Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarah Pingsan
BAB 16
Sarah Pingsan
Kini giliran Daffa yang dibuat pusing. Ia harus memikirkan bagaimana caranya meminta Dinda mengantar dan menjemput dirinya tanpa menimbulkan kecurigaan, apalagi setelah kebohongannya kepada Kania.
Masalahnya, ia membutuhkan alasan yang masuk akal. Tidak mungkin Daffa begitu saja berkata bahwa dirinya telah mengaku kepada teman-teman Dinda sebagai pacar gadis itu.
Kalau gue bilang jujur..., tamat gue!
Daffa mengusap wajahnya dengan frustrasi. Kebohongan yang awalnya hanya dimaksudkan untuk mengakhiri pertanyaan Kania tentang Leon, sekarang justru berubah menjadi masalah baru.
Ia bahkan belum membayangkan bagaimana reaksi Dinda jika mengetahui bahwa dirinya mengaku-ngaku sebagai pacarnya.
Gimana cara ngejelasinnya, coba?
Daffa menghela napas panjang.
Kayaknya gue harus cari alasan yang lebih masuk akal sebelum semuanya makin kacau.
Ck! Andai udah bertukar lagi nih badan, bakal gue bales yang suka bully si Bocil.
Daffa pulang dengan kondisi lutut yang masih terasa nyeri. Luka tersebut belum sempat ia obati karena sejak tadi pikirannya sudah dipenuhi berbagai masalah, terutama soal kebohongannya kepada Kania.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Akhirnya bisa rebahan juga..."
Daffa menghela napas lega. Namun, baru beberapa detik ia memejamkan mata, terdengar suara notifikasi dari ponselnya.
Ting!
Daffa membuka mata. Dengan malas, ia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Begitu melihat nama pengirim yang muncul di layar, ekspresinya seketika berubah.
Dinda!
Ia segera membuka pesan tersebut.
Dinda : Bang, lu buat ulah apalagi hari ini sampe Kania maksa minta cerita soal tetangga gue. Lu narsis, Bang?
Mampus!
Daffa : Nggak ada apa-apa.
Dinda : Jangan ngeles ya Bang 🗡️🗡️
Buset!
Daffa terkekeh geli.
Gue di bawain pisau. Psikopat nih Bocil.
Daffa : Lu sering di bully ya di sekolah?
Dinda : ....
Menit berlalu. Seketika berbalas pesan berhenti begitu saja. Daffa menunggu balasan dari Dinda. Namun sepertinya Dinda enggan membahas soal pembullyan di sekolah.
Dinda : Apaan lagi ini Bang?! Lu bikin gue menjauh dari Leon?!😡
Ternyata Dinda sedang berchat ria dengan yang lain. Dan Daffa menduga, itu adalah Kania.
Daffa : Gara-gara dia kan, lu sering di bully?
Daffa : Bagus deh, gue emang sengaja buat lu menjauh dari dia.
Dinda : Bagus apanya Bang?! Lu udah matahin harapan gue 💣💣💣
Buset, gue di bom!
Daffa makin terkekeh.
Daffa : Jangan sama dia.
Daffa : Masih banyak cowok lain yang lebih baik.
Daffa : Kalau emang dia suka ma lu, udah sejak lama pasti dia balas perasaan lu, Cil.
Dinda : ...
Senyap, beberapa menit berlalu begitu saja.
Tidak ada balasan pesan dari Dinda setelah Daffa mengetik pesan seperti itu. Namun Daffa masih menunggu balasan apa yang akan di berikan Dinda padanya.
Apa dia masih berbalas pesan sama Kania, ya?
Daffa kembali membaca pesan singkatnya dengan Dinda. Entah kenapa, hanya dengan melihat percakapan mereka saja sudah membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Ia bahkan sampai tidak sadar kalau sudah beberapa kali membaca pesan yang sama.
Namun, tiba-tiba saja...
BRAKK!!
"Ouh, shit!"
Daffa terkejut bukan main. Tubuhnya yang semula rebahan langsung bangkit dan terduduk di pinggir tempat tidur.
Dinda muncul di ambang pintu setelah membukanya dengan begitu keras hingga daun pintu membentur dinding dan menimbulkan suara gaduh.
"Nggak bisa pelan sedikit, Cil?"
Dinda berdiri di sana dengan wajah datar, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
Sementara Daffa masih mengatur napasnya.
Bener-bener banyak kejutan nih, Bocil.
"Apa yang terjadi sama tubuh gue, bang?"
Dinda dengan cepat menghampiri Daffa yang masih mengatur napas. Ia pun berjongkok di depan lelaki itu dan melihat kedua lututnya yang terluka.
Daffa lupa mengobati luka-luka tersebut sehingga bekasnya masih terlihat cukup parah. Dinda pun langsung panik saat melihat anggota tubuhnya dipenuhi luka. Rasa khawatir seketika muncul ketika ia menyadari bahwa tubuhnya sendiri terluka dan tidak mendapat perawatan yang semestinya.
"Kok nggak di obati sih, Bang?!"
"Jadi lu ngilang dari chat karena tahu gue luka terus kesini?"
Dinda melotot tajam pada Daffa.
"Kalau Kania nggak nanya luka gue udah di obatin apa belum, gue pasti nggak tahu tubuh gue lecet begini. Kan jelek jadinya!"
"Tapi kok lu berani main masuk aja, Cil? Kalau ibu lu sampai tahu, gimana?"
"Ish!!"
Dinda menatap Daffa dengan tatapan sinis. Namun, bukannya merasa bersalah, Daffa justru membalasnya dengan kekehan kecil.
"Ini sabtu, ibu pergi arisan."
Mulut Daffa membentuk huruf “O”, namun tidak mengeluarkan suara.
Dinda segera berdiri dan mencari kotak P3K yang ada di rumahnya. Begitu menemukannya, ia langsung kembali ke kamar untuk mengobati luka pada lutut tubuh aslinya.
Sementara itu, Daffa duduk santai tanpa sedikit pun bersikap kemayu. Kedua kakinya terbuka lebar, dengan posisi duduk seenaknya seperti kebiasaan seorang pria pada umumnya.
Dinda mengamati Daffa sejenak, lalu tiba-tiba bertanya dengan nada curiga.
"Lu pakein daleman di tubuh gue, kan, Bang?!"
Tanpa menunggu jawaban, Dinda dengan cepat mengangkat sedikit rok yang dikenakan Daffa untuk memastikan sendiri. Daffa sempat terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali bersikap santai dan cuek seolah tidak terjadi apa-apa.
Mata gue ternoda.
Daffa tidak menjawab. Bagaimanapun juga, Dinda sudah memastikan bahwa dirinya mengenakan pakaian dalam, jadi ia tak perlu lagi mempermasalahkannya. Dinda pun akhirnya mengalihkan perhatian pada luka di lututnya. Ia mulai membersihkan luka tersebut dengan hati-hati, kemudian mengoleskan obat agar lukanya segera membaik.
"Astaghfirullahaladzim!!"
Tiba-tiba terdengar suara Sarah yang cukup keras hingga membuat Dinda dan Daffa sontak mengalihkan perhatian. Keduanya menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung. Salah satu tangannya bahkan tampak memegangi dada, tepat di sekitar jantungnya.
"Bu!" seru Dinda panik.
Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda juga langsung bangkit dari duduknya. Mereka berdua bergegas menghampiri Sarah yang terlihat semakin kehilangan keseimbangan.
"Ibu, kenapa?" tanya Dinda dengan wajah cemas.
Untuk sesaat, Dinda bahkan lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam tubuh Daffa. Melihat sang ibu dalam kondisi seperti itu membuat pikirannya benar-benar kosong.
Sarah berusaha menjawab, tetapi bibirnya hanya bergerak tanpa suara. Napasnya terdengar berat dan wajahnya mulai pucat.
"Ibu?"
Dinda semakin panik.
Namun, sebelum mereka sempat meraih tubuhnya, lutut Sarah tiba-tiba melemas. Tubuhnya ambruk ke lantai.
"Ibu!"
"Tante!"
Dinda dan Daffa berseru hampir bersamaan.
Dinda langsung berlutut di samping tubuh Sarah, sementara Daffa ikut berjongkok dengan wajah yang tak kalah panik. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik, seolah sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.
"Bang, Ibu kenapa?!" tanya Dinda dengan suara bergetar.
"Gue nggak tahu!" jawab Daffa cepat. "Coba cek napasnya!"
Dengan tangan gemetar, Dinda mendekatkan wajahnya ke hidung Sarah.
"Masih bernapas..."
"Lihat nadinya!"
Dinda segera memeriksa denyut nadi Sarah.
"Lemah, Bang..."
Wajah Daffa langsung berubah tegang.
"Jangan panik! Kita harus bawa Tante ke rumah sakit sekarang!"
Dinda mengangguk cepat, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi... kita bawa Ibu pakai apa, Bang? Nggak ada mobil."
Barulah mereka berdua terdiam. Mereka baru tersadar bahwa satu-satunya mobil yang ada di keluarga Dinda sedang dibawa ayahnya untuk mengangkut barang-barang toko.
Daffa mengusap wajahnya frustrasi.
"Astaga..."
Dalam keadaan seperti ini, mereka tidak punya banyak waktu untuk berpikir.
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu