NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - PERTARUNGAN PERTAMA DI PUNCAK YANG TIDAK BEKU

Puncak Teratai Emas Huashan, hari ke-7 tahun.

Bukan lagi gunung es. Batu hitam hangus bekas tahta Zhuo Wudi 1 tahun lalu kini ditumbuhi tunas teratai emas kecil. 10.000 pendekar di bawah puncak bersorak setelah Mu Chen mengangkat kertas kuning yang dibalik tulisannya: HARI INI, 7 TAHUN KEMUDIAN, MURID SUDAH DATANG. LANGIT... BELUM DITENTUKAN. MARI KITA TENTUKAN BERSAMA.

Tapi sorakan itu perlahan menjadi bisikan. Bisikan 10.000 orang yang menjadi satu pertanyaan yang sama:

"Siapa yang terkuat?"

Di atas puncak, para pendekar yang sedang berbincang-bincang untuk menebak siapakah yang terkuat, mulai berbisik juga, tapi bisikan mereka adalah bisikan bintang.

Li Qingzhou dengan kipas besi: "Mu Chen 18 Tapak sempurna, tapi Duan Lang 5 Pedang Dewa..."

Su Meiyin dengan payung hujan jarum: "Tao Yaoyao Formasi 28 Bakpao, tapi Qin Ruyan darah 9 Yin..."

Xiao Yusheng dengan kuas raksasa Hakim Lukis bahkan melukis di udara papan peringkat baru, tapi papan peringkat itu ia hapus sendiri karena tintanya habis.

Tao Yaoyao yang selalu nakal, yang 28 bakpaonya masih terbang membentuk 28 bintang, malah berteriak paling keras:

"Yang terkuat adalah yang paling banyak bakpaonya! Aku! Aku 28 bakpao!"

Duan Lang mengangkat tangan: "Aku... aku tukar 5 pedang dengan 1 bakpao?"

Semua tertawa, tawa yang membuat tunas teratai emas kecil bergoyang.

Tapi di tengah tawa itu, dari lingkaran 7 Pendekar Jiangnan yang duduk menjaga, maju satu orang.

Bukan Lu Changan. Bukan Ye Liuxiang.

Tiba-tiba Ling Feng maju ke tengah.

Ling Feng, 22 tahun sekarang, murid Wudang, jubah Tao putih-biru, wajah tampan tenang seperti air danau Wudang pagi hari, membawa pedang Taiji 81 kati yang kini dibungkus kain putih, karena 81 kati itu terlalu berat untuk tunas teratai emas yang baru tumbuh.

5 tahun lalu, Ling Feng adalah bocah Wudang yang hanya bisa Zhan Wu Zha — Burung Bangau Terbang — dan kalah dari bayangan Qin Ruyan di Pasar Malam. 3 tahun lalu, ia mengangkat 100 tahu tanpa hancur dengan Taiji. 1 tahun terakhir, setelah Zhuo Wudi mati, ia tidak berkeliling membantu yang lemah seperti Li Changsheng dan Hui Chen, ia hanya kembali ke Wudang, dan di atas Puncak Wudang, ia melakukan satu hal: berdiri dengan satu kaki di atas pedang Taiji 81 kati yang diletakkan di atas air kolam Wudang, selama 1 tahun, tanpa jatuh.

Kini, Taiji Quan, Taiji Jian, Tianti Zhengqi, Taiyi Xuanmen Jian, Shenmen Shisan Jian, hingga Tianditong — Langit Bumi Sama — sudah sempurna di tubuhnya. Bukan sempurna seperti buku, tapi sempurna seperti bernapas.

Ia maju ke tengah batu hitam hangus yang kini menjadi arena, membungkuk, bukan membungkuk pada 7 Pendekar Jiangnan, tapi pada semua yang ada di puncak — Mu Chen, Yang Lie, Shi Potian, Tao Yaoyao, Li Changsheng, Hui Chen, Duan Lang, Ouyang Feng, Qin Ye, Qin Ruyan, dan bahkan pada kertas kuning Hong Wei Jun yang jatuh.

"Ling Feng meminta ajaran dari para pendekar," ujarnya membungkuk, suara pelan tapi 10.000 pendekar di bawah puncak mendengar, karena angin Huashan membawa suara Taiji.

Semua diam. Karena di Wudang, kata "meminta ajaran" bukan tantangan, tapi undangan untuk bertukar Tao.

Tidak ada yang maju dulu, karena semua menghormati Wudang. Mu Chen yang 18 Tapak sempurna ingin maju, tapi Hong Wei Jun menahan bahunya: "Biar yang seumuran."

Yang Lie ingin maju, tapi Zhuo Fan yang baru sembuh menahan: "Kau matahari, dia air, kalian bertabrakan, tunas teratai emas mati."

Sampai...

Shi Potian melangkah mendekati Ling Feng. "Aku ingin mencoba kungfu Wudang," sahutnya.

Shi Potian, 22 tahun, jubah cokelat gunung, yang 5 tahun lalu membawa batu 5.000 kati, 1 tahun lalu meninggalkan batunya di Gunung Jiangnan, kini berjalan layaknya pendekar yang berwibawa, bukan lagi pemuda kecil yang mengikuti 7 Pendekar Jiangnan dulu.

Ia maju ke tengah, berdiri di depan Ling Feng, membungkuk juga, membungkuk gunung pada air.

"5 tahun lalu di Puncak Huashan, aku melihat Kakak Ling Feng dari jauh, Kakak Ling Feng dengan pedang Taiji 81 kati yang berat, aku dengan batu 5.000 kati yang berat. Kita sama-sama membawa berat. Sekarang, aku sudah meninggalkan batuku. Aku ingin tahu, apakah Kakak Ling Feng sudah meninggalkan berat pedang 81 kati itu?"

Ling Feng tersenyum, senyum pertama setelah 1 tahun berdiri di atas pedang di atas air.

"Belum. Tapi hari ini, aku ingin mencobanya."

Mereka berdua mulai bertarung, satu persatu jurus dikeluarkan.

Ling Feng tidak membuka kain putih pembungkus pedang Taiji 81 kati-nya dulu. Ia hanya mengangkat dua tangan kosong, Qi Shi — Awal Taiji.

Shi Potian juga tidak menggunakan jurus gunungnya yang berat. Ia hanya berdiri, kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, Bu Dong Ru Shan — Tidak Bergerak Seperti Gunung — jurus dasar yang 5 tahun lalu ia gunakan untuk membawa batu.

Pertarungan pertama di Puncak Teratai Emas setelah 7 tahun, bukan pertarungan naga dan matahari, tapi pertarungan air dan gunung.

Ling Feng bergerak dulu, telapak tangan kanannya mendorong pelan, Ye Ma Fen Zong — Kuda Liar Membelah Surai — jurus Taiji Quan paling dasar, tapi dari tangannya keluar angin lembut yang membuat 10 tunas teratai emas kecil bergoyang.

Shi Potian tidak menghindar, ia menerima angin itu dengan dada, Gen — Gunung — dari 8 Trigram. Angin lembut itu menghantam dadanya, dan... hilang, seperti angin yang menghantam gunung, tidak ada bekas.

10.000 pendekar di bawah bersorak, karena mereka bisa melihat: air mendorong gunung, gunung tidak bergerak.

Giliran Shi Potian, ia mengangkat tangan kanannya, bukan meninju, tapi mendorong pelan juga, Tui Shan — Mendorong Gunung — jurus yang ia ciptakan sendiri setelah meninggalkan batunya, jurus yang bukan mendorong gunung, tapi menjadi gunung yang mendorong.

Dorongan itu pelan, tapi Ling Feng yang menerima, kaki kirinya mundur setengah langkah, pertama kalinya dalam 1 tahun berdiri di atas pedang di atas air tanpa jatuh, ia mundur setengah langkah.

"Bagus!" seru Ling Feng, matanya berbinar.

Ia membuka kain putih pedang Taiji 81 kati-nya.

81 kati — 40 kilo — pedang Taiji yang berat seperti gunung, pedang yang 5 tahun lalu hanya Zhang Lingyun, Ketua Wudang, yang bisa mengangkat dengan satu tangan.

Ling Feng mengangkatnya dengan satu tangan, ringan seperti mengangkat sumpit.

"Shi Potian, hati-hati, ini Taiyi Xuanmen Jian — Pedang Gerbang Misterius Taiyi!"

Pedang 81 kati itu ditebas, tapi bukan tebasan berat, tebasan ringan, melingkar, seperti lingkaran Taiji. Lingkaran itu semakin besar, menjadi lingkaran air yang terlihat, lingkaran yang mengurung Shi Potian.

Shi Potian yang di dalam lingkaran air itu, merasa tubuhnya yang seberat gunung menjadi ringan, seperti ingin terbang, karena Taiji meminjam kekuatannya sendiri.

Ia tertawa, tawa gunung.

"Bagus! Taiji meminjam kekuatan gunung! Tapi gunung... tidak meminjamkan, gunung memberikan!"

Ia menghentakkan kaki kanannya, Zhen Shan — Menggetarkan Gunung — jurus yang 1 tahun lalu ia gunakan untuk membuat tanah di sekitar Kedai Arak Tiga Musim subur.

BAM!

Lingkaran air Taiji yang mengurungnya retak, bukan karena dipukul, tapi karena gunung di dalamnya terlalu berat, air tidak bisa mengurung gunung lagi.

Ling Feng mundur 3 langkah, pedang 81 kati di tangannya bergetar, pertama kalinya bergetar setelah 1 tahun.

Shi Potian maju 3 langkah, setiap langkahnya membuat batu hitam hangus di bawahnya menjadi lebih keras, seperti diinjak gunung.

Mereka bertarung sengit membuktikan siapa yang lebih hebat.

1 jam. Mereka bertarung 1 jam tanpa berhenti, tanpa menggunakan jurus pamungkas, hanya Taiji Quan melawan Gunung Quan, Taiji Jian melawan Gunung Zhang — telapak gunung.

Satu jam itu, 10.000 pendekar di bawah tidak ada yang berani bersorak lagi, karena mereka melihat sesuatu yang tidak pernah mereka lihat: air dan gunung yang bukan bertarung, tapi bercakap-cakap.

Ling Feng dengan Lan Que Wei — Burung Bangau Putih Membentangkan Sayap — Shi Potian dengan Gu Mu Pan Gen — Pohon Tua Akar Melilit — Ling Feng dengan Shou Hui Pi Pa — Memegang Biola — Shi Potian dengan Pan Shan — Memanjat Gunung.

Setiap jurus Wudang yang dikeluarkan Ling Feng, ada jawaban gunung dari Shi Potian. Setiap jurus gunung yang dikeluarkan Shi Potian, ada jawaban air dari Ling Feng.

Sampai setelah 1 jam, keringat mulai keluar dari dahi Ling Feng, bukan karena lelah, tapi karena ia akhirnya mengerti apa yang dikatakan Zhang Lingyun 1 tahun lalu sebelum ia turun dari Wudang: "Ling Feng, kau sudah sempurna Taiji, tapi Taiji yang sempurna bukan air yang mengurung gunung, tapi air yang menjadi gunung, dan gunung yang menjadi air."

Ling Feng berhenti, menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya, ia mengangkat pedang Taiji 81 kati-nya tinggi-tinggi di atas kepala dengan dua tangan, seperti Yang Lie mengangkat matahari 1 tahun lalu di Lembah Api.

Pedang 81 kati itu... tidak berat lagi. Cahaya putih keluar dari pedang itu, cahaya Taiji yang hitam putih.

"Shi Potian! Terima kasih! 1 tahun aku berdiri di atas pedang di atas air, aku mencari bagaimana membuat pedang 81 kati menjadi ringan. Hari ini, kau yang sudah meninggalkan batu, memberitahuku jawabannya: meninggalkan bukan membuang, tapi... menjadi!"

Setelah 1 jam bertanding, Ling Feng mengeluarkan jurus andalannya dan ujung pedangnya berhenti tepat di leher Shi Potian.

Jurus andalan Wudang yang hanya dikuasai Zhang Sanfeng 100 tahun lalu dan Zhang Lingyun sekarang, jurus yang bahkan Mu Chen dengan Tai Chu pun belum tentu bisa meniru, karena jurus ini bukan jurus, tapi... Tao.

Tianditong — Langit Bumi Sama — jurus terakhir Taiji Jian, jurus di mana pedang tidak lagi pedang, tapi jembatan antara langit dan bumi.

Pedang Taiji 81 kati itu ditebas, bukan ke depan, tapi ke atas, ke langit, lalu... hilang. Tidak ada pedang. Hanya ada lingkaran Taiji hitam putih besar di langit Puncak Teratai Emas, lingkaran yang menutupi 7 bintang Biduk yang muncul siang hari.

Dan dari dalam lingkaran Taiji hitam putih itu, jatuh... satu tetes air. Satu tetes air Wudang yang beratnya 81 kati.

Tetes air itu jatuh pelan, sangat pelan, menuju leher Shi Potian.

Shi Potian yang melihat tetes air 81 kati itu jatuh, tidak menghindar. Ia tersenyum, senyum gunung yang melihat hujan pertama setelah kemarau 1 tahun.

Ia menutup matanya, membuka kedua tangannya, menerima.

Tetes air 81 kati itu jatuh tepat di lehernya, tapi tidak melukai, tidak memotong, hanya... berhenti. Berhenti tepat di kulit lehernya, menjadi pedang Taiji 81 kati yang ujungnya berhenti tepat 1 inci dari kulit.

Ling Feng yang memegang gagang pedang yang tiba-tiba muncul kembali dari tetes air, napasnya terengah, tapi matanya bersinar, karena ia berhasil: membuat 81 kati menjadi 1 tetes air, dan membuat 1 tetes air menjadi 81 kati lagi, dan berhenti tepat sebelum membunuh.

Shi Potian membuka matanya, menatap ujung pedang Taiji 81 kati yang berhenti tepat di lehernya, dan ia tertawa, tawa gunung yang senang diguyur hujan.

"Aku kalah."

Ling Feng menggeleng, menarik pedang Taiji 81 kati-nya, tetes air 81 kati itu kembali menjadi pedang, pedang kembali dibungkus kain putih.

"Tidak, Kakak Shi Potian, kau tidak kalah. Aku yang kalah. Karena jurus Tianditong seharusnya... tetes air itu harusnya berhenti 1 kaki sebelum leher, bukan 1 inci. Aku masih... masih ingin menang. Sedangkan kau... kau sudah menerima kekalahan sebelum pedang jatuh. Gunung yang menerima air... lebih besar dari air yang menjadi gunung. Aku... masih harus belajar."

Mereka berdua membungkuk satu sama lain, membungkuk air pada gunung, gunung pada air.

10.000 pendekar di bawah Puncak Teratai Emas bersorak, sorakan paling keras setelah 7 tahun, karena mereka baru saja melihat pertarungan pertama di Puncak Teratai Emas yang tidak beku, pertarungan yang tidak ada darah, tidak ada yang mati, hanya ada tetes air 81 kati yang berhenti di leher gunung.

Mu Chen yang menonton sambil memegang mangkuk goni emas, berbisik pada Yang Lie:

"Kak Yang Lie... jika tetes air 81 kati itu... jatuh ke mangkukku... apakah mangkukku bocor lagi?"

Yang Lie yang matahari kecil di punggungnya hangat, tertawa:

"Tidak, mangkukmu sekarang emas, tidak bocor. Tapi... jika tetes air itu jatuh ke dalam 9 Yang-ku... mungkin... 9 Yang-ku menjadi 10 Yang."

Tao Yaoyao yang 28 bakpaonya masih terbang, berteriak:

"Pertarungan selanjutnya! Aku! Aku melawan Duan Lang! Taruhannya 28 bakpao melawan 10 bakpao kering!"

Duan Lang yang 5 Pedang Dewa di jarinya bersinar, mengangkat bungkusan teh Dali:

"Aku... aku tidak mau melawan gadis bakpao... bakpaonya enak..."

Dan di atas Puncak Teratai Emas, Ling Feng dan Shi Potian duduk kembali, duduk bersila, seperti air dan gunung yang sudah bercakap-cakap 1 jam, kini beristirahat, menunggu pertarungan kedua.

Langit... belum ditentukan. Tapi air dan gunung sudah berdamai.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!