NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:54.2k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Nabila Kritis

Sunyi...

Tidak ada lagi suara yang terdengar di antara mereka. Zidan terdiam menatap Humaira, membatu di posisinya.

Lidahnya tak mampu lagi berkata-kata semenjak Humaira terang-terangan mengatakan kalau wanita itu membenci orang kaya.

Humaira mendorong kursinya lalu berdiri. "Terima kasih sarapannya, Dokter Zidan. Saya sudah selesai."

Tanpa menunggu jawaban, Humaira langsung membalikkan badan dan melangkah pergi kembali menuju mobil Zidan.

Tak ada sepatah kata pun yang menyusul langkahnya. Zidan yang baru menguasai diri segera melangkah menyusul, naik ke balik kemudi, dan mereka pun langsung bertolak meninggalkan restoran tersebut menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sunyi. Tak ada percakapan, hanya hembusan pendingin udara dan deru mesin yang menemani.

Pikirannya masih sepenuhnya mencerna pada pengakuan jujur dari Humaira yang menghantam perasaannya.

_____

Dikediaman Lina kakak tertua dari tiga bersaudara.

Tak terasa waktu berlalu dan Yanti akhirnya selesai mengerjakan tugasnya dirumah sang kakak.

Sejak Dimas tak lagi memberikannya nafkah yang layak, dan usaha jualan kue keliling tak lagi mencukupi, Yanti memang sering datang ke rumah mewah Lina untuk mencari uang tambahan demi kebutuhan sehari-hari.

Hubungan mereka memang bersaudara, akan tetapi di rumah itu Yanti bekerja dengan perjanjian diberi upah.

Setiap kali ART di rumah Lina sedang libur atau cuti, Lina selalu memanggil Yanti untuk menggantikan pekerjaan rumah tangga, seperti bersih-bersih dan merapikan rumah—termasuk hari ini.

Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Yanti menghampiri saudaranya itu.

“Kak, aku sudah selesai semuanya. Hari sudah malam sekali… aku pamit mau pulang, Kak,” ucapnya, berusaha bersikap sopan.

Namun Lina hanya menanggapi dengan sikap yang acuh tak acuh. Matanya sekilas melirik tanpa minat, seolah keberadaan adiknya Yanti bukanlah hal yang penting, lalu ia kembali membuang muka.

“Ya sudah, kalau begitu pulang saja.” jawabnya singkat.

Meski merasa kecewa, Yanti memberanikan diri untuk mendekat lagi, menelan rasa malunya demi menyuarakan haknya.

“Kak, kalau boleh… aku minta upah bersih-bersih hari ini. Aku sedang sangat membutuhkan uang.”

Baru saja kalimat itu terucap, wajah Lina berubah drastis. Kerutan kesal terlihat jelas di dahinya, raut mukanya menjadi masam.

“Kamu ini selalu begitu! Uang, uang, dan uang lagi! Mulutmu tidak habis-habisnya membicarakan hal yang sama! Padahal kamu datang membantu saudara sendiri, bukankah seharusnya kau tulus? Malah segala sesuatu dihitung-hitung layaknya bekerja pada orang asing yang minta bayaran!” bentak Lina panjang lebar dengan nada meluap-luap.

Yanti mencoba sabar. “Tapi Kakak tahu sendiri keadaanku saat ini… jualan kueku sedang sepi, dan Nabila harus sering membeli obat rutin. Aku ke sini kan memang karena Kakak yang panggil untuk menggantikan ART Kakak yang libur, kayak sebelum-sebelumnya.”

Lina sama sekali tak mau mendengarkan, ia mendengus sinis. “Alasan! Bilang saja kau memang tidak punya malu dan suka minta-minta!”

Mata Yanti sudah mulai berkaca-kaca melihat keangkuhan wanita yang sering dia panggil kakak itu.

Bima suami Lina, yang mendengar itu berjalan mendekat.

“Ada apa ini? Kau kenapa lagi?” tanya Bima pada kebiasaan istrinya yang suka marah-marah.

“Kamu tidak usah ikut campur, Mas! Ini urusanku dengan adikku,” tegas Lina ketus.

Namun Bima tak terpengaruh, ia justru mengalihkan pandangannya lembut ke arah Yanti yang berdiri tertunduk. “Ada apa sebenarnya, Yanti?”

Dengan suara lirih, Yanti menjawab, “Saya cuma minta upah bersih-bersih hari ini, Mas... seperti biasa kalau menggantikan ART yang libur. Tapi Kak Lina malah marah.”

Mendengar itu, Lina makin tersulut emosi.

“Berani-beraninya kamu mengadu pada Mas Bima! Dasar tidak tahu malu!”

“Sudah cukup, Lina!!” tegur Bima tegas hingga membuat istrinya terdiam.

Tanpa banyak bicara, Bima mengeluarkan dompet, lalu menghitung dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah kepada Yanti. “Ambillah, apa ini sudah cukup?” tanya Bima.

Yanti mengulurkan tangannya, lalu hanya mengambil selembar seratus ribu rupiah sesuai haknya. “Ini sudah cukup, Mas.”

Namun Bima menahan tangan Yanti, lalu meletakkan semua lembaran uang seratus ribu rupiah itu ke dalam genggamannya. “Ambil saja semuanya. Semoga ini bisa sedikit membantumu.”

Perbuatan itu membuat Lina mengamuk tak terkendali. “Kamu apa-apaan sih, Mas! Berani sekali kamu memberikan uang sebanyak itu padanya!”

“Sudah lah, Lina. Dia sudah bekerja seharian dan memang sedang sangat membutuhkan uang,” jawab Bima mencoba menenangkan dengan nada wajar.

Lina menatap tajam penuh curiga. “Kamu pikir aku bodoh, Mas! Aku tahu kalau kamu masih belum bisa move on kan dari dia? Iya, kan?!” pekik Lina.

Wajah Bima berubah serius mendengar perkataan Lina. “Jaga ucapanmu, Lina. Kamu semakin lama semakin tidak bisa mengendalikan emosi dan bicara sembarangan!” kesal Bima.

Ia pun langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Yanti juga segera bergegas keluar dari rumah mewah itu, berniat menjauh secepat mungkin. Ia meninggalkan kakaknya yang masih meledak-ledak dalam kemarahan.

“Dasar jalang rendahan!!” teriak Lina sekuat tenaga meluapkan kekesalannya.

Dari kejauhan, ternyata Bima masih memantau Yanti ibu Humaira. Pria itu menarik nafas berat.

Ternyata, dulu jauh sebelum Bima menikahi Lina, pria itu menaruh hati yang begitu dalam pada Yanti.

Namun, cinta Bima bertepuk sebelah tangan karena Yanti tidak menyukainya dan lebih memilih pria lain hingga akhirnya menikah.

Rasa sakit hati dan kekecewaan membawa Bima menjatuhkan pilihan pada Lina, kakak kandung Yanti.

Meski pernikahan mereka sudah berjalan puluhan tahun, ternyata Bima sama sekali belum bisa move on dan masih menyimpan perasaan itu untuk Yanti.

Yang membuat Lina sangat membenci adiknya. Karena bukan rahasia umum lagi kalau dulu Bima itu sangat mencintai Yanti secara unggal-unggalan.

_____

Setelah Yanti tiba di rumah, ia langsung masuk dan mendapati putrinya yang terbaring di lantai tak sadarkan diri.

"Nabila!" teriak Yanti histeris seraya berlari menghampiri putrinya

"Nabila, bangun, Nak! Kamu kenapa?" Yanti memukul-mukul pelan pipi putrinya yang tidak bergerak sama sekali, kepanikan luar biasa menguasai dirinya saat menyadari penyakit Lupus Nabila yang parah mendadak kambuh lagi.

Yanti meraba tubuh Nabila yang semakin dingin. Dalam kepanikan, jemarinya gemetar segera merogoh kantong dan menelepon Humaira.

Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan putrinya lagi setelah beberapa waktu lalu sudah meminjam uang putrinya. Namun karena dia tidak punya pilihan, mau tidak mau Yanti kembali merepotkan putrinya itu.

"Hello, Bu?" Jawab Humaira dari seorang panggilan setelah bersambung.

"Humaira... tolong, Nak! Adikmu Nabila pingsan di lantai! Lupus-nya kambuh lagi!" tangis Yanti pecah di telepon.

Humaira yang masih berada di area rumah sakit yang tadi berniat pulang, langsung kaget.

"Bagaimana bisa, Bu? Jadi sekarang Nabila ada di mana?" cecar Humaira cemas.

"Di mana lagi, Nak? Dirumah... badan adikmu dingin sekali," wanita paruh baya itu menangis ketakutan.

"Ya sudah, Bu. Tunggu Humaira di sana. Kita langsung bawa Nabila ke rumah sakit," ucap Humaira berusaha menguasai diri.

Mau tidak mau, Humaira terpaksa bergegas mencari ambulan rumah sakit dan meminta menjemput adiknya segera.

Tak lama Humaira sudah tiba di rumah ibunya. Ia langsung berlari masuk dan melihat sang ibu sedang menangis terisak sembari memeluk tubuh adiknya yang terkulai.

"Ibu!" panggil Humaira.

Ibunya langsung menengadahkan wajah, menatap ke arah Humaira yang baru saja tiba. "Humaira, tolong adikmu, Nak... tolong Nabila..." tangis ibunya semakin pecah.

"Baik, Bu. Ayo kita bawa sekarang!" sahut Humaira cepat.

Beberapa tim medis yang ikut bersamanya bergegas membantu mengangkat Nabila ke atas brankar.

Lalu membawanya naik ke dalam ambulans. Mereka langsung melaju kencang membelah jalanan menuju rumah sakit.

_____

Zidan yang baru saja selesai menelepon seseorang di area lobi rumah sakit, tak sengaja melihat ambulans datang.

Langkah Zidan terhenti saat melihat Humaira berlari panik di samping brankar yang sedang didorong terburu-buru oleh para perawat.

"Ada apa ini?" tanya Zidan menghampiri dengan raut terkejut saat melihat air mata mengalir deras di pipi Humaira.

"Pasien hilang kesadaran dan kondisinya sangat kritis, Dokter. Harus segera kita larikan ke ruang UGD," terang Dokter Hamzi yang menjawab pertanyaan Zidan.

Zidan mengalih pandangannya ke arah Humaira yang menangis. "Dia adikmu?" Tanya Zidan pada Humaira seperti tidak pernah ada perdebatan diantara mereka.

Padahal baru saja pagi tadi mereka saling diam semenjak sarapan setelah membahas tentang penceraian.

Seharian dirumah sakit, mereka belum saling menyapa karena Zidan yang tersinggung atas ucapan Humaira.

Tapi melihat kondisi Humaira yang menangis. Zidan menurunkan egonya dan kembali profesional.

"Iya... ini Nabila, adik saya, Dokter," jawab Humaira dengan suara bergetar.

"Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" tanya Zidan lagi, ingin penjelasan.

"Nabila mengidap Lupus. Penyakitnya kambuh lagi dan tiba-tiba dia pingsan tidak sadarkan diri di rumah," jelaskan Humaira di antara isolasi tangisnya yang tak lagi bisa ditahan.

Mendengar hal itu, Zidan tidak tinggal diam.

"Bawa dia ke ruang UGD sekarang juga! Biar saya sendiri yang turun tangan menanganinya!" perintah Zidan pada tim medis.

"Baik, Dokter!"

Pria itu langsung berbalik, bersiap memimpin penanganan darurat untuk menyelamatkan nyawa adik iparnya.

_____

Sudah beberapa waktu berlalu, akan tetapi Zidan belum juga keluar dari ruang UGD.

Humaira hanya bisa menunggu di luar koridor bersama ibunya yang tak berhenti menangis dan berdoa.

Jam dinas Humaira di rumah sakit sudah berakhir sejak tadi dan ia sebenarnya sudah bersiap untuk pulang saat kabar duka itu datang.

Sehingga membuatnya tidak bisa lagi mendampingi Zidan di dalam, untuk melihat langsung kondisi sang adik.

Humaira memeluk ibunya dengan air mata yang terus menetes.

Pria yang tadi pagi ingin ia tinggalkan, pria yang sangat ia benci status dan kekayaannya... kini justru menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi keselamatan adiknya.

1
muna aprilia
lanjut
bunda Qamariah: makasih udah mampir say😘😘😘 Salken ya🫰
total 1 replies
Jamayah Tambi
Humaira, bagaimana kau nk merawat anak itu tanpa suami.Pada hal ayahnya kaya raya
Jamayah Tambi
Sudah,klu beci orang kaya Zidan tak ada harapan untuk meneruskan penikahan itu
Jamayah Tambi
Buat roti bakar je.Bagibselai kacang/strowbery
Jamayah Tambi
Dah macam sundal.Kata Humaira anak haram.Tp dia yg lebih murah dari dari kakaknya ,ibu Humaira
Jamayah Tambi
Sapa yg tampar
Jamayah Tambi
Kau bagi tau Himaira.Kslau dia tak tau bagi dia tau.
Jamayah Tambi
Susahnya hidup Humaia.Menikah dgn Dr Zidan tengah hamil pula.Entah anak siapa.Nanti saja Athur beri tahu ya.Penasaran sangat ni
Nar Sih
tetharuuu 😭😭dgn cinta alva untuk maira
Jamayah Tambi
Anak siapa pulak Humaira.Adakah Dr.Zidan pernah menyentuhmu.
Jamayah Tambi
Betul ke Melodo xcident sehari sebelum penikahan.Entah2 dia ditinggalkan kekasihnya.Kenapa tak call Dr Zidan .Keluarganya ke.Tak kan itu pun tak tau.Mudah sangat
bunda Qamariah: makasih udah mampir ya, say 🙏🙏🙏🥰🫰
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Up lagi donk Thor , banyak2 . Perasaan up nya cuma sekali sehari
Ade Chubi: mengandung bawang cerita nya 😭
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Koq baru up thor? di tungguin dari kemarin , giliran muncul dikit amat🤭 up banyak2 donk 🙏🏼
bunda Qamariah: ah😂 insyaallah kalau sempat nulis ya say
total 1 replies
Nar Sih
kurang panjang bundaa ,boleh dobel up lgi yaa bund🙏🥰🥰
bunda Qamariah: insyaallah ya, say🤭
total 1 replies
Nar Sih
hahaha ..rasain melodi kmu sdh ngk bisa menghindar lgi dri salah dosa mu dan tunggu kejutan yg lain nya lgi🤣🤣
bunda n3
belum lagi dibongkar bayi yg dikandungnya
Nar Sih
ngk bisa ngebayangin seperti apa wajah manipulatif mu melodi ,malu semalu,,nya maksud hti ingin bikin maira malu eh ..justru kmu yg di bikin syok..dgn terbongkar nya rahasia mu🤣🤣
Syakirah Dzaky
Senjata berbalik kepada Tuan nya 🤣🤣🤣 kamu pikir keluarga Alva bodoh , mereka org terhormat , kaya raya dan pastinya siapapun perempuan yg anak mereka cintai pastinya akan di selidiki lah , kasian banget sih kamu melodi , rasax aku puas banget hari ini , ingin ketawa jahat dulu untuk melodi hahhaha hahha haha🤣🤣🤣🤣
Nar Sih: karma di byr kontan ya kakk🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. melodi dah gak bisa berkutik lagi tuh, apalagi nanti kalau tau anak yg dikandung bukan anaknya dr.zidan🤣🤣🤣
bunda n3
sepertinya nenek Maharani yg blm tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!