Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Kita Daftar di Singapura
"Coba yang ini."
Nathan menyelipkan cincin berlian tipis ke jari Karina.
"Kita datang untuk makan siang," protes Karina.
"Toko perhiasannya kebetulan sebelah restoran."
"Dan kebetulan kamu sudah membuat janji?"
Pegawai butik menahan senyum. Di atas meja beludru ada sepasang cincin model rantai ular bertabur berlian dan gelang emas mawar.
"Aku cuma menyiapkan pilihan," kata Nathan.
"Kalimat itu mulai berbahaya."
Karina hendak melepas cincin, tetapi Nathan menahan tangannya. "Pas sekali."
"Terlalu mahal."
"Kamu baru menerima dua miliar."
"Uangmu."
"Uang kita."
Nathan membayar menggunakan kartu lain. Karina sempat melihat lambang perak yang sama dengan kartu hitam di restoran. Pegawai butik langsung berubah lebih hormat setelah mesin menerima transaksi.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Karina saat mereka keluar.
"Calon suamimu."
"Itu bukan jawaban."
"Jawaban lain menyusul."
Mereka berhenti di dealer mobil karena kendaraan lama Nathan mengalami kerusakan setelah dipakai temannya. Nathan memilih mobil sport merah yang terlalu mencolok. Dia meminta dokumen pembelian atas nama Karina dan sengaja memintanya menyerahkan kartu di depan sales.
Tatapan sales berpindah dari Karina ke Nathan, jelas mengira perempuan lebih tua sedang membelikan mobil untuk kekasih muda.
"Masnya beruntung," kata sales.
Nathan merangkul bahu Karina. "Istri saya memang suka memanjakan."
Karina mencubit pinggangnya. "Bayar sendiri."
Nathan tertawa dan menyelesaikan transaksi. Di perjalanan pulang, dia menjelaskan rencana Singapura dengan lebih serius.
"Jerry sudah mengecek dokumen. Setelah putusan final dan dokumen sipil lengkap, kita bisa daftar. Aku punya domisili dan jaringan di sana."
"Aku tidak mau menikah diam-diam hanya karena hamil."
"Kita bukan bersembunyi selamanya. Kita sah dulu, lalu memberi tahu keluarga setelah dokter bilang aman. Pemberkatan dan resepsi tetap diadakan nanti."
Nathan menunjukkan berkas dari Jerry. Tidak ada jalan pintas ilegal. Putusan cerai harus final, identitas dan status sipil diperiksa, lalu perkawinan luar negeri dicatat kembali sesuai prosedur ketika mereka pulang. Nathan yang berusia dua puluh sudah melewati batas usia pernikahan.
"Aku nggak akan membawamu ke negara lain dan menyuruhmu tanda tangan kertas yang tidak kamu pahami," katanya. "Kamu boleh meminta pengacaramu memeriksa semuanya."
Karina membaca daftar dokumen dua kali. "Kamu sudah memikirkan pencatatan di Indonesia?"
"Jerry bekerja dengan konsultan. Setelah itu kita urus Dukcapil dan pemberkatan saat dokter mengizinkan."
"Keluarga kita beragama berbeda gereja."
"Kita bicara dengan gereja, bukan mengarang upacara sendiri."
Rencana itu tetap nekat, tetapi bukan tanpa dasar. Nathan memahami bahwa anak-anak mereka membutuhkan perlindungan hukum, bukan sekadar janji lisan.
"Kenapa harus secepat itu?"
"Karena aku ingin namaku ada di sebelahmu saat anak-anak lahir. Karena ayahku di Singapura bisa mengacaukan rencana kalau tahu terlalu cepat. Karena aku nggak mau Andri menggunakan statusmu untuk mengganggu."
Karina menatap cincin di jarinya. "Kamu takut keluargamu menolak."
"Aku takut mereka menyakitimu sebelum sempat mengenalmu."
Di apartemen, Nathan menelepon Jerry dari balkon. Karina menyiapkan teh di dekat pintu yang terbuka.
"Dokumen dikirim malam ini," kata Nathan dalam bahasa Indonesia bercampur istilah Inggris. "Book slot paling cepat. Jangan sampai keluarga tahu."
Suara lelaki di seberang terdengar samar. "Baik, Aries."
Karina berhenti menuang air.
Aries.
Nathan menutup telepon dan mendapati tatapannya. "Kenapa?"
"Dia memanggilmu Aries."
"Nama di Singapura."
"Berapa banyak nama yang kamu punya?"
"Dua. Nathan di sini. Aries untuk urusan keluarga ayahku."
"Dan nama mana yang akan tertulis di dokumen pernikahan?"
Nathan mendekat. "Nama yang sah. Aries Mah. Tapi lelaki yang menikahimu tetap aku."
Karina memegang gagang cangkir. Setiap jawaban Nathan membuka pertanyaan baru.
Mereka duduk di balkon kecil. Nathan memasangkan gelang emas mawar di pergelangan Karina, lalu mengunci pengaitnya.
"Ini bukan mahar," kata Karina.
"Aku tahu. Kita bukan memakai tata cara itu. Ini hadiah karena kamu akhirnya bebas."
"Hadiah kebebasan berupa ajakan menikah lagi?"
"Ironis sedikit."
Karina tertawa pelan. Dari lantai enam, suara lalu lintas terdengar seperti dengung jauh. Nathan meletakkan tangan di perutnya, menunggu izin sebelum menyentuh.
"Kalau aku bilang belum siap?"
"Aku tunggu."
"Kalau keluargamu membekukan rekening lagi?"
"Aku bekerja."
"Kalau mereka membenciku?"
"Aku berdiri di pihakmu."
Jawabannya selalu datang terlalu cepat, seolah Nathan tidak mengenal ragu. Karina yang sudah pernah percaya pada janji justru membawa cukup keraguan untuk mereka berdua.
"Aku mau pengacaraku membaca berkas," katanya.
Nathan tersenyum. "Itu belum iya, tapi juga bukan tidak."
"Jangan besar kepala."
"Sulit. Cincinnya masih kamu pakai."
"Mah siapa?"
"Keluarga ayahku. Nanti aku jelaskan."
"Sebelum atau sesudah aku tanda tangan?"
"Sebelum. Aku janji."
Nathan mengaitkan jarinya dengan jari Karina. Cincin mereka berkilau berdampingan.
"Kita daftar di Singapura," katanya. "Bukan karena terpaksa. Karena aku memilihmu, dan kamu akan punya waktu memilihku juga."
Karina tidak mengatakan iya. Dia juga tidak melepas cincin.
Di layar ponsel Nathan, pesan Jerry masuk.
Slot tersedia. Dokumen atas nama Aries Mah siap diproses.
Karina membaca nama itu lama. Nathan Hartawan adalah mahasiswa berambut abu-abu yang menggodanya di Jakarta. Aries Mah terdengar seperti seseorang dari dunia lain. Jika dia menerima rencana ini, Karina tidak hanya menikahi seorang brondong, tetapi juga rahasia yang belum selesai dibuka.
Jarinya menyentuh cincin baru.
Dia masih tidak melepasnya sampai malam tiba.