Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Rukmini duduk di lantai rumahnya yang berantakan, bahu terguncang karena isak tangis yang tak kunjung berhenti. Di sampingnya, Sonya memeluk lututnya, wajah basah oleh air mata. Di luar rumah, sirene mobil polisi sudah lama menghilang, tapi bayangan Lukman yang diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil tahanan masih jelas terpatri di mata mereka.
Lukman, putra kesayangannya baru saja ditangkap, akibat ulah menantunya sendiri. Tuduhan tindak penganiayaan sudah cukup untuk membuat polisi datang tanpa basabasi. Tetangganya berkumpul di pagar, berbisik-bisik, sementara di dalam rumah hanya terdengar suara tangisan dan napas putus-putus.
“Bagaimana ini, Bu? Kasihan Janu kalau ayahnya di penjara,” tanyanya, suaranya bergetar. “Anak ini masih kecil. Kalau Lukman masuk penjara, siapa yang akan menafkahi kami? Siapa yang akan menjaga kami di sini?” tanya Sonya. Padahal selama beberapa bulan ini Rian lah yang menafkahi mereka semua. Karena hingga saat ini Rian masih belum kerja.
Rukmini mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam yang penuh amarah dan tekad. Napasnya masih tersengal, tapi di matanya sudah tidak ada lagi rasa takut, hanya dendam yang membara.
“Ibu akan ke Jakarta menemui perempuan biadab itu,” putus Rukmini tegas. Suaranya rendah tapi penuh kebencian. “Mia. Perempuan kurang ajar itu. Dia yang menyebabkan semua ini. Dia yang melaporkan Lukman. Ibu tidak akan tinggal diam.”
Sonya mengangkat wajah, mata sembabnya membelalak. “Bu, Ibu mau ke Jakarta? Sendirian?” tanyanya cemas.
“Iya, Ibu akan temui dia. Ibu akan paksa dia mencabut laporan. Kalau perlu, Ibu akan berlutut di depan rumah orang tuanya. Tapi anak Ibu harus bebas.” jawab Rukmini tanpa ragu.
Ia melihat ponselnya yang berada di genggamannya. Layar sudah penuh dengan riwayat panggilan ke nomor Rian. Sudah berkali-kali ia menghubungi putra sulungnya sejak siang tadi. Sudah berkali-kali nada dering berbunyi, lalu masuk ke kotak suara. Pesan singkat yang ia kirim juga hanya berstatus terkirim, tanpa balasan.
“Rian enggan menolong adiknya,” gumam Rukmini pahit. “Anak Ibu sendiri. Sudah Ibu besarkan dengan susah payah, sekarang dia memilih diam. Memilih membela istrinya daripada saudara kandungnya. Dasar anak durhaka.”
Sonya menunduk, mengelus rambut Janu yang basah oleh keringat. “Kak Rian mungkin takut, Bu. Atau mungkin dia masih marah sama Lukman.”
“Takut?” Rukmini tertawa sinis. “Dia lebih takut kehilangan istrinya daripada melihat adiknya dipenjara. Ibu sudah lihat sendiri bagaimana dia selalu mengalah pada Mia. Sekarang akibatnya begini. Lukman ditangkap, kami ditinggal sendirian di kampung.”
Ia duduk kembali di kursi kayu, tangannya mengepal di atas lutut. Di kepalanya, rencana sudah mulai tersusun. Ia akan jual sedikit perhiasan yang masih tersisa. Ia akan naik bus ke Jakarta. Ia akan cari tahu alamat rumah orang tua Mia. Dan ia akan menemui Mia langsung.
“Ibu tidak peduli kalau harus mengemis,” lanjut Rukmini, suaranya bergetar karena emosi. “Ibu tidak peduli dipermalukan. Yang penting Lukman keluar dari tahanan. Janu tidak boleh tumbuh tanpa ayah. Sonya tidak boleh menjadi janda muda hanya karena ulah menantu biadab itu.”
Sonya terisak lagi. “Bu… kalau Kak Rian tetap tidak mau bantu, bagaimana?" tanya Sonya.
Rukmini menatap menantunya tajam. “Kalau Rian tetap diam, maka Ibu yang akan bertindak. Ibu sudah tua, tapi Ibu masih punya nyali. Ibu akan buat Mia menyesal sudah melaporkan anak Ibu.” jawabnya tegas.
Malam semakin larut. Lampu teras yang redup menerangi wajah Rukmini yang penuh tekad. Di dalam rumah, Janu menggeliat dalam tidur, tidak tahu bahwa ayahnya sedang berada di tahanan, dan neneknya sedang merencanakan perjalanan jauh untuk menghadapi wanita yang mereka tuduh sebagai biang kerok semua masalah.
Rukmini berdiri lagi. Ia masuk ke kamar, membuka lemari lama, dan mengeluarkan beberapa helai pakaian serta satu tas kecil. Ia juga mengambil kalung emas tipis yang masih tersisa, satu-satunya harta yang belum dijual.
“Besok pagi Ibu berangkat,” katanya kepada Sonya yang mengikuti dari belakang. “Kamu jaga Janu di sini. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Kalau ada tetangga yang bertanya, bilang saja Ibu pergi ke kota untuk urusan keluarga.”
Sonya mengangguk lemah, masih menangis. “Hati-hati, bu. Jangan lupa kabari aku”
Rukmini menoleh, tatapannya keras. “Ibu akan baik-baik saja. Yang harus takut adalah perempuan itu.”
Di luar, angin berhembus kencang, menggoyangkan daun-daun pisang di halaman. Rukmini berdiri di ambang pintu, menatap kegelapan kampung yang sunyi. Di kejauhan, suara jangkrik terdengar, seolah mengiringi keputusan yang baru saja ia ambil.
Ia sudah berkali-kali menelepon Rian. Tidak ada jawaban. Tidak ada bantuan. Anak sulungnya memilih diam, memilih menjaga jarak, memilih tidak membela adiknya.
Maka Rukmini akan bertindak sendiri.
Perjalanan ke Jakarta akan ia tempuh. Perempuan yang ia sebut biadab akan ia temui. Dan ia bersumpah, ia tidak akan pulang sebelum Lukman bebas.
Tangisan Sonya masih terdengar di belakang. Tapi Rukmini tidak lagi menangis. Air matanya sudah kering, digantikan oleh amarah yang membara dan tekad yang tidak bisa digoyahkan.
Hari ini, di kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang ibu memutuskan untuk berperang.
Bukan dengan senjata, melainkan dengan dendam yang sudah terlalu lama dipendam.
*
*
Setelah menunggu beberapa saat, bus yang akan membawanya ke Jakarta akhirnya tiba. Rukmini naik, mencari tempat duduk dekat jendela, lalu meletakkan tasnya di atas pangkuannya.
Perlahan bus mulai bergerak meninggalkan terminal. Rukmini menatap keluar jendela, melihat rumah-rumah dan pepohonan perlahan menjauh.
“Bertahanlah, Nak. Ibu akan berusaha mengeluarkanmu,” gumamnya lirih.
Sesekali ia mencoba menghubungi Rian, tetapi panggilannya kembali tidak dijawab. Wajahnya langsung berubah kesal.
Dia mengirim pesan singkat ke Rian.
"Nanti sore jemput ibu di terminal. Ibu ke Jakarta mau menemui Mia"
Berjam-jam kemudian, bus memasuki jalan tol menuju ibu kota. Rukmini merapatkan jaketnya, lalu memejamkan mata sejenak.
Ia belum tahu bagaimana cara menghadapi Mia dan keluarganya. Namun, satu hal sudah tertanam kuat dalam pikirannya, setibanya di Jakarta, ia akan langsung mencari alamat rumah orang tua Mia.
Menjelang sore, bus akhirnya tiba di terminal Jakarta. Rukmini turun dengan tubuh pegal setelah perjalanan panjang. Ia mengambil tasnya, lalu mengeluarkan secarik kertas berisi alamat rumah orang tua Mia.
“Perempuan itu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Lukman,” gumamnya penuh amarah.
Ia kemudian mencari keberadaan Rian. Putra sulungnya sudah berjanji akan menjemputnya.
Rukmini terus membayangkan pertemuannya dengan Mia. Ia bertekad memaksa menantunya itu mencabut laporannya, tanpa memedulikan apa pun yang akan terjadi.