Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *30
"Mbok. Ada apa? Apa yang sudah terjadi di sini?" Zihan masih bertanya meskipun ia sudah menduga kalau hal terburuk pasti sudah terjadi di rumah ini.
Karena ia membutuhkan cukup banyak waktu untuk keluar dari kamar hotel, sampai dia berteriak seolah orang yang sedang dalam bahaya untuk mendapatkan pertolongan. Hingga pada akhirnya, Lula sendiri yang membantu Zihan memanggilkan pelayan hotel.
Lalu kemudian, pelayan hotel itulah yang membantu Zihan menemukan Pak Toha yang kebetulan telah sadar dari pingsannya. Karena itu, dia bisa tiba di rumah sekarang. Semuanya memang tidak mudah. Tapi, dia masih sangat berharap jika saat ia pulang, dia bisa bertemu Aulia lagi. Zihan masih berharap besar, waktu yang ia punya masih banyak agar dia bisa menjelaskan pada Aulia kesalahan yang terjadi itu tidak sama dengan yang Aulia lihat dan pikirkan.
Sayangnya, harapan itu mendadak pudar ketika melihat wajah si Mbok yang kini sedang menangis. Bahkan, dari nada panik yang si Mbok ucapkan barusan saja sudah membuat Zihan seakan tidak bisa bernapas dengan baik.
"Den Zihan. Non Aulia sudah tidak ada di sini lagi. Dia sudah pergi beberapa waktu yang lalu dengan membawa koper miliknya."
Lalu ... ucapan yang tidak ingin ia dengar pun akhirnya terucap. Bak sebuah sayatan yang merobek hati, hancur seketika. Kata-kata si Mbok langsung membuat Zihan merasa sesak seketika.
"Tidak. Itu pasti tidak mungkin, Mbok. Aulia tidak mungkin pergi dari sini. Ini rumahnya, bukan? Dia tidak akan meninggalkan rumahnya, Mbok Yah." Nada sedih terdengar dengan sangat jelas. Air mata hampir saja jatuh karena kesedihan itu. Tapi, masih bisa Zihan tahan.
"Pak Toha, cepat turunkan aku! Aku ingin melihat ke dalam. Aku yakin jika Aulia masih ada di dalam, Pak."
"Den .... "
"Mbok. Jangan bicara lagi. Aku yakin Aulia tidak akan tega pergi meninggalkan rumah ini."
Zihan pun langsung menjalankan kursi rodanya dengan cepat. Sampai, dia hampir saja menjatuhkan dirinya dari kursi roda tersebut. Hatinya yang perih, membuat dia tidak bisa menggerakkan kursi rodanya dengan benar. Tapi, tetap saja memaksakan diri untuk pergi ke kamar dengan cepat sendirian tanpa mengizinkan orang lain membantunya.
Tiba di kamar, Zihan langsung membuka lemari pakaian. Sekali lagi, harapannya hampa ketika lemari pakaian itu kosong. Walaupun sebenarnya, Zihan sudah tahu akan hal tersebut, tapi tetap saja, dia menaruh harapan akan lemari pakaian tersebut.
"Tidak. Ini tidak benar, Aulia sayang. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Kamu salah paham, sayangku." Zihan berucap dengan air mata yang berlinangan.
Saat Zihan menoleh ke arah meja rias. Di sana ia melihat selembar kertas yang di atasnya ada sebuah cincin dan juga kalung. Zihan langsung bergerak cepat untuk menghampiri benda-benda tersebut.
Bergetar tangan Zihan untuk mengambil benda tersebut. Hatinya pun semakin terhiris dan terasa sangat amat perih. Air mata yang berlinangan, kini jatuh berderai melintasi kedua pipinya.
"Tidak. Jangan tinggalkan cincin kawin ini, Aulia. Kamu tidak bisa begitu kejam padaku, Sayang. Aku sangat membutuhkan kamu. Hanya kamu yang aku cintai. Tolong jangan pergi." Zihan berucap sambil menggenggam erat cincin kawin itu. Dia juga membawa cincin kawin yang ia genggam ke dadanya.
Beberapa saat terdiam dalam tangisan, Zihan pun teringat akan kertas yang ada di atas meja itu. Dengan tangan berat, Zihan mengambil kertas yang di atasnya terdapat pesan singkat dari Aulia.
Aku pergi. Maaf karena aku tidak bisa bersama kamu lagi. He ... seharusnya aku tidak boleh pergi dan tidak boleh merasa sakit, bukan? Tapi sayangnya, aku tidak bisa menyembunyikan rasa itu sekarang. Aku sakit. Sangat sakit, Kak Zihan. Kamu bersama perempuan lain setelah berjanji untuk hidup bersama aku sampai kita tua nanti. Kamu jahat karena telah mengkhianati aku. Aku benci kamu karena kamu telah membuat aku sangat kecewa. Karena itu, aku tidak bisa bertemu kamu lagi. Jangan cari aku. Itulah permintaan terakhirku padamu.
Begitulah pesan singkat yang Aulia tuliskan di atas kertas putih tersebut. Pesan yang membuat Zihan merasa langsung frustasi, dengan langsung mengeluarkan teriakan keras karena dia tidak ingin Aulia pergi.
"Tidak ...! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Aulia! Yang jahat itu kamu, karena kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku." Zihan berteriak dengan suara keras sambil meremukkan kertas yang ada di tangannya.
Tidak hanya meremukkan kertas, Zihan juga membanting semua barang yang ada di atas meja rias dengan keras. Semua kemarahan dan kesedihan ia lampiaskan pada barang-barang yang bisa ia gapai dengan tangannya.
Prak! Buk! Dum!
Barang-barang pun berjatuhan ke lantai. Vas bunga, kaca cermin, juga barang-barang yang bisa dia sentuh dengan tangan semuanya habis berserakan. Zihan benar-benar sedang mengamuk saat ini. Kamar itu sudah mirip seperti kapal pecah akibat amukan Zihan.
Mbok Yah yang mendengar hal tersebut segera datang. Sementara Pak Toha dan Mang Mamat yang baru tiba juga ikut menyusul ke kamar Zihan.
Mereka panik ketika melihat tangan Zihan yang remuk akibat memukul meja rias hingga rusak. Bahkan, serpihan beling masih tertancap di tangan Zihan yang kini mengalirkan darah segar secara perlahan.
"Den Zihan apa-apaan ini, Den? Kenapa bisa seperti ini?" Si Mbok yang sejak kecil telah menjadi ibu pengganti itu tentu saja langsung panik melihat keadaan Zihan saat ini. Dengan sigap, dia langsung merebut tangan Zihan yang terluka.
"Biarkan, Mbok. Jangan diobati karena rasa sakit itu tidak bisa aku rasakan sedikitpun. Yang terasa itu hanya sakit pada hatiku. Sakit yang tidak bisa aku sembuhkan bagaimanapun caranya selain kepulangan Aulia kembali ke sisiku."
"Aku egois, Mbok. Memang sangat-sangat egois. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa Aulia, Mbok. Yang salah bukan aku .... " Zihan kini menangis dalam dekapan Mbok Yah.
Perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Karena setelah lahir, hanya Mbok Yah yang mencurahkan kasih sayang sebagai ibu padanya. Soalnya, ibunda kandung Zihan tidak bisa merawatnya karena pergi setelah melahirkan Zihan. Pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.
"Tenang dulu, Den. Setelah hati Den Zihan tenang, maka Den Zihan pasti bisa berpikir jernih. Non Aulia juga pasti akan kembali nanti. Sama seperti Den Zihan, Non Aulia juga butuh waktu."
Mbok Yah sudah tahu cerita garis besar yang saat ini terjadi pada Zihan. Pak Toha yang sudah mengatakan semuanya. Yang langsung mendapat amarah dari Mbok Yah karena ia anggap kalau Pak Toha tidak becus dalam menjaga Zihan. Bahkan, suaminya juga kena imbas dari arah itu.