NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xavier

Annastasia mengamatiku sejenak sebelum binar lembut rasa geli memenuhi matanya. “Xavier Romanov, apakah kamu… cemburu?”

Geraman halus bergema di dadaku. “Itu hal paling konyol yang pernah kudengar.”

“Mungkin saja.” Annastasia memiringkan kepalanya, rambutnya terurai di bahunya bagaikan awan sutra sehitam gagak. “Aku tidak akan menyalahkanmu kalau kamu memang cemburu. Tidak ada apa-apa antara aku dan Vann, tapi dia cukup tampan. Dan aksen nya. Ada sesuatu tentang aksen Inggris yang benar-benar memikat buatku. Aku menyalahkan…”

Annastasia terhenti saat aku mendorong tubuhku dari dinding dan berjalan mendekatinya, langkahku pelan dan penuh perhitungan.

“.....Obsesiku pada…”

Dia beringsut mundur, binar godaan di matanya berganti dengan rasa gentar sekaligus antisipasi yang sama besarnya.

“.......Pride and Prejudice saat aku masih remaja,” lanjutnya terengah-engah.

Punggung Annastasia menabrak salah satu rak buku. Aku berhenti hanya berjarak setipis rambut darinya, begitu dekat hingga manik-manik gaunnya menyapu bagian depan jasku.

“Apakah kamu sedang memancingku, mia cara?” Sebuah nada berbahaya menyelinap di balik pertanyaan lembut itu.

Aku benci mendengar nama Vann di lidahnya.

Aku benci caranya tertawa begitu lepas di hadapan pria itu.

Dan aku benci betapa aku sangat peduli pada kedua hal tersebut.

Tenggorokan Annastasia naik turun saat dia menelan ludah. “Hanya untuk mengamati.”

Keheningan perpustakaan yang syahdu mendadak retak di bawah beban ketegangan yang kian membuncah. Ketegangan itu mendesis dan memercikkan kilatan listrik, menyusur turun di sepanjang tulang belakangku dan membakar darahku.

Aku menyelipkan sehelai rambut yang terlepas ke belakang telinganya, gerakan yang lembut, hampir terasa penuh kasih sayang, sebelum tanganku mengusap sisi lehernya dan melingkar di tengkuknya.

“Kamu lupa.” Aku menekan jari-jariku di tengkuknya, memaksanya untuk mendongak menatapku. “Kamu itu tunanganku. Bukan tunangan Vann. Bukan tunangan siapa pun. Aku tidak peduli seberapa tampannya mereka atau aksen apa yang mereka miliki. Kamu milikku, dan tidak ada seorang pun…” Aku menundukkan kepalaku, bibirku menyapu bibirnya di setiap kata. “…yang boleh menyentuh milikku.”

Napas Annastasia menjadi dangkal, tetapi percikan keberanian kembali hadir dalam suaranya saat dia berbicara lagi. “Aku bukan milikmu. Pertunangan kita ini, seperti yang sudah sering kamu katakan padaku, hanyalah urusan bisnis. Atau justru kamu yang lupa?”

“Aku tidak melupakan apa pun.” Aku mengusapkan buku-buku jariku menaiki pah4nya yang polos, inci demi inci, hingga menyentuh kelim gaunnya.

Tubuhnya menegang, hawa panasnya menjadi godaan liar yang meresap hingga ke tulang-tulangku dan mendesakku untuk mengikis sisa jarak yang sangat tipis di antara kami. Untuk melumat mulutnya dengan mulutku dan mengacak-acak lipstik sempurnanya hingga tak ada seorang pun yang meragukan walau sesaat siapa pemiliknya yang sebenarnya.

“Jika kamu ingin aku berhenti, katakan saja.” Aku menyelipkan kakiku di antara kedua lututnya, mendorongnya agar terbuka.

Annastasia membuka mulutnya, lalu mengatupkannya kembali saat ibu jariku mengusap membentuk lingkaran kecil di atas kulit lembutnya. Rona merah di pipinya menjalar hingga ke leher dan dadanya.

“Katakan.” Aku menyusurkan jari-jariku menaiki paha bagian dalamnya dalam belaian yang santai. Celanaku terasa makin sesak karena organ int1mku menegang kencang, memohon perhatian, tetapi aku mengabaikannya.

“Kamu tidak bisa mengatakannya, kan?” ejekku.

Giginya menancap di bibir bawahnya. H4srat dan perlawanan bertarung sengit di matanya. “Kamu benar-benar pria brengsek.”

Jari-jariku menyentuh kain sutra yang sudah sangat basah. Dia mencengkeram bahuku, kuku-kukunya menancap di punggungku saat aku menggeser pakaian dal4mnya ke samping dan menggosokkan ibu jariku di atas kl1torisnya yang membengkak.

Tubuhnya tersentak. Getaran-getaran kecil merambat di sekujur tubuhnya selagi giginya menggigit bibirnya lebih dalam.

“Aku memang pria brengsek, tapi kamu sampai basah kuyup di tanganku,” Aku mempertahankan ibu jariku di atas kl1torisnya selagi menyelipkan satu jari ke dalam dirinya. “Apa artinya itu tentang dirimu?”

Aku menyelipkan jari kedua ke dalam, mengisinya. Meregangkannya. Mengusap dan memutar hingga aku menyentuh titik terpeka miliknya.

Getaran-getaran itu berubah menjadi sentakan di sekujur tubuhnya. Keringat membasahi dahinya, tetapi dia tetap bergeming dalam keheningan yang keras kepala.

“Jawab aku.” Suara perintahku mengeras seperti baja. Annastasia menggelengkan kepalanya.

“Jika kamu tidak mau mengatakannya, aku yang akan mengatakannya.” Aku menarik kedua jariku perlahan, lalu menghujamkannya kembali ke dalam dirinya. “Artinya kamu milikku. Puoi negarlo quanto vuoi, ma è la verità."

“Kamu bahkan tidak menyukaiku,” des4hnya terengah-engah.

“Rasa suka tidak ada hubungannya dengan ini.”

Aku menekan pangkal telapak tanganku pada kl1torisnya hingga sebuah lenguhan pasrah terlepas dari mulutnya. Tubuhnya menggeletar melawan tanganku, memaksaku merasuk lebih dalam.

“Nah, begitu.” Bisikan lembutku meluncur di antara kami. “Pasrahkan dirimu, sweetheart. Biarkan aku merasakanmu mencapai punc4k di atas tanganku.”

“Sialan kamu.”

Aku terkekeh pelan. “Memang itu tujuannya.”

Annastasia memberikan perlawanan yang gigih, tetapi pertahanannya perlahan meleleh dan dia mencengkeram bahuku lebih erat, bergesek tanpa rasa malu pada tanganku selagi aku mempercepat temponya. Lenguhan kecil dan helaan napasnya menyatu dengan suara basah dari jari-jariku yang bermain di kew4nit4annya, dan tak lama kemudian, jari-jariku sudah basah kuyup oleh cairannya.

Aku tidak menyentuh milikku sendiri meskipun rasanya sudah sangat tegang hingga sakit. Aku terlalu terpesona oleh pemandangan gai1rah Annastasia, pipi yang merona, bibir yang sedikit terbuka, dan mata yang tertutup sayu.

Itu adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat.

Iramaku terus berlanjut. Keluar dan masuk, makin cepat dan makin dalam, hingga akhirnya dia benar-benar pecah dalam satu jeritan tajam.

Aku mempertahankan jari-jariku di dalam dirinya dan kembali menekan ibu jariku ke kl1torisnya, membiarkannya menikmati gelombang org4smenya hingga getaran tubuhnya mereda.

Baru setelah itu aku menarik tanganku saat dia bersandar lemas pada rak buku dengan dada yang naik turun dengan hebat.

“Jangan sampai salah paham, mia cara.” Aku memegang dagunya dan mengarahkannya ke atas. Aku menarik bibir bawahnya ke bawah dengan ibu jariku, membiarkannya mencicipi rasa ga1rahnya sendiri. “Ini adalah urusan bisnis. Dan jika ada satu hal yang kuanggap serius, itu adalah investasiku.”

***

Puoi negarlo quanto vuoi, ma è la verità : Kamu bisa membantahnya sesukamu, tapi itulah kenyataannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!