NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu yang Retak di Ujung Angan

Malam yang kunantikan akhirnya tiba, dengan senyuman yang terus mengembang di bibirku, aku merebahkan diri di atas ranjang, aku sengaja memeluk guling erat-erat, menata napas, dan perlahan memejamkan mata.

Jiwaku sudah sangat siap untuk melompat kembali ke dimensi lain, kembali ke dalam pelukan hangat miliknya.

Gasp.

Begitu membuka mata, aku mendapati diriku berada di tempat yang sama, ruang tamu megah miliknya yang sunyi. Pakaian kami pun belum berubah, masih mengenakan seragam putih-abu-abu SMA yang khas.

Mimpi ini secara ajaib langsung melanjutkan momen manis kemarin malam, tepat sesaat setelah kecupan hangatnya mendarat di bibirku.

Dia masih menangkup pipiku, menatapku dengan binar cinta yang begitu pekat. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Cklek.

Suara pintu utama yang terbuka lebar mendadak memutus ketegangan romantis di antara kami. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan dan perhiasan mewah melangkah masuk.

Wajahnya anggun, namun sorot matanya seketika berubah menjadi sangat dingin begitu mendapati keberadaanku di dalam rumahnya.

"Siapa dia?" tanya wanita itu. Suaranya datar namun terdengar begitu mengintimidasi.

"Kenapa kalian berdua ada di sini. Ini jam sekolah, kenapa kalian tidak berada di kelas?"

Bukannya takut, pacarku justru tersenyum lebar, dengan penuh antusias, dia menggandeng tanganku dengan erat dan membawaku menghadap ibunya.

"Ibu, perkenalkan, ini Shavia. Panggilannya Via," ucapnya dengan nada bangga yang ketara.

"Via ini pacarku, Bu."

Senyum di wajah kekasihku tidak membuat suasana mencair.

Ibunya justru mendengus sinis, menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Pacar?" Wanita itu bersedekap, menatap putranya dengan tegas.

"Ibu tidak menyukai hubungan kalian. Ibu tidak merestuinya!"

"Tapi kenapa, Bu?" Nada suara pacarku mulai berubah panik. Genggaman tangannya di jemariku semakin mengerat.

"Aku sangat mencintai Via."

"Lihat dirinya baik-baik. Status sosial kita berbeda jauh!" ujar ibunya dengan nada ketus dan mutlak.

"Dia tidak pantas berada di rumah ini, apalagi bersanding denganmu. Putuskan hubungan ini sekarang juga!"

Kalimat itu seperti hantaman godam yang seketika menghancurkan hatiku menjadi berkeping-keping. Air mata perih langsung menggenang di pelupuk mataku. Rasa malu dan sakit hati bercampur menjadi satu, membuatku tidak sanggup lagi berdiri di sana.

"Maaf, Tante... kalau begitu, saya pamit dulu," bisikku lirih, menahan tangis agar tidak pecah di depan wanita itu.

Aku melepaskan cengkeraman tangannya secara perlahan. Sebelum membalikkan badan, aku sempat menatap wajahnya untuk yang terakhir kali. Berharap dia akan menarikku kembali, atau setidaknya membela hubungan kami di depan ibunya.

Namun, dia hanya diam.

Wajah tampannya tampak samar dan dipenuhi keraguan, ada raut rasa takut kehilangan yang sangat jelas di matanya, tapi tubuhnya mematung. Sepertinya, dia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk melawan titah ibunya.

Aku merasa kecewa dan hancur atas sikapnya dan penolakan ibunya. Akupun langsung berbalik dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumah megah itu. Air mataku luruh membasahi pipi seiring langkah kakiku yang semakin menjauh.

"Via! Shavia, tunggu!"

Suara beratnya terdengar memecah keheningan sore di luar. Dia baru mulai bergerak mengejarku setelah aku sudah melangkah agak jauh. Aku menoleh ke belakang sekilas, melihatnya berlari dengan napas memburu, berusaha menggapai ujung jariku.

Namun, jarak di antara kami sudah terlanjur membentang terlalu lebar. Sekeras apa pun dia berlari, aku sudah berada terlalu jauh untuk bisa dia gapai dan hentikan. Bayangannya perlahan memudar seiring dengan duniaku yang runtuh.

Gasp!

Aku tersentak bangun, langsung terduduk di atas ranjang kamarku yang gelap gulita. Napas dan jantungku berkejaran begitu hebat, rasa sesak di dada sore tadi terbawa utuh hingga ke dunia nyata. Detik itu juga, tangisku pecah, aku menangis tersedu-sedu di tengah keheningan malam, mendekap lututku yang gemetar karena rasa sakit yang teramat nyata.

Dengan tangan yang gemetar, aku meraih ponsel di atas meja samping tempat tidurku. Aku butuh seseorang, aku tidak sanggup menanggung rasa sesak ini sendirian, aku pun menekan tombol panggilan ke nomor Rara.

Tut... Tut...

"Halo, Via. Lo gila ya? Ini jam tiga pagi—" Suara serak Rara di seberang telepon mendadak terhenti saat mendengar suara isak tangisku yang tertahan.

"Vi? Lo kenapa. Kok nangis?!"

"Ra... hiks... dada aku sesak banget, Ra..." ucapku di sela-sela tangisan yang semakin menjadi-jadi.

"Aku... aku mau cerita..."

"Vi, stop. Gak usah cerita apa-apa dulu lewat telepon!" potong Rara dengan nada panik yang luar biasa.

"Suara lo parah banget. Gue matiin teleponnya sekarang, gue langsung ke rumah lo!"

Pip.

Telepon ditutup sepihak. Tidak sampai dua puluh menit, terdengar suara ketukan pintu kamar yang tergesa-gesa. Begitu kubuka, Rara sudah berdiri di sana dengan jaket tebal dan wajah yang pucat karena khawatir. Dia langsung menerobos masuk dan memeluk bahuku erat-erat.

"Astaga, Via. Lo kenapa sih. Ada masalah apa sampai nangis sekencang ini?!" tanya Rara cemas sembari menangkup kedua pipiku, memeriksa kondisiku.

Sembari sesenggukan, aku mulai menceritakan semua kejadian di dalam mimpiku tadi. Tentang bagaimana manisnya awal mimpi itu, tentang kepulangan ibunya yang tiba-tiba, hingga penolakan kejam karena perbedaan status sosial yang membuat kami terpisah.

Setelah aku menyelesaikan seluruh ceritaku, ekspresi khawatir di wajah Rara mendadak berubah. Dia melepaskan tangannya dari bahuku, lalu berkacak pinggang dengan napas yang ditarik dalam-dalam. Omelannya yang biasa kini kembali terdengar, namun kali ini jauh lebih tegas.

"Shavia Aurelien. Lo bener-bener udah kehilangan akal sehat ya?!" omel Rara, suaranya meninggi di dalam kamarku yang sunyi.

"Gue udah panik setengah mati, taruhan nyawa naik motor subuh-subuh ke sini karena mengira lo habis kerampokan atau kena musibah. Tapi ternyata, lo menangis tersedu-sedu begini cuma gara-gara diputusin sama cowok yang ada di mimpi lo?!"

"Tapi, rasanya sakit banget, Rara... Ibunya bilang status sosial kami berbeda..." belaku lirih sambil menyeka sisa air mata.

"Ya jelas berbeda, Via. Lo itu manusia nyata, sedangkan dia cuma hantu di dalam kepala lo!" Rara duduk di tepi ranjang, menatapku dengan sorot mata yang penuh penekanan dan nasihat yang mendalam.

"Vi, dengerin gue baik-baik," ucap Rara, suaranya melunak namun tetap terasa menusuk.

"Gue ngomel begini karena gue sayang sama lo. Gue gak mau melihat lo melewatkan hidup yang berharga ini hanya demi mendekap sesuatu yang gak nyata. Penolakan ibunya di dalam mimpi lo itu, adalah cara alam bawah sadar lo sendiri buat memperingatkan lo. Pikiran lo udah lelah terjebak di sana. Lo harus bangun, Via!"

Rara menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Dunia nyata ini memang gak menjanjikan pangeran yang sempurna, tapi di sini gak ada batas dimensi yang bakal bikin lo menangis sekencang ini. Tolong, lepaskan dia."

Aku terdiam di tempatku duduk. Omelan Rara kali ini terasa begitu dingin namun menyadarkanku. Di tengah keheningan subuh itu, aku menatap telapak tanganku sendiri. Rasa sesak itu perlahan berganti dengan kehampaan yang luar biasa. Apakah ini saatnya aku benar-benar harus meruntuhkan dunia yang sudah kubangun sejak lama?

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!