NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. DINAS KEKELUARGAAN

BAB 30. Dinas Kekeluargaan

Hagia berdiri di beranda vila dengan kedua tangan bertumpu pada pagar bambu. Topi bundar berwarna krem menaungi wajahnya yang cerah. Hari itu ia mengenakan rok panjang yang lebar dipadukan dengan kardigan rajut berwarna putih tulang. Sesekali ujung roknya bergoyang pelan saat ia menggeser langkah. Ia sedang menunggu Kalandra yang belum juga keluar dari dalam vila.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

Kalandra melangkah keluar dengan sweter rajut tebal berwarna gelap. Di tangannya masih tergenggam ponsel yang sejak beberapa hari terakhir nyaris tak pernah benar-benar ia lepaskan. Hagia memperhatikannya sejenak sebelum tersenyum kecil.

"Katanya di tempat ini Anda enggak punya beban, enggak ada tekanan pekerjaan."

Pandangan Hagia turun ke ponsel di tangan pria itu.

"Tapi itu apa? Tetap nggak bisa lepas dari ponselnya 'kan?"

Kalandra hanya mengangkat ponselnya sedikit. "Saya hanya sedang menghubungi Kakek."

Belum sempat Hagia menanggapi, layar ponsel itu tiba-tiba menghadap ke arah mereka. Wajah seorang pria tua langsung memenuhi layar.

"Hagia."

"Kakek!"

Raut wajah Hagia seketika berubah cerah.

"Liburannya gimana?" tanya sang Kakek dengan senyum lebar.

"Seru sekali, Kek."

"Bagus. Berarti cucu saya enggak bikin repot."

Hagia terkekeh sambil melirik Kalandra yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan mereka.

"Belum, Kek."

"Jangan dibela."

Obrolan mereka berlangsung ringan. Sang Kakek lebih banyak bertanya tentang tempat-tempat yang mereka datangi daripada membahas kesehatannya. Beberapa kali beliau tertawa mendengar cerita Hagia. Namun, belum lama percakapan itu berlangsung, gambar di layar mulai tersendat sebelum akhirnya menghilang karena sinyal terputus.

Hagia masih memandangi layar yang kembali gelap. Tiba-tiba tampilan pada layar ponsel berubah. Panggilan video berganti ke mode kamera.

Sebuah bunyi rana terdengar pelan.

"Eh, Anda mengambil foto saya?"

"Buat dikirim ke Kakek."

Kali ini Kalandra tetap mempertahankan posisi ponselnya.

"Sekali lagi. Senyum, ya."

Hagia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya memasang senyum terbaiknya. Itu murni ia lakukan untuk Kakek. Kalandra kemudian sedikit menggeser posisinya hingga berdiri lebih dekat di samping Hagia.

Cekrek.

"Bagus."

Kalandra menatap hasil fotonya sekilas, lalu mengunci layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku celana.

"Jadi Kakek lebih tahu dari saya soal liburan ini?"

Kalandra menoleh.

"Kenapa dari awal Anda bilang kita mau perjalanan dinas? Bukannya liburan."

"Buat saya, ini tetap perjalanan dinas namanya."

"Dinas macam apa itu?"

"Dinas kekeluargaan."

Hagia langsung tertawa.

"Mana ada istilah seperti itu."

"Mulai sekarang ada."

"Jangan ngarang."

Kalandra menyandarkan bahunya pada pagar beranda.

"Kalau begitu, kemarin harusnya saya bilang apa sama Haris?"

"Ya bilang saja cuti."

"Kalau dia tanya lagi cutinya buat apa?"

Hagia berpikir sesaat.

"Ya... bilang saja urusan pribadi."

"Apa saya bilang saja yang sebenarnya?"

Hagia mulai curiga.

"Bilang ke Haris kalau saya cuti buat bulan madu."

Mata Hagia langsung membulat.

"Tuan."

"Biar administrasinya jelas. Nggak dikira ngarang."

"Jangan macam-macam, kalau Anda tidak mau tidur di luar nanti malam." Tatapan Hagia kini sedikit mengancam. Namun, ancaman itu tidak mempan.

"Kalau saya tetap pilih tidur di luar, berarti...."

Belum selesai kalimat itu diucapkan, pukulan-pukulan kecil sudah mendarat di lengan Kalandra.

"Coba saja kalau Anda berani."

Bukannya menghindar, Kalandra justru tertawa semakin lepas.

"Jangan tanya saya berani atau tidak. Jawabannya sudah pasti."

Kesal karena terus digoda, Hagia berbalik meninggalkan beranda lebih dulu.

"Saya lapar."

Hagia sengaja berjalan lebih dulu menyusuri jalan setapak tanpa menoleh lagi. Kalandra hanya mengikuti dari belakang sambil menggeleng kecil. Jarak beberapa langkah di antara mereka tidak berlangsung lama karena akhirnya mereka kembali berjalan berdampingan hingga tiba di kafe.

Seperti pagi sebelumnya, bangunan kayu dengan jendela terbuka itu, sudah dipenuhi aroma masakan yang baru matang. Beberapa tamu tampak menikmati sarapan dengan santai. Tidak ada suara yang terlalu keras. Semua berbicara seperlunya, seolah suasana di tempat itu memang mengajak setiap orang untuk memperlambat langkah.

Kalandra dan Hagia kembali menempati meja kecil yang sama. Hanya sebuah meja kayu sederhana yang menjadi pembatas di antara mereka. Seorang pelayan langsung datang meletakkan secangkir kopi hitam di depan Kalandra dan secangkir teh hangat, begitu ia lihat meja kosong itu sudah terisi.

Asap tipis mengepul perlahan dari kedua cangkir itu. Kalandra mengangkat kopinya lebih dulu, menikmati aromanya sebelum menyeruput sedikit. Sementara Hagia belum menyentuh tehnya sama sekali. Kedua tangannya masih bersedekap di depan dada. Sesekali ia melirik Kalandra dengan wajah yang masih menyisakan kekesalan.

Melihat itu, Kalandra tersenyum tipis. Lalu menatap ke seluruh ruangan.

"Coba lihat."

Hagia hanya menoleh tanpa menanggapinya.

"Sepertinya mereka benar-benar mengira kita sedang bertengkar."

Refleks, Hagia mengikuti arah pandangan Kalandra. Beberapa tamu memang kebetulan sempat melirik ke arah mereka, meski hanya sekilas. Namun, tak seorang pun tahu apa maksudnya.

Hagia langsung menurunkan kedua tangannya dari depan dada. Ia meraih cangkir teh di hadapannya lalu menyesapnya pelan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Melihat perubahan itu, senyum Kalandra semakin tipis, tetapi kali ini ia memilih diam.

Tidak lama kemudian, pemilik vila datang membawa beberapa piring berisi sarapan.

"Sarapan pagi ini cuma nasi kuning sama ayam goreng saja, tapi kalau dimakan selagi hangat biasanya cukup enak," ucapnya sambil memindahkan isi nampan ke atas meja.

"Terima kasih, Bu," ucap Hagia.

Wanita paruh baya itu tidak langsung pergi.

"Hari ini mau jalan-jalan ke mana lagi?"

Hagia menoleh kepada Kalandra, lalu kembali memandang pemilik vila.

"Saya juga belum tahu."

"Kalau mau suasana tenang, coba ke hutan pinus di atas sana."

Pemilik vila menunjuk ke dataran paling tinggi di antara bukit-bukit yang mengelilingi kawasan itu.

"Kalau suka lihat aktivitas warga, sekarang kebetulan musim panen di perkebunan sebelah barat."

"Nah, kalau masih kuat jalan agak jauh, ada air terjun juga. Lumayan jauh, tapi jalurnya bagus."

Mata Hagia langsung berbinar.

"Wah..." Dia spontan menoleh kepada Kalandra.

"Ternyata masih banyak tempat yang belum kita lihat."

"Sayangnya..." ujar Kalandra sambil tersenyum kecil, "waktu kita di sini tinggal sebentar."

Pemilik vila ikut tersenyum.

"Tidak apa-apa. Siapa tahu lain kali bisa datang lagi."

Hagia mengangguk pelan. "Iya. Mudah-mudahan, Bu."

"Kalau begitu, saya tinggal dulu. Dihabiskan dulu sarapannya, nanti keburu dingin."

Setelah wanita itu pergi, suasana kembali tenang. Hagia mulai menikmati sarapannya sambil sesekali melirik ke luar jendela. Rasanya, semakin lama berada di tempat itu, ia semakin tak ingin kembali ke kota.

"Bagaimana..." gumamnya pelan, "kalau saya nanti kangen tempat ini?" Itu seperti pertanyaan yang diarahkan pada dirinya sendiri.

Kalandra tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan sebelum menatap Hagia.

"Kalau mau, bulan depan kita bisa datang lagi."

Hagia menatap tidak percaya.

"Mulai sekarang, kita bisa ambil cuti sebulan sekali."

"Ck, tidak mungkin." Hagia mengibaskan tangannya.

Kalandra hanya melirik sambil mengangkat alisnya.

"Haris bilang Anda hampir tak pernah mengambil cuti sebelum ini. Kenapa tiba-tiba ingin mengambil cuti setiap bulan?"

"Mulai sekarang, kamu bisa pikirkan dan catat tempat-tempat bagus yang ingin kamu datangi."

Mata Hagia memicing. Ia kembali teringat ucapan Haris beberapa hari lalu. Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris pribadi, pria itu hampir tidak pernah melihat Kalandra mengambil cuti. Namun kini, lelaki yang sama justru dengan mudah mengatakan ingin melakukannya setiap bulan. Entah sejak kapan perubahan itu mulai terjadi.

Mungkin, perubahan itu memang tidak datang sekaligus. Namun, sedikit demi sedikit, Hagia mulai melihat sisi Kalandra yang selama ini tersembunyi di balik sikap dingin dan jadwal kerjanya yang nyaris tanpa jeda. Dan tanpa ia sadari, dirinya pun mulai menunggu-nunggu sisi itu muncul lebih sering.

Next--->

1
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
makhluk langka mungkin Hagia 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
Hagia jadi penasaran
Nety
bukan kah mereka berangkat bawa mobil kan kalandra sendiri yg nyetir,, knp skrng jadi nunggu jemputan ?? d gondol maling kah😅
Nety
seru,, meskipun pernikahan mereka di awali dgn transaksional tapi akhir nya cinta tumbuh seiring berjalanya waktu,, perlakuan kalandra terhadap hagia yg tidak menuntut
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..

d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩
Nety
😂😂😂 kejengkelan hagia d balas ke tenangan se orang paksu 😅😅 yg sbr ya my istri 😅
Nety
benih benih cembokur mulai tumbuh 😅😂
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒: kamu mulai cemburu kalandra
total 1 replies
Nety
aku ikut tegang, berasa ada d dalam novel🤭
Nety
apakh ini jebakan danu??
Nety
ke nya CEO kita ini lagi pura pura tidak tau tentang identitas hagia 😄
🫩¹
jreng jreng jreng... next.. lnjut lagi 👉
🫩¹
Xavier itu apanya Hagia thor? Daddy nya kah?... ahhhh aku penasaran 🙈
🫩¹
emang nama Xavier itu siapa? penasaran 🙈
🫩¹
nah kan ada sangkut pautnya Danu dengan kejadian Hagia... next mbu' 👉
🫩¹
aku curiga sama Danu dan ibu sambungnya 🫣
🫩¹
mbuna suka ngegantung ya /Facepalm/
🫩¹
aku sudah terlanjur curiga sama Danu 😅
🫩¹
ada yg sengaja gak ya nguncinya🫢
🫩¹
tunjukkan pesonamu Hagia🤭😅
🫩¹
mulai curiga 🤭
🫩¹
benih2 sudah mulai tumbuh 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!