Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Benih Cemburu dan Nasihat di Sudut Kafe
Pikiran Aldo malam itu bagaikan benang wol yang kusut. Di dalam ruang kerjanya yang hening, pria itu hanya melamun menatap layar laptop yang menampilkan angka-angka rekapitulasi harian.
Fokusnya benar-benar buyar. Bayangan raut wajah Raisha yang mendadak berbinar manis saat mengetik pesan di ponselnya terus berputar, memancing denyut cemas yang sangat tidak biasa di dadanya.
Selama ini, Aldo selalu merasa memegang kendali penuh atas papan catur emosi setiap wanita yang mendekatinya. Dia mahir menciptakan harapan, mengulur perhatian, lalu menarik diri tepat saat sang wanita mulai bertekuk lutut. Namun, ada sesuatu yang bergeser secara berbahaya di dalam dirinya terkait Raisha.
Aldo tidak menyadari bahwa semakin besar usahanya untuk mempermainkan dan menguji perasaan Raisha, semakin besar pula rasa ingin memiliki yang mengakar di dalam hatinya.
Tetapi dorongan itu justru memicu konflik batin yang luar biasa pada diri Aldo sendiri. Perasaan hangat dan posesif yang kian membesar untuk Raisha terasa asing, aneh, dan menakutkan baginya. Selama bertahun-tahun, Aldo hidup di balik doktrin psikologis yang dibangunnya sendiri, sebuah benteng pertahanan di mana dia hanya berani mengincar wanita yang sudah berpasangan, seperti Mita.
Mengincar wanita berpasangan memberinya zona aman: dia bisa menikmati sensasi penaklukan tanpa pernah dituntut memberikan komitmen atau ikatan emosional yang nyata.
Kini, di hadapan Raisha, seorang gadis single yang secara jujur telah menyerahkan hatinya, Aldo merasa telanjang dan terancam. Dia ingin memiliki Raisha sepenuhnya, tetapi ketakutannya akan komitmen dan kebiasaannya bersembunyi di balik syarat 'cewek berpasangan' membuat Aldo menyiksa dirinya sendiri dalam labirin manipulasi yang dia buat.
Sementara itu, deru mesin mobil melaju tenang membelah kemacetan sore ibu kota. Di balik kemudi, Reno sesekali melirik Raisha yang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil.
"Raut muka kamu dari tadi kayak cucian yang baru digulung di mesin laundry, Ra. Lemes amat," celekuk Reno memecahkan keheningan.
Raisha hanya terkekeh pelan tanpa menoleh.
"Lagi lelah jiwa dan raga aja, Ren."
Sore itu, Reno menawarkan tumpangan pulang untuk Raisha. Namun sebelum mengantarnya sampai ke depan pintu apartemen, Reno mengajak Raisha mampir sebentar ke sebuah kafe berkonsep glasshouse di daerah Jakarta Selatan.
Di sana, seorang gadis berambut sebahu dengan senyum hangat sudah melambaikan tangan dari sudut ruangan dekat area taman.
Sisil. Pacar Reno yang sudah berhubungan intim dan cukup lama menjalin kasih dengan sahabatnya itu. Raisha sendiri sudah kenal dekat dengan Sisil, bahkan sering menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan.
"Mba Raisha! Akhirnya ketemu juga," sapa Sisil riang begitu Raisha menempati kursi di hadapannya.
"Kelihatan agak tirusan deh, lagi banyak pikiran ya?"
"Bukan banyak lagi, Sil, udah numpuk," sahut Reno seraya mendaratkan duduk di samping Sisil dan langsung menyambar minuman dinginnya.
"Biasa, urusan cowok ajaib di kantor." selorohnya lagi.
Raisha tidak membantah ucapannya Reno, karena memang kenyataannya begitu. Hatinya sedang tidak karuan gara-gara satu cowok ajaib di kantornya.
Di meja yang dipenuhi berbagai camilan manis dan minuman dingin itu, Raisha akhirnya membuka suara. Rasa sesak yang membendung di dadanya selama berhari-hari perlahan dimuntahkannya di hadapan dua orang yang paling dia percayai.
Raisha mengungkapkan keputusannya untuk mundur secara perlahan dari usahanya menarik perhatian Aldo. Dia menceritakan betapa melelahkannya berada dalam lingkaran permainan push-and-pull yang tak berujung.
"Aku mau narik diri aja, Ren, Sil," ujar Raisha pelan, menatap cangkir cokelat hangatnya.
"Aku lelah. Aku nggak mau terus-terusan mengorbankan harga diri dan perasaan aku cuma buat menunggu kepastian dari orang yang bahkan nggak tahu apa yang dia mau."
Terlihat wajah sedih dan kecewa, tapi mulut Raisha tetap menikmati cemilan.
Reno menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, lalu menghela napas panjang seraya mengambil sepotong kentang goreng.
"Ya lagian ngapain juga kamu bertahan suka sama cowok yang fetish-nya aneh begitu?" ujar Reno blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.
"Aneh banget, tertariknya cuma sama cewek yang udah berpasangan, tapi pas ada cewek tulus yang single mendekat, malah kabur dan cuma mau mainin perasaan tanpa berani kasih ikatan. Cowok penakut itu namanya." Reno bersungut-sungut.
"Setuju banget sama Reno!" timpal Sisil cepat.
Gadis itu menatap Raisha dengan pandangan penuh simpati sekaligus ketegasan seorang sahabat. Gadis itu sering mendengar kegagalan kisah cinta Raisha dari pacarnya, Reno.
Tapi sekalinya menaruh hati, perasaan kecewa dan sakit yang diterimanya.
"Jauhin, mba Sa, cowok kayak gitu. Orang yang punya masalah trauma atau disorder soal komitmen tapi malah melimpahkan sakitnya ke orang lain itu beracun banget. Kamu berhak dapat cowok yang bisa menghargai kejujuran hati kamu tanpa perlu bikin kamu terombang-ambing."
Raisha hanya terdiam mendengar rentetan nasihat dari pasangan di hadapannya. Mulutnya sibuk mengunyah camilan kue sus cokelat di piring kecil, membiarkan rasa manis itu sedikit menetralkan kepahitan di dadanya.
Di dalam hati kecilnya, Raisha membenarkan semua ucapan Reno dan Sisil. Logikanya paham betul, meski hatinya masih memberikan sedikit denyut perih akibat proses 'sapih' perasaan ini. Apa seperti ini perasaan para mantan ketika merasakan kekecewaan dan sakit hati? Tetiba Raisha membatin.
Untuk mengalihkan atmosfer yang mendadak berat, Raisha menyedot minumannya lalu mengangkat wajah dengan raut yang sengaja dibuat lebih santai.
"Oiya, ngomong-ngomong soal cowok..." ujar Raisha, mengulas senyum tipis. "Kemarin Erick tiba-tiba chat aku."
Reno seketika tersedak minuman yang baru ditelannya.
"Erick? Erick pengusaha properti yang mantan kamu itu?" Reno terkaget mendengar nama Erick, mantan Raisha tiba-tiba disebut.
"Iya," jawab Raisha santai.
"Lusa dia ada meeting dekat kantor, terus ngajak ketemu sorenya sekadar sapa-sapa."
Sisil mendadak memajukan tubuhnya dengan mata berbinar penasaran.
"Terus kamu iyain, Sa?" tanyanya penasaran.
Raisha mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
"Aku iyain. Bahkan aku minta dia traktir shopping sekalian. Perasaan aku lagi nggak karuan banget, butuh pengalihan suasana dan cuci mata daripada terus-terusan mikirin kubikel sebelah."
Reno tertawa lepas melihat respons Raisha yang mendadak kembali menunjukkan karakter aslinya yang santai dan pragmatis.
"Nah! Mending gitu! Manfaatkan fasilitas mantan kaya raya buat healing. Biar otak kamu nggak dipenuhi sama muka dingin si Aldo terus."
Sisil pun ikut tertawa dan menyetujui keputusan Raisha. Di tengah gelak tawa kecil di sudut kafe sore itu, Raisha merasa napasnya sedikit lebih lapang. Dia yakin keputusannya untuk melangkah mundur dari Aldo dan membuka pintu interaksi dengan masa lalunya adalah keputusan yang tepat untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri.