Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 PASAR MALAM DESA
🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️
🕑🕑🕑🕑🕑🕑🕑
Waktu terus merajut jalannya.
Tiga minggu telah berlalu sejak momen emosional di kala demam itu.
Kondisi Zaki telah pulih sepenuhnya, bahkan kini fisiknya terlihat lebih bugar dan berenergi.
Hatinya yang sedang berbunga-bunga rupanya menjadi obat terbaik bagi kekebalan tubuhnya.
Di desa, hiburan adalah barang mewah yang tak datang setiap hari.
Oleh karena itu, ketika spanduk pengumuman bertuliskan “PASAR MALAM & LAYAR TANCAP: KELILING SEJAHTERA” dibentangkan di lapangan sepak bola desa, antusiasme warga meledak tak terkira.
Acara yang hanya mampir setahun sekali itu menjadi momentum yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Dan bagi Zaki, ini adalah momentum emas yang tak boleh ia lewatkan.
Ini adalah saat yang tepat untuk mengajak Wiwi keluar, bukan sebagai majikan dan anak pekerja kebun, melainkan resmi sebagai seorang laki-laki yang mengajak wanita pujaan hatinya menghabiskan malam bersama.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
Malam itu, setelah menunaikan salat Isya, Zaki telah rapi dan wangi.
Ia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru dongker yang ia setrika hingga garis lipatannya tajam, dipadukan dengan celana chinos warna khaki dan sepatu kets yang dulu sering ia pakai nongkrong di Jakarta. Rambutnya disisir klimis.
Zaki menjemput Wiwi langsung ke rumah Pak Doyo.
Setelah meminta izin secara gentleman kepada pria paruh baya itu—yang tentu saja dijawab dengan senyum penuh arti dan lampu hijau terang benderang—Zaki dan Wiwi pun melangkah berdampingan menuju lapangan desa.
Suasana Pasar Malam sudah luar biasa bising saat mereka tiba.
Deru mesin genset diesel berukuran raksasa beradu dengan dentuman musik dangdut koplo dari pengeras suara yang distorsinya pecah.
Lapangan rumput yang sedikit becek sehabis gerimis sore tadi dipenuhi ratusan manusia yang hilir mudik. Lampu-lampu neon warna-warni yang digantung seadanya memancarkan sinar yang meriah, menerangi wajah-wajah bahagia warga desa.
"Ramai banget ya, Dek. Jangan sampai lepas ya, nanti malah nyasar," Zaki menundukkan kepalanya, setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh Wiwi.
Entah karena terbawa suasana keramaian atau memang sudah diniatkan sebagai modus, Zaki mengulurkan tangannya, menawarkan pegangan.
Wiwi tertegun sejenak.
Gadis itu malam ini tampak luar biasa mempesona.
Ia mengenakan dress panjang sederhana bermotif floral warna pastel dan kerudung pashmina senada. Sedikit sapuan lipstik merah muda menghiasi bibirnya, menunjukkan bahwa ia juga berdandan khusus untuk malam ini.
Dengan wajah yang merona merah menyaingi warna lampu neon di atas mereka, Wiwi menyambut uluran tangan Zaki.
Jari-jari mereka bertaut erat.
Ini adalah pertama kalinya mereka berpegangan tangan secara resmi di tempat umum, di bawah tatapan mata banyak orang.
"Nah, gini kan aman," kekeh Zaki, meremas lembut telapak tangan Wiwi.
Mereka menyusuri lorong-lorong tenda terpal yang menjual berbagai macam barang. Mulai dari pakaian murah, perabotan plastik, hingga mainan anak-anak.
Sesekali, mereka berhenti di stan permainan lempar gelang atau pancing bebek plastik, menertawakan kelucuan anak-anak kecil yang merengek meminta hadiah.
Aroma manis dari gula yang dipanaskan menyerbak tajam. Zaki menarik tangan Wiwi menuju sebuah gerobak.
"Mas, arum manis (rambut nenek) dua ya, yang warna merah," pesan Zaki.
Mereka melanjutkan langkah sambil memakan jajanan manis tersebut.
Di tengah lapangan, menjulang sebuah wahana Bianglala (kincir ria) berukuran sedang dan Ombak Banyu yang berputar kencang mengaduk perut penumpangnya. Namun, daya tarik utama malam itu bukanlah wahana ekstrem tersebut, melainkan sebuah layar kain putih raksasa yang dibentangkan di ujung lapangan.
Layar Tancap.
"Kita nonton aja yuk, Dek? Tuh, kayaknya film komedi legendaris Warkop DKI yang diputar," ajak Zaki menunjuk ke arah kerumunan warga yang sudah duduk lesehan di atas tanah beralaskan tikar plastik maupun daun pisang.
"Ayo, Mas. Ning, mboten gadhah kloso kagem lungguh," (Ayo, Mas. Tapi, tidak punya tikar untuk duduk) ujar Wiwi ragu menatap rumput yang sedikit becek.
"Tenang, Mas Zaki selalu siap sedia," pamer Zaki seraya mengeluarkan selembar terpal plastik kecil dari dalam kantong kresek hitam yang ia bawa sejak tadi, lalu membentangkannya di sela-sela kerumunan warga yang fokus menatap layar.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas terpal tersebut.
Jarak mereka sangat dekat, hingga bahu Zaki sesekali bersentuhan dengan lengan Wiwi setiap kali pemuda itu tertawa melihat adegan lucu Dono, Kasino, dan Indro, di layar raksasa yang gambarnya sesekali terputus bergaris-garis itu.
Namun, alih-alih fokus pada jalan cerita film komedi di depannya, fokus Zaki terus-menerus teralih pada sosok di sampingnya.
Di bawah cahaya pendaran proyektor yang menyorot ke layar, Zaki bisa melihat wajah Wiwi dari samping.
Gadis itu tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Matanya berbinar memantulkan cahaya dari layar. Ia terlihat sangat bahagia dengan hal yang begitu sederhana.
Zaki menarik napas dalam-dalam.
Gemuruh suara genset, tawa penonton, dan alunan musik dangdut di kejauhan seolah mereda, menjadi latar belakang dari kedamaian batinnya.
Ia membandingkan momen ini dengan kehidupannya dulu.
Dulu, ia menghabiskan malam-malam di Jakarta dengan perasaan was-was, diganggu ketindihan, atau mendengarkan bisikan gaib Sekar Mayang yang meramal masa depannya.
Dulu, ia terus dibayang-bayangi oleh misteri dan konflik dimensi astral yang selalu mengintai kapan pun dan di mana pun.
Tapi malam ini...
Di tengah lapangan becek yang bising ini...
Ia hanyalah seorang manusia normal.
Ia duduk di atas terpal murahan, memakan gulali manis, dan memandangi tawa perempuan yang ia cintai.
Tidak ada yang mistis. Tidak ada yang mencekam.
Murni hanya hiruk-pikuk kehidupan manusia yang sederhana namun penuh warna.
Zaki secara perlahan menggeser tangannya di atas terpal, lalu kembali menautkan jemarinya pada jemari Wiwi.
Wiwi tak menoleh, namun gadis itu merespons dengan membalas genggaman Zaki sama eratnya, membiarkan kehangatan mengalir di antara mereka. Tawa Wiwi tak terhenti, justru senyumnya kian mengembang.
Zaki menatap langit malam yang bersih di atas lapangan desa.
Hatinya bersyukur tak henti-henti.
"Inilah kebahagiaan yang selama ini kucari. Kehidupan normal, menjadi manusia seutuhnya, tanpa gangguan dari dunia yang tak kasat mata," batin Zaki, memantapkan hatinya bahwa keputusannya kembali ke desa adalah takdir terbaik yang tak akan pernah ia sesali.
Nggak aneh ya klo harumi Nggak percaya, kna dari kecil dia nggak kek haruma yg pernah ngerasain hal mistis. dari haruma jadi tangan nyari tumbal untuk ortunya, trs yg di pondok sampe jadi anak angkat nisa.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull