NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Ketenangan di Tengah Penghakiman

Lampu kristal di ballroom utama Gedung Pertemuan Alumni memancarkan pendar keemasan yang mewah. Pesta tahunan Fakultas Ilmu Komputer malam itu berlangsung meriah, dihadiri oleh jajaran dosen, alumni sukses, dan ratusan mahasiswa. Bayu Anggara melangkah masuk bersama Dimas. Bayu mengenakan jas warna abu-abu gelap terpotong rapi yang dipadukan dengan kemeja putih bersih dan kacamata berbingkai titanium tipis, memancarkan pembawaan yang sangat tenang, elegan, dan berkelas.

"Gila, Bay," bisik Dimas seraya mengambil dua gelas minuman dingin dari nampan pelayan. "Dekorasi pestanya megah banget. Gue dengar sebagian besar sponsor acara malam ini dipegang sama perusahaan milik bokapnya Nadeo."

Bayu menerima gelas tersebut seraya tersenyum tenang. "Tidak mengejutkan, Dim. Perusahaan mereka memang sering mencari panggung di kampus."

"Bayu! Dimas!" panggil sebuah suara jernih dari arah depan.

Melisa melangkah mendekati mereka. Ia tampak sangat anggun mengenakan gaun malam berwarna biru murni yang simpel namun menawan, dengan rambut lurus terurai rapi. Matanya berbinar cerah saat tatapannya tertuju langsung pada Bayu.

"Selamat malam, Melisa," sapa Bayu lembut, membetulkan letak kacamatanya. "Kamu sangat anggun malam ini."

Pipi Melisa langsung merona merah, ia mengulas senyum hangat. "Terima kasih, Bayu. Kamu juga kelihatan sangat tampan dan berbeda malam ini. Jasmu sangat cocok untukmu."

"Ehem! Dunia serasa milik berdua ya," goda Dimas seraya terkekeh pelan. "Gue dianggap patung di sini."

Melisa tertawa renyah. "Maaf, Dimas. Ayo kita ke area meja utama, Pak Bambang dan beberapa dosen riset tadi menanyakan keberadaan kalian."

Namun, sebelum mereka sempat melangkah jauh, langkah mereka terhenti oleh dentang nyaring gelas kaca yang dipukul dengan sendok. Nadeo berdiri lima meter di depan mereka bersama Rian dan beberapa temannya. Nadeo mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama, menggenggam gelas krisopras seraya menatap Bayu dengan pandangan yang sarat akan kebencian dan keangkuhan.

"Perhatian semuanya!" seru Nadeo dengan suara keras yang mendadak menyerap perhatian puluhan tamu di sekitar area ballroom. "Lihat siapa yang baru saja melangkah masuk ke pesta kelas atas ini!"

Melisa menghentikan langkahnya, alisnya bertaut rapat. "Nadeo, apa-apaan kamu? Jangan membuat keributan di sini."

Nadeo terkekeh sinis, melangkah dua tindak mendekati Bayu dengan raut wajah merendahkan. "Gue nggak bikin ribut, Mel. Gue cuma heran. Pesta megah ini kan didanai oleh PT Nusantara Tech, perusahaan teknologi kelas atas milik bokap gue. Kok bisa mahasiswa penerima beasiswa yang histori bayar SPP-nya, selalu nunggak seperti orang ini bisa lolos masuk ke area VIP ini?" Sambil menunjuk ke arah Bayu.

Rian dan beberapa kawan Nadeo tertawa mengejek, sengaja memprovokasi suasana.

Dimas langsung pasang badan, matanya berkilat marah. "Jaga mulut lu, Deo! Bayu diundang resmi oleh panitia dan Pak Bambang karena prestasi akademisnya!"

"Prestasi akademis?!" potong Nadeo tajam, menunjuk dada Bayu dengan jari telunjuknya. "Prestasi dari mana?! Paling cuma menang teori di atas kertas! Di dunia nyata, orang seperti Bayu ini cuma remahan rempeyek yang mendadak sok bergaya pakai jas sewaan!"

Beberapa dosen dan mahasiswa mulai berkumpul mengelilingi mereka, termasuk Pak Bambang yang mengamati situasi dengan raut wajah tegang.

Ponsel di saku jas Bayu bergetar sangat halus. Suara jernih Jarvis menyusup lembut melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu.

"Analisis situasi sosial," lapor Jarvis mendetail. "Subjek Nadeo berusaha merusak reputasi publik Anda menggunakan intimidasi status ekonomi. Data teknis PT Nusantara Tech tersedia penuh dalam basis data saya."

Bayu tetap berdiri tegak, membetulkan letak kacamata titaniumnya tanpa menunjukkan sedikit pun kecemasan atau emosi negatif. Wajahnya tetap tenang seperti permukaan telaga yang damai.

"Nadeo," panggil Bayu dengan suara yang jernih, stabil, dan bergema penuh wibawa di tengah ruangan yang mendadak sunyi. "Jika kamu ingin membicarakan kapasitas teknis dan kontribusi perusahaan milik ayahmu, kenapa kita tidak membahasnya secara akademis dan profesional di depan Pak Bambang dan para undangan di sini?"

Nadeo tertawa penuh keangkuhan, menyilangkan tangan di dada. "Bahas kapasitas teknis?! Lu mau pamer apa, Bay?! Minggu lalu perusahaan bokap gue baru saja meluncurkan framework enkripsi enterprise versi 4.2 seharga sepuluh miliar rupiah! Logika koding esensial lu mana sanggup paham arsitekturnya?!"

"Apakah yang kamu maksud adalah framework enkripsi berbasis modul handshake kunci simetris yang baru dipasang pada server utama perusahaanmu dua hari lalu?" tanya Bayu santai seraya mengambil satu langkah maju.

Nadeo tertegun sejenak, matanya berkedip bingung. "I-Iya! Memangnya lu tahu apa soal itu?!"

"Sistem itu memang terdengar mewah di lembar brosur pemasaran," tutur Bayu mendetail dengan gaya bahasa yang sangat lugas dan cerdas. "Namun secara arsitektur, tim pengembang perusahaan ayahmu melakukan kesalahan fatal. Mereka mengimplementasikan algoritma RSA 1024-bit yang sudah usang pada port 8080, sehingga memicu celah keamanan buffer overflow yang sangat rentan terhadap serangan side-channel."

Nadeo tertawa gagap, mencoba menutupi kegugupannya. "Bicara sembarangan lu! Itu sistem standar industri internasional! Lu cuma asal jeplak demi kelihatan pintar di depan Melisa!"

"Aku tidak bicara sembarangan, Nadeo," sahut Bayu tenang namun menohok. "Dengan kerentanan seluas itu, seorang peretas pemula bahkan mampu membobol seluruh basis data nasabah perusahaan ayahmu dalam waktu kurang dari dua belas detik tanpa meninggalkan jejak log."

Pak Bambang mencondongkan badan, matanya membelalak kaget mendengar analisis presisi dari Bayu. "Tunggu... Bayu, kamu yakin dengan analisis struktur kerentanan pada port 8080 itu?"

"Seratus persen yakin, Pak Bambang," jawab Bayu penuh kepastian.

"Notifikasi pembaruan data," sela Jarvis jernih di telinga Bayu. "Tim audit keamanan independen baru saja mengirimkan nota peringatan bahaya tingkat satu ke email direksi PT Nusantara Tech tepat tiga puluh detik lalu."

Bayu menatap Nadeo lurus-lurus dengan binar mata yang tajam namun penuh ketenangan. "Nadeo, jika kamu tidak percaya, coba buka ponselmu sekarang. Periksa saluran komunikasi internal perusahaan ayahmu. Beberapa saat yang lalu, tim audit keamanan independen baru saja mengirimkan nota peringatan bahaya tingkat satu terkait celah fatal yang baru saja saya sebutkan."

Nadeo mendelik kaget. Dengan tangan yang mendadak gemetar, ia merogoh saku jasnya dan meraba layar ponselnya. Rian yang berdiri di sampingnya ikut menatap layar telepon pintar tersebut. Seketika itu juga, wajah Nadeo berubah pucat pasi seputih kertas. Email resmi dari jajaran direksi mengaktifkan tanda bahaya merah menyala di layar ponselnya, mengonfirmasi seluruh perkataan Bayu tanpa meleset sepatah kata pun.

"G-Gimana bisa... Gimana bisa lu tahu soal ini?!" bisik Nadeo terbata-bata, napasnya memburu penuh kepanikan dan rasa malu yang begitu dahsyat.

Bisik-bisik dan senyum sindiran mulai terdengar dari para mahasiswa dan alumni di sekeliling mereka. Keangkuhan Nadeo runtuh seketika di hadapan fakta kecerdasan Bayu.

Melisa melangkah mendekati Bayu, menatap Nadeo dengan pandangan dingin dan penuh kekecewaan. "Nadeo, kepintaran dan kelas seseorang tidak diukur dari seberapa kaya orang tuanya atau seberapa mahal jas yang dikenakannya. Tapi dari seberapa luas ilmu dan seberapa rendah hati sikapnya. Dan malam ini, kamu baru saja mempermalukan dirimu sendiri."

Pak Bambang menggeleng-gelengkan kepala, menepuk bahu Bayu dengan rasa bangga yang luar biasa. "Analisis yang sungguh jenius dan presisi, Bayu! Kejelianmu melihat arsitektur sistem benar-benar di tingkat yang luar biasa!"

"Terima kasih banyak, Pak Bambang," sahut Bayu rendah hati seraya membungkuk sopan.

Nadeo mengepalkan tangannya erat-erat, tidak sanggup lagi menahan rasa malu yang membakar seluruh wajahnya. Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun lagi, ia berbalik cepat dan melangkah setengah berlari keluar dari ballroom pesta, diikuti Rian yang mengekor panik di belakangnya.

Dimas tertawa lepas seraya menepuk punggung Bayu dengan heboh. "Sumpah, Bay! Lu keren banget! Cuma pakai sedikit analisis lu saja, bisa bikin Nadeo kabur membawa rasa malu seumur hidup!"

Melisa tersenyum sangat manis, menatap Bayu dengan binar kekaguman yang semakin dalam dan tak terbatas. "Kamu benar-benar luar biasa, Bayu. Analisa mu selalu bisa menyelesaikan masalah dengan sangat elegan."

"Semua karena kebenaran data dan ilmu pengetahuan, Melisa," balas Bayu lembut seraya membetulkan letak kacamatanya. "Mari kita nikmati pestanya sekarang."

Di tengah pendar lampu kristal yang indah, Bayu Anggara berdiri tegak sebagai pemenang sejati. Tanpa perlu meninggikan suara atau membalas dendam dengan amarah, kecerdasan mutlak dan ketenangan dalam menganalisa keadaan telah membuktikan bahwa kerendahan hati akan selalu menghancurkan keangkuhan yang kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!