Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Pulang
Panas memantul dari beton sampai udara di atas jalan tampak bergetar. Tidak ada pohon yang cukup besar untuk memberi keteduhan. Yang tersisa di antara bangunan hanyalah semak kering, batang besi berkarat, dan rumput pucat yang tumbuh dari retakan aspal. Angin membawa debu halus melewati jalan, lalu membiarkannya menempel pada kulit yang basah oleh keringat.
Aiden Pierce bergerak di sisi kiri jalan dengan tubuh sedikit membungkuk. Rambut cokelatnya dipotong pendek, tetapi bagian depan sudah lengket pada dahi. Ia berjalan dekat dengan dinding agar tidak terlalu lama berada di tempat terbuka. Setiap beberapa langkah, matanya berpindah dari jendela pecah di lantai atas menuju pintu toko yang menganga, kemudian ke atap bangunan di seberang jalan.
Ia baru berusia sepuluh tahun, tetapi sudah tahu bahwa ancaman tidak selalu datang dengan suara. Orang yang sedang menunggu mangsa tidak akan berdiri di tengah jalan. Mereka memilih jendela gelap, tangga darurat, atau celah sempit di antara bangunan. Kadang yang terlihat lebih dahulu hanya ujung laras senapan. Kadang hanya bayangan yang bergerak ketika seharusnya tidak ada apa pun di sana.
Tas selempang tergantung rapat pada dada Aiden. Tas itu dibuat dari potongan kanvas tua dengan tali bekas sabuk pengaman yang sudah berbulu di bagian tepinya. Isinya terasa semakin berat sejak mereka meninggalkan bangunan terakhir. Ada gulungan kawat tembaga, sebuah kotak logam berisi jarum jahit, dua gagang pintu kuningan, beberapa baut yang belum terlalu berkarat, dan tiga baterai kecil yang belum mereka ketahui masih memiliki daya atau tidak.
Benda-benda itu beradu pelan setiap kali Aiden melangkah. Bunyi kecilnya membuat rahangnya mengeras. Ia merapatkan tas dengan lengan kiri, menahan bagian bawahnya agar tidak bergerak, lalu mempercepat langkah menuju bayangan sebuah toko yang bagian depannya telah runtuh.
Robin McNamara mengikuti beberapa langkah di belakang. Rambut pirangnya diikat di tengkuk dengan sepotong kain biru. Debu menempel sampai ke akar rambut dan membuat warnanya terlihat kusam. Wajahnya memerah oleh panas. Ia berjalan sambil sesekali mengangkat kaki kiri lebih tinggi karena bagian depan sepatunya telah terbuka. Solnya hanya bertahan berkat dua lilitan tali tipis yang diikat Aiden pagi tadi.
Mereka bukan saudara. Tidak ada hubungan darah di antara mereka, tetapi hampir semua ingatan Aiden tentang Haven selalu menyertakan Robin. Mereka pernah berbagi tempat tidur ketika salah satu atap tempat tinggal bocor. Mereka belajar membaca dari buku yang sama, mengantre makanan bersama, dan menjalani hukuman membersihkan kandang karena pernah melepaskan tiga ekor ayam. Di tempat seperti Haven, tumbuh bersama sering kali sudah cukup untuk membuat seseorang terasa seperti keluarga.
“Aku sudah bilang ini ide buruk.”
Suara Robin terdengar lebih keras daripada yang diinginkan Aiden. Ia menoleh cepat dan mengangkat satu jari ke bibir. Robin membalas tatapannya dengan alis berkerut, tetapi menurunkan suara saat melanjutkan.
“Anak-anak dilarang keluar dari Haven tanpa orang tua. Itu bukan aturan yang bisa kau pura-pura lupa hanya karena kau sedang menginginkan sesuatu.”
“Jangan bicara keras.” Aiden kembali mengawasi jalan di depan. “Kita sudah selesai mencari. Sekarang kita hanya perlu pulang.”
“Kau mengatakan hal yang sama dua bangunan lalu.”
“Karena kau terus berhenti.”
“Sepatuku rusak.”
Aiden melirik kaki kiri Robin. Tali yang membungkus sol masih terpasang, meskipun ujungnya mulai longgar dan menyeret debu. Ia memalingkan wajah sebelum Robin melihatnya terlalu lama memperhatikan.
“Karavan datang besok,” katanya. “Kalau baterai ini masih bagus, kita bisa menukarnya. Kalau tidak, kawat dan jarum jahit pasti tetap ada harganya.”
“Aku memang ingin sepatu baru.” Robin mengusap keringat di bawah hidung dengan punggung tangan. “Aku hanya tidak ingin mati sebelum sempat memakainya.”
“Kita tidak akan mati.”
Cara Aiden mengatakannya terdengar lebih yakin daripada yang ia rasakan. Ia tidak tahu siapa yang sedang berpatroli di luar tembok siang itu. Ia juga tidak tahu apakah para pencari barang dari permukiman lain telah memasuki bagian kota tersebut. Namun tas di dadanya sudah penuh, Haven tidak terlalu jauh, dan berbalik menuju tempat persembunyian lain hanya akan membuat mereka pulang semakin sore.
Robin kembali melihat ke belakang. Jalan yang baru mereka lewati kosong, tetapi itu tidak membuat langkahnya lebih tenang.
“Dad akan menghukumku kalau tahu.”
“Kalau begitu jangan sampai dia tahu.”
Robin mengeluarkan bunyi pendek dari hidung. “Kita hampir tertangkap ketika keluar tadi pagi. Kau menjatuhkan batu tepat di dekat kaki penjaga.”
“Itu karena kau menarik bajuku.”
“Aku menarik bajumu karena ada penjaga.”
Aiden mengembuskan napas melalui hidung dan terus berjalan. Panas membuat bagian dalam mulutnya kering. Air di dalam botol mereka tinggal sedikit, tetapi ia belum ingin berhenti. Semakin lama mereka berada di luar, semakin besar kemungkinan seseorang melihat mereka.
Mereka melewati bangkai kendaraan yang telah kehilangan ban, pintu, dan sebagian besar rangka mesinnya. Cat biru masih terlihat pada bagian atap yang tidak terbakar matahari. Aiden mendekati kendaraan itu perlahan, menunduk untuk melihat melalui jendela yang kosong, lalu bergerak setelah memastikan tidak ada orang bersembunyi di baliknya.
Robin menyusul sambil menekan tas kain kecil yang dibawanya ke dada. Isinya tidak sebanyak barang milik Aiden. Ia hanya menemukan dua gulung benang, sebuah sisir dengan beberapa gigi patah, dan potongan kain bersih yang dapat dipakai untuk menambal pakaian. Namun sejak mereka meninggalkan bangunan, Robin memperlakukan tas itu seperti sesuatu yang sangat berharga.
“Siang hari pasti lebih banyak patroli,” katanya.
Aiden tidak menjawab. Ia sedang melihat ujung jalan yang berbelok di antara dua bangunan tinggi. Dinding bangunan sebelah kanan dipenuhi lubang hitam bekas jendela. Sebagian lantainya telah ambruk dan menggantung di balik rangka beton. Di sisi kiri berdiri bekas gedung parkir dengan jalur naik yang terputus di lantai ketiga.
Tidak ada gerakan.
Seekor burung kecil hinggap di tiang lampu, menundukkan kepala, lalu terbang menuju atap. Aiden mengikuti arah terbangnya sampai burung itu menghilang. Setelah itu ia melangkah lagi.
“Robin.”
“Aku tahu. Jangan bicara. Jangan berhenti. Jangan mengaturmu.” Robin berjalan lebih cepat untuk mendekat. “Kau boleh mengatakan semua itu kepadaku, tetapi aku tidak boleh mengingatkan bahwa kita sedang melanggar aturan.”
“Robin.”
“Aku juga tahu jalan pulang. Kau tidak perlu berjalan di depan terus.”
Aiden berhenti.
Robin tidak sempat menahan langkah. Dahinya membentur bagian belakang bahu Aiden, membuat tas selempang itu bergeser dan gagang kuningan di dalamnya berdenting. Aiden menangkap bagian bawah tas sebelum bunyinya menjadi lebih keras.
Robin mengusap dahinya. Mulutnya sudah terbuka untuk mengeluh ketika Aiden menoleh dan menatapnya.
“Diam,” bisiknya.
Sesuatu pada wajah Aiden membuat Robin menutup mulut. Ia bergerak mendekat sampai bahunya hampir menyentuh lengan Aiden.
Di sebelah kanan mereka terdapat lorong sempit yang memisahkan dua bangunan. Matahari hanya mencapai bagian depan lorong. Lebih jauh ke dalam, cahaya tertahan oleh lantai beton yang miring dari bangunan sebelah kiri. Tumpukan pipa, lemari logam, dan pecahan dinding memenuhi sebagian jalan. Ujung lorong tidak terlihat dari tempat mereka berdiri.
Aiden mengamati jendela di atasnya lebih dahulu. Semua gelap. Beberapa masih memiliki tirai yang kaku oleh debu. Ia menurunkan pandangan menuju lorong, menunggu matanya menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya.
“Aiden?” Suara Robin hanya sedikit lebih keras daripada napas.
Aiden mengangkat tangan tanpa melihatnya. Keringat mengalir dari pelipis menuju rahang. Ia dapat mendengar napas Robin di dekat bahunya, cepat dan dangkal. Di tempat lain, sepotong seng bergerak diterpa angin dan menimbulkan bunyi ketukan malas.
Lalu terdengar gesekan dari dalam lorong.
Sreek.
Bunyinya tidak keras. Sesuatu menyeret di atas beton, berhenti, kemudian bergerak lagi.
Sreek.
Aiden menahan napas. Ia mencoba menentukan jaraknya, tetapi dinding di kedua sisi lorong memantulkan suara dan membuatnya datang dari beberapa arah. Tangannya turun menuju tanah. Jari-jarinya menemukan pecahan beton sebesar kepalan tangan. Ia mengangkatnya perlahan, merasakan permukaan kasar menekan telapak.
Robin meraih tangan kirinya.
Pegangannya begitu kuat sampai kuku Robin menekan kulit. Aiden ingin menyuruhnya mundur, tetapi lidahnya terasa tebal di dalam mulut. Ia tidak tahu apa yang ada di lorong. Bisa saja seseorang sedang menarik karung. Bisa juga seekor hewan menyeret bangkai. Bagian paling gelap di antara pipa dan lemari logam terlihat cukup besar untuk menyembunyikan orang dewasa.
“Aiden...” Robin menelan ludah. “Aku takut.”
“Jangan bergerak.”
Gesekan itu kembali terdengar.
Sreek.
Sreek.
Kali ini lebih dekat.
Aiden mengangkat pecahan beton sampai sejajar dengan dada. Siku kanannya gemetar. Ia mengencangkan genggaman, tetapi pasir dari benda itu rontok di antara jarinya. Robin menempel pada lengannya. Aiden dapat merasakan tarikan kecil dari tubuh Robin setiap kali ia bernapas.
Sebuah bayangan bergerak di balik lemari logam.
Robin menarik tangan Aiden dan hampir membuat batu itu terlepas. Aiden menahan tubuhnya, menanam kedua kaki di atas aspal, lalu menatap lorong tanpa berkedip. Dari bagian gelap muncul kepala kurus dengan telinga tegak. Hidung hitam bergerak mengendus udara.
Seekor anjing keluar menuju cahaya.
Tubuhnya tinggi tetapi sangat kurus. Tulang rusuk terlihat di balik bulu cokelat kotor. Salah satu telinganya robek di ujung. Sebuah kalung masih terpasang di lehernya dengan rantai pendek yang menyeret beton setiap kali kaki depannya bergerak.
Sreek.
Anjing itu berhenti beberapa meter dari mereka. Mulutnya terbuka dan lidah merah menggantung di antara gigi. Tidak ada geraman. Hewan itu hanya memandang Aiden, lalu Robin, seolah sedang memutuskan apakah mereka membawa makanan.
Aiden tetap mengangkat batu. Bahunya mulai sakit, tetapi ia tidak berani menurunkannya.
Anjing itu mengendus sekali lagi. Setelah tidak menemukan sesuatu yang menarik, kepalanya beralih ke jalan. Ia berjalan melewati mereka dengan langkah lesu. Ujung rantai menggores aspal, menghasilkan bunyi yang sejak tadi membuat dada Aiden terasa sempit. Hewan itu tidak menoleh lagi. Ia menyeberangi jalan, masuk melalui pintu sebuah rumah, lalu menghilang.
Robin melepaskan tangan Aiden. Bekas kuku tertinggal pucat pada kulitnya.
“Sial.” Ia menekan telapak pada dada. “Jantungku hampir copot.”
Aiden menurunkan pecahan beton. Lengannya terasa lemah mendadak. Ia melemparkan benda itu ke tanah tanpa tenaga, lalu merapatkan tas selempangnya untuk menyembunyikan tangan yang masih bergetar.
“Aku tahu itu cuma anjing,” katanya.
Robin memandang tangannya, kemudian batu di tanah. “Tentu saja.”
Aiden tidak membalas. Ia memeriksa lorong sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan. Kali ini Robin tidak mengeluh ketika ia berjalan di depan.
Mereka bergerak lebih cepat setelah kejadian itu. Jarak di antara mereka menyusut sampai Robin hampir menginjak tumit Aiden. Setiap bunyi dari bangunan membuat kepala mereka menoleh. Retakan kayu, jatuhnya batu kecil, dan kepakan burung terdengar lebih besar dalam panas yang sepi.
Jalan mulai menurun setelah mereka melewati sebuah persimpangan yang tertutup kendaraan terbakar. Dari sana, dua jalur jalan layang terlihat membelah kawasan di kejauhan. Pilar-pilar betonnya berdiri tebal dan kusam, sebagian dibalut tanaman rambat. Potongan pagar pengaman masih menempel di atas meskipun permukaan jalannya telah retak dan tidak pernah lagi dilewati kendaraan.
Haven berada di bawah kedua jalan layang itu.
Atap seng dan kain peneduh memenuhi ruang di antara pilar. Asap tipis keluar dari pipa dapur lalu tertahan di bawah beton sebelum terbawa angin. Pada bagian yang tidak tertutup jalan layang, petak tanah dibagi menjadi lahan tanam. Barisan jagung, kacang, dan sayuran tumbuh di bawah matahari. Kandang kambing berdiri dekat sisi timur, sedangkan kandang ayam dibuat lebih dekat dengan dinding agar mudah diawasi.
Dinding seng mengelilingi seluruh komunitas. Tingginya hampir tiga kali tubuh orang dewasa dan disusun dari lembaran dengan warna berbeda. Ada bagian yang masih menunjukkan cat putih, biru, atau merah dari bangunan lama. Bagian lain telah berubah cokelat oleh karat. Tiang kayu dan rangka kendaraan digunakan untuk menopangnya dari dalam.
Aiden dapat melihat dua penjaga di atas menara dekat gerbang utama. Seorang berdiri menghadap jalan masuk. Yang lain berada di bawah kain peneduh dengan senapan melintang di pangkuan. Tidak ada karavan di luar gerbang. Tanah lapang yang akan digunakan para pedagang besok masih kosong.
Robin mempercepat langkah ketika melihat Haven. Wajahnya belum kehilangan tegang, tetapi napasnya mulai teratur. Aiden juga merasakan sebagian beban di dadanya terangkat. Mereka hanya perlu mencapai celah tanpa terlihat. Setelah itu mereka dapat menyembunyikan barang, membersihkan debu dari pakaian, dan kembali ke tempat tugas sebelum seseorang memeriksa.
Mereka tidak mendekati gerbang.
Aiden membawa Robin memutar melalui parit kering yang dipenuhi rumput liar dan potongan kawat. Dinding seng menutup pandangan para penjaga. Di dekat pilar jalan layang paling selatan, beberapa bongkah beton ditumpuk di depan selembar seng yang bagian bawahnya terangkat. Semak berduri tumbuh di sekelilingnya dan membuat celah itu sulit terlihat dari kejauhan.
Itulah jalan yang mereka gunakan pagi tadi.
Aiden berlutut di belakang bongkah beton. Lututnya menekan tanah panas. Ia menarik salah satu cabang berduri ke samping, lalu meraba bagian bawah seng sampai menemukan potongan kayu yang mereka selipkan untuk menahannya tetap terangkat.
“Berikan tasmu,” bisiknya.
Robin menyerahkan tas kain miliknya. Aiden mendorong kedua tas melalui celah lebih dahulu, kemudian menahan lembaran seng dengan punggung. Tepi logam menekan kaus dan terasa panas sampai ke kulit.
Robin berbaring tengkurap lalu merangkak masuk. Debu menempel pada siku dan bagian depan pakaiannya. Sepatu kirinya tersangkut akar. Ia menarik kaki terlalu keras dan ikatan pada sol terlepas.
Robin menahan umpatan, mengambil tali yang jatuh, lalu melanjutkan sampai tubuhnya menghilang di balik dinding.
Aiden memeriksa parit sekali lagi. Tidak ada orang yang datang. Ia menurunkan tubuh, memasukkan kepala lebih dahulu, lalu menyeret dirinya melalui celah. Tas selempangnya menunggu di sisi dalam. Ia meraihnya, menarik kedua lutut, dan berdiri sambil menepuk debu dari pakaian.
Robin berdiri beberapa langkah di depannya.
Ia tidak mengambil tas. Ia juga tidak sedang memperbaiki sepatu. Tubuhnya kaku dengan kedua lengan rapat di sisi pinggang.
Aiden mengikuti arah pandangannya.
Seorang pria berdiri di antara mereka dan deretan tempat tinggal. Tubuhnya tinggi dan kekar, dengan bahu lebar yang memenuhi jalan sempit di bawah jembatan. Rambut pirangnya dipotong pendek. Lengan kemeja digulung sampai siku, memperlihatkan kulit yang memerah oleh matahari dan otot yang menegang ketika kedua tangannya mengepal.
Ewan McNamara tidak bergerak. Wajahnya tidak menunjukkan kelegaan ketika melihat Robin selamat. Rahangnya rapat. Matanya turun ke sepatu Robin yang rusak, beralih pada debu di pakaian mereka, lalu berhenti pada tas penuh di dekat kaki Aiden.
Mulut Aiden mengering.
Robin menarik napas kecil. “Dad... aku bisa menjelaskan.”
Ewan memandang keduanya beberapa saat sebelum berbicara. Suaranya rendah, tidak cukup keras untuk menarik perhatian orang lain, tetapi membuat bahu Robin terangkat.
“Kalian berdua. Ikut aku.”
“Tapi, Dad...”
“Tidak ada tapi.”