Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Bayangan di Kamar
Sesampainya di kosan yang terletak tak jauh dari ruko mereka. Rhea langsung membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kaos longgar yang nyaman. Jam di atas meja kecil menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Rhea menyandarkan punggungnya di atas kasur, menghela napas panjang dan mematikan lampu utama kamar. Hanya menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memancarkan pendar kuning temaram. Rhea memejamkan mata berharap bisa langsung terlelap dan mengistirahatkan pikirannya yang dipenuhi teka-teki sejak dari restoran Restu Ibu tadi.
Namun, baru saja kesadarannya mulai melayang, suhu udara di kamar itu mendadak anjlok drastis. Hawa dingin yang teramat membekukan merayap pelan dari bawah pintu kamar, mengular hingga menusuk ke balik selimut tebal yang melilit tubuh Rhea.
Rhea menahan napas rapat-rapat. Dia memejamkan matanya makin erat mencengkeram pinggiran selimutnya dengan jemari yang mendadak dingin. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah halusinasi dari rasa lelahnya. Dia memilih berpura-pura tidur dan membiarkan sensasi itu berlalu begitu saja.
Tapi alam sebelah punya caranya sendiri untuk memaksa kehadiran mereka disadari.
Bzztt… Bzztt…
Lampu tidur kecil di sudut kamar berkedip-kedip redup beberapa kali sebelum akhirnya mati total. Kegelapan pekat menyergap seluruh sudut kamar, membawa aroma lain yang mendadak menguar tajam memangkas wangi cairan pembersih lantai.
Rhea mengigit bibir bawahnya rapat-rapat, memiringkan tubuhnya menghadap ke arah belakang kasurnya. Dia berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
“Abaikan Rhe. Biarkan aja. Nanti juga hilang sendiri,” bisik batinnya berulang kali bagaikan mantra.
Namun usaha rhea untuk mengabaikan sosok itu tidak berhasil.
Klekk… Klekk…
Suara gesekan langkah kaki yang amat lambat dan amat kaku terdengar merayap di atas ubin kamar, makin dekat menuju ke sisi kasurnya.
Lalu sebuah bisikan parau dan berat yang dipenuhi oleh keputusasaan yang mendalam mendadak terdengar jelas bukan lagi bergaung di dalam kepala, melainkan terbisik pelan tepat di samping telinga kanannya.
“Tolong. Tolong saya… Mbak pengacara..”
Tubuh Rhea membeku sempurna di bawah selimut. Jantungnya berdegup sangat liar hingga rongga dadanya terasa sakit. Rhea memejamkan matanya sekuat tenaga sampai sudut matanya berair. Dia tetap memilih diam mematung, berpura-pura tidak mendengar apa-apa dan menolak keras untuk berbalik menatap sosok itu.
“Tolong saya mbak,” bisikan ghaib itu terdengar lagi, kini diiringi suara rintihan napas yang pendek dan tersengal-sengal. “Keadilan untuk saya… Untuk anak saya…”
Dia bisa merasakan kehadiran sosok Pak Bambang hantu koki bercelemek darah yang dia lihat di restoran tadi kini tepat di sebelah tempat tidurnya. Rhea terus bertahan dalam posisinya. Dia tidak bergerak sedikitpun, tidak merespons dan tidak membuka matanya sama sekali meski hembusan angin dingin yang berbau amis terus-menerus mengelus pipi dan lehernya sepanjang malam.
Hingga akhirnya jam dinding di ruang tengah terdengar berdentang empat kali. Lampu tidur di sudut ruangan kembai menyala redup secara perlahan. Bau amis dan aroma bumbu gosong perlahan luntur, digantikan kembali oleh udara malam yang biasa.
Rhea akhirnya berani membuka matanya secara perlahan. Dia berbalik dengan tubuh gemetaran dan napas tersengal-sengal. Kamarnya sudah kosong tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri.
Ketika alarm di ponselnya menjerit nyaring menunjukkan pukul delapan pagi, Rhea terbangun dengan kelopak mata yang terasa amat berat dan panas. Saat bercermin di kamar mandi, dia meringis melihat bayangannya sendiri, wajahnya pucat pasi dan lingkaran hitam melingkari kedua matanya yang sangat jelas.
Pukul sembilan lewat lima belas menit, terlambat satu jam dari jadwal biasanya, Rhea baru sampai di ruko. Pintu kaca ruko sudah tidak terkunci dan papan penunjuk sudah berbalik menjadi OPEN.
Saat Rhea mendorong pintu kaca, suara melinting bel di atas pintu berdenting halus. Zora yang sedang duduk santai di sofa tamu sambil mengetik di laptopnya, seketika menengadah.
“Aplikasi hukum mana yang bisa menuntut seorang Bu Bos karena datang terlambat di hari kedua?" seloroh Zora dengan nada bercanda. Namun, begitu matanya menatap wajah Rhea secara penuh, tawa kecil Zora langsung terhenti seketika.
“Eh.. Rhe lu kenapa? Muka lu kusam banget, kayak habis maraton dari Tebet ke monas,” dahi Zora berkerut dalam.
Rhea mendorong pintunya hingga tertutup rapat, menyandarkan punggungnya sejenak di balik pintu kayu sambil menghela napas panjang.
“Masa sih Ra? Agak lemes aja ini,” sahut Rhea pelan, mencoba terkekeh meski suaranya terdengar serak dan kehabisan tenaga.
Zora meletakkan laptopnya di atas meja kaca, lalu berdiri dan berjalan mendekati Rhea. Dia melipat kedua tangannya di dada, menatap sahabatnya itu dari atas sampe bawah dengan selidik yang tajam.
“Gak usah bohong deh sama gue,” ujar Zora, nadanya berubah serius dan penuh kekhawatiran. “Kantung mata lu itu lho, Rhe. Item banget begitu. Lu gak tidur semalaman ya? Jangan bilang lu begadang cuma gara-gara mikirin draft template surat kuasa yang kemarin?”
Rhea mengusap wajahnya yang kaku, lalu mengangguk pasrah. Dia tahu betul tidak ada gunanya berbohong pada Zora yang sudah mengenalnya sejak zaman bangku kuliah.
“Gue emang gak bisa tidur semalaman Ra,” Rhea jujur akhirnya meski dia menyembunyikan alasan mistis di balik ketidaktidurannya itu.
Zora membelalakan matanya, menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala. “Tuh kan. Kebiasaan banget deh. Rhe, dengar ya gue tau lu tuh ambisius dan pengen biro hukum kita ini langsung sukses pesat. Tapi gak gitu juga caranya. Kalau lu sakit gara-gara begadang mikirin kerjaan, yang ngurus kantor ini siapa? Gue cuma bagian asisten dan hobi ngoceh, gue gak bisa bersidang di pengadilan.”
Rhea tersenyum tipis mendengar ocehan sahabatnya. Di balik omelannya yang cerewet, Rhea tahu Zora sangat menyayangi dan memikirkannya. “Iya, maaf ya,”
“Yaudah nih, minum dulu. Kopi khusus dari gue tanpa gula. Biar mata lu gak merem saat ada klien yang masuk,” seru Zora sambil kembali mendudukan dirinya di kursi depan meja Rhea.
“Makasih ya Ra. Lu emang tahu apa yang paling gue butuhin deh,” Rhea menghirup kopi pahit yang tajam itu.
“Jelas lah. Zora gitu,” Zora membusungkan dadanya bangga, sebelum raut wajahnya kembali menyipit curiga. “Tapi serius deh, Rhe. Lu beneran gak apa-apa kan? Dari semalam pas kita makan di restoran itu, gue udah merhatiin raut muka lu rada aneh. Lu kayak orang gelisah, sering ngelihatin lorong dapur terus pas pulang juga diam aja. Ada hal yang lu sembunyiin dari gue yah?”
Jantung Rhea berdesir halus. Dia menatap cangkir kopinya, menimbang-nimbang apa dia harus menceritakan kemampuan barunya dan penampakan hantu Pak Bambang yang mengganggunya semalaman.
Namun, Rhea tahu Zora adalah tipe penakut. Menceritakan bahwa ada arwah koki bercelemek darah yang menempel padanya akan membuat Zora panik setengah mati dan ketakutan berada di dekatnya.