Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buronan Daratan dan Pelarian ke Negara Brave
Debu tipis membumbung di sepanjang jalan berbatu menuju wilayah perbatasan utara. Zass, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla berjalan perlahan mengikis jarak pertempuran yang tak pernah surut. Okta memegang erat gagang pedang besarnya di pinggang, sementara Kayla menggenggam pedang tipis ganda yang memancarkan pendar sihir meredup. Sejak meninggalkan kawasan sabana, perasaan tidak tenang terus membayangi langkah party petualang Tier SSS ini.
Saat mereka melewati perkampungan pinggiran yang padat, langkah kelimanya mendadak terhenti.
Secara mengejutkan, puluhan warga desa—mulai dari petani, pedagang, hingga pemuda setempat—melompat keluar dari balik rumah-rumah kayu dengan membawa cangkul, sabit, dan pedang tumpul. Wajah mereka dipenuhi amarah bercampur keserakahan yang membutakan.
"Itu dia! Dialah Zass!" teriak seorang warga sambil menunjuk lurus ke arah Zass. "Pembawa sial yang mencoba menggagalkan pertunangan suci Putri Celestia dan Pangeran Helix!"
"Bunuh dia! Kerajaan Aiteria menjanjikan emas berlimpah bagi siapa saja yang membawa kepalanya!" seru warga lainnya.
Zass dan rekan-rekannya tertegun kaku. Bingung bercampur heran melingkupi pikiran mereka. Bagaimana mungkin rakyat biasa yang tidak tahu-menahu soal peta politik mendadak mengarahkan senjata kepada mereka?
Belum sempat Zass membuka suara untuk memberikan penjelasan, gemuruh langkah kaki yang jauh lebih masif mengguncang tanah di sekeliling mereka. Dari empat penjuru mata angin, kerumunan dalam jumlah yang mengerikan mengepung posisi mereka! Ribuan orang—berasal dari perpaduan warga terprovokasi, bounty hunter bertopeng, pembunuh bayaran berdarah dingin, kelompok penjahat gunung, hingga pasukan ksatria tempur berzirah besi—merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun.
"Serahkan kepalamu, Zass!" jerit seorang pemimpin kelompok penjahat seraya menarik pedang panjangnya. "Hadiah dari Pangeran Helix terlalu besar untuk dilewatkan!"
Okta menarik pedang besarnya dari sarung di punggungnya, sementara Kayla menggeledah posisi kuda-kuda bertarungnya dengan sepasang pedang tipis yang berkilat tajam. Pendar Petir Biru milik Okta dan Petir Merah milik Kayla menyala membakar udara, siap meratakan barisan terdepan musuh.
"Tahan!" teriak Ken tiba-tiba, merentangkan tangannya menghalangi Okta dan Kayla.
"Ada apa, Ken?!" gertak Okta dengan rahang mengeras. "Jumlah mereka ribuan! Jika kita tidak menebas mereka sekarang, kita yang akan dicincang!"
"Lihat kerumunan itu dengan benar!" balas Ken tegas seraya menunjuk ke barisan depan. "Di antara para pembunuh dan prajurit itu, ada wanita, petani, dan rakyat biasa yang cuma termakan provokasi propaganda Aiteria! Jika kita menggunakan tebasan pedang petir di sini, puluhan orang tak bersalah akan tewas dalam sekejap!"
Zass menatap mata warga desa di barisan depan. Ia melihat ketakutan dan keserakahan yang dimanipulasi oleh emas Pangeran Helix. Hatinya menolak keras untuk menumpahkan darah rakyatnya sendiri hanya demi membela diri dari jebakan politik ini.
"Ken benar," potong Ryu dingin namun mantap. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan pendar Petir Oren di kakinya. "Kita tidak bertarung di sini. Lari!"
"Lari!" seru Ken menimpali.
CRAAAAZZZZH!
Dalam satu kedipan mata, lima berkas cahaya petir dengan warna berbeda meledak serentak! Kecepatan luar biasa dari lima anggota party Tier SSS itu menciptakan gelombang angin kencang yang melempar kerumunan musuh tanpa melukai mereka secara fatal. Sebelum para pembunuh bayaran sempat mengayunkan senjata, Zass dan kelompoknya telah melesat bagaikan kilat membelah cakrawala, meninggalkan kerumunan yang kebingungan di belakang.
Pelarian itu berlangsung berjam-jam tanpa henti. Menggunakan kecepatan puncak elemen petir, mereka melintasi belantara, menembus perbukitan terjal, hingga akhirnya tiba di garis perbatasan wilayah yang sangat tegas.
Di hadapan mereka membentang jurang raksasa dengan jembatan gantung besi yang menghubungkan dua wilayah kekuasaan berbeda: Negara Brace yang baru saja mereka tinggalkan, dan Negara Brave—sebuah negara tetangga yang terkenal dengan wilayah netral serta benteng pertahanan alaminya yang sangat ketat.
Kelima petualang itu mendarat di ujung jembatan gantung Negara Brave, menyembunyikan pendar energi petir mereka seraya bernapas terengah-engah. Okta menyarungkan kembali pedang besarnya dengan gusar, sementara Kayla merapikan rambutnya yang berantakan diterpa angin pelarian.
"Sialan Pangeran Helix itu!" maki Okta seraya menghantamkan tinjunya ke tiang jembatan hingga bergetar. "Dia menggunakan rakyat biasa sebagai perisai hidup untuk memburu kita! Dia tahu betul Zass tidak akan tega membantai warga tak berdosa!"
Kayla menyeka keringat di dahinya seraya menyarungkan sepasang pedang tipisnya. "Aiteria benar-benar memainkan permainan yang sangat kotor. Sekarang seluruh Negara Brace menganggap Zass sebagai penjahat besar daratan."
Ryu melangkah ke tepi tebing, menatap gapura batu raksasa yang menandai wilayah Negara Brave. "Untuk sementara waktu, kita tidak bisa bertahan di Negara Brace. Jaringan spionase Helix telah menyebarkan poster buronan ke setiap pelosok desa."
Zass berdiri diam di samping Ryu. Jubah karung goni usangnya berkibar perlahan diterpa angin perbatasan. Tatapan mata ungunya menatap lurus ke dalam wilayah Negara Brave yang asing. Di balik dadanya, liontin belah ketupat peninggalan ayahnya berdenyut hangat, seolah memberikan ketenangan di tengah gelombang fitnah yang melanda dirinya.
"Kita akan mengungsi ke Negara Brave untuk sementara," ucap Zass dengan suara rendah yang dipenuhi keteguhan jiwa. "Negara ini berada di luar jurisdiksi hukum Aiteria dan Imperial. Di sini, kita punya waktu untuk menyembunyikan identitas, memulihkan stamina, dan meningkatkan kekuatan kita tanpa harus melukai rakyat biasa."
Ken menyunggingkan senyum tipis seraya menepuk bahu Zass. "Pilihan cerdas. Biarkan Helix mengira perburuannya berhasil menakut-nakuti kita. Ketika saatnya tiba nanti, kita akan kembali ke Imperial bukan lagi sebagai buronan yang berlari... tapi sebagai badai yang tak terhentikan."
Dengan kesepakatan mutlak tersebut, Zass bersama keempat rekan party petirnya melangkah melintasi jembatan gantung, memasuki gerbang Negara Brave untuk memulai babak baru pengasingan dan penempaan kekuatan mereka di tanah yang asing.