Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Perang Dingin dan Bidak Catur Baru
Pesan beracun yang mengendap di layar ponselnya tidak membuat Raisha panik atau histeris. Mita rupanya sama sekali tidak tahu bahwa Raisha sudah lebih dulu membongkar rahasia kelam Aldo saat mereka berbicara di rooftop waktu itu. Mita mengira ancaman tersebut akan menjadi hantaman badai yang melumpuhkan mental Raisha, tanpa menyadari bahwa Raisha sudah jauh melewati fase terkejut itu.
Raisha menarik napas panjang, memilih untuk tidak membalas pesan Mita sedikit pun. Dia membiarkan racun itu menggantung hampa di udara. Baginya, urusan di masa lalu antara Aldo dan Mita termasuk dendam serta kekecewaan yang belum tuntas di antara mereka, bukan lagi ranah yang ingin dimasukinya. Raisha menolak untuk menjadi wasit atau korban sekunder dalam sisa-sisa kehancuran hubungan terlarang orang lain.
Namun, mengabaikan pesan Mita tidak serta-merta membuat hati Raisha kebal.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Raisha merasakan sentilan yang cukup telak. Kalimat-kalimat dari Mita bertindak bagaikan cermin dingin yang memantulkan ketakutan terbesarnya. Perasaan membuncah yang sempat merekah akibat perhatian-perhatian manis Aldo belakangan ini seketika tertusuk kenyataan pahit: Bagaimana jika pada akhirnya dia hanya akan merasakan kekecewaan yang sama seperti Mita? Bagaimana jika semua perubahan manis ini hanyalah ilusi singkat sebelum Aldo kembali dingin dan bosan?
Secara refleks, Raisha memalingkan wajahnya, menoleh ke arah ruangan kerja berdinding kaca transparan tempat Aldo berada.
Tak disangka, di balik kaca tebal itu, Aldo tengah berdiri dan menatap lurus ke arahnya. Pria itu menyandarkan satu tangannya di bingkai pintu, memamerkan binar mata yang semula hangat penuh antisipasi.
Untuk beberapa detik yang terasa begitu menyiksa, pasang mata mereka saling terkunci di udara lantai lima yang kaku.
Namun kali ini, tidak ada rona malu atau senyum tipis dari Raisha. Dengan tatapan mata yang mendadak hampa, dingin, dan tertutup rapat, Raisha memutus kontak mata tersebut secara sepihak. Dia memalingkan wajahnya kembali ke layar monitor tanpa menyisakan sedikit pun senyuman seseorang yang baru saja menarik kembali seluruh kepercayaan yang hampir diserahkannya.
Di dalam ruangannya, Aldo merasakan dadanya berdenyut perih saat melihat perubahan drastis pada gestur Raisha. Tatapan hampa dan dingin dari wanita itu adalah sebuah respon yang teramat familier bagi Aldo: Raisha kembali memasang benteng pertahanannya yang tertebal.
Aldo menarik napas panjang yang terasa begitu berat. Dia memundurkan langkah, menyandarkan punggung gagahnya pada sandaran kursi kerja berlapis kulit tebal. Pria itu mendongak, menatap langit-langit ruangannya yang putih bersih dengan pandangan mata yang perlahan memudar kehangatannya.
Sorot mata cokelat gelap itu bertransformasi total menjadi begitu dingin, tajam, dan pekat oleh aura destruktif. Sebuah tatapan dari seorang pria yang tidak lagi berencana untuk bertahan, melainkan siap menghancurkan siapa pun yang merusak kedamaian yang sedang dibangunnya.
"Harus aku apakan ya duri ini?" gumam Aldo lirih pada keheningan ruangan, suaranya pelan namun sarat akan ancaman mematikan.
Aldo menurunkan pandangannya, melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Layar ponsel itu masih menampilkan pesan ancaman dari Mita yang berniat membongkar penyimpangan masa lalunya ke seluruh kantor dan HRD.
Duri kecil bernama Mita itu sudah terlalu sering mengganggu jalurnya. Aldo telah memberi ampunan berupa penolakan halus, lalu teguran keras di pantry, hingga membiarkan HRD menjatuhkan Surat Peringatan. Namun rupanya, kebaikan dan toleransinya justru dianggap sebagai kelemahan oleh wanita yang sedang diliputi kebodohan obsesif tersebut.
Tiba-tiba, sebuah memori dari percakapan Mita di pantry beberapa hari lalu melintas tajam di kepala Aldo.
“Aku udah punya pacar baru sekarang, Al. Dia perhatian banget sama aku…”
Garis bibir Aldo perlahan tertarik ke samping. Kornea matanya menyipit tajam saat sebuah senyuman licik dan manipulatif tergurat sempurna di wajah tampannya.
"Ah... dia punya pacar, kan?" bisik Aldo, meremas pelan pena berujung tajam di tangannya.
Rumus psikologis yang selama ini menjadi racun di dalam dirinya, kini secara sadar ingin digunakannya sebagai senjata pemungkas. Jika Mita berfirasat bahwa Aldo hanya akan bergairah dan bertindak impulsif pada wanita yang berstatus memiliki pasangan, maka Aldo akan memberikan permainan itu, namun dengan skenario pembantaian emosional yang tak akan pernah dibayangkan oleh Mita.
Mita sengaja mencari pasangan baru agar berstatus taken demi memancing perhatian Aldo? Sangat bagus. Aldo akan memanfaatkan kelemahan dan catur rakitan Mita sendiri untuk menghancurkan wanita itu hingga ke akar-akarnya, memastikan Mita tidak akan pernah memiliki keberanian lagi untuk menyebut nama Raisha atau mengusik hidup mereka.
Aldo menyambar ponselnya, mengetik sebuah pesan baru yang sangat singkat untuk Mita:
'Nanti malam jam 8. Tempat biasa di luar area kantor. Bawa pacar barumu kalau kamu mau aku mendengarkan penjelasanmu.'
Pesan itu terkirim seketika.
Aldo menaruh ponselnya kembali, memutar kursinya menghadap ke luar kaca. Dia menatap punggung Raisha yang sedang mengetik di kubikelnya dari kejauhan. Binar matanya yang tadinya penuh intrik kejam, perlahan melunak kembali saat mendarat pada sosok wanita bergaun sederhana tersebut.
Bagi Aldo, Raisha bukan lagi sekadar permainan status atau target penaklukan. Raisha adalah satu-satunya wanita yang berhasil menyadarkan dirinya dari kegilaan masa lalu. Dan jika untuk melindungi Raisha dia harus berubah menjadi iblis yang paling manipulatif demi menyingkirkan 'duri-duri' di sekeliling mereka, maka Aldo akan melakukannya tanpa sedikit pun rasa menyesal.
Di balik kubikelnya, Raisha menghentikan ketukan jarinya di atas keyboard. Firasat buruk mendadak merayapi tengkuknya, seolah ada badai besar yang sedang disiapkan secara senyap di balik dinding kaca ruangan Aldo, sebuah permainan catur berbahaya yang akan segera dimulai.
Sebuah Caffe Bar..
Musik bertempo downtempo berkumandang halus membelah atmosfer remang sebuah bar eksklusif di sudut ibu kota. Udara di dalam ruangan itu terasa hangat, berbau kombinasi samar antara aroma alkohol mahal, asap tipis, dan parfum mewah.
Di salah satu sudut meja bar berlapis kayu mahoni tebal, Aldo duduk tenang mengamati gelas krisil di tangannya. Sorot matanya dingin, kontras dengan pencahayaan kafe yang hangat.
Sesekali, seorang pria yang bertugas di balik meja bar yang tak lain adalah teman lama Aldo—menghampirinya sambil mengelap gelas minum. Pandangan sang bartender sempat melirik ke arah pintu masuk ketika denting bel pintu berbunyi.
Seorang wanita bergaun merah pas badan melangkah masuk. Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya matanya berbinar mendapati sosok pria tinggi berahang tegas yang duduk sendirian di sudut.
"Itu wanita yang kamu maksud?" tanya sang bartender pelan seraya memiringkan kepalanya.
Aldo melirik sejenak melalui pantulan kaca di depannya, lalu menyunggingkan senyum menyeringai yang teramat tipis. "Iya. Dia."