NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. JEJAK DALAM KEGELAPAN

Malam semakin larut ketika Arka, Sara, dan Bastian meninggalkan kantor pemasaran.

Angin berembus melewati barisan tanaman anggur. Daun-daun bergesekan, menghasilkan suara berdesir yang terdengar semakin jelas di tengah kesunyian.

Arka berjalan paling depan sambil membawa senter. Bastian berada di belakangnya, sedangkan Sara berjalan di antara mereka.

“Gudangnya masih jauh?” tanya Bastian.

“Tidak terlalu jauh. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari sini.”

Bastian menghela napas.

“Begitu ya.”

Arka meliriknya.

“Kalau takut, kau boleh kembali, kok~.”

“S-siapa yang takut?”

“Kau terus mengeluh sejak tadi.”

“Aku bukan takut. Aku hanya menyayangkan nasibku. Dulu, waktu SMA, masalah kita paling-paling terlambat mengumpulkan tugas. Sekarang aku malah berurusan dengan kasus seperti ini.”

Sara tertawa kecil.

Arka menggeleng.

“Bisa tidak kau serius sebentar?”

“Aku serius. Aku sedang berusaha menjaga suasana hati kita agar tidak mati sebelum sampai di gudang.”

Sara kembali tertawa, kali ini sedikit lebih lepas.

Arka menoleh kepadanya. Melihat Sara tersenyum di tengah malam yang menegangkan itu membuat ekspresinya melunak.

Namun, senyum tersebut tidak bertahan lama.

Ketika mereka melewati barisan tanaman anggur yang cukup rapat, Sara tiba-tiba berhenti.

“Arka.”

Arka langsung menoleh.

“Ada apa?”

Sara menunjuk ke arah ujung perkebunan.

“Tadi... aku melihat seseorang.”

Bastian segera mematikan senter yang diarahkan ke tanah dan mengangkatnya ke arah yang ditunjuk Sara.

“Di mana?”

“Di dekat pohon itu.”

Cahaya senter menyapu deretan tanaman anggur, batang-batang pohon, dan pagar kayu yang membatasi perkebunan.

Tidak ada siapa-siapa.

Sara mengerutkan kening.

“Tadi benar-benar ada seseorang di sana.”

Arka berjalan mendekati Sara.

“Kau yakin?”

Sara mengangguk.

“Aku melihat bayangannya. Sepertinya dia sedang berdiri dan memperhatikan kita.”

Bastian mengamati sekeliling.

“Lalu menghilang begitu saja?”

“Aku tidak tahu. Ketika aku melihatnya lagi, dia sudah tidak ada.”

Bastian tidak langsung menjawab.

Ia berjongkok, menyorot tanah di sekitar mereka, lalu memeriksa jalan setapak yang mengarah ke pagar.

“Tidak ada yang bisa kupastikan dari sini,” katanya. “Tapi setelah kejadian yang kualami tadi, sebaiknya kita menganggap kemungkinan bahwa seseorang sedang mengikuti kita sebagai sesuatu yang serius.”

Arka menatap ujung perkebunan.

“Kita tidak sendirian malam ini.”

“Belum tentu,” jawab Bastian. “Jangan menyimpulkan terlalu cepat. Kita periksa gudangnya, tetapi tetap berdekatan. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, kita mundur dan meminta bantuan.”

Arka mengangguk.

Mereka kembali berjalan.

Namun kali ini, Sara terus menoleh ke belakang.

Beberapa menit kemudian, bangunan tua itu mulai terlihat.

Gudang tersebut berdiri agak jauh dari bangunan utama perkebunan. Dindingnya terbuat dari bata yang sebagian sudah menghitam, sementara atap sengnya tampak berkarat. Pintu kayunya tertutup rapat dengan rantai yang melilit kedua gagangnya.

Arka berhenti di depan pintu.

“Kita sampai.”

Bastian mengamati bangunan itu.

“Kau yakin tidak ada orang yang bekerja di sini?”

“Setahuku, sudah lama tidak digunakan.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar dua tahun.”

Bastian menoleh cepat.

“Dua tahun?”

Arka mengangguk.

“Dulu gudang ini digunakan untuk menyimpan peralatan perkebunan dan peti-peti hasil panen. Setelah kami membangun tempat penyimpanan baru, gudang ini tidak lagi dipakai.”

“Siapa yang memegang kuncinya?”

“Aku.”

Arka merogoh sakunya, lalu mengeluarkan gantungan kunci.

Sebelum membuka pintu, ia menatap Bastian.

“Kalau benar ada orang yang menggunakan tempat ini untuk menyembunyikan sesuatu, berarti mereka masuk tanpa sepengetahuanku.”

“Atau seseorang memberinya akses,” jawab Bastian.

Arka terdiam.

Jawaban itu membuatnya mengingat percakapan antara ayah dan Phat yang belum sepenuhnya ia pahami.

Ia memasukkan kunci ke lubang gembok.

Klik.

Rantai terlepas.

Arka mendorong pintu.

Suara kayu berderit panjang memecah kesunyian.

Bau debu dan kayu lembap langsung menyambut mereka.

Bastian mengangkat senternya.

“Baiklah. Mari kita lihat apa yang disimpan di tempat ini.”

Bagian dalam gudang jauh lebih luas daripada yang Sara bayangkan.

Beberapa rak kayu berdiri di sepanjang dinding. Peti-peti kosong menumpuk di sudut ruangan, sementara sebuah meja tua terletak di dekat jendela yang ditutupi papan.

Debu menutupi hampir seluruh permukaan benda.

Arka mengarahkan senter ke sekeliling.

“Seperti yang kubilang. Tempat ini sudah lama tidak digunakan.”

Bastian tidak menjawab.

Ia sedang memperhatikan lantai di dekat salah satu rak.

“Aneh.”

Arka menghampirinya.

“Apa?”

Bastian menunjuk lantai.

“Debunya tidak merata.”

Arka berjongkok.

Benar saja. Sebagian lantai tertutup debu tebal, tetapi di dekat rak tersebut terdapat beberapa bekas gesekan yang terlihat lebih baru.

Seolah-olah sebuah peti berat baru saja dipindahkan.

Sara mendekat.

“Menurut kalian, ada seseorang yang datang ke sini?”

“Mungkin,” jawab Bastian. “Tapi kita belum tahu kapan.”

Arka mengarahkan senternya ke rak.

Di balik beberapa peti, ia menemukan sebuah kotak logam kecil.

Kotak itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat berbeda dari peralatan lama di sekitarnya. Permukaannya relatif bersih, seolah baru saja disentuh.

Arka mencoba membukanya.

Terkunci.

“Bastian.”

Bastian menghampiri dan memeriksa kotak tersebut.

“Jangan dipaksa. Kita tidak tahu apa isinya.”

Ia memotret kotak itu dengan ponselnya, lalu memeriksa bagian luarnya.

Di salah satu sisi terdapat sebuah label kecil yang hampir terkelupas.

Sara mendekatkan senter.

Ada tulisan di sana.

SAGARA — 15.

Mereka bertiga terdiam.

Arka merasakan tengkuknya menegang.

Sara menutup mulutnya.

“Arka...”

“Aku melihatnya.”

Bastian tidak lagi tersenyum.

Ia memotret label tersebut dari beberapa sudut.

“Jangan sentuh apa pun lagi sebelum kita mendokumentasikannya.”

Arka menatap kotak logam itu.

“Apakah ini berarti mereka pernah menyimpan barang milik orang-orang yang hilang di sini?”

“Belum tentu,” jawab Bastian. “Tapi tulisan ini cukup penting untuk diselidiki.”

Arka mengepalkan tangannya.

Semakin jauh ia mencari jawaban, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Dan semua petunjuk itu seolah terus membawanya kembali kepada keluarganya sendiri.

Ketika Bastian sedang memeriksa sisi lain gudang, Sara berdiri di dekat Arka.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Arka tidak segera menjawab.

Ia masih menatap tulisan pada kotak logam tersebut.

“Aku tidak tahu harus memikirkan apa lagi.”

Sara menunduk.

“Aku tahu ini pasti sulit bagimu.”

Arka tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan dalam suaranya.

“Sulit? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih mengenal keluargaku sendiri.”

Sara terdiam.

Arka menatapnya.

“Kalau semua ini benar, bagaimana aku harus pulang dan duduk makan bersama mereka seolah tidak ada apa-apa?”

Suaranya semakin pelan.

“Bagaimana aku harus memandang ayahku? Bagaimana aku harus memperlakukan kak Phat?”

Sara merasakan dadanya sesak melihat Arka yang biasanya terlihat begitu tenang kini tampak kehilangan arah.

Ia ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik.

Namun tidak ada kata-kata yang terasa cukup.

Akhirnya, Sara menyentuh tangan Arka.

“Arka.”

Arka menoleh.

“Kau tidak harus menemukan semua jawabannya malam ini.”

Sara menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

“Aku tahu kau ingin memahami semuanya. Tapi jangan sampai kau menghancurkan dirimu sendiri karena berusaha mencari tahu apa yang dilakukan orang lain.”

Arka memandangi tangan mereka.

Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian ia bertanya lirih, “Kalau ternyata semua yang kutakutkan benar, apa kau masih akan berada di sisiku?”

Sara terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ada kesedihan yang begitu dalam di baliknya.

Ia tahu Arka tidak sedang bertanya tentang kasus ini semata.

Arka sedang bertanya apakah masih ada seseorang yang akan tetap mempercayainya ketika seluruh dunianya runtuh.

Sara menatap matanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan kita temukan nanti.”

Ia menarik napas pelan.

“Tapi aku tahu satu hal. Aku tidak akan menyalahkanmu hanya karena kesalahan yang mungkin dilakukan keluargamu.”

Arka menunduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan dirinya terlihat rapuh di hadapan Sara.

“Terima kasih,” bisiknya.

Sara tersenyum tipis, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.

“Tidak perlu berterima kasih.”

Arka perlahan membalas genggamannya.

Sesaat, mereka berdiri begitu dekat hingga Sara dapat mendengar napas Arka yang mulai teratur kembali.

Arka ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun sebelum ia sempat membuka mulut—

“Maaf mengganggu adegan mengharukan kalian.”

Suara Bastian terdengar dari belakang.

Arka dan Sara langsung melepaskan tangan masing-masing.

“Bastian!” seru Sara, wajahnya memerah.

Bastian mengangkat kedua tangannya.

“Apa? Aku bahkan sudah berusaha tidak mengganggu selama hampir satu menit.”

Arka menatapnya tajam.

“Kau tidak bisa diam sedikit saja?”

“Bisa. Tapi hidupku akan membosankan.”

Sara menutupi wajahnya dengan satu tangan.

Bastian tertawa kecil, tetapi kemudian ekspresinya kembali serius.

“Aku menemukan sesuatu yang harus kalian lihat.”

Arka segera menghampirinya.

“Apa?”

Bastian menunjuk ke arah bagian belakang gudang.

Di sana terdapat sebuah pintu sempit yang hampir tertutup tumpukan peti. Berbeda dengan pintu utama, bagian gagangnya tampak jauh lebih bersih.

“Pintu ini baru saja digunakan,” kata Bastian.

Arka mendekat.

Di lantai dekat pintu, mereka melihat jejak sepatu yang masih cukup jelas di antara debu.

Jejak itu mengarah ke pintu tersebut.

Namun yang membuat Sara merinding adalah sesuatu yang terlihat di dekat ambang pintu.

Seutas benang hitam tersangkut pada serpihan kayu.

Sara menatapnya lekat-lekat.

“Arka...”

“Ada apa?”

Sara menunjuk benang tersebut.

“Jaket orang yang tadi kulihat di perkebunan... warnanya hitam.”

Bastian dan Arka saling berpandangan.

Benang itu belum membuktikan apa pun.

Tetapi jika Sara benar-benar melihat seseorang mengawasi mereka, kemungkinan orang tersebut telah mendekati gudang ini menjadi semakin sulit diabaikan.

Bastian mengeluarkan ponselnya.

“Kita foto semua ini. Setelah itu, kita keluar dan meminta bantuan untuk memeriksa tempat ini dengan benar.”

Arka menatap pintu sempit tersebut.

Ada sesuatu di baliknya.

Ia bisa merasakannya.

Namun sebelum mereka sempat mendekat, terdengar suara dari luar gudang.

Duk.

Ketiganya langsung membeku.

Kemudian terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu berhenti tepat di depan pintu utama.

Sara refleks meraih lengan Arka.

Arka berdiri di depannya, sementara Bastian mematikan senternya.

Gudang itu tenggelam dalam kegelapan.

Sebuah bayangan melintas di celah bawah pintu.

Lalu terdengar suara seseorang berbisik dari luar.

“Mereka sudah menemukan kotaknya.”

Sara menahan napas.

Arka mengepalkan tangan.

Dan Bastian, yang sejak tadi selalu punya lelucon untuk setiap keadaan, akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

Karena sesaat kemudian—

gagang pintu utama mulai bergerak perlahan.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!