Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Badai di Linimasa
Pertanyaan tentang perasaan Radit belum terjawab ketika pesan baru dari Wahyuni muncul.
Ia memakai nomor pribadi yang tidak kukenal.
Anji, Ibu cuma ingin minta maaf. Tolong beri Ibu kesempatan menjelaskan.
Ayah dan Wahyuni dulu terlihat saling mencintai. Setelah Ayah meninggal, hanya butuh tiga bulan sampai cinta itu berubah menjadi koper dan pintu tertutup. Bertahun-tahun bekerja di industri hiburan juga mengajariku bahwa pasangan paling mesra di depan kamera bisa saling menghancurkan setelah lampu mati.
Karena itu aku tidak percaya pada janji panjang. Aku dulu menerima Surya bukan karena cinta besar, melainkan karena hubungan stabil membantu meredam rumor dengan artis yang kutangani. Selama ia punya penghasilan sendiri dan tidak mengganggu pekerjaanku, kupikir cukup.
Ternyata perhitungan dingin pun tidak mencegah pengkhianatan.
Aku menghitung perkiraan biaya makan, sekolah, dan kebutuhan dasar anak selama enam tahun. Jumlahnya kutransfer ke rekening yang dikirim Wahyuni.
Anggap ini biaya hidupku sampai dititipkan ke Nenek. Setelah ini jangan ganggu saya lagi.
Balasannya datang cepat, berisi nomor rekening lain dan kalimat bahwa uang bukan alasan ia mencariku. Aku menyimpan tangkapan layar sebagai bukti, lalu memblokir nomor tersebut.
Siang itu Bu Kanya memanggilku ke ruangannya.
"Radit membuat masalah?" tanyanya.
"Kerjanya sangat baik."
"Bukan itu. Anak itu suka kamu."
Aku menjaga wajah tetap tenang. "Sebelum menerima posisi ini, saya sudah bilang tidak punya rencana menikah. Tolong sampaikan kepadanya supaya tidak membuang waktu."
"Kenapa tidak sampaikan sendiri?"
"Karena dia adik Ibu."
Bu Kanya melihat ke pintu. Aku mengikuti pandangannya.
Radit bersandar di kusen sambil membawa map. Entah sudah berapa lama ia mendengar. Senyum kecil di wajahnya terlihat dipaksakan.
"Oke," katanya. "Pesannya sudah sampai."
Hari-hari berikutnya ia kembali memanggilku Kak Anji, mengirim laporan tepat waktu, dan berhenti mencari alasan untuk menyentuh tangan. Jarak profesional yang kuinginkan justru membuat meja kerja terasa terlalu sunyi.
Suatu sore aku melihat layar komputernya menampilkan gambar rancangan gedung, bukan jadwal artis. Ia segera menutupnya.
"Kamu masih mengerjakan arsitektur?"
"Ada tender yang belum selesai."
"Kalau itu bidangmu, kenapa membuang waktu jadi asistanku?"
"Belajar mengurus manusia lebih sulit daripada gedung."
"Bu Kanya bilang kamu calon penerus keluarga."
"Aku belum bilang mau meneruskan apa pun."
Nada suaranya datar, tetapi jemarinya menahan tutup laptop lebih kuat. Aku ingin bertanya bangunan apa yang ia rancang dan kenapa ia memilih meja kecil di sampingku. Aku menahan diri karena pertanyaan pribadi akan merusak jarak yang baru kubangun.
Di pantry, dua staf berbisik saat kami masuk.
"Katanya Bu Kanya sengaja titip adiknya ke Kak Anji. Cocok juga, ya."
"Mungkin bukan cuma kerja."
Radit meletakkan cangkir. "Hubungan pribadi atasan bukan urusan kalian. Kalau punya waktu bergosip, laporan kampanye masih menunggu."
Ia membelaku tanpa melihatku, lalu pergi membawa kopi hitam.
Beberapa hari kemudian, Denny mengambil cuti setengah bulan. Rio tidak ikut karena diminta menangani urusan kantor. Katanya Denny dan Amara ingin berlibur setelah jadwal panjang.
Pada suatu malam hujan setelah jam kerja, ponsel seluruh tim berbunyi hampir bersamaan.
Amara mengunggah tulisan panjang di Instagram dan X, disertai video hampir sepuluh menit. Ia menceritakan hubungan dengan Denny, pertunangan rahasia, pertengkaran, lalu perpisahan. Separuh videonya menyebut namaku.
Ia menuduhku terlalu menguasai Denny, sengaja merusak hubungan mereka, dan menjadi pelakor yang bersembunyi di balik jabatan manajer.
Video itu menyusun potongan tanpa konteks dengan rapi. Ada rekaman aku keluar dari rumah Denny pagi-pagi, foto perjalanan kerja kami ke Bali, dan cuplikan lama saat ia memelukku setelah memenangkan penghargaan. Tidak ditampilkan bahwa Rio serta kru selalu ada, atau bahwa pagi itu aku mengantar cincin pertunangan Amara sendiri.
Satu tuduhan bahkan memakai pesan kerjaku yang dipotong hanya sampai kalimat, "Aku tunggu di kamar." Baris berikutnya tentang pembacaan naskah bersama sutradara sengaja hilang.
Aku membuat daftar waktu, nama saksi, dan dokumen pembanding. Rasa sakit boleh datang nanti. Selama badai berlangsung, pekerjaanku adalah memastikan kebohongan tidak menang hanya karena diedit lebih dramatis.
Akun infotainment mengunggah ulang dalam hitungan menit. Potongan saat Amara menangis menyebar di TikTok. Namaku masuk tren sebelum aku selesai membaca semuanya.
Rio menelepon Denny sebelas kali tanpa jawaban.
"Mas Denny bilang mau liburan berdua," katanya pucat di ruang rapat darurat. "Saya nggak tahu kenapa Kak Amara ada di Jakarta."
"Simpan semua pesan dan jadwal," kataku. "Jangan berspekulasi."
Pak Wisnu dari divisi hubungan publik membuka layar analisis sentimen. "Kita perlu menahan nama Anjani dulu. Fokus selamatkan Denny sebagai aset perusahaan."
"Nama saya bukan barang yang boleh dikorbankan," jawabku. "Hubungan saya dengan Denny cuma hubungan kerja. Tim hukum simpan unggahan asli, video, waktu publikasi, dan semua pengulangan tuduhan. Saya akan menempuh tuntutan pencemaran nama baik sesuai saran hukum."
"Kalau kita bicara soal gugatan sekarang, publik akan bilang perusahaan membungkam perempuan yang sedang terluka."
"Pernyataan awal cukup memisahkan fakta dari tuduhan. Gugatan berjalan setelah bukti siap."
Radit mendorong laptopnya ke tengah meja. "Riwayat perjalanan Denny menunjukkan dia tidak pernah memesan tiket yang sama dengan Amara. Pak Wisnu seharusnya memeriksa data sebelum menyuruh korban fitnah diam."
Pak Wisnu menatapnya tajam. "Kamu staf baru. Jangan mengajari saya menangani krisis."
"Kalau krisisnya ditangani dengan mengorbankan Kak Anji, siapa pun boleh mengingatkan."
"Kita juga harus mempertimbangkan Denny," kata Pak Wisnu. "Kalau benar dia meninggalkan tunangannya, pernyataan terlalu keras bisa berbalik."
"Pisahkan dua persoalan," jawab Radit. "Denny bertanggung jawab atas hubungannya. Amara tetap bertanggung jawab atas tuduhan palsu kepada orang ketiga. Kesalahan Denny bukan izin untuk memfitnah Kak Anji."
Aku menatap profilnya. Radit tidak membela Denny dan tidak merendahkan luka Amara. Ia hanya menolak namaku dipakai sebagai sasaran pengganti. Di tengah puluhan orang yang sibuk menghitung risiko merek, satu orang masih melihatku sebagai manusia.
Bu Kanya masuk tepat saat suara mereka meninggi. "Cukup. Pak Wisnu siapkan pernyataan tiga jam. Tim hukum mulai inventarisasi bukti. Semua yang lembur mendapat tambahan upah."
Ia menatap kursi Denny yang kosong. "Ada cara menghubunginya?"
Radit menjawab, "Coba Tante Lily."
Ruangan mendadak hening.
Investor yang meminta makan malam dengan Radit itu ternyata mungkin tahu tempat Denny berada. Bukan Amara.
Bu Kanya mengambil ponsel. "Saya yang menghubungi Tante Lily. Tidak ada yang membocorkan dugaan ini sebelum kami punya fakta."
Hujan memukul jendela ruang rapat. Di layar, jumlah komentar yang menyebutku pelakor terus naik, sementara tim kami baru saja menyalakan mesin perlawanan perusahaan secara resmi.